ALUNAN NADA PENANTIAN

Sea Woelandary
Follow me
Latest posts by Sea Woelandary (see all)

Seharian ini, aku menatap layar laptopku. Jemariku tiada henti menekan tombol-tombol keyboard. Bukan karena pemikiranku mengalir lancar, melainkan fokusku telah gagal total. Bagaimana tidak? Berkali-kali aku menulis kalimat, berkali-kali pulalah aku menekan tombol backspace. Sudah delapan jam, tetapi makalahku tidak lekas kelar. Sebenarnya, aku focus pada benda kecil di samping laptop. Aku sedang menunggu balasan WA dari seseorang yang dua tahun belakangan ini membuat jiwaku mengalami pergulatan hebat.

Semalam, dengan keberanian yang luar bisa, aku mengirim WA ke Kang Syaif. Setelah dua tahun memendam rasa, akhirnya benteng pertahananku jebol juga. Aku tidak peduli. Aku mengesampingkan kodratku sebagai wanita yang notabene dinyatain cinta bukan menyatakan cinta.

[Assalamu’alaikum, Kang.]

[Wa’alaikumussalam, Neng Rania. Ada apa,ya? Tumben?]

[Akang sibuk?]

[Nggak terlalu kok. Lagi packing barang-barang aja. Kunaon atuh, Neng? Ada masalah?]

[Aku pengen bilang sesuatu. Sebenarnya, sejak kita bertemu, aku mengagumimu. Dua tahun belakangan ini, kurasa bukan hanya kagum, tetapi rasa cinta telah menjalari hatiku. Mungkin aku lancang, tetapi aku rasa ini adalah jalan satu-satunya agar hatiku tak kian bimbang. Kang, jika Allah subhanahuwata’ala  menakdirkan kita berjodoh, maukah Akang menikahiku? Aku sudah dapat izin dari Ayah, saat semester 5 nanti, aku diperbolehkan untuk menikah. Minggu depan KRS-an, itu artinya sebentar lagi aku semester 5. Aku hanya butuh jawaban agar hari-hariku tak berada dalam angan.]

WA terakhirku terkirim pukul 20.00 WIB semalam. Namun, hingga pukul 14.00 WIB inipun, pesanku masih belum terbalas. Jangankan dibalas, dibaca saja belum. Aku mulai khawatir dan takut. Jangan-jangan Kang Syaif merasa kuteror dan menganggapku aneh. Tapi, sah-sah sajakan, wanita menyatakan cinta lebih dulu? Dari pada keduluan yang lain.

Malam pun tiba. Namun, pesanku tak kunjung berbalas. Ingin rasanya aku mengirim pesan lagi padanya, tetapi terlanjur malu. Semalam saja aku sudah menggadaikan rasa itu. Kulihat lagi percakapanku dengannya, terakhir online semalam pukul 19.30 WIB. Itu artinya ia memang sedang off. Kemana, ya? Entahlah. Lebih baik aku tidur. Lagian besok pagi ada urusan di kampus.

Baca juga :  SUAMIMU MENIKMATINYA (Part 13)

Menjelang tengah malam, pukul 23.45 WIB, aku terbangun. Kulihat gawaiku. Ada beberapa pesan WA. Salah satunya dari Kang Syaif. Jantungku berdegup kencang. Napasku pun kembang-kempis. Segera saja kubaca pesannya.

[Maaf baru balas. Semalam aku harus ngantar teman ke Surabaya dan HP tertinggal di kontrakan. Neng, terimakasih atas kejujuranmu. Aku tahu itu sulit. Namun, kamu telah memberanikan diri untuk mengirim pesan itu. Neng, maafin aku. Saat ini, aku masih focus sama studi dan karir.  Aku merasa belum siap dan pantas untuk menjadi seorang imam. Masih banyak yang harus aku pelajari. Masih harus aku memperbaiki diri. Maaf, aku tidak bisa menikahimu semester 5 nanti.]

Deg. Rasanya jantungku berhenti berdetak. Otot-ototku pun melemas. Tak terasa air matapun membasahi pipi. Aku menangis sesenggukan. Hatiku tercabik-cabik. Dua tahun mencintai dalam diam, kini terjawab sudah. Aku kecewa, cintaku ditolak. Namun, aku merasa lega. Akhirnya aku menemukan jawaban meski warnanya hitam bukan putih seperti yang aku harapkan.

Aku membalas pesannya.

[Iya, Kang. Terima kasih. Setidaknya semua bukan abu-abu lagi.]

Keesokan harinya, tanpa sengaja aku bertemu dengannya di kantin. Saat itu, aku dan Fitri sedang makan siang. Aku tak berani menoleh ke arahnya. Aku malu atas penolakan itu. Aku berpura-pura mencari sesuatu di dalam tasku. Namun, sepertinya ia sudah melihatku. Mengetahui keberadaanku, ia pun menghampiriku.

Assalamu’alaikum, Neng Rania, Neng Fitri.”

Wa’alaikumussalam,” jawabku dan Fitri hamper bersamaan.

Neng, aku ada sesuatu untukmu.” Ia menyodorkan amplop coklat kepadaku.

Apaan?”

Buka aja nanti. Oh ya, dua minggu lagi aku wisuda. Kalian berdua boleh datang, lho.”

Siap, Kang,” jawab si Fitri.

Ia pun berpamitan. Tak lama kemudian, ia mengirim pesan.

[Neng, itu jawabanku yang sebenarnya.]

Sesampainya di kost, aku membuka amplop itu. Isinya sebuah CD. Aku langsung memainkannya.  Ternyata itu adalah video saat ia mengikuti lomba piano tingkat provinsi. Saat itu, ia membawakan lagu Nantikanku di Batas Waktu karya Edcoustic. Tanpa vocal sih. Aku bingung. Maksudnya apa? Akupun mencari lirik lagu tersebut.

Reff:

Kalau memang kau pilihanaku

Tunggu sampai aku datang

Nanti kubawa kau pergi ke surge abadi

Kini belumlah saatnya

Aku membalas cintamu

Nantikanku di batas waktu

Setelah mendengar permainan pianonya dan kucoba memahami lirik lagu tersebut, dalam hati aku bertanya. Mungkinkah cintaku berbalas dan harus menunggu studi S2-nya kelar?  Entahlah. Kita lihat saja dua atau tiga tahun mendatang.


Facebook Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published.