MENULIS SEBAGAI PENGAWAL SEJARAH

Ns. Satya Putra Lencana RN
Follow me

“Berikan satu motivasi paling mendasar mengapa Anda ingin menulis?” Pertanyaan  ini mutlak harus bisa dijawab oleh Anda yang benar-benar ingin jadi penulis sejati. Menulis dan membuat buku adalah hal yang sudah tidak asing lagi kita temui diberbagai pusat toko buku. Tulisan-tulisan yang menjelma menjadi buku menjamur dan bertebaran dimana-mana. Penulis-penulis baru mulai bermunculan dan genre nya masing-masing dan penerbit-penerbit baru mulai membuka lapak di berbagai kalangan profesional, sastrawan hingga pedagang kaki lima. Mereka berlomba-lomba membuat karya di bidang kepenulisan.

Ini adalah hal yang menggembirakan yang perlu kita syukuri. Semakin banyaknya buku menunjukkan semakin meningkatnya daya baca tulis bangsa kita. Itu artinya semikin menurunnya kurva buta literasi di negeri ini. Fenomena tersebut juga dirasakan dengan hadirnya komunitas-komunitas kepenulisan yang tidak hanya hadir di dunia nyata, tetapi sudah banyak yang bermunculan di ruang baca dunia maya bahkan sosial media.

Ini adalah pencapain prestasi yang cukup membanggakan. Dengan banyaknya penulis baru berarti semakin banyaknya pejuang literasi yang kuat akan ilmiah keilmuan sehingga bisa saling mengkritik dan mengoreksi. Ekosistem seperti jika dipelihara dengan baik, akan menciptakan banyak keuntungan di masyarakat dan tentunya dapat menjamin peningkatan mutu buku yang diterbitkan dari waktu ke waktu.

Keuntungan yang paling nyata adalah terbukanya  lapangan kerja baru bagi orang-orang yang memiliki minat dan bakat di dunia kepenulisan termasuk dibukanya penerbit-penerbit baru sekarang ini. Tak hanya itu, penjualan buku elektronik (ebook) berkualitas juga semakin banyak dan mudah diakses via internet. Meskipun sebagiannya berbayar, tapi tidak sebanding dengan ilmu yang kita dapatkan.

Melihat animo dunia kepenulisan yang begitu merebak harum, kita juga perlu merenung, apakah setiap tulisan yang diciptakan dapat mewakili sejarah di bidang literasi.

Satu manfaat paling penting dari menulis adalah kita bisa menjadi pengawal sejarah. Bukan maksud kita harus ahli sejarah, layaknya sejarawan kebangsaan dengan segudang file-file dokumenter ketika Indonesia melawan penjajahan dulu. Arti yang lebih luas adalah kita menjadi penulis yang mengawal sejarah berdasarkan keahlian masing-masing.

Jangan berbangga diri kalau tempe kedelai yang sering kita makan sehari-hari bukan lagi milik Indonesia. Tempe secara hukum internasional sudah menjadi hak paten negara jepang pada 10 Juli 1986.  Di Jepang, tempe sudah menjadi komoditas utama karena nilai gizinya sangat berguna bagi warga jepang yang etos kerjanya tinggi. Gaung tempe pun sudah masuk ke negara adi daya Amerika Serikat. Di negeri Paman Sam itu, tempe sudah mulai terkenal!. Tempe sebagai makanan tradisional Indonesia dipatenkan negara Amerika sebanyak 35 hak paten  dan negara jepang 6 hak paten, sedangkan Indonesia baru memiliki 2 hak paten, itupun baru tahap pendaftaran, belum memiliki nomor paten (Saliman, 2010).

Ironinya masyarakat kita banyak yang tidak menyadari hal ini. Lalu apa hubungannya dengan menulis? Menulis dapat mendorong kita lebih banyak membaca, membaca mendorong kita lebih banyak mencari informasi (baca : ‘ingin tahu’). Kebiasaan ini akan meningkatkan pengetahuan kita tentang suatu hal. Semakin bertambahnya ilmu akan semakin meningkatkan kesadaran kita terhadap suatu hal, termasuk kewaspadaan pencurian hak paten bangsa kita.

Fenomena klaim negara asing terhadap tempe ini benar-benar ‘Pukulan keras’ kepada kita untuk benar-benar memperhatikan sejarah. Seandainya saja bangsa kita sudah lebih dulu menuliskan hasil kajian dan temuan lalu mematenkan tempe sebagai makanan khas indonesia, kita akan menjadi pengawal sejarah!

Mengenal Syaikh Dhiyaurrahman Azmi sebagai Penulis yang Membuat Sejarah di Peradaban Islam

Siapa yang tidak tahu tentang Professor Dr. Muhammad Dhiyaurrahman Azmi? Seorang mualaf dari India yang telah menuliskan puluhan buku penting dalam islam.

Muhammad Dhiyaurrahman Azmi dulu bernama Banke Laal. Lahir tahun 1943 dalam sebuah keluarga Hindu di desa Bilarya Ganj. Sebuah desa yang terletak di Kecamatan Azamgarh, India. Saat memeluk Islam usianya 18 tahun. Konsep kesetaraan dan keadilan yang ditawarkan Islam telah membuatnya terkesan. Menurutnya, hal itu merupakan keistimewaan dan humanisme yang hanya ada pada Islam. Alasan ini pula yang menyebabkan banyak orang-orang di anak benua India memeluk Islam. Mereka ingin lepas dari sekat-sekat kasta. Dan mendapatkan kebebasan bertindak sesuai dengan cita-cita dan kehendak mereka.

Baca juga :  TRAVELOG

Di India ada beberapa organisasi yang memfasilitasi perpindahan agama. Kegiatan organisasi ini dikenal dengan Ghar Wapsi. Sebuah kegiatan yang difasilitasi organisasi Hindu India untuk memfasilitasi perpindahan agama seorang non-Hindu ke agama Hindu. Di masyarakat Islam India, tidak didapatkan aktivitas semacam ini. Tidak ada donasi atau bantuan materi yang didapat bagi mereka yang baru saja memeluk Islam. Sisi baiknya, seseorang yang memeluk Islam benar-benar menyambut perintah Allah dan lahir dari niat yang tulus. Jika ingin menjadi seorang muslim, hal yang harus Anda lakukan adalah memahami pesan hakiki dari Islam itu sendiri.

Setelah memeluk Islam, kedua orang tua dan keluarga dekatnya memboikot Syaikh Muhammad Dhiyaurrahman Azmi. Ia pun hijrah ke Pakistan untuk mendalami agama. Ia belajar agama di Madrasah yang bekerja sama dengan Jamiah Islamiyah. Kemudian melanjutkan studi S1 di Universitas Islam Madinah (Jamiah Islamiyah Madinah), Arab Saudi. Di tempat ini, ia menjadi lulusan pertama yang pernah beragama Hindu.

Tidak berhenti hanya di tingkat sarjana, Syaikh Dhiyaurrahman melanjutkan studi pasca sarjananya (S2) ke King Abdul Aziz University di Mekah, yang kemudian dikenal dengan Ummul Qura University. Gelar doktornya ia dapatkan dari Universitas al-Azhar, Kairo.

Kepakarannya di bidang hadits adalah sesuatu yang diakui khalayak. Universitas Islam Madinah mengakuinya dengan mengangkatnya sebagai guru besar (Profesor) di Fakultas Hadits kampus tersebut. Bahkan Kerajaan Arab Saudi sendiri menghadiahinya kewarga-negaraan Arab Saudi sebagai bentuk terima kasih atas kontribusi yang ia berikan dalam kajian ilmu hadits.

Syaikh Dhiyaurrahman tidak membatasi aktivitasnya hanya di bidang akademik semata. Ia juga aktif ambil bagian dalam bidang administratif. Seperti bergabung dengan Liga Muslim Dunia (Muslim World League) di Mekah. Dan juga menjadi dekan Fakultas Hadits Universitas Islam Madinah hingga pensiun. Setelah pensiun, ia diangkat menjadi pengajar di Masjid Nabawi oleh Departemen Urusan Masjid Nabawi pada tahun 2013.

Banyak karya tulis telah dibuat oleh Profesor Dhiyaurrahman Azmi. Ia menulis puluhan buku tentang berbagai topik penting dalam Islam. Tapi yang paling istimewa adalah karya monumentalnya berupa ensiklopedia hadits. Ia beri judul karyanya itu dengan Al-Jami’ Al-Kamil fi Al-Hadits Ash-Shahih Ash-Shamil. Karya istimewanya ini adalah kumpulan hadits-hadits shahih yang tersebar di berbagai buku-buku klasik (Azmi, 2017).

Al-Jami Al-Kamil Fi Al-Hadits Ash-Shahih Asy-Syamil, karya monumental Prof. Muhammad Dhiyaurrahman Azmi (Azmi, 2017).

Buku Al-Jami’ Al-Kamil Fi Al-Hadits Ash-Shahih Ash-Shamil terdiri dari 20 jilid lebih buku tebal. Yang berisi sekitar 16.000 Hadis. Memuat tentang berbagai permasalahan: akidah, hukum, ibadah, biografi Nabi, fikih, tafsir Alquran, dan masih banyak lagi. Orang-orang akan mengingat Syaikh Prof Muhammad Dhiyaurrahman Azmi dan berterima kasih padanya atas usahanya meneliti hadits. Mengumpulkannya sehingga mudah untuk dipelajari dan dibaca para pecinta hadits Nabi Muhammad ﷺ. Usahanya ini menjadi bukti bagaimana ia meneladani usaha Imam al-Bukhari, Muslim, Abu Dawud, at-Turmudzi, an-Nasai, dan Imam Malik dalam meneliti dan mengumpulkan hadits (Azmi, 2017).

Karya legendaris lain yang merupakan kesungguhan Prof. Azmi adalah “Encyclopedia of the Qur’an Glorious” dalam bahasa Hindi. Umat Islam pernah berkuasa selama sekitar 800 tahun di India, sayangnya tak banyak buku yang tersedia dalam bahasa asli mereka yang menjelaskan menjelaskan makna Alquran. Memberikan pencerahan tentang nilai-nilai kemanusiaan yang diberitakan Alquran.

Ensiklopedia unik yang ditulis oleh Prof. Azmi ini, mengeksplorasi lebih dari 600 topik bahasan. Buku ini merupakan buku pertama (pionir) yang ditulis tentang tema ini dalam bahasa Hindi. Dalam waktu sangat singkat, buku ini sudah dicetak sebanyak delapan kali di India. Karena respon umat yang bagus terhadap buku ini, edisi bahasa Urdu dan India pun segera dicetak pula. Bisa dikatakan, buku ini adalah salah satu buku terbaik dalam kajian Alquran. Pembahasan diurutkan berdasarkan susunan abjad. Di dalamnya juga dimuat foto dan peta tempat-tempat yang masyhur.

Dalam bukunya ‘Dari Ganga ke Zamzam’ dalam bahasa Urdu, Prof. Azmi menceritakan kisah keislamannya dan banyaknya kesulitan yang harus ia hadapi. Tentu buku ini juga menarik untuk dibaca. Kemudian karyanya yang istimewa tentang studi perbandingan agama, Dirasat al-Yahudiyah wa al-Masihiyah wa al-Adyan al-Hind juga mendapat apresiasi yang tinggi. Buku ini dijadikan acuan materi pembelajaran tingkat yang lebih tinggi di universitas-universitas di Arab Saudi. Saat ini, Prof. Azmi terlibat dalam proyek penulisan studi perbandingan agama Hindu, Budha, Jainisme, dan Sikhisme yang akan segera diterbitkan pula.

Tidak ada yang menyangka, seorang anak laki-laki yang terlahir di sebuah keluarga Hindu di kemudian hari menjadi guru hadits di Universitas Islam Madinah dan pengajar di Masjid Nabawi. Profesor Azmi merupakan orang yang istimewa. Perjalanannya hidupnya mengajarkan kita bahwa kehidupan ini bagaikan roda yang berputar. Seseorang bisa di berada di putaran bawah menghadapi kesulitan. Kemudian berada di bagian atas menikmati kesuksesan. Seseorang harus berusaha menyelesaikan putaran kesulitan yang ia hadapi sampai ia berhasil membuktikan kepada dunia -dengan izin Allah-, ia mampu berkontribusi untuk peradaban manusia.

Kesimpulannya, melalui tulisan kita bisa mengawal sejarah. Jika tidak bisa menulis untuk menjaga sejarah seperti kasus klaim kepatenan tempe di atas, maka menulislah untuk menciptakan sejarah seperti Prof Azmi. Maka menulislah sebagai karya besar agar bisa memimpin dunia.

BarokaAllahufiikum,.


DAFTAR PUSTAKA

Azmi, Z. (2017, Maret 03). Journey from Hinduism to Islam to professor of Hadith in Madinah. Dipetik Mei 04, 2019, dari Saudi Gazette: http://live.saudigazette.com.sa/article/174057

Saliman, A. R. (2010). Hukum Bisnis untuk Perusahaan : Teori dan Contoh Kasus. Jakarta: Kencana.

Facebook Comments

11 Comments











Leave a Reply

Your email address will not be published.