DEHIDRASI

Ns. Satya Putra Lencana RN
Follow me

Apa yang Anda Bayangkan Ketika Mendengar kata “Dehidrasi”?

Minuman Poccary Sweat-kah? Hydrococo? Atau orang berkeringat habis main futsal?

Secara harfiah, Dehidrasi berasal dari kata “De” yang berarti ‘Tidak/Kurang/Kehilangan’ dan “Hidrasi” yang berarti ‘Cairan’. Sederhananya, dehidrasi adalah kekurangan cairan.

Secara fisiologi, tubuh manusia terdiri dari 60% cairan, ini termasuk keringat, darah, urine dan 40% sisanya adalah susunan tulang dan organ. Tubuh akan mengalami eror ketika asupan hidrasi kita kurang.

Bagaimana Cara Mengetahui Asupan Hidrasi Kita Kurang dari normal?

Cara Pertama :

Anda bisa menggunakan rumus :
10 KgBB pertama : 1000 ml
10 KgBB kedua : 500 ml
10 KgBB berikutnya dikali 20 ml

Misal, BB 60 Kg, maka :
10 Kg pertama : 1000 ml
10 Kg kedua : 500 ml
40 Kg sisanya : 40x20ml : 800
Jadi, total kebutuhan cairan Anda 2.300 ml dalam 24 jam

Cara Kedua :

Rumus : Kg BB x 40 ml

Misal, BB 60Kg, maka :
60×40 : 2.400 ml (2,4 Lt) dalam 24 jam

Mengapa Anda perlu Memperhatikan Hidrasi?

Tanpa hidrasi cukup, Anda akan menemukan berbagai masalah kesehatan mulai dari yang ringan hingga mengancam nyawa seperti;

Ringan :

  • Panas Dalam (Commod Cold)
  • Demam (Fever)
  • Sariawan (Stomatitis)
  • Pingsan (Sincope)

Berat (Komplikasi Dehidrasi) :

  • Kejang, yang muncul akibat gangguan keseimbangan elektrolit dalam tubuh, terutama natrium dan kalium.
  • Permasalahan pada ginjal dan saluran kemih, terutama jika dehidrasi yang dialami terjadi berulang kali. Dehidrasi dapat menyebabkan infeksi saluran kemih, batu ginjal (nefrolithiasis) bahkan gagal ginjal.
  • Cedera akibat suhu tinggi (heat injury). Jika sedang melakukan aktivitas fisik berat, namun tidak menjaga asupan cairan tubuh, dapat mengalami dehidrasi yang memicu terjadinya heat injury. Gejala heat injury yang tergolong ringan bisa berupa kram. Sedangkan gejala beratnya bisa berupa kelelahan dan heat stroke.
  • Syok hipovolemik. Ini merupakan komplikasi akibat dehidrasi paling serius, dan bahkan berpotensi membahayakan nyawa Anda.
Baca juga :  COVID-19

Bagaimana Anda Bisa Mengetahu jika Anda Mengalami Dehidrasi?

Kenali tanda-tanda awalnya yaitu :

  • Merasa haus dan pusing
  • Mulut dan kulit kering
  • Kelelahan
  • Jarang buang air kecil
  • Urine berwarna lebih gelap, serta berbau lebih kuat
  • Salah satu kondisi yang berisiko menimbulkan dehidrasi adalah diare. Dehidrasi juga bisa dikaitkan dengan cuaca, aktivitas fisik atau olahraga, dan pola makan. Selain diare, dehidrasi juga berisiko muncul pada kondisi muntah-muntah, serta berkeringat berlebihan, misalnya pada saat demam atau berolahraga saat cuaca panas.

Bagaimana Langkah Pencegahannya?

Sebenarnya dehidrasi ini masalah ringan, tapi jadi bahaya kalau dianggap sepele. Anda cukup meminum air sesuai kebutuhan atau mengonsumsi buah yang banyak mengandung cairan seperti pir, anggur, jeruk, semangka, strawberi, nanas; atau sayuran seperti selada, bayam, wortel.

__________

Frequently Asked Question (FAQ):

Question 1:

Mengapa kalau kerja di ruangan berAC lebih banyak buang air kecil?

(Udara hasil dari Air Conditioner (AC) akan menyebabkan sirkulasi kelembapan udara di dalam ruangan mengering dan suhu menurun. Pada saat tersebut, Anda lebih berisiko dehidrasi karena tidak ada proses evaporasi tubuh (pengeluaran panas) yang cukup melalui keringat, ditambah aktivitas yang minimal. Dalam hal ini Anda tidak dapat berkeringat, dan dalam waktu lama tubuh Anda akan memberikan kompensasi pengeluaran cairan melalui urine. Maka, perbanyaklah minum lebih sering, meskipun sedikit dan tidak merasa haus.

Question 2:

Apakah semua jenis cairan bisa untuk menangani dehidrasi?

(Tidak. Jenis cairan yang tepat untuk rehidrasi adalah jenis isotonic. Yaitu cairan yang memiliki sifat elektrolit yang sama dengan tubuh normal manusia. Makanya ada produk namanya minuman isotonik. Contoh : Air Kelapa. Infus : Ringer Laktat. Atau contoh versi kemasannya Hiydrococo, Poccary Sweat dsb. Namun, jika sulit, cukup minum air mineral. Tidak dinjurkan minuman berkafein seperti kopi, karena bersifat diuretik yang membuat lebih banyak buang air kecil)

Question 3:

Bahaya mana antara kekurangan cairan dan makan?

(Masih ingat kisah seorang ibu dan anaknya korban Gempa Bumi Palu-Donggala, Sulteng 28 September 2018 lalu? Mereka bisa bertahan hidup di bawah reruntuhan bangunan selama 3 pekan. Bahkan ibu tersebut masih bisa berkata-kata menanyakan kabar anaknya. Bagaimana bisa?)

Menurut penelitian empiris, manusia bisa bertahan hidup tanpa makan selama 3 pekan, akan tetapi hanya 3-4 hari tanpa minum.

Dokter medis di New York, Amerika Serikat, Alan D Lieberson, juga menjelaskan hal serupa. Menurutnya, ketahanan seseorang tanpa makan dan minum dipengaruhi banyak faktor. Durasi tanpa makanan dipengaruhi faktor seperti berat badan, variasi genetik, serta berbagai pertimbangan kesehatan lainnya. Yang paling penting adalah soal dehidrasi.

Manusia tenyata bisa hidup tanpa makan dan minum hingga tiga pekan berturut-turut. Situasi ini pernah dialami oleh Mahatma Gandhi, tokoh antikekerasan India. Gandhi kala itu berusia 74 tahun, dan ia mampu bertahan hidup hingga 21 hari hanya dengan menyerap air saja tanpa asupan apa pun.

Kembali lagi, tubuh kita adalah struktur tubuh ciptaan Allah yang paling sempurna. Diciptakan dengan jutaan sel yang lengkap dan saraf yang saling terhubung. Maka, ketika asupan cairan itu tetap didapat, sel-sel masih bisa tetap bermetabolisme tanpa nutrisi.

Kesimpulannya, kurang cairan lebih berbahaya. Bagi Anda yang hobi mendaki gunung atau survival di alam bebas, penting mengetahui manajemen dehidrasi ini.


Facebook Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published.