SELAMAT BERBAHAGIA

Ns. Satya Putra Lencana RN
Follow me

“Aa’ pikir Aisyah bodoh?! Aa’ pikir Aisyah nggak tau semua yang Aa’ lakuin di belakang Aisyah selama ini?” Suara Aisyah meledak-ledak.

“Bukan begitu, Aisyah. Sebentar … kasih aa’ kesempatan tuk jelasin dulu,” jawabku menahan kesabaran.

“Udah, A’. Aa’ nggak perlu ngomong apa-apa. Semuanya udah berakhir. Aisyah rasa, ini terkahir kita kenal. Aisyah minta maaf kalo selama ini banyak salah. Aisyah nggak bisa ngebahagiain Aa’. Aisyah nggak bisa menjadi seperti apa yang Aa’ minta,” pungkasnya, berusaha menyandarkan kesalahan pada dirinya.

“Aisyah … sebentar. Halo … Aisyah. Halo ….” (Tuut … tuut … panggilan berakhir)

Semua pertengkaran ini dimulai saat ada seorang wanita tahun 2015 lalu menghubungi dan mengajakku menikah. Wanita yang mengirim sepucuk surat sehari setelah wisudaku itu ternyata adik tingkatku sendiri saat di kampus dulu. Namun, aku tak pernah mengenalnya, pernah mendengar namanyapun tidak. Aisyah terburu terbakar api cemburu hingga akhirnya dia mengira bahwa aku mengkhianatinya.

Aisyah adalah wanita yang pertama kali kukenal hingga pada akhirnya kami bersahabat, sebelum akhirnya memutuskan untuk menikah. Iya, kami berusaha saling berhubungan tanpa status layaknya pacaran seperti yang dilakukan banyak orang zaman sekarang. Semua batas-batas syariat itu kami jaga dan tetap mengedepankan sisi agama dalam setiap perbincangan yang kami lakukan.

Wanita yang bersahaja dan sederhana itu adalah bungsu dari dua belas bersaudara. Karakternya yang manja dan sering kekanak-kanakan, terkadang membuatku sulit untuk mengimbanginya. Meskipun begitu, aku tak pernah menganggapnya beban. Sesempurna apapun manusia, tetap ada kekurangannya. Bukankah kelebihan dan kekurangan itu diciptakan tuk saling melengkapi?

Aisyah lahir dari keluarga agamis, di Bogor. Semua kakak-kakaknya, satu per satu ia ceritakan hingga bagaimana kondisi keluarganya. Wanita yang sudah menjadi yatim piatu dua tahun lalu itu selalu membuatku tersadar bahwa cinta itu memang buta. Buta untuk melihat kekurangan pada diri masing-masing. Dia memiliki kekurangan, juga denganku. Hanya saja, mungkin dia lebih dominan pada perasaannya, sedangkan aku pada logika.

Iyaa, inilah aku, Zafran Saputra Nagara. Seorang pemuda yang lahir di tanah Sumatera, lalu kuliah di Jogja dengan harapan bisa mendapatkan ilmu sekaligus pengalaman yang lebih dibanding teman-teman seangkatanku. Manusia yang selalu ingin tahu dan mencoba, manusia yang selalu ingin lebih unggul diantara teman-temannya. Seorang pemuda yang hobi travelling dan mencoba hal-hal baru, termasuk suasana belajar baru hingga akhirnya tuhan mempertemukanku dengan Aisyah.

“Zaf, ini surat buatmu. Aku dapat ini dari Risya, adik tingkat kita di Fakultas Kedokteran.” Suara tegas Mitha sambil menyodorkan amplop cokelat itu.

“Apaan nih,Mith?”

“Nah, entahlah. Aku aja nggak dikasih tau sama dia. Cuma dimintai tolong suruh kasihin ini ke kamu.”

“Jangan aneh-aneh deh, Mith. Perasaanku nggak enak nih.”

“Ah, santai kali, Bro. Cuma surat doang. Ya, kali aku kasih kamu bom, parno amat sih, lu!”

“Yeee, bukan gitu maksudku. Kamu kan tau kalo aku dekat sama Aisyah. Kamu juga kan tau  gimana sifat Aisyah kalo aku ada interaksi sama cewek lain?”

“Awas lu ya, kalo sampe bocor ke dia kalo aku dapet surat beginian!”

“Iyee iyee, rempong lu, ah! Mau diterima atau nggak terserah.Nih, kutaruh di meja.” Mitha buru-buru pergi.

Mitha adalah sahabat dekatku sekaligus sahabat dekat Aisyah. Meski berbeda prodi, mereka tetap dekat, bahkan satu tempat tinggal sampe lulus.

Surat itu adalah surat yang ditulis tangan langsung oleh Risya. Surat yang berisi tentang kekagumannya denganku sejak dia mengenalku, meski aku tak pernah mengenalnya. Dia mengatakan bahwa selama ini selalu memperhatikanku, bukan kerena kepribadianku dan keaktifanku di organisasi kampus, terlebih karena dia menilai baiknya agamaku dibanding teman-temanku yang lain. Di akhir surat,dia tuliskan keingianannya menjadi makmumku tuk yang pertama dan terakhir. Jika berkenan, dia mengundangku untuk datang dan melamar kepada kedua orang tuanya. Surat itu ditulis lengkap dengan alamat beserta nomor handphone-nya.

Dua hari kuberpikir, bagaimana untuk membalas surat itu tanpa sepengetahuan Aisyah. Akupun tak pernah terbersit sedikitpun niatan mengkhianati Aisyah atau meninggalkannya. Juga tak ingin Mitha tahu tentang isi surat ini. Tapi, bagaimana aku bisa memberikan jawaban supaya Risya merasa tak menunggu? Aku teringat bahwa dia mecantumkan nomor handphone di baris paling bawah di kertas itu.

Hari keempat, kucoba mengirim pesan ke nomor yang ternyata juga terdaftar di aplikasi WhatsApp itu.

[Assalamu’alaikum warohmatullah wabarokatuh. Afwan, apa benar ini dengan Risya, mahasiswa Fakultas Kedokteran UMY?]

[Wa’alaikumsalam, iya benar. Afwan, ini dengan siapa, ya?]

[Saya Zafran.]

[Oh iya, Kak Zafran, ada apa, Kak? Bagaimana kabar Kakak?]balas Risya dengan sangat ramah.

[Alhamdulillah baik. Kabarmu gimana, Risya?]

[Alhamdulillah baik juga,Kak,]

[Maaf ya, saya ganggu malam-malam. Ini nggak lagi sibuk, kan?]

[Oh nggak, Kak. Lagi baca-baca buku aja kok, Kak. Kata Bu Indah, udah mulai harus nyusun bab I dari sekarang.]

[Oh gitu. Gini, Risya. Saya ingin menanggapi suratmu waktu itu, boleh saya jawab sekarang?]

[Oh iya, Kak. Maaf ya, Kak kalau mungkin surat itu bikin Kakak nggak berkenan.] (emot sedih dan tangan tertelungkup)

Baca juga :  SUAMIMU MENIKMATINYA (Part 22)

[Gini, Ris. Maaf … langsung aja, ya. Sebelumnya, saya ucapin terimakasih karena Risya sudah jujur dan menyampaikan maksud hatinya dengan cara baik dan terbuka. Jujur, ini adalah pertama kalinya saya diajak nikah seorang akhwat (baca: ‘wanita’). Risya terlalu berlebihan menuliskan kepribadian saya di surat itu. Mungkin aja Risya nggak tau seberapa banyak keburukan saya, tapi Allah yang menutupi itu.]

[Lalu …kesimpulannya, Kak?] Balasan pesannya begitu cepat.

[Sebentar, pelan-pelan hehe]

[Oh iya, Kak. Maaf.]

[Sejujurnya saya sudah menjalani proses berta’aruf dengan akhwat lain. Saya tau, mungkin hati Risya kecewa, tapi saya harus mengatakan yang sebenarnya,meskipun  pahit. Saya paham, maksud Risya baik, dan saya sama sekali tidak ada maksud mempermainkan perasaan siapapun, termasuk Risya. Saya minta maaf jika mungkin belum bisa mengikuti apa yang menjadi keinginan Risya. Semoga nanti ada ikhwan (baca: ‘laki-laki’) yang pas dan siap serta lebih baik dari saya, ya. Sekali lagi, saya minta maaf, termasuk kepada Ayah dan Ibu Risya di Sidoarjo. Wassalamu’alaikum warohmatullah wabarokaatuh.] pungkasku diiringi simbol tangan tertelungkup.

[Baik, Kak.Nggak apa-apa, Kak Zafran. Terimakasih ya atas jawabannya. Wa’alaikumsalam.] jawab Risya begitu singkat dilanjutkan dengan emot patah hati.

Semenjak itu, tak pernah kudengar lagi bagaimana kabar Risya. Seminggu kemudian, suara notif berdering, tanda WhatsApp masuk.

[Mas Bro, lagi dimane? Aku ada perlu nih, mau nanya-nanya soal tugas komunitas kita yang dari Bu Wurry tuh.]

[Ane di perpus, Mith. Biasa, baca buku sekaligus nikmatin wifi gratis, hehe]

[Ah disana lu rupanya. Oke meluncur.]

Kami berdua memang melanjutkan kuliah magister spesialis di kampus berbeda. Setelah wisuda S1, kami langsung ambil jalur regular di UNDIP Semarang.

Dua puluh menit kemudian, Mitha muncul sambil ngeluarin isi ranselnya.

“Widiih, rajin bener temen gue satu ini. Nih, biar otak lulancar.” Mitha nyodorin snack dan teh botol sosro.

“Masyaallah, kagak pernah nyesel gue jadi temen lu, Mith. Haha. Thanks lho, ya,” tawaku sambil membuka tutup botol teh itu.

Don’t mention it. By the way, ntar aja deh bahas soal tugasnya, ya. Eh, gimana, udah dibaca suratnya? Apaan sih? Kepo dong?!” bujuk Mitha penasaran.

“Kagak penting, Mith, cuma ucapan Happy Graduation Day doang kok.”

“Ah, yang bener? Mana? Coba aku baca,” pintanya sambil ngulurin tangan ke arahku.

“Apaan sih? Serius, kagak penting!Ignore aja! Tuh, tugasmu numpuk. Kapan mau dikerjain, wahai Ukthi …?” Gelak tawaku mengalihkan pertanyaannya.

“Yaah, gak asik lu!” ungkapnya kecewanya.

“Haha … serius,Mith, nggak penting, udah kubuang juga suratnya. Maaf ya, Neng…” kelitku berusaha meyakinkannya.

Keesokan harinya, Aisyah tak ada kabar. Lusa, seminggu, sampai menyentuh minggu kedua, dia tak ada kabar. Sosmed, termasuk FB, BBM, WhatsApp semuanya nggak aktif. Kebiasaan Aisyah jika marah memang cepat ambil keputusan dan sering blokir tiba-tiba.

Mitha yang kuanggap tak mengerti apa-apa, ternyata dia sudah membaca surat itu sebelum diberikan kepadaku. Selama ini, dia hanya berpura-pura tak mengerti dan mencoba menguji kejujuranku padanya. Dan, Mitha ternyata telah menceritakan isi surat itu kepada Aisyah melalui BBM-nya pada hari yang sama setelah surat itu sampai ke tanganku.

Mitha mendadak menghilang dari peredaran, tak pernah terlihat di kampus. Semua pesan dan telponku pun tak pernah dijawabnya. Terakhir kali kami bertemu adalah saat di perpustakaan itu hingga aku merasakan ada yang berubah di antara mereka.

***

Sebulan berlalu, semuanya terasa berubah. Aisyah tetap tanpa kabar. Mitha mulai terlihat lagi lalu lalang di kampus, hanya saja dengan suasana yang berbeda. Dia menjauh dan tetap dingin. Dia merasa sebagai sahabat Aisyah, dia harus melindunginya, dan menganggapku sama seperti laki-laki lain yang tak bisa dipercaya.

***

Hari ini, tepat dua bulan semenjak menghilangnya Aisyah. Dia menghubungiku via WhatsApp.

[Assalamu’alaikum, A’. Gimana kabarnya?]

[Aisyaaah … kemana aja kamu selama ini? Gimana kabarnya di ,sana? Kamu sehat, kan?]Aku bergegas izin keluar dari kelas.

[Alhamdulillah baik, A’. Lagi sibuk ya, A’? Aisyah pengen ngomong sesuatu boleh?]

Tuut … tuut! Sambungan teleponku tak digubrisnya, tiga kali.

[Nggak usah telpon,A’. Kita chat aja nggak apa-apa ya, A’?]

[Oh iya….] jawabku singkat.

[Aisyah udah tau semuanya dari Mitha tentang surat itu. Aisyah udah mutusin untuk menghakhiri hubungan kita, A’. Aisyah tau ini sulit buat Aisyah sendiri, tapi aisyah nggak mau ada yang tersakiti diantara kita.]

[Aisyaah… tapi …. ] ketikan responku terputus terburu terkirim.

[Aisyah minta maaf kalau selama dua bulan ini menghilang. Aisyah butuh waktu tuk memikirkan semuanya.] Aisyah menimpali dengan cepat responku.

Aku duduk di ruang tunggu akademik sendirian. Lalu, kupaksakan menelpon selularnya Aisyah.

“Iya halo, assalamu’alaikum,” jawab Aisyah

“Wa’alaikumsalam, Aisyah.Maaf ,aa’ terpaksa nelpon langsung, ya. Biar jelas.”

“Aisyah ….”

“Iyaa, A’?”

“Beri kesempatan Aa’ jelasin dulu yang sebenarnya, ya.” Aku memohon sambil menenangkannya.

“Aa’ pikir Aisyah bodoh?! Aa’ pikir Aisyah nggak tau semua yang Aa’ lakuin di belakang Aisyah selama ini?” Suara Aisyah meledak-ledak.

“Bukan begitu, Aisyah. Sebentar … kasih aa’ kesempatan tuk jelasin dulu,” jawabku menahan kesabaran.

“Udah, A’! Udah nggak ada yang perlu dijelasin lagi! Semuanya udah jelas!” sahut Aisyah. Suara tangisnya pecah.

“Udah jelas gimana? Kan, aa’ belum ngomong dari tadi?” Masih … aku berusaha menenangkannya.

“Gini, ya, A’? Gini kelakukan Aa’ di belakang Aisyah? Inikah balasan Aa’ setelah selama ini Aisyah berusaha menjadi yang terbaik buat Aa’?” tuduhnya tanpa jeda.

“Udah, A’. Aa’ nggak perlu ngomong apa-apa. Semuanya udah berakhir. Aisyah rasa, ini terkahir kita kenal. Aisyah minta maaf kalo selama ini banyak salah. Aisyah nggak bisa ngebahagiain Aa’. Aisyah nggak bisa menjadi seperti apa yang Aa’ minta,” pungkasnya, berusaha menyandarkan kesalahan pada dirinya.

“Aisyah … sebentar. Halo … Aisyah. Halo ….” (Tuut … tuut … panggilan berakhir)

Jarak antara aku dan Aisyah yang berbeda kota itupun tak menuntut kami memutuskan untuk segera bertemu dan menjelaskan ke keluarga Aisyah. Di lain hal,seminggu lagi, aku akan mengikuti ujian kompetensi nasional yang mengharuskanku fokus untuk lulus.

Hari itu belum ada keputusan apakah proses ini lanjut atau tidak, karena masalah ini masih bersifat internal antara aku dan dirinya. Sementara orang tua kami masih baik-baik saja. Alhamdulillah … Mitha yang semenjak hari itu menjauh, mendadak merasa bersalah dan mulai berusaha memperbaiki hubungan persahabatannya denganku.

Bersambung …


Facebook Comments

27 Comments

  1. Ceritanya bikin penasaran…. Ditunggu kelanjutannyaaaaa

    1. Hai kak, terimakasih telah membaca. Salam hangat Prodigy

      INFO TERBARU!

      Hallo kak! Prodigy selalu hadir memudahkan kebutuhan pembaca. Prodigy telah memiliki Perpustakaan Online yang dapat diakses oleh siapapun. Pengunjung dapat mendownload ebook-ebook gratis terupdate dan lengkap, meliputi; Kesehatan, Novel. Pendidikan, Agama, Bisnis, Kepenulisan dan lain-lain. Kakak dapat berkunjung di https://writingprodigy.org/2020/08/prodigy-library/

      Jangan lupa untuk men-share ke teman-teman Kakak yang lain supaya masyarakat lebih gemar membaca ya. Terimakasih

      (Enjoy shopping with us on PRODIGY BOOK STORE Now! Please visit us on http://store.writingprodigy.org Thank you!)















  2. Remarkable! Its in fact remarkable article, I have got much clear idea regarding from this article.


  3. Definitely believe that which you said. Your favorite reason seemed to be on the web the easiest thing to be aware of.
    I say to you, I definitely get irked while people consider worries
    that they plainly don’t know about. You managed
    to hit the nail upon the top and also defined out the whole thing
    without having side effect , people could take a signal.
    Will probably be back to get more. Thanks

    Look at my web site Straight Gains XL (https://www.techsite.io)

  4. I wish to express some thanks to this writer just for rescuing me from this crisis.

    After exploring through the internet and seeing suggestions which are
    not helpful, I was thinking my entire life was over. Living without
    the presence of strategies to the issues you have fixed by way of your entire short
    article is a crucial case, and ones that might have negatively affected my career if I
    had not come across your web blog. Your primary capability and kindness in playing with all things was very useful.
    I’m not sure what I would have done if I hadn’t encountered such a stuff like this.
    I can at this moment relish my future. Thank you so much for your professional and result oriented help.
    I won’t hesitate to recommend your site to anybody who should get tips about this
    area.

    my page :: hemp seed oil capsules

  5. I visited several websites except the audio feature
    for audio songs present at this web site is actually marvelous.

    my webpage … ibsfc.org

  6. Thanks designed for sharing such a fastidious thinking,
    piece of writing is fastidious, thats why i have read it fully

Leave a Reply

Your email address will not be published.