SENI MENULIS

Seni Menulis

Berbicara tentang hobi, setiap orang pasti memilikinya. Mulai dari membaca, menulis, climbing, rafting, mendaki gunung, diving, masak, renang, ngemil, nonton, tatarias, main sepak bola dan lain-lain. Untuk melakukan sebuah hobi, banyak orang melalukannya dengan cara yang berbeda-beda. Bisa disebut multitasking (Seseorang bisa melakukan dua pekerjaan atau lebih dalam satu waktu yang bersamaan).  It is no problem. Selama ia menikmati dan bisa melakukannya, why not?

Ada yang memasak sambil nonton tv, ada yang membaca sambil makan ngemil, bahkan ada yang lagi naik gunung sambil baca buku. Keren!

Setiap orang berhak melalukan apapun dengan caranya sendiri, semua orang berhak mewujudkan impiannya dengan kemampuannya sendiri. Karena kita diciptakan dengan skill yang berbeda-beda, begitu juga minat dan bakat. Si A minat di bidang bulu tangkis, tapi ia tidak berbakat dan lebih pandai di bidang renang. Si B minat membaca buku, tapi tidak berbakat untuk menulis.

Si ‘Minat’ dan ‘Bakat’ ini ibarat bekerja di perusahaan yang sama, pada bidang yang sama-sama penjualan, tetapi memiliki tugas yang berbeda. Mereka sama-sama memiliki cita-cita untuk menjadi seorang professional marketer. Suatu ketika perusahaan ingin me-launching produk barunya dan membuka tantang bagi semua karyawannya. Siapa yang dalam waktu sebulan bisa menjual produk tersebut hingga 50 unit, maka dia akan dipromosikan kepada dewan direksi, diberikan tambahan tunjangan dan naik jabatan. Tantangan itu berlaku untuk invididu dan tim. Si Minat dan Bakat saat mengetahui hal ini sangat berambisi untuk bisa jadi pemenangnya, tetapi mereka sama-sama memiliki keterbatasan. Si Minat pandai di dunia manajemen tapi tidak berbakat di public speaking, dan sebaliknya Si Bakat pandai di public speakingnya tapi tidak pandai soal manajemen. Bagaimana supaya mereka bisa mencapai target sesuai yang ditentukan perusahaan? Ya, tentu cita-cita itu akan mudah diraih ketika Si Minat dan Si Bakat saling bekerjasama.

Sahabat,

Berbicara minat dan bakat berarti kita berbicara tentang keinginan dan kemampuan.  Contoh di atas hanya bersifat ilustratif, bagaimana sesuatu akan mudah didapat jika ada keinginan dan kemampuan. Tidak semua orang yang ingin menjadi pemain atau supporter sepak bola bisa bermain bola, dan tidak semua pemin bola ingin menjadi supporter saja. Begitulah perumpamaan menulis dan menjadi penulis.

Banyak orang ingin menjadi penulis tapi tidak mampu menulis. Minat itu sifatnya batiniah, ia tidak mampu mendorong dan mengubah seseorang menjadi berbakat tentang sesuatu, sedangkan bakat itu sifatnya lahiriah, setiap orang yang berbakat sudah tentu memiliki keinginan untuk mendorong dirinya terus berkembang.

Penulis Itu Dibentuk atau Dilahirkan?

Dunia kepenulisan memang sangatlah indah, layaknya dunia seni yang penuh dengan estetika (keindahan). Di dunia kepenulisan seseorang bisa bebas berekspresi dan menyampaikan aspirasi dan ide-ide segarnya. Dunia menulis penuh dengan kejutan, tidak ada yang bisa menduga apa yang akan bisa terjadi berikutnya. Bisa jadi saat ini musim buku pendidikan, musim berikutnya buku novel, buku puisi dan masih banyak lagi. Dan seperti itulah dunia menulis, hanya orang yang bisa mengikuti perkembangan saja yang mampu bertahan.

Karena keindahan itulah banyak orang berbondong-bondong menjadikan dunia menulis sebagai salah satu alternatif pekerjaan yang sangat menjanjikan. Mulai dari pengusaha, guru, motivator, artis, dosen, perawat, bahkan petani berubah haluan menjadi penulis.

Selebiriti Hollywood terkenal, Hillary Duff mengatakan, “Dunia itu indah, seperti surga. Banyak sekali cara melukiskan keindahan surga, bisa dengan membayangkannya atau menuliaskannya”. Ia merasakan betul bagaimana nikmatnya menulis sampai-sampai ia nyaris lupa bagaimana caranya kembali ke panggung hiburan. Melalui tiga buah bukunya saja, yaitu Exilir, True dan Devote, ia sudah menambahkan pundi-pundi keuangan rumah tangganya. Terlebih untuk novelnya yang berjudul Exilir yang sempat laris manis di berbagai belahan negara seperti Amerika, Canada dan beberapa negara besar lainnya.

Gempa yang melandan Yogyakarta 2006 tidak lantas menjadikan Bapak Blasius menghentikan semangat hidupnya. Meskipun ia telah kehilangan istri dan harus menghentikan kuliahnya, ia tetap ingin terus berjuang bangkit dari keterpurukan. Pak Blasius, pria yang sempat mengenyam bangku kuliah prodi matematika di Universitas Sanata Dharma ini akhirnya bisa menciptakan buku Best Seller nya dengan judul The Becak Way.

Sahabat,

Apa yang dialami oleh Pak Blasius seharusnya bisa menjadi pelajaran besar bagi kita semua, terutama bagi orang-orang yang ingin merajut karir melalui rangkaian kata dan tulisan. Tidak ada syarat mutlak bagi seorang penulis, yang ada hanyalah kemauan, tekad dan ketekunan yang kuat.

Menulis itu dibentuk. Menulis  bisa dilakukan oleh siapapun. Kita tidak perlu khawatir apakah berpengalaman ataukah tidak, tidak perlu  takut apakah memiliki pengetahuan ataukah tidak.

Kita tidak perlu memiliki kemampuan pidato yang luar biasa seperti Bung Karno, tapi kita harus terus berlatih untuk bisa pidato seperti Bung Karno. Kita tidak perlu mengubah segala aspek kehidupan kita untuk bisa menjadi pebisnis  kaya dan mewah seperti Rudi Salim, tapi kita harus terus berusaha supaya kita seperti Rudi Salim. Kita tidak perlu sepintar J.K Rowling untuk bisa menulis, tapi kita harus terus berusaha supaya bisa menjadi penulis seperti J.K Rowling. Kesimpulannya, penulis itu dibuat, bukan dilahirkan.

Baca juga :  JADILAH INSPIRASI BAGI ORANG LAIN

Writing for Eveyone

Sebagian besar menulis sudah menjadi aktifitas utama bagi kalangan penulis. Berbagai kalangan, mulai dari anak-anak, remaja hingga dewasa sudah banyak bermunculan yang menunjukkan kiprahnya di dunia kepenulisan. Media cetak, media elektronik dan sosial media mulai dipenuhi dengan tulisan-tulisan karya anak bangsa. Banyaknya tulisan ini tidak menutup kemungkinan berkembangnya seni kepenulisan. Gaya selingkung (baca : ‘gaya kepenulisan’) antar satu penulis dengan penulis lainnya juga beragam. Mulai dari tulisan fiktif, non fiktif, motivasi, bisnis, pengembangan diri, dakwah hingga cerita anak-anak banyak yang turut mewarnai hiruk-pikuk kepenulisan.

Menulis sebagai seni juga dipengaruhi sedikit banyak adat dan budaya penulisnya. Gaya menulis orang jogja akan berbeda dengan gaya menulis orang medan. Gaya menulis orang jakarta akan berbeda dengan gaya menulis orang papua. Namun, uniknya, ketika orang papua bisa menulis dengan gaya dan bahasa indonesia, orang minang juga bisa menulis dengan gaya dan bahasa yang sama. Tahu apa sebabnya? Benar. Sekali lagi, bahwa menulis adalah seni, dan ini menunjukkan bahwa negara kita benar-benar kaya akan kebinekaan.

Orang di Jogja menyebut kendaraan roda dua dengan penggerak mesin disebut ‘Motor atau Sepeda Motor’, berbeda dengan orang  Riau yang menyebutnya ‘Kereta’. Orang Jogja lebih sering menyebut sepeda ontel dengan sebutan ‘Pit’, justru orang Riau menyebutnya dengan ‘Sepeda’.

Budaya kita sebenarnya memiliki potensi yang bisa dikembangkan. Justru dengan perbedaaan-perbedaan ini kita dapat memiliki identitas sendiri sebagai penulis. Karena selain pendidikan, termasuk adat, budaya dan lingkungan sangat memberi pengaruh terhadap isi dan gaya tulisan kita. Inilah yang membentuk seni di dunia menulis.

Pada dasarnya, menulis hanya mengikat pada niat. Selama seseorang memiliki niat untuk menulis, insyaAllah pasti dia akan bisa menulis. Bukan persoalan, apakah orang tersebut berpendidikan atau tidak, apakah dia sebagai orang yang  dikenal atau tidak. Memang, nama besar bisa menentukan sukses tidaknya sebuah buku, tapi itu bukan harga mati. Justru dengan tulisan itu seseorang akan dikenal dan terkenal.

Seni dan Tulisan

Jika di atas sudah jelaskan bagaimana tulisan sebagai seni dan seni termasuk ke dalam tulisan, maka hal berikutnya yang perlu kita tahu adalah keduanya sama-sama buah karya yang bernilai harganya.

Jika seorang seniman mengabadikan karyanya dalam bentuk musik, karya desainnya yang luar biasa atau karya filmnya yang melegenda, maka penulis mengabadikan karyanya dalam bentuk bukunya yang sangat berpengaruh dan bahkan bisa mengubah cara pandang hidup masyarakat banyak. Melalui pengetahuan, pengalaman dan motivasi-motivasi, kita dapat menularkan kepada banyak orang.

Kadang orang membaca bukan karena keinginan, tapi kebutuhan. Tetapi juga ada karena tuntutan kerja, seorang pembimbing skripsi, atau editor misalnya. Jangan khawatir tulisan kita tidak akan ada yang membaca. Kembali lagi, bahwa orang membaca sesuai kebututuhannya dan kebutuhan satu orang dengan lainnya pasti berbeda.

Menulis, Saudara Kandungnya Membaca.

  • Membaca bisa menjadi kebutuhan karena tuntutan.

Seorang editor penerbitan, dosen disertasi, guru, sampai anak sekolah dasar, pola membaca yang dibentuk adalah sebagai tuntutan. Seorang editor buku sudah pasti pekerjaan utamanya adalah membaca naskah sebeulum diterbitkan. Apakah sudah sesuai dengan EYD (Ejaan Yang Disempurnakan), apakah sudah sesuai dengan kata serapan sesuai kamis Bahasa Indonesia yang baku dan apakah naskah secara keseluruhan mengandung unsur SARA, hoax (tidak valid sumbernya) atau lainnya yang tidak layak untuk dicantumkan dalam naskah.

Seorang dosen pembimbing skripsi, thesis hingga disertasi sudah dipastikan  bahwa aktifitas utamanya adalah membaca. Membaca rancangan judul penelitian, kerangka konsep yang akan digunakan, medote penelitian yang digunakan hingga hasil dan pengolahan data yang disajikan tentu proses menilainya dengan membaca. Seorang guru yang akan memberikan materi untuk diajarkan kepada murid-muridnya modal mutlaknya  adalah membaca lebih dahulu. Disini kita mengetahui bahwa membaca sebagai tuntutan.

  • Membaca bisa menjadi kebutuhan karena desakan.

“Besok senin kita akan melaksanakan ujian nasional!”. Saat siswa mendengar kalimat ini, tentu yang dibenaknya adalah segera mempersiapkan diri dan rajin membaca pelajaran. Mereka akan membaca buku atau materi yang sudah ditulis dalam bukunya untuk direview ulang. Membaca juga sebagai tuntutan bagi mereka yang sehari-harinya bergelut di dunia administrasi dan penelitian. Manajemen arsip tidak akan berjalan rapih jika tidak di susun dan dikelompokkan secara urutan. Begitu juga penelitian tidak akan dianggap sebagai penelitian yang ilmiah jika tidak bersumber pada referensi yang vallid

  • Membaca bisa menjadi kebutuhan karena kesadaran.

Ini adalah alasan yang paling penting dan perlu ditanamkan sejak dini oleh siapapun dan dimanapun. Membaca karena kesadaran butuhnya ilmu pengetahuan adalah pondasi yang tidak bisa ditawar. Selain itu juga, membaca karena kesadaran diri sendiri dapat memupuk budaya di masyarakat, dan ini dapat membentuk ekosistem baru.

Komunitas-komunitas anak muda seperti Forum Lingkar Pena, Kelas Inspirasi, Writing Prodigy Aacdemy dan sebagainya semua memiliki tujuan yang sama bahwa membaca adalah kebutuhan yang kita tidak bisa menghindarinya. Membaca sebagai bagian dari gerakan indonesia bebas aksara dan melek huruf. Sebuah negara bisa dikatakan sebagai negara maju dari sebapa banyak buku yang dihabiskan pemudanya untuk membaca buku. Membaca adalah saudara kandungnya  menulis. Ibarat orang jika ingin banyak kencing maka dia harus banyak minum. Ini hukum sebab akibat yang semua orang pasti tahu. Karena membaca adalah cara bagaimana kita melihat dunia dan menulis adalah cara bagaimana kita dikenal dunia.

Selamat mencoba ya …

Facebook Comments
Latest posts by Writing Prodigy (see all)

Leave a Reply

Your email address will not be published.