FANI AFNAN JANNATI (PART 1)

Viviananda Mdf
Follow me
Latest posts by Viviananda Mdf (see all)

“Ibu nggak mau tahu, salah satu di antara mereka harus jadi pendampingmu. Ibu sudah nggak sanggup mendengar alasanmu menolak-nolak! Sebenarnya apa yang menjadi tolok ukurnya, Fan? Jangan sampai nanti Ibu disebut-sebut pilih-pilih menantu,” tutur Ibu panjang, melalui telpon.

Rasanya aku ingin menangis sejadi-jadinya malam itu. Namun, kemana harus menumpahkan? Seperti biasa, hanya adakesendirian, tanpa teman untuk berbagi cerita dan menungkan segala rasa.Kesibukan dalam pekerjaan dan rutinitas harian selalu menjadi menu tak terelakkan. Bukan tak terbesit untuk menikah, tentu menikah adalah impian setiap insan, termasuk diri ini.

Malam yang hening itu seakan mengoyak-ngoyak memori, berulang-ulang kalimatIbu datang menjadi momok yang menikam. Seperti biasa, aku terjaga di sepertiga malam, tapi malam ini ada yang begitu menyesak hingga napasku sesak. Air mata tak terasa deras tertumpah, hingga membuatku bertanya. Apakah warna-warni pelangi akan berubah komposisi hanya sebab hujan yang tiada kunjung berhenti? Apakah aku tak layak mencicipi manisnya berjumpa dengan sesorang yang Engkau telah takdirkan untuk menyempurnakan agama?

Ramadhan tahun ini seperti menghantar pada tepian hidup yang semakin rumit. Seperti biasa, setiap sore aku sibuk mempersiapkan makanan untuk buka puasa Ibu dan Bapak. Mereka berdua adalah orang tuaku di perantauan. Meskipun hanya seorang anak angkat yang baru kenal kurang lebih satu tahun, mereka menganggap dan menyayangiku layaknya anak sendiri.

“Fani, jangan sibuk-sibuk. Selalu saja sibuk-sibuk kalo datang kesini!” Begitulah jika Ibu marah karena semua pekerjaan ingin kupegang. Bagaimana tidak, beliau dan Bapak seperti orang tuaku sendiri, terlebih karena mereka tidak memiliki anak hingga usia mereka yang lanjut.

“Ini perkerjaan biasa, Bu. Kan, untuk kita buka bersama juga nanti,” jawabku sambil bermanja memeluk Ibu.

Selang beberapa menit, akhirnya adzan tiba, kami bertiga pun buka puasa bersama. Setelah berbuka, kami pergi sholat ke masjid tepat di samping rumah. Entah rasa syukur mana yang pantas kudustakan, segala nikmat dan kasih sayang-Nya benar-benar sempurna. Sholat maghrib pun selesai, kami bergegas pulang kerumah. Ba’da maghrib itu,Bapak langsung membaca Al-Qur’an, melantunkan ayat-ayat syahdu penuh keindahan kekuasaan Tuhan.

“Ibu lagi apa?” tanyaku dari belakang. Ibu yang tampak sibuk mengacak-ngacak dokumen seolah mencari harta berharga yang hilang.

“Ini Fan, Ibu lagi cari foto keluarga. Disana ada foto Andi juga, keponakan Ibu itu lho yang pernah Ibu ceritakan sama kamu.” Ibu memang pernah cerita perihal keponakannya yang bernama Andi Pratama. Anak pertama dari adik kandungnya. Andi yang usianya hampir tiga puluh tahun,tetapi belum menikah. Bahkan, ibu sering mengulang-ngulang perkataannya didepanku, “Andi tu baik, cocok buat Fani.” Namun, aku sering tidak menghiraukan perkataan itu.

“Ouhh,” jawabku singkat sambil berjalan ke arah dapur untuk mencuci piring kotor yang mulai bertumpuk di washtafel.

“Lebaran ke-10, insyaallah beliau datang kesini, Fan. Fani harus tetap disini, ya!” lanjut Ibu dari balik pintu.

Jujur saja, aku bingung mau jawab apa. Entahlah, hati ini benar-benar tertutup rapat dan tak ingin diketuk oleh siapapun. Mungkin karena aku pernah begitu percaya membukanya. Namun, disia-siakan begitu saja.

“Iya, Bu. Insyaallah,” jawabku dengan nada menyerah.

Beberapa hari kemudian, aku tengah sibuk dengan pekerjaan, mengatur distribusi barang jualan. Bekerja sebagai owner gamis syar’i disalah satu butik milik keluarga dengan jam kerja Senin hingga Jumat, pukul 09.00 s.d. 20.00 WIB membuatku harus bisa mengatur waktu setiap mingguuntuk silaturahim ke tempat sanak saudara, termasuk ketempat Ibu dan Bapak.

[Assalamu’alaikum, Dek Fani sudah buka puasa?] Pesan masuk dari Farid itu langsung kubuka. Farid Aldiansyah adalah adik dari seniorku—Kak Fitri, waktu di kampus. Aku pernah berjumpa dengan beliau waktu seminar “Pengembangan Bisnis Internasional”. Farid waktu itu datang kesana untuk mengantar kakaknya dan disanalah kami berjumpa dan berkenalan.

[Alhamdulillah sudah.] jawabku.

[Aku sama keluarga mau ke butik ya, mungkin 15 menit lagi sampai.] balasnya beberapa menit kemudian.

Aku bingung mau jawab apa. Lagi pula, tidak ada alasan untuk menolaknya datang, yang mungkin sekadar mampir bersilaturahim. Aku tidak membalas pesannya.

Tidiin … suara klakson mobil sudah terdengar dihalaman. Aku pikir hanya beliau dan Kak Fitri yang dating. Ternyata ibu, bapak, dan abangnya pun ikut turun dari mobil. Aku mepersilahkan mereka masuk keruangan tamu minimalis yang hanya ada beberapa kursi dan satu meja. Aku memang tidak sendirian di butik, ada Mia dan Lisa yang juga masih stay sampai jam delapan malam. Sebenarnya aku canggung, seperti petir menyambar saja ketika ia datang dengan keluarganya. Entah obrolan apa yang kami habiskan sembari makan makanan yang dibawakan oleh ibunya. Pertemuan ba’da maghrib itu sama sekali tak kutangkap tujuannya.

Baca juga :  APA ITU CERBUNG?

Sampai di kontrakan, aku membaca pesan masuk juga darinya. [Dek Fani, tolong dipertimbangkan niat baik keluargaku. Insyaallah jika Dek Fani menyetujui, aku dan keluarga akan datang secara resmi menemui ibu dan bapak Dek Fani, minimal yang menjadi wali dari dek Fani di sini.]

Tidak tahu harus menjawab apa, akhirnya kugerakkan jemari untuk mengetik beberapa kata, supaya beliau tidak menunggu terlalu lama. [Izinkan Fani memikirkannya, semoga setelah lebaran Fani sudah mendapatkan jawaban.]

Baru merebahkan kepala yang terasa begitu berat, tiba-tiba dering telepon berbunyi. [my mom] panggilan masuk dari Ibu di Bandung.

“Halo! Assalamu’alaikum, Nduk.”

“Wa’alaikumsalam, Bu.”

“Gimana kabarmu, Nduk? Kok nggak mengabari Ibu seminggu ini? Sehat-sehatkan kamu disana?”

“Alhamdulillah Fani sehat, Bu. Kaki Ibu sudah baikan?” tanyaku balik.

“Ya seperti ini, masih sering kaku kalau ditekuk.” Memang sudah beberapa bulan ini, asam urat Ibu tinggi. Kata dokter, ada pengapuran di sendi lututnya.

“Sehat-sehat, ya, Bu. Jangan lupa obat dari dokter diminum,” jawabku.

“Nduk, tadi ada yang datang kerumah,” lanjut Ibu.

“Siapa?” tanyaku dengan cepat dan penasaran.

“Abdullah sepertinya,” jawab Ibu ragu-ragu.

“Oh iya, Bu. Fani ingat. Dulu kami satu tim di forum ROHIS (Rohani Islam) waktu SMA. Ada apa beliau datang, Bu?” Aku menjawab dan bertanya dengan nada biasa saja. Sejujurnya ada rasa kecewa, karena disisi lain dalam pengharapanku yang datang itu harusnya “Hanafi”. Laki-laki yang pernah singgah sekejap memberikan luka yang teramat sangat, lalu pergi entah kemana, menghilang dari peradaban. Namun anehnya, selalu saja hatiku memaafkan dan berharap segala kebaikan Allah berikan padanya. Ahmad Hanafi, harusnya tidak layak berada dalam ingatan apalagi dalam hidup dan hatiku. Goresan luka dan air mata telah banyak ia tumpahkan, hingga senyuman dan asa itu tenggelam. Tapi inilah bukti keikhlasan, sedikit pun tiada cela terucap kepadanya, bahkan disaat-saat kesakitan kian menghujam, sungguh ia telah kumaafkan, sungguh ia telah kumuliakan, melalui sajak-sajak doa di setiap keheningan malam tiada alpa.

“Ibu nggak dengar jelas, yang pasti tadi Bapakmu menyinggung tentang jodoh-jodoh gitu. Makanya,Nduk, cepat-cepatlah menentukan pilihan, mau yang seperti apa lagi, sih? Tadi ibu perhatikan sekilas, Abdullah juga orang yang baik, sopan, dan berpendidikan. Dengan Abdullah juga Ibu setuju,” tutur ibu menyudutkan.

“Ibu, Fani nggak cari calon suami yang bagaimana-bagaimana, Bu. Fani hanya belum menemukan seseorang yang pas aja, yang nyaman bila Fani bersamanya, yang bisa membimbing Fani dengan kelembutan akhlak dan agamanya, itu saja, Bu. Lagipula, kita nggak tau, apa tujuan Abdullah datang kerumah,” jawabku panjang lebar.

“Selalu itu yang menjadi jawabanmu. Coba kamu lihat, Nduk. Temanmu, si Alya, dia udah menikah bahkan sekarang sedang hamil anak kedua, dan beliau baik-baik saja dengan laki-laki pilihan bapaknya.”

“Iya, Bu. Fani ngerti, tapi kan…” Belum selesai aku menjawab.

“Nih, Bapak mau bicara,” sahut Ibu.

“Assalamu’alaikum, Nduk. Kamu sehat, Nak?” tanya Bapak.

“Alhamdulillah,Pak,” jawabku dengan suara malas bicara.

“Iya, tadi ada temanmu, Abdullah datang kesini. Bertanya kapan kamu pulang, beliau berniat mau mengkhitbahmu.”

“Fani manut saja,Pak,” jawabku dengan spontan tanpa pikir panjang. Jujur saja, aku sudah menyerah dengan hal-hal seperti ini.Lagipula, usiaku juga sudah terbilang cukup matang, yang harusnya tidak ada alasan untuk menunda-nunda menikah.

“Bapak tidak mengekang, kamu sudah dewasa dan sudah bisa mengambil keputusan,” jawab Bapak dengan nada seolah mengerti apa yang hati ini rasakan.

“Pak, sebenarnya sudah ada dua orang yang datang juga berniat mau mengkhitbah Fani. Mas Andi, keponakan Ibu yang katanya mau datang dari Jambi habis lebaran ini. Fani sudah menjawab insyaallah pada Ibu kalo Fani lebaran disini. Dan Farid, beliau adik dari teman Fani—Kak Fitri, Pak. Beliau tadi datang ke butik bersama keluarg nya, dan Fani pun sudah bilang akan menjawab setelah lebaran ini,Pak. Jujur, Fani bingung,Pak,” jawabku hampir dengan suara yang pecah menahan tangis yang ingin membuncah.

“Lah, itu sudah ada,” samber Ibu dari telepon. “Ibu nggak mau tahu, salah satu diantara mereka harus jadi pendampingmu.Ibu sudah nggak sanggup mendengar alasanmu menolak-nolak. Sebenarnya apa yang menjadi tolok ukurnya, Fan? Jangan sampai nanti Ibu disebut-sebut pilih-pilih menantu,” tutur Ibu panjang, melalui telepon.

“Iya,Bu. Insyaallah, akan Fani pertimbangkan. Fani istirahat ya, Bu. Ibu dan Bapak juga istirahatlah, sehat-sehat di sana. Fani sayang Ibu, Assalamu’alaiku.”jawabku seraya mau mengakhiri telpon.

“Wa’alaikumsalam.” Telepon pun berakhir, tetapi pemikiran di kepalaku semakin hidup dan menyala-nyala. Ada bendungan air mata tak tertahankan. Malam yang semakin larut tak menjadikan mataku terpejam, terus terngiang-ngiang perkataan yang Ibu ucapkan.

Bersambung …


Tulisan ini telah lulus review oleh editor dan layak publish.
Copyright © Al Right Reserved 2020
Writing Prodigy Academy

Facebook Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published.