JAWABAN KERAGUAN

Triyana Puspa Dewi
Follow me
Latest posts by Triyana Puspa Dewi (see all)

[“Dek, mas telfon ya?”], pesan singkat Rio pada Nana.

Beberapa saat setelah mengambil air wudhu, Nana mengecek handphone lalu mendapati sebuah pesan. Nana bermaksud membalas pesan itu setelah sholat, namun nada dering terdengar.

[“Assalamu’alaykum Dek”], ucap Satrio mengawali pembicaraannya.
[“Wa’alaykumussalam Mas, kenapa?”], Nana menjawab dengan datar. Sebenarnya dia sama sekali tidak ingin menjawab panggilan itu. tapi Nana yakin bahwa Rio akan terus menghubunginya sampai panggilannya terjawab.

[“Ada hal penting yang mau mas bicarakan”], terdengar suara yang gemetar.

[“E-em.”], singkat Nana sambil merebahkan raganya setelah lelah dengan rutinitas kuliah.

[“Udah lama sebenarnya Mas pingin jujur sama Dedek. Menurut Mas ini penting untuk Mas kasih tahu”], Rio berusaha menata kalimatnya. Dia menyadari bahwa Nana sebenarnya tidak tertarik mendengarkan.

[“Soal apa? Mas mau nikah? Nikah aja, ‘gak usah minta ijin”] Nana menjawab straight tto the point karena telah mengambil kesimpulan atas apa yang dia liat dari status Rio tadi pagi.

[“ Bukan itu Dek, tapi…”], Rio bingung harus memulai dari mana dan semakin terdengar canggung.

Semua berawal dari sebuah hubungan yang terhalang Rumah Ibadah antara Nana dan Dipra. Rio tiba-tiba datang kedalam kisah sepasang kekasih yang sesungguhnya tidak ingin berpisah. Tahun 2013 tepatnya, hubungan Nana yang selama ini backstreet mendapat penentangan yang sangat berarti. Nana yang mengenal Dipra sejak masih kuliah semester tiga harus mengambil keputusan untuk mengakhiri hubungan mereka. Sejak awal mereka berdua memang telah menyadari konsekuensi dari sebuah hubungan berbeda agama. Lambat laun semua harus diputuskan. Berjuang di jalan yang sama atau memilih jalan masing-masing. Hubungan yang telah berjalan dua tahun itu terasa sangat mengesankan. Dipra menjadi kekasih pertama Nana yang mampu mengenalkan seorang introvert kepada dunia di luar ‘dunia’ yang Nana miliki sejak dulu. Nana yang dikenal sangat sulit untuk menemukan teman bicara bahkan terkesan menghindari pergaulan.

Sebuah permintaan pertemanan di BBM masuk. Nana berpikir kira-kira ini siapa. Langsung saja diterima tanpa pikir panjang. Sejak saat itu Rio, seorang guru Sekolah Dasar di Lumajang, masuk ke dalam kehidupan Nana dan menjadi bagian dari banyak cerita.

Menjelang tahun baru 2014, saat itu Nana baru mengenal Rio selama beberapa bulan. Rio menelfon Nana setiap hari, benar-benar setiap hari. Rio juga sering meminta agar Nana mengijinkan Rio menyapa orang tua Nana untuk bisa lebih mengakrabkan diri.

[“Dek, seminggu lagi Mas ke Bali ya? Kita ketemu ya dek. Mas mau tahun baruan disitu. Mau dibawakan apa?”], kata Rio bermaksud memberi kabar.
[“Memang Mas di sini mau berapa hari? Nginep di Mbak Elok?”], Nana membalas. Mbak Elok, saudara Rio yang juga tinggal satu kota dengan Nana, juga sering berjumpa dengan Nana via suara.

[“Mungkin seminggu Dek. Kirimin Mas alamat rumah ya?”], Rio mengingatkan Nana memberikan alamat rumah yang sudah ditagihnya sejak lama.

Tanggal 28 Desember 2013 setelah waktu subuh …

[“Dek, Mas sudah di Bali. Ini masih di Mbak Elok. Nanti sore rencananya mas mau ke rumah ya? Dedek ‘gak kemana-mana kan?”], pagi-pagi sekali Rio menghubungi Nana memberi kabar dan memastikan bahwa dirinya akan datang berkunjung.

[“Alhamdulillaah kalau gitu. Rasanya ‘gak ada acara kemana hari ini”], Nana merasa senang dan bersemangat sebab seorang laki-laki datang jauh-jauh untuk mengunjunginya. Nana sempat ragu karena ini kali pertama Rio akan datang menemuinya.

Sore itu Nana mengenakan dress panjang tanpa lengan dengan motif bunga. Dia berdiri bersama ibunya di tepi kebun sebelah rumah sambil menata beberapa pot bunga. Rio masih belum mengabari pukul berapa ia akan datang. Tetapi saat Nana menoleh ke arah depan gang rumahnya, tampak seseorang yang dia tunggu itu datang mengendarai sepeda motor. Nana dapat langsung mengenalinya meskipun belum pernah bertemu sebelumnya. Rio dengan senyuman di wajahnya lalu berhenti di depan rumah Nana dan menggodanya.

“Assalamu’alaykum. Permisi. Mau tanya Mbak. Rumahnya Mbk Nana yang mana ya?”, ucap Rio sambil menahan tawanya.
“Wa’alaykumussalam. Iya Mas. Ini rumahnya Mbak Nana, saya asisten rumah tangganya. Silakan Mas, masuk dulu”, jawab Nana menimpali candaan itu.
“Ayo nak Rio masuk aja”, Mama Nana menyambut kedatangan Rio sembari mencuci tangannya setelah menjamah rumput liar.

Pertemuan itu berlangsung hampir 2 jam lamanya. Bisa dibilang kalau Rio nampak tenang meskipun jelas lutut Rio sedikit gemetar. Keesokan harinya Rio datang lagi membawa buah tangan. Hari terakhir sebelum liburan usai, Rio menyempatkan diri untuk berpamitan.

[“Dek, mas nanti sore mau pulang. Dede gak mau anter Mas ke terminal?”], tanya Rio penuh harap.
[“Maaf mas, Dede ‘gak bisa. Kita ketemunya di rumah aja ya Mas”], jawab Nana tegas.

Nana bermaksud untuk memberikan kenang-kenangan sepasang bebek kayu untuk Rio. Setibanya di rumah Nana, Rio langsung menemui Papa dan Mama Nana bermaksud untuk berpamitan.

“Terima kasih ya Pak, Bu, Rio sudah diijinkan silaturahmi ke sini. Ibu sama Bapak kalau ada waktu ke Lumajang, kabari Rio nggih. Dede juga. Nanti kita komunikasi terus ya, Dek.”

“InsyaaAllah mas. Mas hati-hati di jalan. Salam buat keluarga di rumah. Sama Mbak Elok juga ya.” Nana tidak memiliki niatan untuk mengubah keputusannya ikut mengantar Rio meskipun tampak jelas ada tangis di sudut mata Rio saat mendengar penolakan itu. Mungkin bagi Rio dia tidak yakin bisa datang lagi. Rio akan sangat disibukkan dengan pekerjaannya sebagai seorang guru yang saat ini sedang berjuang untuk bisa menjadi seorang Pegawai Negeri. Baru beberapa menit Rio pergi, ponsel Nana berbunyi dan jelas saja itu telfon darinya.

[“Iya mas. Sudah sampai mana?”] Nana berusaha untuk tegar. Padahal dia sendiri sebenarnya telah menelan air matanya sejak tadi.
[“Mas sudah di terminal, Dek. Terima kasih ya buat hadiahnya, tapi ada sedikit kecewa karena kamu ‘gak mau anter Mas.”] Jelas Rio dengan suara paraunya di seberang sana.
[“Mas, maaf, inSyaaAllah kita bisa ketemu lagi. Mas jangan lupa berdoa ya”] Nana masih menahan tangisnya. Pecahlah semua setelah Rio menutup telfonnya.

Setelahnya, komunikasi antara Nana dan Rio masih berjalan seperti biasa. Tapi seringkali Rio menunjukkan rasa cemburunya bila sedikit saja Nana melewatkan untuk menjawab panggilan ponselnya. Lama-kelamaan Nana merasa jenuh dan ingin mundur. Rio memang sosok yang romantis. Hampir setiap pagi membangunkan Nana untuk sholat subuh meskipun Nana sudah terbangun sejak jam 3 pagi untuk sholat tahajud. Tapi Nana bukan tipe wanita yang senang apabila terlalu dikekang. Bukan dirasa dapat perhatian, tapi justru terkesan dihadang.

[“Mas, inget batasanmu ya! Kamu bukan suamiku. Aku juga ‘gak pernah menjanjikan apapun sehingga kamu bisa bersikap seperti ini!” ] Tegas Nana memberi penjelasan pada Rio.

[“Mas begini karena Mas merasa kamu sudah seperti pendamping Mas, Dek. Mas memilih kamu, apa kamu ‘gak ngerti dengan sikap Mas selama ini? Kita berjauhan begini dek, itu yang buat Mas ‘gak tahan. Iya Mas tahu salah, tapi Mas sayang. Mas sayang sama kamu.”] Rio berusaha membela dirinya setelah menuduh Nana sedang berkencan dengan mantannya.

Itulah kejadian berulang yang sering membuat Nana bahkan ingin memblokir Rio dari hidupnya. Tetapi lagi-lagi Rio berhasil merayu orang tua Nana dan Nanapun dibuat menyerah. Nana kembali membangun komunikasi dengannya.

Tahun 2014, Nana berniat melanjutkan pendidikannya di Surabaya. Rio mendukungnya bahkan sempat bertemu dengan Nana dan orang tuanya di Malang ketika Nana mengunjungi saudaranya di sana. Seperti biasa, sebelum berpisah Rio selalu mencuri kesempatan untuk bisa memegang tangan Nana dan merasakan betapa beruntungnya dia jika Nana mengiyakan untuk memilihnya. Hubungan mereka terjalin tanpa status tapi merasa saling terikat. Selama bertahun-tahun mereka dekat, Rio sering sekali mengucapkan bahwa ingin sekali dia segera menjadikan Nana sebagai istrinya. Tapi sikap Rio sering membuat Nana kecewa. Lagi-lagi soal posesif berlebihan. Nana sering menghindari pembicaraan dengannya. Rio malah semakin sering menelfon orang tua Nana untuk sekedar berbincang dan mengadukan setiap masalah yang membuat Nana tidak membalasnya. Mungkin mendekati orang tua Nana akan membantunya membujuk Nana berkali-kali. Banyak keraguan yang Nana rasakan untuk bisa mengambil keputusan. Ingin dilanjutkan atau tidak. Setiap orang tua Nana menanyakan hubungan mereka, Nana selalu menjawab supaya orang tuanya jangan menanyakan Rio lagi. Seringkali Rio datang dan pergi serta menghubungi Nana dengan nomor yang berbeda sehingga Nana juga menjadi sempat menjawabnya.

Bulan Pebruari 2017, Nana berhasil menyelesaikan sarjananya dan langsung berupaya mendaftarkan diri untuk studi magister. Alhamdulillaah dua bulan kemudian Nana diterima di kampus yang sama. Bulan Oktober 2017, saat Mama Nana datang untuk mengunjunginya di Surabaya, tetiba sebuah pesan melalui aplikasi Line masuk.

Baca juga :  KADO ISTIMEWA DI HARI SWEET SEVENTEEN

“Mah, Rio tiba-tiba kirim Line. Kenapa uda ngilang, dateng lagi? Setahunan lho Mah.” Nana menyampaikan isi pesan Rio pada Mamanya.
“Jawab baik-baik ya Dek. Jangan bermusuhan apapun alasannya. Dia pernah kita kenal baik selama ini.” Pesan Mama Nana membuatnya berubah pikiran untuk membalas pesan Rio dengan baik.Sebenarnya ingin sekali Nana mengatakan bahwa dia tidak lagi ingin mendengar kabar apapun dari Rio yang menurutnya sering menuduh seakan Nana tidak bisa menjaga dirinya.

[“Kabar baik Mas. Ada apa?”] jawab Nana.

[“Mas kangen sekali, Dek. Video call ya? Mas tau Dede sekarang sudah pakai cadar. ‘gak apa asal Mas bisa liat kamu.”] Mulai lagi nada memaksa itu ditunjukkan Rio.

Belum selesai Nana membalas pesannya, sebuah video call masuk dan jelas Nana tidak akan menjawabnya. Rio memutuskan menelfon seperti biasa dan terdengar senang sekali setelah Nana mau menjawabnya.

[“Alhamdulillaah sekarang sudah di Surabaya lagi. Dedek keterima lanjut S2 di sini Mas”] Nana menceritakannya dengan semangat dan bisa dipastikan Rio meyakini binar di mata Nana meski tidak menatapnya.
[“Oh, iyakah? Lanjut S2 lagi? Selamat ya, Dek. Mudah-mudahan semua lancar. Jangan lupa jaga kesehatan. Mas ikut seneng ya, Sayang.”] Nada suaranya berubah terdengar melemah dan Nana sedikitpun tidak menyadarinya. Jarak dan waktu telah berhasil mengubah banyak hal.
Beberapa hari telah sepi kembali. Seminggu pasca komunikasi itu, ada yang canggung diantara mereka. Nana sesekali memeriksa sosial medianya, tanpa sengaja mendapati sesuatu yang entah sebenarnya dia suka atau benci.

[“Wah, selamat ya Mas. Sudah prewedding, istri orang mana?”] Nana bermaksud mencari kejelasan arti status Rio yang diunggahnya hari itu. Nana merasa sedikit lebih tenang karena merasa inilah akhir dari gangguan Rio selama ini.

[“Terima kasih ya Dek. Sama-sama orang Lumajang. Dek, Mas mau telfon ya, boleh?”] Entah apa yang ada dipikiran Rio saat itu sehingga dia berniat menelfon Nana. Apakah ingin mengklarifiaksi atau mengundang?

[“Mau ngomongin apalagi Mas? Kan udah jelas? Kamu sudah punya pilihan. Berusahalah jadi suami terbaik buat istrimu”] Pungkas Nana tegas.

[“Mas ‘gak memilih dia, Dek. Mas kangen. Tolong Dek, kasih Mas kesempatan untuk lihat kamu. Mas janji ‘gak ganggu kamu lagi.”] Nana mengiyakan, berharap semoga ini memang yang terakhir kalinya. Tak lama kemudian sebuah video call tergambar di ponsel Nana.

[“Assalamu’alaykum Dek. Lama sudah ya Dek. Lagi di mana kok rame? Mas kangen, kangen sekali Dek.”] Sudah tidak ada lagi pertahanan bagi Rio akan perasaannya.

[“Wa’alaykumussalam. Ini lagi di kampus. Apa maksud Mas tadi? Mas sudah mau nikah tapi bilang dia bukan pilihan Mas? Pengecut sekali kamu! Maksa sekali masih bilang kangen sama aku dengan kondisi aku gak tahu entah berapa minggu atau bahkan berapa hari lagi kamu akan jadi suami orang! Buat apa?!”] tanpa pause, semua ungkapan Nana terlontar begitu saja.

[“Kamu masih cantik seperti dulu kalau lagi ngambek, Dek. Dia jodoh yang Bapak pilihkan buat Mas. Mas pinginnya nikah sama kamu, Dek”] Ungkap Rio yang mencengangkan.

[“Mas, jangan gila kamu! Munafik sekali! Sudah mau nikah baru bilang ‘gak cinta’. Apapun alasanmu, kamu sudah meng-iya-kan Dia menjadi istrimu. Tanggung jawabmu sekarang setelah menikahi dia dan membimbing dia. Sudahlah Mas! Aku juga ingin bahagia. Kita selesai sampai di sini”]. Panas hati Nana membuatnya tak ingin melanjutkan percakapan apapun.

Setelah menyelesaikan urusan kampusnya, Nana langsung berpamitan dengan wajah yang lesu dan sahabat Nana bisa membacanya tanpa bertanya. Sesampainya Nana di kamar tidurnya, rebah badannya tidak senyaman biasanya. Ada yang mengganjal di hati. Dia merasa dicintai tapi direndahkan. Bagaimana bisa seseorang yang telah lama menghilang dan kini hadir kembali lalu akan menjadi suami orang, tetapi mengatakan malah ingin menikahinya.

Lalu baru sejenak merebahkan diri, hari itu semua ragu dan tanya yang Nana simpan akan terungkap jawabannya. Melalui telfon yang sengaja diputus Nana, siang itu Rio mengungkapkan semua yang tak ingin Nana dengar. Sesampainya di kosan siang itu …

[“Dek, seandainya Mas ngomongin semuanya sejak awal, mungkin keadaan akan lebih baik. Beri Mas waktu menjelaskan ya?”] pinta Rio melanjutkan maksudnya lewat telfon.

[“Sampaikan semuanya, jangan ada yang terlewat. Setelah itu tolong jangan datang lagi!”] Ketus jawaban Nana justru membuat Rio semakin merindukannya.

[“Mas sayang sekali sama kamu, Dek. Mas tahu juga semua perubahan dan perjuangan luar biasa dalam hidupmu. Kamu gadis yang kuat dan ‘gak pernah main-main soal mimpimu. Itulah salah satu alasan kenapa Mas bertahan bertahun-tahun menunggumu. Mas sebenarnya ingin melamarmu setelah tahu kamu sudah lulus sarjana. Tapi Mas sedikit kecewa saat tahu kamu keterima S2. Itu artinya waktu menunggu Mas bertambah dua tahun lagi. Dek, masih di situ kan?”] Rio menyangsikan Nana masih mendengarnya. Suara Rio terdengar kian melemah.

[“Iya udah, ngomong aja! Ini didengerin.”] Singkat jawab Nana menahan amarah.

[“Waktu itu Mas sempet ijin sama Bapak untuk menunggu kamu sampai lulus sarjana dulu. Karena Mas tahu tekadmu kuat dan kamu sudah berjuang sejauh ini. Seyakin ini Mas sama kamu karena Mas tahu cuma kamu yang membuat Mas bisa bertahan dengan satu perempuan hingga saat ini. Bapak nanya Dek, mau sampai kapan nunggu lagi, sedangkan Mas sudah 30 tahun. Mas pasrah dan akhirnya Mas iyakan Bapak untuk carikan calon istri. Ada satu lagi yang paling penting”] Penjelasan Rio mengundang tanya yang akhirnya membuat Nana buka suara meski tidak memancing antusiasnya mengubah posisi rebahnya.

[“Apa Mas? Jangan ada kebohongan!” Tanpa basa-basi Nana menunjukkan eksistensinya.

[“Sudah lama sebenarnya Mas ingin jadi mualaf”] Kali ini berhasil membuat Nana terpaksa terduduk dengan tegak.

[“Hah! Sebentar-sebentar. Mualaf? Maksud Mas apa?”] Nana mulai bertambah geram hampir ke puncak.

[“Sebelum Mas kenal kamu, Mas sudah ingin jadi mualaf. Tapi ‘gak tau mulai dari mana. Setelah Mas kenal kamu, Mas jadi yakin ini jalannya yang membuat Mas ingin belajar tentang Islam. Mas sering tanya Mbak Elok juga. Mbak Elok bantu memberikan jawaban atas setiap pertanyaan Mas tentang Islam, dan Mbak Elok sangat mendukung keinginan itu. Mas lihat kamu mau belajar terus mengubah dirimu jadi lebih baik. Mas merasa harus mengimbanginya. Mas belajar ngaji, sholat juga Dek. Bapak ‘gak pernah melarang keputusan Mas apalagi saat Mas bilang sudah menemukan kamu sebagai calon istri. Mas ini nasrani Dek, keluarga Mas juga. Maafin Mas ya Dek. Mas tahu Mas salah dan sudah mengecewakanmu. Tapi tolong jangan bilang Mama sama Papa di Bali ya. Mas malu.”]

[“Luar biasa kamu Mas! Ternyata ini jawaban Allah yang ‘gak pernah aku sangka-sangka atas semua keraguaku. Aku ‘gak peduli apa yang sudah kamu lakukan. Satu hal apapun ‘gak bisa lagi aku percaya, Tuhan saja kamu bohongi, apalagi aku. Ternyata empat tahun kamu kenal aku juga ‘gak cukup membuatmu yakin memeluk Islam. Hubungan seperti apa yang kamu harapkan baik jika dimulai dengan kebohongan sefatal ini Mas!. Gak bisa! Aku gak bisa diem aja. Mama dan Papa harus tahu supaya mereka ngerti kalau ini bukan kesalahanku sebab semuanya berakhir. Terima kasih untuk pelajaran yang sangat berharga yang ‘gak pernah ku duga sebelumnya.”] Nana terisak meluapkan kecewanya. Di ruang seberang Rio juga tak mampu menahan tangisnya.

[“Dek, Mas minta maaf. Mas sayang sekali sama kamu, Dek. Mama, Papa, Mas Surya dan istrinya. Kalian terlalu baik buat Mas. Mas ‘gak bisa mengimbanginya. Maafin Mas ya, Dek. Tapi soal Mas belajar Islam, Mas ‘ga pernah bohong apalagi main-main”] Lagi-lagi berusaha meyakinkan Nana dengan penjelasan yang sudah pasti tidak bisa Nana terima.

[“Mas, sudahlah ya! Selesai sampai di sini. Aku harap kamu berbahagia dengan pilihanmu saat ini. Berdamailah dengan semua masa lalu kamu sama aku. Cukupkan sudah semua. Aku juga ingin bahagia, punya suami, punya anak. Dan aku bersyukur sama Allah, sangat, Alhamdulillaah dengan semua keraguanku sudah bertemu jawabannya. Mulai saat ini jangan simpan apapun tentangku, termasuk semua fotoku yang pernah kamu ambil dari setiap foto profilku. Aku gak mau menjadi bagian apapun dari hidupmu dan istrimu mulai hari ini maupun suatu hari nanti!” Tegas Nana bermaksud menyelesaikan semua urusannya.

[“Jangan Dek … Jangan paksa Mas ngelakuin itu semua. Hati, Mas yang punya. Mas gak mudah melupakan perempuan sebaik kamu. Yang sudah Mas pilih dengan hati. Biarkan Mas mencintai kamu sendiri. Terserah kamu maunya apa. Biar saja jika suatu hari nanti istri Mas tanya, Mas akan jelaskan betapa kecewanya Mas tidak bisa menjadikan kamu istri Mas”] Rio masih berusaha bertahan dengan pikirannya.

Nana rasa Rio sudah kehilangan akalnya. Sakit hati sudah! Terlanjur! Tapi terlebih bersyukur, Alhamdulillah Allah selamatkan Nana dari kesalahan yang sama untuk kedua kalinya. Hubungan berbeda agama tidak akan pernah berhasil, apalagi semuanya dimulai dengan kebohongan.
“You deserve the happiness and you have to create it!”, Ucap Nana pada hatinya yang disembuhkan Allah secara perlahan. Bahwa Allah selalu punya jalan yang terbaik untuk menyelamatkan.


Facebook Comments

9 Comments










Leave a Reply

Your email address will not be published.