EGO

Oleh Windy Yafitri


Apa yang lebih sakit dari sama-sama diam tapi saling menyayangi
Sama rindu tapi enggan bertemu, sama peduli tapi saling acuh
Tampak biasa namun dalam, cuek namun saling menimbun
perhatian dan kekhawatiran.

Saling menunggu adalah hal yang selalu dilakukan, tanpa lupa.
Meninggikan ego berhasil mengalahkan rasa untuk
bersama dan saling memiliki.

Sampai kapan?

Sampai waktu habis dan merenggut setiap rasa yang tumbuh, begitukah?
Ego kita masih tinggi untuk saling memperjuangkan rasa dalam hati.

Percuma, jika ingin bersama hanya sebatas ingin dalam hati.
Kapan itu akan menjelma? Jika, kita hanya saling diam
tanpa memulai sebuah usaha nyata.

Bukankah, kita harus sama-sama berjalan
untuk sampai dan saling menemukan?
Kau tak pernah memulai, aku pun sama, tak pernah berinisiatif
Ya kita sama, sama-sama ego

Mungkin, waktu kita akan habisuntuk sama-sama memperjuangkan
Karena, waktu tak pernah peduli dengan ego yang kita punya

Waktu akan terus berjalan
Dan, dia menganggap kita pengecut yang kalah dengan ego diri

Titik kita tidak juga bertemu,kamu dan aku hanya sibuk menerjemahkan rasa
Mempertanyakan rasa, tanpa mau memastikan rasa tersebut

Padahal, jika sedikit saja kita sama-sama berjuang, semuanya tak akan serumit ini
Kita bisa saling memahami dan melengkapi satu sama lain, sampai pada kita bersama selamanya.

Semoga keegoan itu kian melebur, seiring dengan berjalannya waktu


Tulisan ini telah lulus review oleh editor dan layak publish.
Copyright © Al Right Reserved 2020
Writing Prodigy Academy

Facebook Comments
Latest posts by Writing Prodigy (see all)

Leave a Reply

Your email address will not be published.