BUNGA ITUPUN KINI LAYU

Oleh RH


Betapa banyak kumbang telah datang
Namun, bunga itu selalu enggan untuk memberi ruang
Terkadang kumbang itu tampak begitu sempurna, hingga tak terlihat ada cela
Tetap, sang bunga seolah tidak peka dan berusaha menolak setiap yang suka
Waktu terus berjalan, tak seorangpun mampu untuk menahan
Sang bunga kian menua, bayang-bayang kesedihan mulai tampak
Bunga yang dulu mekar dan begitu memesona, kini mulai memudar
Kelopak mayang yang begitu menawan mulai sedikit turun, pertanda tidak lama lagi akan layu
Ya, bunga yang diimpikan banyak kumbang
Kini mulai dijauhi dan semua enggan mendekat
Malah, sang lalat mulai mengintai dari jauh, menunggu kesempatan

Duhai, apa dosa bunga tersebut sehingga harus layu tanpa disentuh kumbang?
Malang, bila harus layu tanpa belaian kasih yang tulus dari sang pujaan
Ya, sang bunga mulai meratap, mengingat begitu banyak kumbang yang datang
Bukankah kumbang terbaik saja, masih ada kekurangan?
Betapa lagi kumbang-kumbang jalanan yang hidup tanpa arah dan tujuan
Tapi, apakah cinta dan ketulusan yang mereka persembahkan tidak cukup sebagai imbalan?
Haruskah mereka kecewa setelah melalui banyak rintangan?
Bukankah cinta itu bisa ditumbuhkan layaknya tanaman?
Bersemi indah manakala dirawat dan dibersihkan

Di tengah kebingungan dan kesedihan, sang bunga mulai meratap
Betapa masa muda itu cepat berlalu
Dan masa tua senantiasa menunggu
Bukan kesempurnaan yang dicari
Melainkan cinta yang tulus bertahta kesetiaan itulah yang membuat bahagia bersemayam di hati

(Medan, 6 April 2020)

Facebook Comments
Latest posts by Writing Prodigy (see all)

11 Comments












Leave a Reply

Your email address will not be published.