MENULIS SEBAGAI PERISAI DIRI

Sejarah Menulis

Si dia sudah lulus kuliah karena prestasinya yang bagus dia langsung diterima di perusahaan pemerintah di tanah sebrang. Hari ini ia akan datang ke rumahmu untuk melamarmu? Apakah engkau masih ingat janjinya dulu saat bersama duduk di pojok kantin kampus sambil menikmati kopi pagi? Berita ini ternyata hoax! Si dia belum selesai skripsi, belum wisuda dan belum bekerja apalagi akan melamarmu!

Anda baru lulus kuliah, ijazah sudah ditangan, cita-cita antara dua pilihan; lanjut S2 atau bekerja di perusahaan BUMN. Setelah tiga bulan berlalu akhirnya Anda mendapatkan info beasiswa pasca sarjana di universitas negeri ternama di Indonesia. Info tersebut tertulis jelas jadwal penerimaan, tes, sampai detail alamat kampus. Persyaratan berkas dan persiapan diri sudah disiapkan matang-matang. Ketika coba konfirmasi ke contact person yang tercantum di pengumuman, ternyata itu adalah Fake News alias Hoax! Anda baru tahu kalau info itu tidak resmi dan tidak bersumber dengan jelas. Apa yang Anda rasakan saat itu?

Apa yang Anda rasakan saat menjadi korban berita hoax di dua paragraf di atas? Sering kali kita membaca informasi yang penting, tentang isu terkini atau hal-hal yang sifatnya perlu ditanggapi. Terkadang informasi tersebut bersifat terlalu persuasif, seolah-olah ia perlu dibenarkan dan diyakini sebagai kebenaran dan tanpa data yang matang. Atau informasi yang sifatnya memberi dampak keuntungan bagi pembacanya. Diberikan tanggal, waktu, tempat, sumber yang mengeluarkan hingga siapa yang bertanggungjawab tentang informasi tersebut tertulis sangat jelas. Tapi, lagi-lagi kita terjerat berita palsu yang sudah terlanjut kita telan mentah-mentah tanpa konfirmasi ke pihak yang bersangkutan dahulu.

Tentu ini sangat merugikan, apalagi ditambah dengan semakin majunya era digital yang setiap orang mudah mengakses segala informasi. Virus hoax ini sudah menjalar ke sendi-sendi kehidupan berwarganegara. Mulai dari masyarakat tinggat atas hingga tingkat bawah semua bisa terperangkap oleh si Hoax ini.

Derasnya arus informasi membuat masyarakat kita bingung dengan kevalidan data. Hantaman berita hoax ini mengikis kepercayaan masyarakat terhadap suatu lembaga, seseorang atau bahkan pemerintah. Tak dipungkiri, bahwa memang virus ini sangat cepat diterima oleh setiap orang lebih cepat melalui sosial media daripada portal resmi sebuah lembaga. Ditambah tingginya animo masyarakat milenial yang pola hidupnya sudah tergantung dengan internet. Seorang profesorpun bisa saja terserang berita hoax. Hanya saja, yang membedakan kita adalah bagaimana mengambil sikap saat menghadapinya.

Berita hoax ini memiliki banyak motif yang melatarbelakanginya, diantaranya bertujuan untuk pengikisan ideologi, penipuan, kejahatan kriminal, mencari sensasi, penggiringan isu politik, hingga kepentingan golongan. Semua itu dikemas seolah-olah otentik dari pembuat berita.

Pemerintah dengan segenap programnya masih belum memberikan efek jera bagi penyebar hoax. Pemerintah tidak bisa menuntaskan bersihnya virus ini di masyarakat. Disamping tingkat pendidikan yang rendah juga minimnya informasi yang didapat justru sangat mempengaruhi bagaimana penerimaan dan sikap seseorang terhadap berita hoax yang diterimanya.

Repotnya, jika di masyarakat kita terjadi hal demikian. Menjalarnya berita hoax yang kadang diluar nalar dan prasangka seseorang bisa dianggap menjadi kebenaran bila yang meyakini lebih banyak daripada yang membantah. Padahal belum tentu benar. Selain tingkat pendidikan, faktor lain seperti kepercayaan dan kesukuan atau adata juga mempengaruhi berhasil tidaknya hoax tersebut berjalan.

Ini tidak dapat dibiarkan, ini tidak dapat didiamkan. Tantangan pemerintah ke depan akan lebih berat. Memberantas hoax ini butuh kerjasama dari lapisan masyarakat sebagai tanggungjawab bersama. Melimpahkan sepenuhnya tannggungjawab pemerintah bukanlah solusi. Kita perlu menjadikan diri kita sebagai perisai terdepan sebelum pemerintah. Atau jangan-jangan kita saat ini menjadi oposisi pemerintah karena kita sudah termakan isu hoax itu sendiri?

Bahaya berita hoax

  • Mendangkalkan akidah sebagai warganegara yang beragama

Dampak yang paling dikhawatirkan dari hoax dalah pendangkalan akidah, dimana umat digiring oleh satu opini atas nama agama atau sub bab pembahasan spesifik tertentu yang tidak shahih.

Motif hoax paling sering adalah menyangkut-pautkan tulisan hoax tersebut dengan takdir Allah yang belum tentu terjadi. Contoh di akhir penutupnya, “Jika Anda dalam waktu 5 menit tidak segera membagikan tulisan ini kepada orang lain, maka celaka akan menimpa Anda secara tiba-tiba hari ini” dan lains sebagainya.

  • Penggiringan ideologi
Baca juga :  MENGENAL BUDAYA LITERASI

Penggiringan ideologi ini lebih berkaitan dengan pancasila dan undang-undang dasar sebagai hukum tertinggi negara. Berita hoaz acapkali mencantumkan pasal demi pasal untuk menegaskan opininya seolah berita yang disampaikan memang bersumber hukum dan kuat di mata hukum.

Berita-berita seperti ini hanya akan menimbulkan pengikisan pemahaman ideologi seorang warganegara dalam mentaati peraturan pemerintah. Ujung-ujungnya berita hoax tersebut membuat suasana pemerintahan dan masyarakat tidak nyaman serta menimbulkan kecemasan ekonomi.

  • Menimbulkan budaya menuduh dan menfitnah tanpa sebab

Setelah akidah berhasil didangkalkan dan ideologi dirusak, maka yang akan terjadi kemudian adalah munculnya budaya masyarakat mudah saling tuduh dan menfitnah tanpa dasar dan bukti yang jelas. Dan yang paling berbahaya ketika budaya ini menjangkiti anak-anak dan remaja

  • Menciptakan kebencian suku, RAS dan golongan

Ketika berita hoax tersebut membawa nama suku, ras dan golongan maka akan ada pihak yang mengambil keuntungan di sana, tetapi juga pasti ada yang dirugikan. Buntut dari sini akan menimbulkan konflik sosial-politik yang mengancam kehidupan sosial bahkan mengancam nyawa orang lain.

Kerugiaan dampak hoax

  • Merenggangkan hubungan kekeluarganaan dan bisnis

Berita hoax selalu menimbulkan kesalahpahaman antar kedua belah pihak, baik dalam hubunga keluarga atau bisnis. Tentu hasil akhirnya kita akan kehilangan saudara.

  • Membentuk gap antara elit dan kalangan bawah

Kaum elit dengan kehidupannya dan kaum bawah dengan kehidupannya. Awal mula suasana yang tenang-tenang saja mulai terjadi konflik lantaran berita palsu yang saling menguatkan identitas diri sendiri.

  • Membuat masyarakat terkotak-kotak

Sebagai warganegara yang cerdas dan cakap ilmu pengetahuan seharusnya semakin hari semakin belajar dari kesalahan. Tidak mudah terpengaruh tulisan-tulisan provokatif dan persuasif adalah sikap yang bijak demi ketenangan dan kenyamanan bermasyarakat.

Jangan sampai kita terkotak-kotak dengan media yang ada. Sangat banyak media-media baik cetak maupun elektronik, termasuk sosial media yang tidak legal bermunculan. Jangan sampai kita hanya bisa menerima informasi tanpa bisa mengolah dan memahaminya.

Solusi terhindar berita hoax

  • Bertabayyun (konfirmasi langsung) kepada yang bersangkutan

Di dalam Islam, semuanya telah sempurna. Kita diajarkan adab bertabayyun, yaitu bertanya ulang kepada yang menjadi subjek informasi (pembawa berita) dan objek informasi (yang diberitakan). Hal ini sangat dianjurkan untuk menghindari ketidakjelasan informasi yang didapatkan. Juga untuk menghindari fitnah atau tuduhan yang tidak mendasar kepada siapapun.

Seoran da’i atau ustadz sangat ditekankan ketika menyampaikan hal di dalam dakwahnya untuk menyertakan sumber informasi yang jelas, baik ayat dalam AlQur’an, hadist (sanad) nya, fatwa ulama serta kitab-kitab yang menjadi rujukannya berdakwah

  • Membaca

Mengapa membaca? Membaca bisa menjadi cara dapat terhindari dari berita hoax. Orang yang gemar membaca akan memiliki wawasan yang luas. Orang yang hobi membaca akan lebih bijak memaknai setiap masalah atau kejadian hidup yang datang.

Kita dapat membedakan cara pandang antara orang yang membaca hanyas satu buku dengan sepulu buku. Selain pola pemikiran, mekanisme koping (pengambilan keputusan) seseorang akan jauh lebih baik dan tenang bagi mereka yang gemar membaca. Jadilah seperti negara norwegia yang melek hampir selruh warganya melek literasi.

  • Menulis

Berita hoax paling banyak porsinya melalui tulisan. Karena tulisan sangat mudah dan murah untuk di sebarkan kemanapun, utamanya sosial media. Satu-satunya cara yang efektif melawannya adalah melalui tulisan juga. Tentu, tulisan yang kita sampaikan harus lebih ber’isi’, valid dan ilmiah serta dapat dipertanggungjawabkan.

Menulis adalah perisai diri paling efektif untuk tidak hanya diri sendiri, tetapi juga khalayak umum. Semakin banyak menulis, semakin banyak sumbangan kita bagi ilmu pengetahuan, semakin banyak bukti-bukti ilmiah dapat kita sampaikan sebagai balasan berita hoax yang tak bersumber itu.

Kesimpulannya, tidak setiap informasi kita yakini dan dibenarkan langsung seratus persen secara langsung. Sikap kritis dalam mencari kebenaran adalah mutlak agar terhindar dari kerugian-kerugian dampak negatif hoax. Sangat banyak berita-berita hoax itu sendiri bermunculan dalam bentu tulisan. Maka solusi yang paling baik untuk melawannya adalah melalui tulisan juga. Maka, menulislah sebagai perisai diri.

DAFTAR PUSTAKA

Marboen, A. P. (2015, April 28). SBY: Hutang Indonesia ke IMF lunas pada 2006. Dipetik Mei 07, 2019, dari Antara News: https://www.antaranews.com/berita/493293/sby-utang-indonesia-ke-imf-lunas-pada-2006

Facebook Comments
Latest posts by Writing Prodigy (see all)

Leave a Reply

Your email address will not be published.