PENTINGNYA MENULIS

Pentingnya Menulis
Ns. Satya Putra Lencana RN
Follow me

Beliterasi adalah budaya ulama, berliterasi adalah budaya bangsa maju dan berliterasi adalah budaya bangsa yang merdeka. Salah satu manifestasi dari berhasilnya proses seseorang berliterasi adalah dihasilkannya sebuah tulisan (baca: ‘buku’), dan tentu untuk membuat buku adalah melalui menulis. Menulis memegang peran penting pada ilmu pengetahuan dan sejarah. Ini terbukti dari banyaknya buku atau kitab karya-karya ulama dan tokoh besar di zamannya. Mereka menjadikan menulis sebagai pengabdian diri untuk terbentuknya masyarakat yang bermadani, dan menjadikan menulis sebagai warisan budaya paling berharga untuk generasi baru yang akan datang.

Mencontoh Budaya Menulis Ulama

Para ulama sejak zaman para sahabat dahulu sangat memberikan perhatian terhadap budaya menulis. Menulis sebagai wujud syukur atas ilmu yang sudah didapatkan dengan berusaha untuk terus menyalurkan ilmu tersebut menjadi sebuah karya (buku). Menulis juga sebagai upaya menjaga dan mendistribusikan ilmu pengetahuan.

Ulama pada zamannya sangat menganjurkan menulis ketika bermajelis (menuntut ilmu). Menulis dalam konteks ini adalah membuat catatan-catatan kecil dan merangkum ilmu yang disampaikan oleh ustad atau syaikh pada waktu itu. Sehingga tidak heran jika para ulama besar khususnya di negara-negara timur tengah sangat banyak yang memiliki karya kitab termasyhur (terkenal) dan bahkan masih digunakan sampai saat ini.

Para ulama sangat menganjurkan budaya menulis karena salah satu hikmah terbesar di dalamnya adalah bahwa tulisan dapat mengikat ilmu. Seperti sebuah hadist Rasulullah ﷺ tentang ini yang berbunyi :

قَيِّدُوا الْعِلْمَ بِالْكِتَابِ

“Ikatlah ilmu dengan mengikatnya”[1]

Bahkan beliau memerintahkan sebagian sahabat-Nya agar menulis ilmu. Salah satunya adalah Abdullah bin ‘Amru. Beliau ﷺ bersabda kepadanya :

اكْتُبْ، فَوَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ، مَا خَرَجَ مِنْهُ إِلَّا حَقٌّ

“Tulislah. Demi Dzat yang jiwaku ada di tangan-Nya. Tidaklah keluar darinya melainkan kebenaran”[2]

Membaca (baca : ‘Belajar’) tanpa menulis ibarat pohon yang tak berbuah. Meski tidak setiap orang bisa menulis, namun ini sangat penting ditekankan karena memiliki manfaat yang banyak, terutama dari sisi sosial, agama dan kesehatan. Menulis adalah adab bermajelis yang sering kita lupakan. Kita kadang datang ke majelis ilmu dengan niat yang kurang ikhlas. Datang dan mendengarkan kajian dengan bersantai-santai, sambil mainan handphone, banyak bercanda atau sambil bersandar pada salah satu sudut ruang paling belakang yang ini merupakan sebab tidak berkahnya ilmu yang didapat.

Sahabat Prodigy

Ketahuilah bahwa ketika kita menuntut ilmu sesungguhnya kita bagaikan orang yang sedang berburu di hutan. Maka bagaimana seekor rusa itu akan kita dapatkan jika kita tidak punya panah untuk memburunya. Bagaimana rusa itu akan masuk ke perangkap kita sedangkan kita sendiri tidak memiliki strategi perangkap yang baik untuk menjebaknya. Sebagaimana Imam Syafi’i pernah berkata :

الْعِلْمُ صَيْدٌ وَالْكِتَابَةُ قَيْدُهُ قَيِّدْ صُيُوْدَكَ بِالْحِبَالِ الْوَاثِقَهْ

فَمِنَ الْحَمَاقَةِ أَنْ تَصِيْدَ غَزَالَةً وَتَتْرُكَهَا بَيْنَ الْخَلاَئِقِ طَالِقَهْ

“Ilmu adalah buruan dan tulisan adalah ikatannya. Ikatlah buruanmu dengan tali yang kuat. Termasuk kebodohan kalau engkau memburu kijang, setelah itu kamu tinggalkan terlepas begitu saja” [3]

Daya ingat kita itu lemah dan terbatas, oleh karenanya kita dianjurkan untuk menulis (mencatat) setiap ilmu yang datang. Dengan menulis ilmu, maka kita berusaha merangkum apa yang didengar dan menulisnya. Ini membuat lebih fokus ketika mengikuti majelis ilmu dan membuat ingatan lebih kokoh dan yang lebih penting sikap ini menunjukkan perhatian kita terhadap ilmu serta memuliakan ilmu. Sampai-sampai Asy-Sya’bi rahimahullah berkata :

إِذَا سَمِعْتَ شَيْئًا فَاكْتُبْهُ وَلَوْ فِي الْحَائِطِ

“Apabila engkau mendengar sesuatu ilmu, maka tulislah meskiun pada dnding”[4]

Sahabat, dengan menulis rangkaian syaraf otak kita tetap berjalan, dengan menulis secara tidak sadar kita telah menyimpan pengetahuan kita ke dalam sebuah tulisan, yang suatu saat nanti akan menjadi bagian referensi bagi anak cucu kita. Dengan menulis, sekarang atau nanti, suatu saat kita akan dikenal. Suatu saat akan orang yang mengetahuai bahwa kita pernah hidup di zaman sekarang dan menyampaikan informasi dari zaman sebelum kita kepada zaman mereka.

Di dalam tafsir Kitab Suci Al-Qur’an Surat Al-‘Alaq diterangkan bahwa kita menulis agar kita tidak mudah lupa, yaitu membaca dari tulisan. Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin rahimahullah pernah berkata :

قلنا: نعم له دواء ـ بفضل الله ـ وهي الكتابة، ولهذا امتن الله عز وجل على عباده بها فقال: {اقْرَأْ بِاسْمِ رَبِّكَ الَّذِى خَلَقَ * خَلَقَ الإِنسَـنَ مِنْ عَلَقٍ * اقْرَأْ وَرَبُّكَ الاَْكْرَمُ * الَّذِى عَلَّمَ بِالْقَلَمِ}. (العق: 1 ـ 4). فقال (اقرأ) ثم قال: {الَّذِى عَلَّمَ بِالْقَلَمِ } يعني اقرأ من حفظك، فإن لم يكن فمن قلمك، فالله تبارك وتعالى بين لنا كيف نداوي هذه العلة، وهي علة النسيان وذلك بأن نداويها بالكتابة، والان أصبحت الكتابة أدقُّ من الأول، لأنه وجد ـ بحمد الله ـ الان المسجِّل

Baca juga :  APA ITU FIKSI MINI?

“Kita katakan, iya. Lupa ada obatnya -dengan karunia dari Allah – yaitu menulisnya. Karenanya Allah memberi karunia kepada hamba-Nya dengan Surat Al-Alaq. Yaitu “Iqra’” kemudian “mengajarkan dengan perantara pena”. Maksudnya, bacalah dengan hapalannya, jika tidak hapal maka dengan tulisanmu. Allah سبحانه و تعالى menjelaskan kepada kita bagaimana mengobati penyakit ini yaitu penyakit lupa dan kita obati dengan menulis. Dan sekarang menulis lebih mudah dibanding dahulu karena mudah didapatkan dan segala puji bagi Allah, sekarang bisa direkam.[5]

Manfaat Menulis bagi Kesehatan

Sebagian orang masih banyak menganggap bahwa menulis adalah sesuatu yang tidak bermanfaat dan membuang-buang waktu. Mereka menganggap bahwa menulis masih hanya sekedar cara untuk berkomunikasi dan menyampaikan informasi dimana memerlukan bukti sebagai komunikasi terjadi.

Secara lebih luas, menulis tidak hanya diartikan menulis tangan, lebih lanjut menulis adalah kegiatan menerjemahkan isi fikiran atau ide ke dalam bentuk tulisan. Tujuannya-pun beragam, selain sebagai media komunikasi juga lebih lanjut untuk melatih kecerdasan emosional, meningkatkan kecerdasan linguistik, mengembangkan kemampuan jurnalistik serta menulis juga memiliki manfaat luar biasa dari sisi kesehatan;

  1. Dr. Michael K. Scullin, Direktur Baylor’s Sleep Neuroscience and Cognition Laboratory melakukan sebuah penelitian di Baylor University, Amerika serikat menemukan bahwa menuliskan daftar yang harus dilakukan untuk esok hari sebelum tidur, membantu proses tidur 10 menit lebih cepat (Prasasti, 2018).
  2. Sebuah studi di Rutgers oleh Brynne DiMenichi, kandidat doktor dari Rutgers University-Newark menemukan bahwa menyimpan tulisan tentang kegagalan masa lalu dapat membantu seseorang menghadapi tantangan berikutnya dengan lebih sedikit stres dan peluang sukses yang lebih tinggi. Temuan ini menunjukkan bahwa menulis dan berpikir kritis tentang kegagalan masa lalu dapat mempersiapkan individu baik secara fisiologis maupun kognitif untuk tantangan baru (Prasasti, 2018).
  3. Studi yang dipublikasikan di Psychosomatic Medicine mengatakan bahwa menulis dengan ekspresif membantu tubuh lebih cepat sembuh dari prosedur medis. Studi ini menemukan bahwa dari 49 orang dewasa berusia 64 hingga 97 yang melakukan biopsi, dan lebih dari 76 persen yang melakukan menulis ekspresif selama 20 menit per hari dalam tiga hari selama dua minggu, telah sembuh sepenuhnya di hari ke sebelas (Prasasti, 2018).
  4. Penelitian yang dilakukan oleh Novi Qonitatin dkk (2011) tentang pengaruh katarsis dalam menulis ekspresif terhadap depresi ringan didapatkan hasil yang memuaskan. Penelitian ini bertujuan untuk melihat pengaruh antara kedua variabel tersebut menggunakan alat ukur yang BDI (Beck Depression Inventory). Hasil penelitian menunjukkan 84 mahasiswa yang terjaring sebagai subjek penelitian, 47 orang (55,95%) diantaranya mengalami depresi, dimana sebagian besar berada pada taraf depresi ringan. Hasil analisis statistik memperoleh hasil t hitung = 6,384 dan taraf signifikansi = 0,000. Berdasarkan hasil analisis data tersebut menunjukkan bahwa menulis memiliki pengaruh yang sangat signifikan terhadap depresi ringan mahhasiswa (Qonitatin, Widyawati, & Yuli, 2012).
  5. Menulis juga dapat membantu penderita migrain, asma, gangguan tidur, rheumatoid arthritis dan kanker. Menulis membuat orang lebih rileks setelah beberapa waktu menjalankan kebiasaan tersebut.  Kemudian penelitian terbaru mengungkap, manfaat menulis dapat membantu meningkatkan fungsi kekebalan tubuh bagi pengidap HIV/AIDS (Allert, 2018).

Manfaat Menulis bagi Psikologi

  1. Menurut seorang ahli, manfaat menulis kemungkinan berasal dari proses menulis yang membuat seseorang dapat mengelola emosi sekaligus merangsang proses intelektual. Menulis juga dapat menjadi cara meminta dukungan sosial yang dapat membantu penyembuhan (Allert, 2018).
  2. Berdasarkan jurnal psikologi ilmiah juga menyebutkan bahwa menulis dapat mereduksi stres bagi anak-anak korban kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) (Rahmawati, 2014)

Sahabat Prodigy

Ketauhilah, memahami berbagai manfaat yang didapatkan dari menulis, maka jelaslah bahwa menulis merupakan budaya yang perlu di lestarikan, bukan hanya untuk kita, tetapi menulislah untuk masa depan adik-adik kita, keluarga kita, anak dan cucu-cucu kita dan tentu unntuk bangsa indonesia yang kita cintai ini.

Melalui tulisan orang dapat tergerak hatinya untuk berubah, melalui tulisan orang bisa termotivasi untuk terus berjuang, bahkan melalui tulisan orang bisa mempengaruhi orang banyak. Contoh nyata dalam sejarah, seorang pemimpin Nazi di Jerman, Adofl Hitler melalui bukunya yang berjudul Mein Kampf (“Perjuanganku”), ideologinya mampu mempengaruhi jutaan prajurit untuk berjuang berperang tanpa tanpa henti untuk membela negaranya, yang dalam buku tersebut dijelaskan bagaimana ideologinya hingga membantai enam juta warga yahudi pada perang dunia kedua. Ironinya, buku ciptaan Ahli Perang kelahiran Braunau Am Inn, Austria-Hongaria itu sempat masuk 10 besar buku tervaforit berdasarkan survei Kementerian Pendidikan Italia di Italia yang diikutii oleh sekitar 3,5 juta siswa dari 138 ribu sekolah yang mengikuti acara tersebut.

Singkatnya, menulis itu penting! Kita bisa memetik hikmah dari kisah Hitler diatas bahwa tulisan atau buku bisa mempengaruhi sejarah! Maka dari sekarang, menulislah.


DAFTAR PUSTAKA

Allert, N. d. (2018, January 24). Hidup Sehat. Dipetik April 24, 2019, dari Alodokter: https://www.alodokter.com/ambil-manfaat-menulis-untuk-kesehatan-ini-cara-melakukannya

Prasasti, G. D. (2018, June 28). 4 Manfaat Menulis bagi Kesehatan Jiwa dan Raga. Dipetik April 23, 2019, dari Liputan 6: https://www.liputan6.com/health/read/3570902/4-manfaat-menulis-bagi-kesehatan-jiwa-dan-raga

Qonitatin, N., Widyawati, S., & Yuli, A. G. (2012). Pengaruh Katarsis Dalam Menulis Ekspresif Sebagai Intervensi Depresi Ringan Pada Mahasiswa. Jurnal Psikologi , 9.

Rahmawati. (2014). Menulis Ekspresif sebagai Strategi Mereduksi Stress untuk Anak-Anak Korban Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT). Jurnal Ilmiah Psikologi Terapan , Vol 2, P. 01.


[1]  Silsilah Ash-Shahiihah No. 2026
[2]  HR. Ahmad 2/164 & 192, Al-Haakim 1/105-106, Shahih
[3] Diwan Syafi’I hal. 103
[4] Al-‘Ilmu No. 146 oleh Abu Khaitsamah
[5] Mutshalah Hadits Syaikh Al-Utsaimin

Facebook Comments

15 Comments












Leave a Reply

Your email address will not be published.