IM3

Sea Woelandary
Follow me
Latest posts by Sea Woelandary (see all)

Baru kali ini, aku merasakan jantungku berdegup kencang. Bagaimana tidak? Hari ini, aku akan bertemu dengan “gadisku”. Ah… PD banget diri ini memanggilnya dengan sebutan itu.

Aku hanya senyum-senyum sambil mematut diri di depan cermin. Beragam setelan baju bergantian membalut tubuh ringkih ini. Namun, tak satu pun yang membuatku terkesan keren saat menemuinya nanti.

Oh, ya. Aku teringat sesuatu. Sebelum keberangkatannya ke London, dia memberiku hadiah. Aku belum pernah membukanya karena dia hanya memperbolehkanku membuka dan menggunakannya setibanya kembali di Indonesia.

Aku pun mengobrak-abrik peti harta karunku. Jangan membayangkan peti zaman-zaman kerajaan, ya. Itu hanya berupa karton besar yang kuletakkan di sudut kamar. Di situlah, aku menyimpan barang-barang pemberian dari siapapun, termasuk “gadisku”. Lagi-lagi, aku memaggilnya seperti itu. Maaf, ya.

Setelah lima menit, akhirnya pencarianku berlabuh. Kotak itu masih terbungkus rapi. Aku pun segera membukanya. Isinya berupa sebuah gelang warna hitam dengan tulisan putih di tengahnya “CANDY”, sebuah kaos biru muda bertuliskan “SOULMATE” di bagian tengah dan lagi-lagi ada tulisan “CANDY” di pojok kanan bawah. Tanpa berpikir panjang, aku pun mengenakan kedua pernak-pernik itu, meski dalam hati aku bertanya-tanya apa maksud tulisan-tulisan itu?

Dua jam lagi, dia akan benar-benar tiba di Indonesia. Aku memutuskan untuk berangkat dua jam lebih awal. Aku tidak ingin membuatnya menunggu. Seperti biasanya, jalanan Jakarta selalu macet. Dalam perjalanan, aku sengaja mengirim pesan untuknya via messenger.

[IM3]

Pesan belum terbalas. Ya iyalah, kan dia masih dalam pesawat. Dasar oon. Aku membodohi diriku sendiri.

Sudah menjadi kebiasaanku mengirim kode itu padanya setiap malam bulan purnama. Tiga bulan pertama dia mendapat kiriman kode itu membuatnya selalu bertanya.

[IM3? Maksudnya apaan sih, Kak?]

[Ada, deh. Kapan-kapan juga kamu pasti tahu.]

[Kapan-kapan itu kapan?]

[Ketika kita bertatap lagi.]

[Kan, udah sering kita ngobrol pake skype? Kan, itu namanya juga tatap muka?]

[Bedalah,Cantiiik. Sabar ajah, ya. Saat kita benar-benar bisa merasakan hembusan napas kita satu sama lain, saat itulah kode itu akan terungkap.]

[Tuh, kan! Kamu mah sukanya gitu.]

Awalnya dia ngambek gara-gara aku memberi jawaban seperti itu, tapi lama-lama dia sudah terbiasa dengan kiriman kode itu dan dia tidak pernah menanyakannya lagi. Ah… sabar nian ternyata “gadisku” ini. Duh, aku keceplosan lagi memanggilnya seperti itu.

Pukul 09.30 WIB. Aku berhasil memarkir mobil di Bandara Soekarno-Hatta. Itu artinya masih ada sisa waktu setengah jam lagi untuk menunggunya. Aku sudah bilang padanya, akan menunggunya di lobi saja dan dia mengiyakan. Pukul 10.05 WIB, dia meneleponku dan lima belas menit kemudian dia terlihat berlari-lari menghampiriku.

“Kak Shincaaaan ….” Dia pun menubrukku dan membuat dada ini sesak oleh pelukan eratnya.

“Imel kangen. Kakak apa kabar?”

Iya. Kakak juga kangen. Alhamdulillaah, baik. Baidewai, bisa nggak pelukanmu dilonggarin dikit? Aku butuh oksigen nih,” candaku.

Dia pun melepas pelukannya sambil meminta maaf. Kali ini, dia ganti menggandeng tanganku sambil mengajakku berjalan menuju parkiran. Selama perjalanan menuju parkiran, kami tidak berkata-kata. Dia hanya menggandengku dan sesekali menoleh ke arahku sambil senyum-senyum. Sontak wajah ini memerah. Bukan malu, lebih tepatnya Ge-Er.

Dalam perjalanan pulang, dia memberondongku dengan beragam pertanyaan. Salah satunya tentang kode itu. Kuliah tiga setangah tahun di London tak membuat sifatnya berubah. Rasa ingin tahunya, boleh dibilang level keponya masih saja tinggi atau jangan-jangan malah semakin parah, ya?

“Kak, mana janjimu?”

Janji apa?” Aku pura-pura bego.

“Katanya klo aku udah balik, kamu mau jelasin kode itu?”

“Oh… yang itu?”

“Iya … apaan, sih? Is it your ponsel card? Tapi, kayaknya enggak, deh. Kan, kamu pake simpati?”

Klo aku jelasin, janji nggak marah, ya?”

“Iya janji.” Senyumnya mengembang sempurna.

Itu artinya aku merindukanmu.”

Apa hubungannya sama IM3? Kenapa pula kamu selalu mengirimnya saat malam bulan purnama?”

“Ai Em Three… (I) (M)iss (M)y (M)elody. Karena bagiku, Imel tuh cantiknya kayak bulan purnama.” Aku mengedipkan mata kananku sambil menoleh ke arahnya.

Baca juga :  TERLAMBAT

Oww… so sweet. Imel juga kangeeen banget sama Kakak.” Bola matanya berbinar-binar. Dia terlihat tidak salting, tapi aku yang semakin Ge-Er dibuatnya.

Oh ya, Mel. Klo maksud gelang sama kaos ini apa? Kok ada tulisan yang sama?”

Kan, kamu sukanya pake gelang, trus demen banget sama warna biru muda. Ya udah, aku pikir itu akan jadi hadiah terindah buat Kakak.” Dia mengedip-ngedipkan kedua matanya. Tingkahnya masih sama. Kekanak-kanakan.

Oke. Thanks buat hadiahnya. Lalu makna tulisan-tulisan ini apa?”

Ih… masak Kakak kagak ngerti? CANDY itu shinCAN dan meloDY. Nama kita. Klo soulmate, ya, aku merasa Kakak udah sebagai belahan jiwaku gitu, deh. Kan, selama ini Kakak yang selalu temenin aku kapanpun dan dimanapun. Jadi, gitu sejarahnya. Makasih, ya, Kak Arsakha Narendra Putra alias Shincan hahahahahah.”

Dia bahagia sekali setiap kali memanggilku dengan sebutan Shincan. Katanya perilakuku mirip tokoh utama kartun Shincan. Menjengkelkan. Padahal dia yang lebih sering membuatku jengkel. Namun, kejengkelan itulah yang membuatku semakin menyayanginya. Lebih tepatnya, mencintainya.

Setelah menerobos kemacetan selama satu setengah jam, akhirnya kami berhasil sampai di rumahnya. Rumah mewah itu terlihat sepi. Hanya ada Mang Dede (sopir pribadi sekaligus tukang kebun) dan Bi Modah (sang ART). Maklum, jam segini kedua orang tua Imel masih kerja. Aku hanya mengantarnya sampai teras.

“Mel, aku nggak usah masuk, ya? Ada janji sama mama.”

Oh … iya nggak apa-apa, Kak. Mau nemenin tante shopping, ya?”

Ya, begitulah. Kebiasaan mama masih sama. Besok-besok juga pasti minta kamu anterin.”

Hahahaha. No problem. Salam ke om dan tante, Kak. Umm …nanti malam, Kakak makan malam di sini, ya, sama mama papaku juga. Bisa?”

Boleh. Ya udah, aku pamit, ya.”

Aku pun segera tancap gas menuju rumahku yang berjarak hanya lima meter dari rumah Imel. Di teras, Mama sudah menunggu kedatanganku dan kami pun menuju mall terdekat.

Tepat pukul 19.00 WIB, aku sudah tiba di rumah Imel. Dia menyambutku dengan senyuman yang membuat hati ini semakin meleleh. Malam ini, tubuhnya dibalut long dress warna krem lengan panjang. Rambut hitamnya yang terurai membuatnya kontras dengan wajah putihnya. Dia terlihat cantik bak pualam. Kami berjalan bersama menuju ruang makan. Rupanya Om dan Tante sudah menunggu di meja makan.

Malam Om… Tante…”

Malam, Sayang. Ayo-ayo langsung duduk saja. Om dan tante udah lapar nih.”

Kami pun duduk di kursi masing-masing. Setelah Om Wisnu selesai memimpin doa, kami segera menyantap hidangan yang telah disiapkan oleh Bi Modah. Dari kecil, aku suka sekali makan di rumah ini karena masakan Bi Modah tak pernah ada tandingannya. Imel juga mengakui itu.

Usai makan, kami tidak langsung beranjak karena Imel ingin mengumumkan sesuatu. Itu pesannya sebelum kami memulai dinner.

Aku pengen umumin sesuatu buat Mama, Papa, juga Kakak tercintaku. Sesuai janjiku, sebelum aku melanjutkan S2-ku, aku ingin mengakhiri masa lajangku biar saat studi nanti ada yang nemenin.”

Aku kaget dan kulihat Om dan Tante juga terperangah. Sepertinya, mereka juga baru pertama kali mendengar pengumuman ini, sama sepertiku.

“Imel mau menikah? Tapi dengan siapa?” Tante Mirna menanyai putrinya.

Iya, Ma. Imel mau menikah. Tentu saja dengan pria yang selama ini terlihat spesial di mata Imel.” Dia menoleh ke arahku sambil mengedipkan mata kirinya. Aku semakin Ge-Er. Akukah yang pria yang dia maksud? Batinku bertanya-tanya.

Melihat tingkah laku Imel yang seperti itu, Om Wisnu pun bertanya.“Maksudnya kalian berdua akan menikah?”

Iya lah, Pa. Kami akan menikah. Nggak baik kan hidup melajang terus? Iya kan, Kak?”

I… iyaa, Mel. Itu betul.” Aku gugup menjawabnya.

Tapi Imel nikahnya bukan sama Kak Arsa. Bulan depan, Mas Kevin akan meminang Imel. Setelah menikah nanti, kami akan sama-sama melanjutkan studi di AS. Itu sih rencana kami. Bagaimana? Mama, Papa, dan Kakak mengizinkan?”

“Ok! Alhamdulillaah. Putri papa sudah dewasa.”

Om Wisnu mengusap kepala putri semata wayangnya dan Tante Mirna mengecup keningnya sambil meneteskan air mata.

Aku hanya diam. Suasananya begitu haru. Sebagai pria yang dia anggap sosok kakak, harusnya aku juga bahagia. Namun, cintaku yang begitu dalam membuat hatiku terbelenggu. Tak rela Imel bersamanya, tapi aku tak berdaya.

Aku bisa apa? Hanya mampu menyimpan kode itu dalam kenangan tanpa perlu mengirimkannya lagi. Sudah ada orang lain yang lebih berhak mengucapkannya.

Malam itu, sebelum memejamkan mata, aku mengirim kode terakhir untuknya. Tepat saat bulan purnama.

[IM3]

Pesanku tak terbalas. Mungkin, “gadisku” sudah terlelap dan sedang memimpikan pangerannya. Cukup! Ini yang terakhir kalinya aku memanggilnya seperti itu.


Facebook Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published.