FANI AFNAN JANNATI (PART 3)

Viviananda Mdf
Follow me
Latest posts by Viviananda Mdf (see all)

Setelah pulang sholat Eid, aku, ibu dan bapak langsung ke rumah. Selang beberapa waktu. Farid dan Kak Fitri datang untuk silaturahim. Degup jantungku semakin kencang, seirama dengan bedug takbir yang bergenderam, perkataan apa yang harus aku keluarkan. Tiada kata terucap sempurna kala itu, semua berjalan seperti biasa saja. Hanya ucapan maaf lahir dan batin sambil menikmati hidangan makanan yang beraneka ragam.

Akhirnya, Kak Fitri dan Farid pulang. Ibu sempat mengungkapkan pendapatnya perihal Farid, satu persatupun sisi positif Farid yang tampak dirincikan oleh Ibu secara detail. Bagaimana tidak, seperti halnya Ibu telah menganggapku sebagai anaknya sendiri, tentu Ibu inginkan lelaki terbaik yang akan mendampingiku kelak.

Malam itu, tekadku telah bulat. Mungkin bisa jadi, aku akan membuatnya sakit hati perihal penolakan lamarannya. Namun, tak ada pilihan lain, membiarkan orang terus berharap itu justru pelan-pelan akan membunuhnya.

Tidak berani aku berucap melalui kata secara langsung. Hanya kutulisakan lewat sebuah pesan.

[Assalamu’alaikum, ya Farid, hamba Allah yang begitu lurus azzamnya, yang begitu ikhlas hatinya, sebenarnya banyak kata yang ingin aku ucapkan, namun tak mampu kuurai. Ya Farid, segala kebaikanmu dan keluarga sungguh telah aku terima secara utuh. Perihal pertanyaan yang engkau ajukan, dan perihal jawab yang engkau tunggu, ya Farid, aku tak ingin membuatmu menunggu begitu lama. Aku khawatir sikapku bisa membuatmu luka, tetapi setidaknya engkau telah mendapatkan jawaban itu. Ya Farid, maafkan aku, perihal lamaranmu, maafkan hati dan jiwaku yang tak bisa bersamamu. Ada alasan yang tak bisa pula kuungkap. Pada intinya, maafakan akan diriku.]

Setelah pesan terkirim, tinggal menunggu jawaban apa yang akan kuterima nantinya. Satu, dua jam waktu terlewati, tiada juga balasan pesan darinya. Kupikir, mungkin Farid begitu kecewa dengan jawaban yang ia terima, atau mungkin … ia sangat terluka sebab pesan tersebut. Aku menunggu hingga terlelap ditemani sang malam yang menyambut sang fajar.

Adzan subuh yang berkumandang di masjid samping rumah membangunkanku dari malam yang singkat. Kali ini aku melewati sepertiga malam yang indah, mungkin karena lelah kemarin masih terasa atau pikiran yang lelah itu baru tertumpah.

Kubuka selimut yang entah siapa menaruhnya di atas tubuh ini malam tadi, berjalan pelan kearah dapur, kudapati ibu sedang sibuk merapikan perkakas.

“Semalam tidurmu nyenyak sekali, Fan,” kata Ibu setelah melihat aku ke arahnya.

“Ibu yang menyelimutiku?” tanyaku manja sambil bergelayut memeluknya.

“Mandi sana, sholat terus sarapan,” lanjut Ibu tanpa menjawab pertanyaanku.

“Ibu udah sholat?” tanyaku kembali.

“Ya belum, kita sholat di masjid bareng bapak, ya. Ayo buruan ambil wudhu, entar keburu iqamah,” kata Ibu seraya bergerak mengambil wudhu.

“Aku sayang Ibu,” jawabku sambil mencium pipinya dan langsung berlari ke kamar mandi.

Selesai sholat, aku teringat pesan yang ku kirim semalam pada Farid, apakah sudah ia balas??

Kulihat ternyata sudah ada pesan dari Farid yang belum terbuka sejak pukul 03.00 WIB. Isi pesan penuh keharuan dan keikhlasan yang mendalam.

“Wa’alaikumsalam, ya Dek Fani, hamba Allah yang diciptakan-Nya penuh keteduhan, ada cahaya syurga setiap kali aku melihatmu, maka kuberanikan diri kala itu untuk memilihmu menjadi pendamping hidupku. Namun, masyaallah ternyata namamu mungkin memang tidak dituliskan untuk bersamaku. Tiada mengapa, ya dek Fani, tidak perlu engkau risau dan merasa bersalah akan keputusanmu. Insyaallah, aku telah menerimanya dengan segenap keikhlasan yang ada. Semoga lekas engkau temukan tambatan hati yang memang ditakdirkan bagi mu, begitu juga denganku. Aamiin, Terima kasih. Salam dari Farid dan keluarga. Wassalamu’alaikum.]

Pesan itu tiada kubalas, dan membiarkan sang waktu menyembuhkan lukanya. Doa-doa selalu terpanjat, semoga segala kebaikan atasnya, Farid dan keluarga.

***

Waktu berlalu begitu cepat, hari kelima Idul Fitri itu, aku terbang ke Bandung dengan tiket yang sudah pesan di hari sebelumnya. Penerbangan yang tidak sampai satu jam itu membuatku tidak ingin turun dari pesawat. Andai saja ada tempat berteduh di istana awan, aku ingin tinggal di sana. Terbebas dari hiruk pikuk dunia dan segala kegusarannya. Jujur … aku lelah.

Entah hari bagaimana yang akan kuhadapi setiba di sana nanti, apakah Bandung akan menjadi lautan api kembali? Sebab hatiku yang membawa bara penuh amarah dan aah … entahlah. Yang aku pikirkan, bagaimana harus menghadapi kenyataan, menikah dengan seseorang yang memiliki ragaku, tetapi tidak dengan hati ku. Apakah aku begitu keji? Abdullah yang ber-azzam lurus itu, Abdullah yang dulu kukenal tegas dan penuh kesabaran, akankah ia mampu bersabar menghadapi separuh jiwaku?

Sampai di Bandung, keluarga telah menyambutku dengan gembira. Ada Mbak Nissa, Mas Hafiz berserta istri dan putranya, pun si bungsu—Dek Rama. Ibu langsung memelukku penuh haru dan Bapak hanya duduk tersenyum berharap aku menghampiri dan memeluknya.

Langit cerah hari itu, tiada tanda sedikit pun badai akan turun, sang surya pun mengembang menerangi alam semesta, terutama semakin mendekati hari di mana aku harus menyaksikan pernikahan Mbak Zizi dan Hanafi. Tiba-tiba gawaiku berbunyi, lagi-lagi ada telpon masuk dari nomor tidak dikenal. Rasanya aku tak ingin mengangkatnya, tetapi jemari ini tak bisa dicegah dan rasa penasaranku menyeruak untuk menjawabnya.

“Halo. Assalamu’alaikum,” sapaku.

“Wa’alaikumsalam.” Suara seorang laki-laki kudengar, suara yang tidak begitu asing di telinga, suara yang sangat familiar, suara yang masih terngiang, suara keteduhan penuh keharuan.

“Mas Hanafi?” terkaku begitu saja.

“Iya, ini Mamas,” jawabnya. Mendengar jawaban itu seakan hatiku penuh kegaduhan, seperti nano-nano, asam asin manis dan pedas. Aku terpaku bingung mengendalikan perasaan. Ada amarah, kebencian, kesedihan, dan keikhlasan. Aku tidak tahu mana di antara rasa itu yang paling dominan.

“Ada apa, Mas?” tanyaku datar dan biasa saja.

“Bagaimana kabar, Adek?” tanyanya tanpa menggubris pertanyaanku.

“Alhamdulillah baik … selamat, ya,” jawabku spontan.

“Untuk?” dia bertanya seolah ringan lisannya, tiada sedikitpun merasa bersalah.

“Ya untuk Mamas dan Mbak Zizi, semoga sakinah selalu bersamanya.”

Baca juga :  SUAMIMU MENIKMATINYA (Part 17)

“Ouh, perihal Zizi. Beliau memang akan menikah, tapi tidak denganku.”

“Maksudnya?” Aku tercengang.

“Iya, Zizi memang akan melangsungkan pernikahan besok, tapi bukan denganku.” jawabnya ringan.

“Hah, sandiwara macam apa lagi yang sedang kau permainkan, Mas? Belum cukupkah kamu selama ini telah membuatku terluka? Kau pergi bersamanya menoreh cerita dan air mata yang tiada pernah kulupa. Kau menghilang dengan sejuta kebahagiaanmu bersamanya. Di saat aku tertatih, belajar berjalan dan melupakan sayap-sayap yang patah tak terobati. Dia, wanita yang menyingkirkanku dari duniamu hadir memberikan kabar yang mematikan, dan kini kau datang memberikan argumen berbeda, kau katakan bukan bersam mu dia menikah. Di manakah letak hati nuranimu, Mas??? Kau lelaki yang penuh kedustaan, kau tidak hanya datang sebagai maut, kau juga memberikan neraka yang nyata bagiku. Buat apa??? Sudah cukup, Mas!!! sudah!!! Dan harus kau tahu, esok pun akan datang seorang lelaki yang baik hatinya, yang insyaallah akan menikah denganku sesegera mungkin, maka enyahlah dari kehidupanku, anggaplah kita tak pernah berjumpa di muka bumi ini. Jangan pernah datang dan mengganggu hidup ku, kini dan selamanya,” jawabku meledak-ledak disertai air mata yang mengalir deras tiada bisa tertahan.

“Adek, Mamas tahu Adek begitu marah pada Mamas, tapi tolong untuk kali ini dengarkan penjelasan Mamas?” pintanya memohon.

“Apa lagi yang harus aku dengarkan? Bualanmu? Kedustaanmu? Kebohonganmu? Mana yang harus aku dengarkan?!”

“Adek, coba duduklah, jika tidak, berdirilah, dan jika tidak, berwudhulah.” Begitu singkat ia menjawab. Namun, sontak sekejap bisa membuatku menyadari, aku sedang tak mampu mengandalikan emosi. Astaghfirullah. Hanya istighfar yang terlantun dalam hati ini. Kemudian ketika aku terdiam, ia pun melanjutkan kata-katanya.

“Adek, Mamas tahu, Mamas pernah bersalah. Mamas pernah meninggalkanmu tanpa kabar berita, dan Adek pun menghilang dengan membawa kesalahpahaman perihal Mamas dan Zizi. Ketahuilah, Demi masa disaksian oleh Tuhan kita, Mamas sangat menyayangimu, Dek, dan Mamas tidak berdusta. Mamas dulu pergi karena memang Mamas sedang fokus menata dan menyiapkan bekal masa depan nantinya dan semua itu tidak ada hubungannya dengan Zizi. Kami memang pernah bertemu, dan Adek pun pernah melihatnya, itu semua sebuah kesalahpahaman. Zizi datang dan menyatakan rasa cintanya pada Mamas. Tapi apakah Mamas serendah itu? Tidak. Zizi tidak pernah Mamas tempatkan sedikit pun di hati Mamas. Tapi semenjak amarah Adek hari itu, Adek mengambil keputusan yang terlalu kejam. Adek pergi meninggalkan Mamas, tanpa mendengarkan sedikitpun penjelasan Mamas. Sungguh hanya melalui doa, Mamas menjagamu, Dek. Tiada terbesit sedikit pun di hati Mamas untuk tidak memperjuangkanmu. Dan dua minggu lalu, Zizi menelpon Mamas. Beliau mengucapkan maaf atas semua kesalahannya seraya memberikan kabar bahwa beliau akan menikah. Beliau pula yang memberikan nomor telpon Adek kepada Mamas. Beliau mengatakn Adek akan pulang hari ke-12 lebaran. Maka sejak hari itu, Mamas kumpulkan keberanian, Inyaallah hari itu juga, Mamas akan datang bersama dengan keluarga. Adek … benarlah, engkau setangkai dahan di syurga itu, yang sangat aku harapkan tuk berkenan menjadi ibu dari anak-anakku kelak.”

Saat itu, aku terdiam terpaku tanpa sepatah kata pun, antara percaya dan tidak, antara bahagia dan benci, antara yakin dan ragu.

“Dek!”

“Dek!”

“Apa Adek mendengar Mamas?” tanyanya.

“Hah?! Aku tidak mendengarmu, dan aku tidak ingin berjumpa denganmu lagi,” jawabku jual mahal menjaga harga diri.

“Baiklah, terima kasih. Kalo begitu. besok saja Mamas dan keluarga dating. Adek sudah di Bandung, kan?” jawabnya seolah aku mengiyakan permohonannya.

“Apakah kurang jelas aku bicara?! Aku tidak akan menemuimu, sekali pun kamu menangis darah sepajang perjalananmu,” jawabku ketus.

“Ya sudah. Assalamu’alaikum, sampai jumpa besok ba’da ashar.” Mas Hanafi berniat mengakhiri telponnya.

“Wa’alaikumsalam,” jawabku seraya menekan tombol off pada layar gawai.

Entahlah, apakah aku harus bahagia atau bagaimana. Aku kenal betul siapa Hanafi, beliau jika telah berkata “A” maka akan tetap “A”. Itu artinya, beliau tidak pernah main-main dengan kesunguhannya.

***

Setelah membersihkan wajah yang hampir sembab dibasahi air mata, kuhampiri ibu dan bercerita panajng lebar dengannya.

“Ibu, Fani harus bagaimana? Ibu kan tahu, besok Abdullah dan keluarganya pasti datang. Tapi, Bu, Fani tidak bisa membohongi hati Fani sendiri, Bu. Mas Hanafilah yang selama ini Fani dambakan, pria dengan sejuta tanda tanya, yang mengajarkan Fani menjadi gadis dewasa, mengajarkan arti menjaga hubungan, mengajarkan sebuah keikhlasan, mengajarkan arti sebuah kesabaran, akhlaknya, agamanya, kegigihannya, kesabarannya, kejujurannya, jiwa kepemimpinannya. Semua itu bagi Fani seakan tampak nyata, Bu. Lelaki seperti itu yang Fani harapkan, Bu.”

“Ya sudah, persilahkan ia datang.”

“Maksud Ibu? Lantas bagaimana dengan Abdullah? Bukankah Bapak telah mengabari Abdullah bahwa Fani akan menerima khitbahnya?”

“Masyaallah, Nduk, bapakmu tidak sepertimu, yang ceroboh dan cepat mengambil keputusan.”

“Jadi maksud Ibu?”

“Sejak malam waktu kamu telepon Ibu, bapakmu sedang di masjid. Setelah bapakmu pulang, Ibu langsung bercerita perihal keputusanmu yang bersedia menerima lamaran Abdullah. Tapi, ya, begitulah bapakmu, beliau justru menolak. Bapak tidak mau jika kamu menikah hanya karena terdesak. Jadi sebelum kamu ke sini, bapakmu meminta Abdullah datang dan menjelaskan semuanya, jadi kamu tenang saja. Abdullah pun sudah tahu keadaanmu yang masih dilemma.”

“Allahu Akbar,” jawabku seraya sujud syukur pada Allah dengan linangan air mata haru.

***

Aku mengintip di balik tirai, ia menyodorkan pada Bapak, sebuah cincin polos tanpa permata. Jantungku berirama selaras dengan rasa syukur tiada terhingga. Tanggal pun ditentukan.

Seminggu setelah hari itu, iringan rebana memenuhi jalanan. Inai di tanganku melukiskan suatu keindahan keagungan Tuhan. Suara bergema, satu tarikan napas terdengar oleh ku dan tak akan pernah terlupakan selamanya.

“Saya terima nikah dan kawinnya Fani Afnan Jannati binti Muhammad Syarif dengan maskawin tersebut tunai.”

“Saaah …” Semua orang bersorak bahagia di atas kebahagiaanku yang tiada tara.

***

“Dik, sebutlah nama Allah dalam keadaan apapun, kita menyaksikan bahwa takdir itu tiada pernah tertukar. Dik, Mamas pernah melepaskanmu satu kali, dan itu yang terakhir kali. Setelah akad ini, akan kugenggam lenganmu dari hayat hingga matiku, maka jadilah bidadari terbaik di dunia dan akhiratku kelak.”

SEGALA PUJI BAGI ALLAH, TUHAN SEMESTA ALAM

TAMAT


Tulisan ini telah lulus review oleh editor dan layak publish.
Copyright © Al Right Reserved 2020
Writing Prodigy Academy

Facebook Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published.