YA MUQALLIBAL QULUB, JODOHKAN KAMI DI AKHIRAT-MU

Sea Woelandary
Follow me
Latest posts by Sea Woelandary (see all)

Kupandangi wajahku lekat-lekat di depan cermin. Pantaskah aku menjadi pendamping hidupnya? Dia pemuda sholih dan dari keluarga yang menerapkan ajaran Islam secara kental. Saat ini, dia tercatat sebagai alumni Universitas Al Azhar, Kairo. Sedangkan aku? Aku hanya wanita biasa. Menerapkana jaran agama secara benarpun masih belum lama. Ya Allah, bermimpikah aku? Aku hanya bisa bersyukur. Mungkin inilah jawaban Allah subhanahu wata’ala atas doa yang selalu kupanjatkan dalam sujud panjangku. Aku pun tersenyum.

“Sayang… buka pintunya dong!” Terdengar suaraUmmi memanggilku.

“Iya, Mi. Bentar.” Aku pun melangkah gontai dan membuka pintu kamarku.

“Lama banget sih.Ngapain di kamar? Bentar lagi Tante Layin datang. Kamu sudah siapkan, Sayang?”

“Bismillah… insyaallah, Mi. Tapi,akutakut, Mi. Aku masih ragu.”

“Jangan gitu dong. Mana putri ummi yang selalu optimis? Hayo, Sayang kan sudah dewasa. Pasti bisa menjalani semuanya dengan baik. Yakinlah.”

Ummi pun memelukku. Hangat. Kehangatan itulah yang selalu kurasakan jika berada dalam dekapan Ummi.

“Tapi, aku benar-benar takut, Mi. Sebentar lagi aku akan jadi milik orang lain. Aku takut kalau harus berpisah sama Ummi. Aku nggak bisa jauh dari Ummi.”

Akupun mulai meneteskan air mata. Sebentar lagi, suamiku akan memboyongku kerumah keluarga besarnya. Aku akan tinggal bersama mereka. Menjalani hari-haripun bersama mereka, tanpa Ummi pun Abi. Aku paling takut dengan kata “MERTUA”. Teman-temanku bilang, mertua itu jahat. Dijamin pasti gak bakalan nyaman tinggal dengan yang namanya mertua.

Ummi pun semakin memelukku erat sambil mengelus rambutku. “Sayang… takada yang perlu ditakutkan dalam pernikahan. Kamu tak perlu khawatir. Meskipun kamu tinggal bersama keluarga barumu, ummi dan abi akan sering-sering mengunjungimu. Ummi dan abi akan selalu ada disaat kamu butuh.”

“Makasihya, Mi. Insyaallah.”

Aku pun mengecup kening Ummi. Ummi juga membalas kecupanku. Kami pun bercanda dan tertawa. Ummi menceritakan pernikahannya dengan Abi. Ah, ternyata Ummi dulu juga takut. Tapi setelah itu, semua berjalan lancar. Keluarga kami juga harmonis, meski terkadang juga ada pertengkaran kecil. Namun, dalam kehidupan rumah tangga, pasti ada kan yang namanya perbedaan pendapat atau perselisihan? Pandai-pandainya kita saja dalam menyikapinya dan semua akan menjadi skenario yang indah.

Saat aku dan Ummi asyik bergurau, tiba-tiba Tante Layin dating dan langsung masuk ke kamarku.

“Eh, Jeng. Gimana? Sudah siap belum sang putrinya?” Melirik kearahku.

“Insyaallah sudah siap. Iyakan, Aayang?” Ummi balik bertanya kepadaku. Aku pun spontan menjawab.

“Iya, Tante. Qila sudah siap kok. Dijamin cantik, ya,” godaku sambil mengedipkan mata.

“Beres, Baby mungilku.” Tante Layin tersenyum sambil mengacungkan jempolnya.

“Sayang… ummi tinggal,ya? Kan, sudah adaTante Layin. Di luar banyak tamu tuh.”

“Iya, Mi. Daah… Mi.”

Tiga jam lebih aku di kamar bersama Tante Layin. Beliau mengerahkan seluruh jurusnya untuk mendandaniku agar aku bisa tampil cantik. Maklum, hari inikan hari sakralku. Hari pernikahanku. Aku ingin memberikan yang terbaik untuk suamiku, keluargaku, calon keluargaku, dan para tamu undangan tentunya.

Baca juga :  TAK PERNAH LUPA

“Sip! Beres. Masyaallah… kamu cantik sekali, Sayang.”

“Makasihya, Te. Berkat Tante.”

Setengah jam kemudian, Ummi dan Budhe datang mengahampiriku.

“Sayang… keluarga Wahyu sudah datang. Semua sudah siap.”

“Bismillah, Mi. Semoga ini menjadi yang pertama dan terakhir. Qila siap, Mi.”

Kami pun bergegas menuju ruangan yang telah dipersiapkan untuk melaksanakan akad nikahku dengan Mas Wahyu. Hari ini akan menjadi pertemuan ketigaku dengan Mas Wahyu setelah proses ta’aruf dan khitbah beberapa minggu yang lalu. Aku tidak bisa melihat wajah Mas Wahyu ataupun para tamu undangan pria lainnya karena memang acara ini dilaksanakan secara syar’I menggunakan hijab yang memisahkan kaum pria dan wanita. Jantungku berdegup kencang. Ya Allah, yakinkan hati hamba. Aku pun mengulas senyum dengan orang-orang di sekitarku. Di situ juga ada keluarga Mas Wahyu. Mereka juga tersenyum kearahku.

Setelah semuanya siap, acara sacral itupun dimulai. Tak henti-hentinya bibirku berdzikir. Bismillah… semoga acaranya lancar. Sebelum proses ijab qabul berlangsung, ada hadiah istimewa yang ingin Mas Wahyu persembahkan untukku. Aku belum tahu apa gerangan hadiah itu karena memang sebelumnya tidak dibicarakan saat proses persiapan menjelang pernikahan. Detak jantungku semakin kencang. Kejutan apa yang akan dia berikan?

Setelah pak penghulu menanyakan kesiapan Mas Wahyu, pemuda sholih itupun mulai membuka bibirnya melantunkan ta’awudz, basmallah, dan akhirnya kutemukan jawabannya. Dia melantunkan Surah ke-55 dalam Al-Qur’an. Ar-Rahmaan, ya surah itu Ar-Rahmaan. Semua hadirin pun khusyuk mendengarkan lantunan ayat suci tersebut. Masyaallah …begitu merdu suaranya. Tanpa kusadari, ada decak kagum dalam diri ini. Aku mulai meneteskan air mata saat lantunannya sampai pada ayat ke-13 “Fabiayyiiaalaairabbikumaatukadzdzibaan” (Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?) Tubuhku terasa bergetar. Masyaallah, terimakasih atas hadiah ini.

Dalam waktu tiga puluh menit, dia berhasil merampungkan hafalannya. Acara ijab qabulpun dimulai.

“Saya nikahkan dan kawinkan engkau dengan anakku bernama AsySyifa Tsaqila Ramadhani binti H. Ainun Najieb dengan mas kawin sebuah buku berjudul Meniti Surga Bersama Bidadariku dan uang sebesar Rp. 16.001.600,00 dibayar tunai.” Terdengar Sbi mengucapkan ijab.

“Saya terima nikah dan kawinnya AsySyifa Tsaqila Ramadani binti H. Ainun Najieb dengan mas kawin tersebut tunai.” Mas Wahyu pun mengucapkan qabul.

“Saaah?”

“Saaah.” Terdengar jawaban dari berbagai arah.

Syukran alhamdulillah, ya Allah.

Aku pun tersenyum dan beberapa orang merangkulku sambil mengucapkan selamat. Kudengar pula, beberapa diantara mereka memanjatkan doa untuk keharmonisan keluarga baru kami. Setelah itu, akupun diperbolehkan bertemu Mas Wahyu. Masyaaallah… kutatap matanya. Terimakasih, ya Allah. Batinku. Dia pun menatap mataku dan mengecup keningku. Kami pun saling memasangkan cincin.

Ku lihat Ummi dan Abi tersenyum sambil meneteskan air mata. Ada rasa haru dalam pancaran mata beliau. Kini, putri semata wayangnya telah siap menjalani hari-harinya sebagai nyonya. Bukan nona lagi.

*  *  *

“Sayang. Bangun, Nak. Sudah shubuh. Waktunya sholat.”

“Mi.” Aku memeluk Ummi sambil menangis. “Aku bermimpi menikah dengan Mas Wahyu.”

“Sudahlah, insyaaallah Wahyu sudah tenang di alam sana. Allah telah menjaganya.”

Aku masih menangis dalam dekapan Ummi. Dia Muhammad Furqon Wahyu Sasono. Pemuda sholih yang gagal mempersuntingku H-2 minggu acara pernikahan akibat kecelakaan pesawat yang dialaminya saat perjalanan Kairo-Jakarta. Dalam hati, aku hanya bisa berdoa.

‘Ya Allah, jika Engkau tidak mempertemukan kami di dunia, pertemukanlah kami di akhirat-Mu sebagai keluarga yang sakinah sa’adah wasalamah.’


Facebook Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published.