COVID-19

Ns. Satya Putra Lencana RN
Follow me

WABAH COVID-19 (Ditinjau dalam Perspektif Agama, Kesehatan dan Komunitas)

Ditinjau dari Perspektif Kesehatan

Virus adalah entitas biologi terbanyak di muka bumi ini. Virus tidak dianggap sebagai makhluk hidup. Oleh karenanya disebut sebagai “entitas biologi”. Untuk memperbanyak diri, virus menginfeksi alias membajak sel hidup. Virus memasukkan resep pembuatan komponen virus (RNA atau DNA) sehingga sel yang terinfeksi akan membuatnya dan virus-virus baru pun dihasilkan.

Virus dapat digolongkan ke dalam filum, ordo, dan famili berdasarkan materi genetik yang mereka bawa (DNA atau RNA), inang yang mereka serang, dan berbagai kriteria lainnya. Famili atau keluarga virus yang sekarang sedang santer dibicarakan adalah Coronavirus. Coronavirus (CoV) adalah famili besar yang mencakup berbagai virus yang dapat menyebabkan sakit ringan serupa batuk pilek hingga yang lebih parah, seperti Middle East Respiratory Syndrome (MERS-CoV) and Severe Acute Respiratory Syndrome (SARS-CoV)

Coronavirus banyak ditemukan menginfeksi binatang. Tentu saja tidak semua coronavirus telah diidentifikasi karena virus itu sendiri adalah entitas biologi terbanyak di muka bumi. Ketika ada jenis coronavirus baru, yang belum pernah diidentifikasi sebelumnya muncul, sebutan Novel Coronavirus (n-CoV) kerap disematkan. Oleh karena itu, “Coronavirus” adalah sebutan yang tidak spesifik karena hanya mengacu kepada tingkat famili, seperti halnya sebutan Poaceae (padi-padian), yang di dalamnya terdapat berbagai jenis tanaman, mulai dari padi, gandum sampai jagung.

Coronavirus bersifat Zoonotik, yang artinya virus dapat ditransmisikan di antara hewan dan manusia. Misalnya, SARS-CoV ditransmisikan dari musang ke manusia, sedangkan MERS-CoV ditransmisikan dari unta arab ke manusia. Ada pula coronavirus lainnya di alam (cukup banyak) yang masih beredar di berbagai hewan, tetapi belum ditemukan dapat menginfeksi manusia.

Definisi COVID-19

Coronavirus yang sedang mewabah saat ini memiliki nama resmi Severe Acute Respiratory Syndrome Coronavirus 2 (SARS-CoV-2), yang ketika awal ditemukan diberi nama sementara 2019-nCoV. Penyakit yang disebabkan oleh virus ini disebut dengan Coronavirus Disease 2019 (COVID-19).

Nama virus dan nama penyakit yang disebabkan itu berbeda dan tidak saling menggantikan. Misalnya, virus variola menyebabkan penyakit cacar (sudah berstatus musnah), virus varicella menyebabkan penyakit cacar air (belum dimusnahkan), virus rubeola menyebabkan penyakit campak, Human Immunodeficiency Virus (HIV) menyebabkan AIDS, dan seterusnya (Weqaya, 2020).

Sumber Penularan

1. Droplet (Percikan/Cipratan)

Jalur penularan virus baru ini diperkirakan masih melalui percikan (droplet) yang berasal dari orang yang bersin atau batuk berjarak sekitar 2 meter. Droplet ini juga menular ke orang lain melalui kontak langsung, seperti saat ia bersentuhan dan berjabat tangan.

2. Airbone (Udara)

SARS-CoV-2 belum diketahui bisa menyebar lewat udara (Airbone), seperti pada virus yang menyebabkan campak dan cacar.

3. Surface (Permukaan)

Penemuan terbaru mengungkapkan bahwa potensial paling besar penularan ini karena kontak dengan permukaan benda-benda di sekeliling kita, seperti tombol lift, pengaman pegangan elevator, dispenser umum, handrail, pegangan transportasi umum (busway, kereta api, MRT, telpon dan sejenisnya), meja, kursi, toilet umum, dan semua permukaan yang risiko tinggi dipakai bersama di tempat-tempat umum (Rosenthal, 2020).

Mekanisme Penularan

Penularan virus ini bisa menginfeksi melalui mulut, hidung dan mata. Jadi, jika misalnya kita duduk di bangku belakang pesawat, sedangkan ada orang yang terinfeksi berada di depan pesawat, kecil kemungkinan bisa tertular. Namun, kontak dengan virus bisa terjadi melalui jabat tangan, memegang permukaan meja, gagang pintu dan sebagainya (Weqaya, 2020).

Tanda Gejala

Orang yang terinfeksi positif tidak langsung menunjukkan gejala. Ada masa inkubasi 0-14 hari. Masa inkubasi adalah periode terjangkit sampai menunjukkan tanda gejala, yaitu batuk, bersin-bersin, demam (suhu > 38°C), sulit/sesak nafas.

Ketika seseorang terpapar virus ini dan terinfeksi, masa inkubasi sampai timbul gejala sekitar 5 hari, dengan rentangnya yang berkisar 2–14 hari. Gejala COVID-19 biasanya mirip dengan influenza, bahkan beberapa orang bisa sembuh tanpa bertambah parah. Orang-orang yang terinfeksi tapi tidak menunjukkan gejala ini masih bisa menularkan kepada orang lain.

Bagi yang terinfeksi dan tidak beruntung, gejala akan memburuk ditandai dengan kesulitan bernafas dan pneumonia awal, biasanya sekitar hari ke-4 setelah gejala awal muncul. Keadaan bisa menjadi kritis pada hari ke-7. Namun, pada hari ke-11, orang yang bertahan hidup mulai memasuki masa pemulihan. Sayangnya, belum ada bukti yang menunjukkan bahwa orang yang terkena COVID-19 bisa selalu kebal terhadap infeksi berikutnya (Weqaya, 2020).

Identifikasi Kasus

Kecurigaan orang terindikasi terjangkit coronavirus selain melalui tanda gejala juga melalui screening history aktivitas sebelumnya, diantaranya (Weqaya, 2020):

  1. Bepergian ke atau dari negara-negara yang sedang pandemik seperti Cina, Korea Selatan, Iran, Singapura, Italia, Malaysia, Hongkong dan berbagai negara terudate lainnya dalam beberapa hari terakhir.
  2. Kontak langsung dengan pasien. Orang-orang yang mengunjungi pasien termasuk tenaga kesehatan memiliki risiko tinggi tertular.
  3. Orang-orang yang bekerja, bepergian atau tinggal berdekatan dengan pasien.

Pengobatan

Meskipun beberapa profesor dan doktoral menyatakan telah menemukan antivaksinnya melalui senyawa curcumin yang ada ditumbuhan herbal seperti temulawak, kunyit dan sebagainya, juga otoritas Cina yang sempat mengklaim bahwa corona bisa disembuhkan dengan obat antiviral, anti HIV juga Malaria chloroquine phosphate, namun sampai saat ini antidot (vaksin) untuk virus yang lebih menular dibanding MERS ini secara pasti belum ditemukan. Remdesivir, obat antiviral yang tadinya dikembangkan untuk ebola, saat ini sedang diujicobakan kepada pasien COVID-19 di Negara Bagian Washington Amerika Serikat dan juga Cina. Selain itu, pasien COVID-19 juga menerima perawatan pendukung, seperti oksigen tambahan, cairan, dan antibiotik untuk menjaga dari infeksi bakteri sekunder (Garrett, 2020).

Secara genetik, 2019-nCoV tidak identik dengan SARS-CoV, tetapi perbedaan yang ada tidak mencukupi kriteria spesies virus baru yang ditentukan oleh International Committee on Taxonomy of Viruses (ICTV). Oleh karena itu, 2019-nCoV diberi nama sebagai SARS-CoV-2 sebagai pembeda dari virus penyebab wabah SARS yang sebelumnya.

Coronavirus pada Ibu Hamil

Sampai saat ini, belum ada bukti ilmiah bahwa seorang ibu dapat menularkan virus kepada bayi sedang hamil ataupun dampak yang ditimbulkan saat bayi lahir dari pengidap coronavirus (Pruthi, 2020).

Baca juga :  FUNGSI ANTIBIOTIK DAN PENGGUNAANNYA

Pencegahan

Saat ini belum ada data berapa lama virus baru ini dapat bertahan di suatu permukaan benda mati. Sebagai perbandingan, virus SARS bisa bertahan di permukaan pada suhu ruangan selama dua hari. Pencegahan yang dinilai paling efektif saat ini adalah membiasakan mencuci tangan dengan benar sesering mungkin (Nuki, 2020).

Pencegahan Saat Sehat

  1. Hindari tempat-tempat keramaian seperti Kampus, Mall, Hotel, Pasar, Supermarket, Bioskop, Restauran, Stadion dan semua tempat-tempat sejenis.
  2. Menjaga jarak dengan orang yang terindikasi terjangkit coronavirus sejauh 1-2 meter.
  3. Gunakan tisu atau lipatan siku saat bersin dan batuk.
  4. Hindari menyentuh wajah. Penelitian terbaru menyebutkan bahwa frekuensi masyarakat menyentuh wajah 15-30 kali setiap jam. Ini juga terjadi pada orang yang memakai kacamata, make up dan sebagainya.
  5. Cuci tangan dengan benar. Beberapa ahli virologi dunia menyarankan untuk meningkatkan frekuensi cuci tangan selama 20 detik, dengan sabun dan air mengalir. Bisa juga dengan hand sanitizer atau alkohol 70%. Protokol cuci tangan ini disarankan tiap jam.
  6. Konsumsi makanan yang bergizi dan seimbang serta bahan herbal mengandung antioksidan tinggi seperti curcumin yang bisa ditemukan di temulawak, kunyit dan sejenisnya.
  7. Tetap bijak menjaga pola makan seperti biasa dan hindari yang berkolesterol, bersoda, pedas dan semacamnya. Bebas dari Coronavirus tapi jangan membuat terkena penyakit lain seperti Hipertensi, Diabetes, Asam Lambung dan sejenisnya.

Pencegahan Saat Sakit

  1. Jangan panik. Kepanikan justru mengganggu sistem imunitas (daya tahan tubuh) menjadi tak beraturan dan melemah.
  2. Karantina diri sendiri di rumah.
  3. Periksakan diri ke layanan kesehatan
  4. Gunakan masker. Penggunaan masker pada dasarnya hanya memberi eke rasa aman semu. Penggunaan masker justru bertujuan untuk melindungi orang lain saat kita sakit.
  5. Pencegahan pada Anak
  6. Jelaskan pada anak bahwa tangan, hidung dan mulut bisa menjadi tempat berkembang-biak kuman
  7. Jelaskan dengan bahasa sederhana yang tidak menimbulkan kepanikan atau paranoid mereka
  8. Selalu ingatkan mereka untuk cuci tangan setiap sebelum sikat gigi di malam hari
  9. Pencegahan Global
  10. Tetap update info perkembangan terbaru daerah mana saja yang terdampak.
  11. Bagi tenaga kesehatan, disarankan menggunakan masker N95 yang memiliki daya filter partikel lebih kecil yaitu 0,3-0,12 mili mikron untuk melindungi diri sendiri. Masker biasa (Surgical Mask) tidak efektif sebagai Alat Pelindung Diri (APD) karena daya filternya 0,13 mili micron.

Ditinjau dari Perspektif Komunitas

Pelajaran yang bisa dipetik dari pandemik COVID-19 ini adalah bahwa kejadian ini menjadi bukti sekaligus jawaban bagi para penggiat antivaksin. Ilmu vaksin adalah bagian dari upaya medis untuk mencegah bahaya yang lebih besar secara global  atau kelompok, bukan hanya individu.

Sebagai bagian dari masyarakat yang cerdas, selayaknya kita harus mulai selektif dan korektif untuk tidak cepat menyimpulkan dengan panca indera dan opini sendiri untuk terlalu dini menyatakan “haram”, “berbahaya”, “bagian dari konspirasi dunia” dan lain sebagainya. Sangat penting diketahui bahwa vaksin itu bagian dari ilmu komunitas yang mengatur sebagian atau seluruhnya dan berdampak sangat siginifikan bagi sendi-sendi kehidupan berwarganegara.

Tidaklah pas, jika kita lekas terburu men-judge apa-apa yang menjadi dasar pengetahuan dan keyakinan kita tentang vaksin lalu dipaksakan kebenarannya di tengah masyarakat awam yang pada hakikatnya butuh perlindungan yang cepat dan tepat. Sekali lagi, ini tentang pembangunan persepsi di tengah masyarakat yang salah. Maka, perlu adanya upaya diri setiap masyarakat untuk lebih bijak menilai sebelum menghakimi.

Sampai sekarang para penggiat antivaksin masih ada dan bahkan membuat buku sebagai bukti untuk disampaikan ke khalayak umum yang pada dasarnya setelah ditelusuri sumber-sumber referensi yang digunakan adalah dari luar negeri yang ternyata termasuk bagian dari teori konspirasi global. Sejenis komunitas internasional yang sengaja membuat teori-teori palsu untuk dijadikan dasar sumber rujukan yang pada dasarnya teori-teori ciptaanya tersebut tak pernah berkembang dan hanya berkutat pada pola yang sama.

Kesimpulannya, kita harus mengetahui kaidah-kaidah ilmu komunitas di antaranya; Jangan membangun kepanikan dini, bersikap selektif dan korektif, tidak terburu membangun pandangan negatif serta berupaya memperbanyak sumber informasi kepada ahli di bidangnya tentang vaksin ini. Jika mengenai virus, maka kita butuh hadirnya seorang ahli virology, spesialis patologi klinik, master epidemiology dan sejenisnya.


Ditinjau dari Perspektif Agama

Masih ingatkah dengan jutaan warga Xin Jiang Etnis Uyghur yang menyedot perhatian dunia karena kedzaliman yang mereka alami dari Pemerintah Cina sebelum pandemik COVID-19 ini terjadi?

Menilik lebih jauh dari mewabahnya penyakit dengan nama virus SAR-COV-2 ini kita bisa memetik hikmah bahwa Allah subhanahuwata’ala tidak pernah meninggalkan para hamba-Nya yang teraniaya. Sifat Allah sebagai Dzat yang Al Muhaimin tak pernah luput sedikitpun pengawasan-Nya terhadap segala hal yang terjadi pada hamba-Nya. Selain itu, do’a orang yang terdzalimi termasuk do’a yang mustajab (mudah terkabul) sebagaiman hadis shahih berikut,

عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا: أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بَعَثَ مُعَاذًا إِلَى الْيَمَنِ فَقَالَ:
اتَّقِ دَعْوَةَ الْمَظْلُومِ فَإِنَّهَا لَيْسَ بَيْنَهَا وَبَيْنَ اللَّهِ حِجَابٌ.

“Dari Ibn Abbas radhiyallahu ‘anhu: Bahwa Nabi ﷺ  mengutus Muadz ke negeri Yaman lalu bersabda: ‘Berhati-hatilah kamu terhadap doa orang yang dizalimi karena antara doanya dan Allah tidak ada penghalang.” [HR. Bukhari No. 2268]

Memahami Konsep “Social Distancing”

Ternyata konsep “Social distancing” ini telah diterapkan sejak dulu oleh sahabat Rasulullah ﷺ yaitu sahabat ‘Amr bin ‘Ash. Kisahnya ketika terjadi wabah di Syam. Para sejarawan muslim mencatat sekitar 25.000 sampai 30.000 korban meninggal akibat wabah tha’un di Syam. Dua gubernur sebelumnya, sahabat yang mulia Abu ‘Ubaidah bin Al-Jarrah dan Mu’adz bin Jabal meninggal karena wabah. Ketika ‘Amr bin ‘Ash menjadi gubernur, beliau memerintahkan agar kaum muslimin berpencar dan pergi tinggal ke gunung-gunung saling menjauh satu sama lainnya. Beliau berkata,

أيها الناس إن هذا الوجع إذا وقع فإنما يشتعل اشتعال النار فتجبلوا منه في الجبال

“Wahai manusia, sesungguhnya wabah ini terjadi seperti api yang menyala (semakin dahsyat jika bahan bakarnya berkumpul), hendaknya kalian menyebar tinggal di gunung-gunung.” [Musnad Ahmad no. 1697]

Konsep “Lockdown” atau Karantina Wilayah

Demikian juga konsep “Lockdown”  yaitu mencegah dan melarang orang masuk di suatu wilayah serta melarang orang keluar dari suatu wilayah untuk mencegah wabah masuk maupun keluar. Konsep ini adalah konsep Islam sejak dahulu kala di mana Rasulullah ﷺ  bersabda,

إِذَا سَمِعْتُمُ الطَّاعُونَ بِأَرْضٍ، فَلاَ تَدْخُلُوهَا، وَإِذَا وَقَعَ بِأرْضٍ، وأنْتُمْ فِيهَا، فَلاَ تَخْرُجُوا مِنْهَا. متفق عَلَيْهِ

“Apabila kalian mendengar wabah tha’un [1] melanda suatu negeri, maka janganlah kalian memasukinya. Adapun apabila penyakit itu melanda suatu negeri sedang kalian ada di dalamnya, maka janganlah kalian keluar dari negeri itu.” (Muttafaqun ‘alaihi)

Kesimpulannya, usaha pencegahan penyakit ini tidak bisa dilakukan hanya oleh tenaga medis, melainkan harus ada andil dan sikap pro aktif dari berbagai pihak; pemerintah, pengusaha, pemuka agama, Lembaga Sosial Masyarakat (LSM) dan komunitas-komunitas untuk bersikap promotif dan preventif dengan mensosialisasikan Coronavirus melalui sumber data yang benar dan valid.


DAFTAR PUSTAKA

Garrett, L. (2020). The Wuhan Virus. Foreign Policy Report.

Nuki, P. (2020). Bagaimana Melindungi Diri Anda dari Virus Corona? Indonesia: Cordova Media.

Pruthi, P. (2020). Six Things You Shoud Know. UNICEF. USA: Dakwah Digital Team.

Rosenthal, E. (2020). How to Avoid The Coronavirus? Wash Your Hands. New York: The New York Time.

Weqaya. (2020). Coronavirus Disease 2019 (COVID-19) Gudeline (Vol. v.1.1). Riyadh, Riyadh, Saudi Arabia: Saudi Center for Disease Prevention and Control.


FOOTNOTE

[1] Tha’un adalah penyakit menular

Facebook Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published.