PERAN TULISAN SEBAGAI MEDIA DIPLOMASI

Peran Menulis sebagai Media Diplomasi
Ns. Satya Putra Lencana RN
Follow me

Tulisan yang semula hanya sebagai media komunikasi dan dituangkan ke dalam sebuah lambang dan huruf antara dua komunikan sekarang sudah berubah peran dan fungsinya. Ini tak lepas dari peran media elektronik yang menggeser cara-cara manual (tulisan tangan) ke dalam bentuk elekronik. Perkembangan ini ditambah dengan hadirnya teknologi baru seperti smartphone, tab dan perangkat lainnya yang memudahkan akses internet setiap saat. Tentu teknologi perangkat keras ini tidak akan berjalan tanpa teknologi jaringan yang terus di-upgrade mulai dari 2G, 3G, 4G dan 5G yang digadang-gadang akan dihadirkan oleh perusahaan Apple Corporation sebentar lagi.

Oleh karena lengkapnya media elektronik tersebut, maka lahirlah berbagai buku elektronik (ebook), buku promosi elektronik (booklet), artikel, jurnal elektronik (ejournal), buletin dan majalah elektronik (emagazine). Semakin hari semakin banyak  pekerjaan manusia yang memanfaatkan kemajuan ini. Apalagi memasuki era Industri 4.0, dimana kecerdasan buatan (Artificial Intelligence) mulai ditransformasikan ke dalam teknologi, mulai dari operasional industri manufaktur hingga kegiatan rumah tangga semuanya terbantukan.

Kembali lagi, bahwa peran tulisan sebagai media diplomasi saat ini sudah ikut bertransformasi aktif melalui akses dunia maya. Orang yang biasanya membeli beras harus datang ke pasar, sekarang bisa via aplikasi livechat, WhatsApp misalnya. Orang yang tidak memiliki jabatan apapun di pemerintahan, ketika hendak protes atas suatu kebijakan, ia sudah tidak perlu repot turun ke jalan, berpanas-panasan berkumpul di depan kantornya. Hadirnya surat elektronik (email) dan sosial media dapat dijadikan sebagai media menyampaikan kritik secara langsung dan terbuka, serta lebih masif dalam mengumpulkan suara dukungan. Metode yang digunakanpun beragam, bisa berbentuk surat terbuka, petisi, survei, video dokumenter dan lainnya.

Singkatnya, meskipun hadirnya keterlibatan teknologi mampu menggeser gaya penulisan manual ke automatic and touchscreen, namun tetap, yang dihasilkan keduanya tetaplah ‘Tulisan’. Ini sama halnya seperti metode penghitungan suara pemilu negeri ini baik menggunakan Quick Count dan Real Count, namun yang dihasilkan keduanya teap sama, yaitu ‘Data’. Bedanya, jika data itu mencakup materi visual, audio dan video, sebaliknya, tulisan hanya mencakup visual saja. Dan tentu tulisan termasuk materi visual yang dapat diserap isinya melalui membacanya.

Diplomasi Pemerintahan

Tulisan, sejak zaman pra penjajahan bangsa kita sudah mengenalnya. Walaupun waktu itu masih menggunakan cara-cara konvensional seperti surat menyurat, pengetikan naskah, hingga media yang digunakan di era kerajaan saat itu sudah berlaku di tatanan pemerintahan. Ini menunjukkan bahwa tulisan meskipun hanya tulisan tangan atau lambang/tanda, sangat memiliki peran diplomasi penting kala itu.

Masih ingat bagaimana kisah Khulafaur Rasyidin kedua, Umar bin Khatab radiahllahu’anhu dengan Gubernur Mesir Amr Bin Ash? Beliau pernah mengirimkan sebuah tulisan hanya huruf Alif (Bahasa Arab, pent) di atas sepenggal tulang yang ditujukan kepada gubernur tersebut karena tidak berbuat tidak adil kepada rakyatnya. Rumah seorang kakek tua yahudi yang berada tepat di depan istana itu dirobohkan untuk dibangun sebuah masjid. Namun, setelah menerima tulang tersebut, tubuh Amr Bin Ash bergetar atas peringatan yang diterimanya. Maka saat itu juga masjid yang sudah dibangun dirobohkan dan dibangun kembali rumah kakek tua itu (Arroisi, 2005).

Berbagai komunikasi antar negara juga selalu membutuhkan bukti otentik yang dituangkan ke dalam hitam di atas putih (baca : ‘dokumentasi tulisan’) sebagai bukti kesepahaman keduanya. Ini menunjukkan bahwa peran tulisan sebagai diplomasi sangat vital dibutuhkan, apalagi di zaman sekarang sudah banyak model diplomasi yang berkembang seperti memo, surat edaran, surat keputusan dan sebagainya.

Diplomasi Hati

Melalui tulisan semua orang dapat mengungkapkan perasaannya, tidak perlu terlalu memperhatiakn tata bahasa dan penulisan, semua orang berhak menuliskan apapun isi hatinya. Tulisan dapat menggambarkan suasana hati penulisnya dan bahasa tulisan dapat menggambarkan karakter penulisnya.

Disaat suasana senang, sedih, bingung, badmood. Di rumah, di kampus, di tempat masjid atau di caffe. Sambil menikmati kopi pagi, sambil mengecek email masuk saat kerja atau mengisi waktu luang di sela-sela istirahat kerja. Mulai dari anak-anak, remaja, dewasa, kakek nenek, semua bisa dan berhak menulis. Menuliskan perjalanan hidup, pengalaman kerja, atau kisah orang lain yang bisa diambil hikmahnya. Dipublish secara profesional menjadi buku, di posting di blog pribadi, di wall media sosial atau di media cetak. Semua sah-sah saja.

Baca juga :  TULISAN NON FIKSI

Menulis bisa menjadi pilihan mekanisme koping yang bijak untuk meluapkan segala kegelisahan, kemarahan dan kegundahan yang melanda. Melalui tulisan seseorang bisa memilih dan memilah mana kata yang baik untuk disampaikan, mana kata yang tidak menyinggung dan yang tidak membuat keretakan hubungan semakin parah dan melalui tulisan juga bisa membuat hubungan semakin hangat dari sebelumnya.

Maka benar jika ada adagium yang mengatakan bahwa lidah mungkin tak bertulang tapi bisa mengubah segalanya, begitupun juga jari-jari tangan bisa mengubah pikiran setiap orang yang membacanya.

Sahabat, hati-hatilah menjaga hati, menulislah untuk menjaga hati, menulislah dengan hati, menulislah untuk diplomasi hati, dari hati ke hati, semoga baiknya satu hati bisa menularkan kebiakan hati yang lain.

Diplomasi Hiburan

Jika fotografer selalu mengabadikan momen dengan fotonya, maka seorang penulis mengabadikan momen dengan tulisannya. Banyak orang menghasilkan karya tulis sebagai bagian untuk menghibur orang lain (entertainment).

Tidak ada yang salah dengan orientasi apapun untuk menulis. Justru ketika seseorang menulis dengan tujuan entertainment, ia bisa mendatangkan keuntungan finansial yang menjanjikan. Banyak sekali film-film layar lebar yang diangkat dari karya tulisan, novel misalnya. Film-film dokumenter juga banyak diangkat dari kisah hidup para veteran yang mampu menuangkan kisah perjuangannya ke dalam tulisan.

Contohnya; Film Laskar Pelangi, film yang terinspirasi dari Novel Karya Andrea Hirata tersebut mengandung banyak hikmah dan serat dengan nasihat. Bagaimana anak-anak desa yang berjuang untuk tetap sekolah di tengah himpitan ekonomi dan letak geografis yang cukup jauh, belum lagi ditambah dengan kondisi kesehatan keluarga serta manajemen sekolah yang sulit dan terancam untuk ditutup. Hingga pada akhirnya kisah ini ditutup dengan suksesnya mereka menjalani pilihan hidupnya masing-masing. Begitu banyak pesan moral yang disampaikan melalui novel ini, dan pesan tersebut terasa semakin kuat terasa saat diterjemahkan menjadi sebuah film layar lebar.

Contoh lainnya, Film Negeri 5 Menara. Film yang diangkat dari novel karya Ahmad Fuadi itu telah banyak menginspirasi dan mengubah cara pandang hidup orang banyak. Novel yang mengisahkan lika-liku kehidupan seorang anak bernama Alif dalam menggapai cita-citanya. Kisah yang tertuang dalam novel tersebut dapat membangung jiwa bagi setiap siapa saja yang membacanya. Novel ini juga sudah diterjemahkan ke bahasa internasional dengan judul “The Land of 5 Towers”. Dan, masih banyak lagi contoh karya tulis lainnya.

Dari sini dapat kita simpulkan bahwa karya sebuah tulisan bisa sebagai diplomasi yang terbentuk dalam sebuah novel (baca : ‘hiburan’) untuk menyampaikan pesan-pesan moral di dalamnya.

Diplomasi Ilmiah dan Pendidikan

Tulisan seabgai sebuah karya ilmiah adalah suatu yang mutlak yang setiap mahasiswa tingkat akhir tentu pernah merakannya. Tuntutan kurikulum pendidikan sebagai implementasi dari salah satu tri dharma perguruan tinggi di bidang penelitian sudah bukan barang langka lagi.

Setiap tahunnya, ratusan ribu sarjana baru ditelorkan oleh negara. Menurut Organisasi Kerjasama Ekonomi dan Pengambangan (OECD) pada tahun 2020 Indonesia diprediksi akan menduduki urutan kelima besar, setingkat di atas negara jepang dalam proyeksi mencetak sarjana muda setiap tahunnya (Hutomo, 2018). Berdasarkan data yang dipublish oleh Koordinasi Perguruan Tinggi Swasta (Kopertis) 3 tahun 2017, Indonesia pada tahun 2017 secara berurutan berdasarkan lembaga pendidikan tinggi menyumbang angka sarjana muda sebagai berikut; universitas : 665.896 sarjana, institut : 41.480 sarjana, perguruan tinggi  : 226.026 sarjana, akademi : 67.235 sarjana, akademi komunitas : 175 sarjana dan politeknik : 45.329 sarjana (Pusdatin Iptek Dikti, 2017).

Ini artinya, sebanyak 1.046.141 karya tulis ilmiah tahun tersebut diciptakan. Jutaan karya tulis ini merupakan angka yang sangat besar bagi statistika riset baru yang berhasil disumbangkan ke negara, minimal sebagai riset bagi lembaga pendidikan itu sendiri. Inilah yang dimaksud tulisan sebagai sebagai diplomasi ilmiah dan pendidikan.

Diplomasi Bisnis

Peran menulis beragam jenisnya, diantaranya adalah untuk menjadi motivator, inspirator, komika, novelis dan lain sebagainya. Menjadi penulis bisa menjadi pilihan yang tepat bagi Anda yang memilik passion di sana. Menulis bisa menjadi bisnis jika dilakukan dengan profesional dan konsisten serta karya yang dihasilkan selalu bisa mendongkrak nilai jual tiap terbit.

Banyak sekali penulis yang mendadak kaya. Seperti E.L. James yang menjadi salah satu penulis terkaya saat ini. Terutama berkat beberapa bukunya seperti Fifty Shades of Grey, Fiftyy Shades Darker, dan Fifty Shades of Freed. Melalui buku-buku tersebut, E.L. James mampu meraih keuntungan hingga Rp.1,14 triliun di tahun 2013. Kemudian ada juga Suzanne Collins yang namanya tiba-tiba saka menjadi salah satu milyader berkat dua buku The Hunger Games, The Hunger Games : Mockingjay dan The Hunger Games : Catching Fire. Melalui buku-buku tersebut Suzanne memperoleh penghasilan sebanyak Rp. 600 milyar.

Inilah yang dimaksud dengan tulisan sebagai diplomasi bisnis. Bahwa menulis bisa menciptakan lapangan kerja yang menggiurkan serta menjadi solusi untuk menyalurkan bakat menulis bagi pecintanya. Jadi, berhentilah menganggap bahwa menulis adalah sebuah pekerjaan yang tidak menjanjikan. Berhentilah berfikir bahwa masa depan penulis itu suram. Pada saat ini, menulis adalah pekerjaan yang menggiurkan. Itulah sebabnya mengapa banyak sekali publick figure yang tiba-tiba saja menggeluti dunia kepenulisan, karena mereka yakin bahwa mereka bisa kaya dengan menulis.

Jika kata Bapak Walikota Kota Bandung, Ridwan Kamil, “Pekerjaan paling menyenangkan adalah hobi yang dibayar”, maka menurut ubahlah menjadi “Pekerjaan paling menyenangkan adalah menulis yang dibayar”.

Salam literasi,..


DAFTAR PUSTAKA

Arroisi, A. (2005). 30 Kisah Teladan. Bandung: Remaja Rosdakarya.

Hutomo, D. (2018, Januari 15). Tahun 2020, Indonesia Akan Menjadi Negara Kelima dengan Jumlah Sarjana Muda Terbanyak. Dipetik April 26, 2019, dari Jadi Berita: http://jadiberita.com/127731/tahun-2020-indonesia-akan-menjadi-negara-kelima-dengan-jumlah-sarjana-muda-terbanyak.html

Pusdatin Iptek Dikti, S. K. (2017). Statistik Pendidikan Tinggi 2017. Jakarta: Pusdatin Kemenristekdikti.

Facebook Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published.