OH… PRINSIP! AKU DILEMA

Sea Woelandary
Follow me
Latest posts by Sea Woelandary (see all)

Hari ini, aku benar-benar lelah. Tubuh ringkih ini pun rasanya semakin menyusut ditelan kepenatan. Bagaimana tidak? Seharian ini, aku harus berhadapan dengan tujuh orang klien. Kasus mereka begitu beragam hingga membuat kepalaku sedikit pening. Oh Tuhan … aku hanya ingin membantu mengatasi permasalahan mereka, tapi mengapa diriku sekarang jadi ikutan baper?

“Aduh, Shofia. Nggak usah ikutan baper kayak gitu deh. Nyantai aja kelleus. Ntar bisa-bisa kamu yang butuh dikonsulin. Hahahahahahahah ….”

Terdengar bisikan di telingaku. Siapa, ya? Itu setan apa malaikat? Ah … entahlah. Kulihat jam dinding di ruang tamu. Pukul empat sore. Ingin rasanya merebahkan diri, tapi rentetan jadwalku yang lain siap menunggu dieksekusi.

Selain sebagai konselor psikolog, aku juga nyambi jualan online dan satu lagi kerjaan yang sudah sedari dulu menyatu dengan jiwaku, yaitu menulis. Dari kecil, aku memang hobi menulis. Namun, baru dua tahun ini sih, aku merasa benar-benar berbakat jadi penulis dan menjadikannya sebagai salah satu pekerjaan sampingan.

Sore ini, aku harus mengepak enam paketan untuk para customers tersayang biar esok paginya bisa aku kirim. Selesai bergelut dengan jualan online, aku masih ada PR, yaitu harus mengedit dan sedikit memoles novel ketigaku. Dengan seperti ini, setidaknya bisa membantu tim editor saat masuk dapur redaksi nantinya. Semua itu selesai menjelang pukul 21.00 WIB.

Untungnya lagi Satnite, jadi aku bisa nyantai nggak perlu terburu-buru tidur malam. Kan, besok libur. Malam ini, aku hanya ingin bersantai ria, duduk di balkon depan kamar sambil menyeduh green tea, minuman kesukaanku. Kulihat lalu lalang kendaraan di jalan raya. Ramai sekali. Maklumlah, ya. Pasti banyak muda-mudi lagi malam Minggu-an.

Tiba-tiba Hpku berdering. Ada panggilan masuk.

Assalamu’alaikum, Ver. Tumben banget telpon. Kangen, ya?”

Wa’alaikumussalam, Shofia saying. Iya nih, kangen banget sama kamu. Tapi ada yang lebih kangen lagi sama kamu lho.”

“Ih… apaan sih? Emang siapa yang kangen? Pasti si kecil Sherryl. Mana mana. Bilangin tante pengen say hello.”

“Sherryl udah bobok sama papanya tuh.”

“Lha, kamu kok nggak ikutan mereka?”

“Belum ngantuk, Shof. Lagian aku pengen ngobrol sama kamu. Ada yang pengen aku sampein. Mumpung anak ma ayahnya lagi bobok, jadi nggak ganggu hehe.”

“Ecieee… yang merasa terganggu dengan suami dan anak. Hahahahah. Emang mau nyampein apa? Serius amat.”

“Kamu masih ingat Erik, mantanku?”

“Oh… Mas Erik yang dari Jogja? Yang ngajakin kita naik bianglala?”

“Yups. Betul. Kirain udah lupa.”

“Hahaha. Enggak lah. Dia kan yang sering kamu puja-puja. Nggak pagi, siang, sore bahkan malam pun obrolanmu tentang dia. Serasa aku kayak minum obat tauk saat itu. Ckckckck.”

“Ya ampun. Segitunya ya, aku dulu? Hahaha.”

Btw, ada apaan sih? Kamu mau ngomong apa? Jangan-jangan kamu CLBK ma Mas Erik? Iya kah?”

“Hush! Lambemu! Enggaklah, aku udah bahagia dengan Mas Ferry. Apalagi sekarang udah ada Sherryl. Justru aku pengen kamu juga bahagia kayak aku.”

“Maksudmu?”

“Minggu lalu, tanpa sengaja aku ketemu Mas Erik di mall. Katanya dia lagi ada tugas di sini. Akhirnya kami ngobrol, sempat makan bareng juga.”

“Bentar-bentar. Mas Ferry tau kamu makan bareng sama Mas Erik?”

“TaulaH. Kan, saat itu aku juga ngajakin adik iparku, Sherryl juga.”

“Oh… OK. Lanjut.”

“Jadi sebenarnya, Mas Erik itu suka sama kamu, Shof. Hanya saja, kan kamu nggak mau pacaran, dia berinisiatif deketin aku hingga akhirnya kami jadian. Tujuan utama dia deketin aku, ya, biar bisa deket-deket sama kamu. Tapi, nggak berhasil saat itu. Ya udah, dia mutusin aku. Alasannya sih saat itu dia pengen fokus kuliah. Akhirnya, ya,minggu laludia menjelaskan keadaan yang sebenarnya dan dia juga minta maaf sama aku. Dia pengen ketemu kamu, Shof. Bolehkah?”

OMG. Kalo dia emang suka aku, kenapa nggak bilang aja? Kenapa harus nyakitin perasaan kamu? Yah jelaslah dia nggak berhasil deketin aku karena saat aku tahu kalian jadian, itu artinya aku harus jaga jarak sama mas Erik. Aku nggak mau deket-deket sama pacar sahabatku. Terus sekarang dia maunya apa?”

“Udah nggak apa-apa, Shof. Mungkin saat itu, aku patah hati. Itu dulu. Sekarang udah nggak kok. Bagiku, dia hanya teman sekarang. Jika kamu mengizinkan, dia ingin bertemu dengan kamu sekaligus kedua orang tuamu.”

What??! Ngapain?”

“Dia ingin melamarmu, Shof. Dia tidak ingin mengajakmu pacaran, dia ingin menikahimu. Dia tahu betul prinsipmu, Shofi. No pacaran sebelum halal. Iya, kan?”

“Iya betul. Itu memang prinsipku. Tapi, kamu apa lupa dengan prinsipku yang lain?”

Baca juga :  APA ITU CERBUNG?

“Maksudmu?”

“Vera sayang …kan, aku sering banget bilang sama kamu. Aku nggak akan menikah dengan mantannya sahabatku. Apapun alasannya. Itu prinsipku. Aku tidak ingin menyakiti hati sahabatku.”

“Tapi, Shof. Demi Allah … aku ikhlas jika Mas Erik jadi suamimu. Justru aku lebih tenang karena Mas Erik memperoleh istri sebaik dan sesholihah kamu.”

“Maaf, Ver. Aku nggak bisa. Bilang saja sama Mas Erik, aku sedang sibuk dengan pekerjaanku dan belum memikirkan tentang pernikahan. Jangan pernah lagi berharap padaku. Titip doaku untuknya. Semoga dia segera dipertemukan dengan jodohnya, meskipun itu bukan diriku. Maafin aku, Ver.”

“Baiklah, jika itu kemauanmu. Akan aku sampaikan. Udah malam, Shof. Aku akhiri dulu yaa… I love you, Shof. You will always be my beloved friend, won’t you?”

Of course.”

Wassalamu’alaikum.”

Wa’alaikumussalam.”

Ternyata eh ternyata. Mas Erik orangnya gitu. Tau, ah. Lebih baik aku tidur.

Minggu pagi ini, aku berencana jogging dengan kucing kesayanganku, si Janette. Kami berdua berlari-lari kecil sambil sesekali jalan muterin perumahan. Itu saja sudah cukup membuat kami ngos-ngosan. Si Janette terlihat kecapekan. Kasihan juga dia. Akhirnya aku menggendongnya pulang.

Sesampainya di rumah, aku harus menyiapkan makanan kesukaan Janette. Apalagi kalau bukan makanan kucing heheheh. Tak lupa semangkuk susu untuk Janette tersayang. Aku hanya sarapan roti bakar dan susu. Malas masak. Mama Papaku di luar kota. Bibi juga pulang kampung.

Sambil masukin remah-remah roti ke mulut, aku buka FB. Biasalah. Saatnya melihat orderan hehehe. Tiba-tiba gawaiku berdering. Terlihat tiga belas digit angka yang belum pernah aku kenal.

“Halo.”

Assalamu’alaikum, Shofia.”

Wa’alaikumussalam, siapa, ya?”

“Aku Hafidz. Ingat, nggak?”

“Hafidz siapa, ya? Maaf, aku nggak bisa mengingatnya.”

“Umm … kamu sekarang lagi FB-an, nggak?”

“Iya.”

“OK. Coba kamu search Andi El Hafidz. A en de i spasi E el spasi Ha a ef i de zet.”

Dia mengejanya. Aku pun langsung mengetik nama Andi El Hafidz. Oh Tuhan … aku pernah mengenalnya dulu saatseminar di UGMsebelum akhirnya aku unfriendFB dan unfollow twitter-nya karena kami udah lama nggak komunikasi.

“Aduh. Maaf, Mas. Aku lupa.”

“Udah aku tebak, kamu pasti lupa. Lha wong semua medsosku kamu unfriend unfollow. Tapi, alhamdulillah nggak kamu blokir. Heheheheh.”

“Eh … iya, Mas. Masih nyimpen nomorku?”

“Iyalah. Kaifa haluk, Shofi?”

Bi khoir, alhamdulillah. Mas apa kabar? Udah lama, ya, kita nggak ngobrol?”

Alhamdulillah, aku baik. Oh ya, gimana kabarnya Revy? Sepertinya, dia sudah punya anak, ya?”

Alhamdulillah, dia baik, Mas. Dua minggu lalu, kami jalan bareng kok. Eciee Mas Hafidz masih inget sama gebetannya. Ecieee….”

“Aduh, Shofia. Apaan sih? Aku hanya menganggap dia sebagai teman. Dulu seperti itu, sekarang pun tetap seperti itu.”

“Umm… sepertinya kalian dulu deket banget deh. Komunikasi kalian juga intens. Masak cuma temen? Bohong deh Masnya. Haha.”

“Beneran.”

“Kasian Revy lho, Mas. Dia dulu sering nangis gara-gara Mas nggak pernah balas message dia. Mas cuekin dia. Sampai akhirnya dia blokir seluruh medsos Mas Hafidz.”

“Nah, itu dia, Shofia. Aku juga bingung sama Revy. Saat itu, kan aku lagi sibuk dengan thesisku. Dan aku hanya membalas pesan-pesan saat aku luang. Aku juga bingung kenapa dia seperti itu? Toh, kami kan hanya teman bukan pacar yang setiap saat harus tahu keberadaan kekasihnya, kan?”

“Mas Hafidz salah. Bagi Revy, Mas bukan hanya sebagai teman, tapi lebih dari itu. Revy sudah menganggap Mas sebagai calon ayah dari anak-anaknya kelak karena selama ini, Mas lah satu-satunya cowok yang menurut Revy, menganggap Revy itu ada. Mas nggak pernah meremehkan dia. Mas yang selalu memberi semangat Revy saat dia sedang ada masalah. Bahkan, Mas yang bantuin dia ngerjain skripsi. Mas tau? Mas adalah salah satu motivasi bagi Revy buat nyelesain skripsinya. Eh, Mas malah kabur saat Revy udah Mas buat melayang di angkasa.”

“Seperti itu kah, Shof? Sungguh, Shof. Aku nggak ngerti. Aku nggak tau kalau Revy menganggapku seperti itu. Padahal, dulu aku hanya menganggap dia sebagai teman dan kalaupun aku memberi semangat dia, ya semata-mata ingin memberi semangat saja. Nggak ada salahnya kan bagi seorang teman untuk melakukan itu?”

“Iya, Mas. Tapi bagi Revy lain. Mas adalah orang yang spesial. Ya, mungkin Revy salah mengartikan itu semua, Mas. Sudahlah, nggak usah dipikirin, Mas. Itu kan dulu. Sekarang Revy udah punya keluarga.”

“Iya. Makasih, Shof, sudah memberitahuku. Jika kamu ketemu dia, tolong sampaikan maafku padanya. Dia hanya salah sangka. Maafkan aku.”

“Baik, Mas. Insyaallah.”

“Shof … boleh aku bertanya?”

“Silahkan.”

“Shofia sudah menikah?”

“Allah Swt belum mengirimkan jodoh buat Shofi, Mas.”

“Sejujurnya dari dulu, aku sukanya sama kamu, Shof. Bukan yang lain. Bukan pula si Revy. Namun, aku tahu prinsipmu yang anti pacaran. Saat itu, kita pernah ngobrol, kan? Kamu bercerita bahwa kamu ingin menikah saat usiamu 27 tahun. Dari situlah, aku mulai menghindarimu. Aku hanya ingin bercengkerama denganmu saat usiamu mencapai angka itu. 25 Maret 1990 itu tanggal lahirmu, kan? Itu artinya, sekarang kamu sudah 27 tahun. Bukankah seperti itu?”

“Umm … iya, Mas.”

“Shofia … jika kamu mengizinkan, bulan depan aku ingin menemuimu beserta keluargamu. Bolehkah aku melamarmu?”

Oh Man… ini termasuk prinsipku bukan, ya? Kok aku mendadak bingung? Aku tidak akan menikah dengan mantannya sahabatku. Mas Hafidz kan mantannya Revy. Eh bukan ding! Dia hanya mantan gebetannya si Revy. Tapi, aku bakal nyakitin hati Revy nggak, ya, kalau menikah dengan Mas Hafidz? Toh, ini bukan salahku? Aku juga tidak main tikung.

Oh Tuhan … aku dilema. Aku mencintai Mas Hafidz. Tapi, aku bingung mau jawab apa. Bolehkah aku menjawab “IYA”?


Facebook Comments

23 Comments

  1. Tulisannya keren. Penulisnya beken.

    1. Terimakasih telah membaca kak. Salam hangat Prodigy

      INFO TERBARU!

      Hallo kak! Prodigy selalu hadir memudahkan kebutuhan pembaca. Prodigy telah memiliki Perpustakaan Online yang dapat diakses oleh siapapun. Pengunjung dapat mendownload ebook-ebook gratis terupdate dan lengkap, meliputi; Kesehatan, Novel. Pendidikan, Agama, Bisnis, Kepenulisan dan lain-lain. Kakak dapat berkunjung di https://writingprodigy.org/2020/08/prodigy-library/

      Jangan lupa untuk men-share ke teman-teman Kakak yang lain supaya masyarakat lebih gemar membaca ya. Terimakasih

      (Enjoy shopping with us on PRODIGY BOOK STORE Now! Please visit us on http://store.writingprodigy.org Thank you!)













  2. Thanks a lot for sharing this with all folks you actually know what you are speaking about!
    Bookmarked. Kindly also consult with my website =). We could have a hyperlink exchange agreement between us

  3. Hmm it looks like your website ate my first comment (it was super long) so I
    guess I’ll just sum it up what I submitted and say, I’m thoroughly enjoying your
    blog. I too am an aspiring blog blogger but I’m still new to everything.
    Do you have any points for rookie blog writers?
    I’d really appreciate it.

    My page :: https://togelsingapuraku.com/

  4. Great blog here! Also your site loads up fast! What host are
    you using? Can I get your affiliate link to your host?
    I wish my website loaded up as quickly as yours lol

    Feel free to surf to my web blog :: textly.net

  5. I do not even know how I ended up here, but I thought this post was great.
    I don’t know who you are but certainly you’re going to a famous blogger if you aren’t already
    😉 Cheers!

    Also visit my blog post … aircraft-games.com


Leave a Reply

Your email address will not be published.