MENGENAL BUDAYA LITERASI

Literasi
Ns. Satya Putra Lencana RN
Follow me

Kata “Budaya” secara bahasa berarti sesuatu yang sudah sukar dirubah, kebiasaan atau adat istiadat dan “Literasi” yang berarti acuan kepustakaan. Dengan demikian, budaya literasi yang dimaksud adalah sebuah pola atau kebiasaan mengambil sumber ilmu berdasarkan pendekatan sumber acuan kepustakaan yang jelas dan ilmiah.

Sahabat, namun bukan itu yang ingin saya bahas. Fokus kita adalah mengenal budaya literasi sebagai bagian dari kemajuan sebuah negara di bidang ilmu pengetahuan. Bagaimana negara dikatakan sebagai negara yang utuh dalam berliterasi dan apa dampak yang ditimbulkan jika suatu negara sangat minim perhatian tentang ini.

Berliterasi pada dasarnya membutuhkan kebiasaan dan kebiasaan itu yang mengikat budaya tersebut. Bicara literasi berarti kita juga bicara tentang membaca dan menulis. Keduanya seperti suami istri yang jelas memiliki perberbedaan tapi saling menarik, mengait, saling membutukan satu sama lain. Karena menulis membutuhkan membaca, semakin banyak menulis berarti harus semakin banyak membaca.

Di Indonesia, budaya membaca bangsa kita masih rendah. Salah satu faktornya adalah karena kita malu untuk membaca. Jangan malu untuk mendapat gelar ‘Kutu Buku’, karena Bangsa Jepang sudah lebih dulu mendapatkannya di dunia internasional sejak retorasi Meiji, dimana para pemimpin saat itu mulai menerjemahkan buku-buku asing dari seluruh dunia terutama Amerika dan Eropa, hal ini dibuktikan dengan fakta bahwa setiap tahun mereka bisa mencetak buku lebih dari 1 miliar.

Sahabat Prodigy …

Sebuah negara bisa maju disebabkan masyarakatnya secara lengkap telah mengalami berbagai tahapan kebudayaan secara linear dan utuh. Dari kebudayaan lisan, kebudayaan tulisan, kebudayaan baca, kebudayaan audio-visual (TV), dan sekarang kebudayaan cyber. Nah, hal ini tidak dialami oleh bangsa kita. Bangsa kita hanya mengalami kebudayaan lisan, lalu melompat ke kebudayaan audio-visual, dan sekarang begitu cepat menularnya dengan kebudayaan cyber. Di negeri ini kebudayaan tulisan dan baca terlewat dan terlupakan.

Bangsa kita mengalami cultural lost, kehilangan budaya atau budaya yang terlampaui dalam konteks budaya baca. Maksudnya, tatkala kita secara sadar dalam era Indonesia merdeka hendak membangun tradisi baca, tiba-tiba kita dihadapkan dengan budaya baru dari negara maju yang menggunakan sarana audio visual (radio dan televisi). Hantaman budaya televisi membuat kita sulit mengembangkan budaya baca, belum lagi karena kebijakan yang dinilai tidak memihak budaya baca, seperti keterbatasan bacaan dan mahalnya bacaan, seperti suratkabar dan buku.

Hasil penelitian yang dilakukann oleh Organisasi Kerja Sama dan Pembangunan Ekonomi (The Organisation for Economi Co-operation and Development, OECD) pada tahun 2013 dihasilkan data bahwa Indonesia menduduki peringkat kedua negara paling inovatif dalam bidang pendidikan di dunia. Dalam hal inovasi pendidikan, kita di belakang Negara Denmark yang berada di peringkat pertama, tapi mengalahkan negara maju, seperti Korea Selatan, Singapura, Jepang, Jerman, dan Amerika Serikat (Republika, 2015).

Inovasi pendidikan ini meliputi kemampuan penggunaan buku teks dan penerapan sistem pembelajaran yang terkait dengan kehidupan sehari-hari. Namun, peringkat OECD ini kontras (baca : ‘berbanding terbalik’) dengan hasil penelitian yang dilakukan Programme for International Student Assesment (PISA) setahun sebelumya yang menempatkan Indonesia di peringkat kedua terbawah dalam hal kemampuan matematika dan ilmu sains (Republika, 2015).

Apa artinya? Artinya negara kita nomer kedua dari belakang sob!. Negara kita berada di urutan 64 dari 65 negara yang disurvei. Di level ASEAN, kita kalah jauh dari Vietnam yang menempati urutan ke-20. PISA juga menempatkan Indonesia di nomor 57 dari 65 negara yang diteliti dalam hal kemampuan membaca siswa (Republika, 2015).

Menurut data dari The Organizaton for Economic Co-Operation and Development (OECD), budaya membaca masyarakat Indonesia berada pada di peringkat terendah di antara 52 negara di Asia. UNESCO melaporkan pada 2012 kemampuan membaca anak-anak Eropa dalam setahun rata-rata menghabiskan 25 buku, sedangkan Indonesia mencapai titik terendah : 0% (Nol Persen!), lebih tepatnya 0,001 %. Artinya, dari 1000 anak Indonesia, hanya satu anak yang mampu menghabiskan satu buku dalam setahun. Menurut indeks pembangunan pendidikan UNESCO ini, Indonesia berada di nomor 69 dari 127 negara (Republika, 2015). Angka ini tentu sangat menyedihkan bukan?

Baca juga :  SENI MENULIS

Keprihatinan kita makin bertambah jika melihat data UNDP yang menyebutkan angka melek huruf orang dewasa di Indonesia hanya 65,5%. Sebagai pembanding, di Malaysia angka melek hurufnya 86,4 persen (Republika, 2015).

Mengacu pada angka-angka ini, tentu saja prestasi membanggakan menurut survei OECD bahwa Indonesia menempati peringkat kedua paling inovatif dalam bidang pendidikan menjadi tak bermakna. Meski ada makna di balik angka-angka itu bahwa warga Indonesia berprestasi secara pendidikan, yang kurang hanyalah minat membaca buku.

Ini persoalan penting, ini perkara genting. Soal minat baca memang terlihat tidak se-mendesak persoalan energi atau pangan. Tetapi bagaimana menyiapkan masa depan negeri ini jika tingkat literasi begitu rendah! (Suhendra, 2018)

Mengupas penyebab kurangnya minat baca bangsa kita, banyak faktor yang melandasinya. Namun, yang paling mendasar adalah kurang atau bahkan tidak adanya kebiasaan membaca yang ditanamkan sejak usia dini. Seperti halnya pola seseorang mengonsumsi makanan, jika tidak dibiasakan makan nasi, saat dewasa tidak akan mau melahap nasi. Dia memilih gandum, roti, jagung dan berbagai substitusi lainnya. Ini hanyalah faktor pembiasaan yang kemudian diikuti dengan adaptasi oleh organ-organ tubuh untuk bisa mengimbangi hingga pada akhirnya bisa menjadi kebiasaan.

Sahabat

Kembali lagi, bahwa dunia literasi itu penting. Lebih penting dari yang kita pelajari di sekolah dan kuliah. Karena berliterasi itu implementasinya sepanjang hayat. Kita dapat membedakan bagaimana pola fikir dan konseptual seseorang yang membaca satu buku dengan seseorang yang membaca 10 buku.

Kita harus open mind. Literasi bukan hanya tentang pendidikan kewarganegaraan, bukan hanya tentang pendidikan kesehatan, bukan pula hanya tentang pendidikan agama, lebih jauh lagi tentang berbagai macam aspek kehidupan kita harus bisa berliterasi. Tanamkan sejak kecil, sejak dari dalam rumah kita sendiri, mulai dari anak-anak kita, bahwa kebutuhan ilmu itu penting dan mutlak harus dipenuhi dan untuk memenuhi kebutuhan tersebut adalah kita hahrus bisa berliterasi, harus bisa bersumber pada sumber yang jelas.

Negara ini sudah menjamin hak-hak setiap warga negaranya untuk mendapatkan pendidikan yang layak. Negara kita sudah berdeklarasi untuk mencerdaskan bangsa. Maka, selayaknya kita menyambut visi mulia tersebut dengan implementasi nyata, salah satunya yaitu dengan membaca dan menulis buku.

Sadarkah kita? Sesungguhnya di dalam Agama Islam telah jelas dianjurkan untuk berliterasi yang baik dan benar. Islam adalah agama yang mulia dan ilmiah serta memperhatikan valid (shahih) atau tidaknya sebuah berita. Budaya berliterasi ini patut kita contoh sebagaimana para sahabat dahulu sangat menekankan budaya ini. Abdullah bin Mubarrak rahimahullah mengatakan, “Sanad adalah bagian dari agama. Jika tidak ada sanad maka orang akan berkata semaunya”.[1] Sanad merupakan sandaran yang dapat dipercaya atau rangkaian periwayat yang menghantarkan matan (teks) kepada Rasulullah ﷺ.

Sahabat

Apakah kita akan menaiki loteng tanpa tangga? It is simple. Salah satu manfaat paling besar berliterasi adalah kita tidak mudah dikaburkan dengan berita-berita hoax, fake news seperti di era digital sekarang ini yang setiap orang bisa mengakses segala informasi dari internet semaunya tanpa sumber yang jelas, tanpa data yang valid.

Kita tidak bisa melawan derasnya arus digital ini, tapi kita bisa berkawan dengannya. Menjadikan internet sebagai media pendamping literasi cetak. Ingat, bukan pengganti, tapi pendamping. Artinya internet itu bukan sebagai sumber rujukan utama, tetapi hanya sebagai pendukung sumber literasi buku dan kitab-kitab yang ada. Memang, ada media-media yang secara bijak dan adil mencantumkan sumber informasi yang di muat di linimasa atau halamannya, namun ini bisa dihitung dengan jari jumlahnya. Ini sah-sah saja, selama itu tidak berkaitan dengan agama, kesehatan dan pendidikan. Ketiga pilar ini perlu mendapat perhatian lebih untuk tidak sembarangan mencomot (baca : ‘mengutip sebagian/tidak utuh’) di internet yang tidak bersumber. Alih-alih justru dikhawatirkan ketika ada ideologi-ideologi menyimpang yang dicampur-aduk kan dengan fakta atau teori murni tertentu kemudian dikalim seabgai kebenaran apalagi sampai diyakini. Tentu sangat berbahaya.

Bagaimana jika sumber yang kita ambil berasal dari ahli filsafat yang semuanya harus dimasukkan sesuai akal manusia? Bagaimana jika sumber yang kita ambil adalah hadist palsu atau lemah dalam beribadah?. Maka, berliterasilah, menulislah sebagai perisai diri. (InsyaAllah akan dibahas pada bab selanjutnya).

Benar kata seorang sastrawan Indonesia Bung Pramoedya Ananta Toer, “Membacalah jika ingin melihat dunia, tapi menulislah jika ingin dikenal dunia”. Kesimpulannya, berbudayalah, berliterasilah sebagai insan yang berkarakter.

DAFTAR PUSTAKA :

  • Republika, T. R. (2015, February 27). Minat Membaca. Dipetik March 20, 2016, dari Republika: https://m-republika-co-id.cdn.ampproject.org/v/s/m.republika.co.idamp/nkf7k917minat-membaca
  • Suhendra, H. e. (2018). Kumpulan Buletin Jum’at Mesjid Baiturrahman Jilid 2. Sukabumi: CV Jejak.

[1] Muqadimah Shahih Muslim 1/15, Dar Ihya’ At-Turots, Asy-Syamilah

Facebook Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published.