SELAMAT BERBAHAGIA PART 2

Ns. Satya Putra Lencana RN
Follow me

Hari ini aku resmi menyandang gelar dokter Spesialis Jantung dan Pembuluh Darah (Sp. JP). Sebuah status sosial yang bagi sebagian orang merasa minder dan berat. Selain karena seleksi masuk yang ketat, juga soal-soal yang sulit. Beruntunglah … Alhamdulillah ‘ala kulihal … Allah menyayangiku dan mengabulkan semua do’a-do’aku. Sebuah pencapaian yang perlu disyukuri. Semua perjalananku hingga sampai titik ini demi kedua orang tuaku dan tentu untuknya, aisyah. Sosok manusia manja yang selalu menemaniku, meski saat-saat sulit sekalipun.

Aku, pemuda yang tampak selalu tegar dan beribawa di depan semua orangpun akhirnya jatuh juga. Semua kepedihan ini berusaha kututupi dengan senyum semringah bagaimanapun caranya di depan orang tuaku. Sambil memandangi mereka yang sedang asyik ngobrol bersama teman-teman kuliahnya dulu sembari berfoto ria, aku hanya bisa duduk terdiam. Kulepas dan kuletakkan topi toga itu di kursi sebelahku, lalu kupandangi I-Phone 5 S berwarna hitam yang kuambil dari saku depan kemeja putihku.

[Tung! … tung! … tung! … ] Notif di HP mendadak ramai. Semua keluarga, sahabat, kolega termasuk dosen-dosen mengucapkan selamat. Namun, tetap saja kumerasa tak ada yang spesial. Lagi-lagi, aku harus menyimpan kepedihan ini sendiri. Dari semua ucapan selamat yang masuk, tak ada satupun dari Aisyah. Rasanya, meraih gelar wisudawan terbaikpun tak memberikan arti apa-apa. “Ah sudahlah, mungkin saja dia memang tidak tahu tentang wisudaku ini,” Gumamku dalam hati.

Setelah tiga puluh menit berdiam diri, akhirnya kami bergegas pulang. Saat kunci pintu mobil itu kututup dan kunyalakan mesin, tiba-tiba nada espionage itu berdering kencang. Sontak kubuka. Ternyata Mitha.

[“Assalamu’alaikum, mith?”]

[“Wa’alaikumsalam mas bro. Dimana nih?”]

[“Aku lagi diparkiran nih mau cabut, ada apa mith?”] tanyaku pura-pura dengan nada datar.

[“Nggak apa-apa, bisa ketemu bentar nggak?”]

[“Oh sebentar mith, Bah, Ma, ada teman yang mau ketemu sebentar, gimana, bisa nggak?”] tanyaku ke orang tua.

“Iya gapapa”, jawab Abah dan Mama berbarengan.

Baru saja telpon mati, tiba-tiba kaca mobil sebelah kiri diketok oleh seseorang.

“Astagaaa! Belum juga kujawab, udah maen nongol aja luu kayak demit! Emang luu ya … bakat banget bikin orang jantungan! jawabku ketus.

“Ahaha sory … lagian mobilku di sebelah tuh”

“Masuk gih, sama ibuku di belakang ya”, sapaku sambil menekan tombol kaca mobil sebelah kiri menurun.”

“Eh ada om dan tante. Assalamu’alaikum om … tante …”

“Luu kok nggak bilang kalo ada om dan tante sih, zaf?!”

“Yee, giliran sekarang aja gue yang disalahin. Siapa tadi ya yang maen slonong?” jawabku sindir.

“Mau kemana nih?”

“Mau ngisi perut. Ikut kagak? Luu demen kan ama yang gratisan?”, Haha tawaku ngeledek”

“Ahaha, nggak usah dijelasin gitu juga kali zaf, bocor luu ah! Pake Aqua Prof dong!”, jawab mitha tersindir malu.

Tiga puluh menit perjalanan, belum juga sampai. Karena jalanan yang dipadati ribuan wisudawan. Kamipun hanya saling berdiam diri tak saling bicara. Hanya terdengar suara Syaikh Misyari Rasyid membacakan Surah Ar Rahman di sound system mobil.

“Sejak kapan kamu suka dengerin murottal Zaf?, Abah mulai pembicaraan.

“Sejak itu tuh bah,  yang duduk di samping mama cerewet!” jawabku sambil menahan senyum.

“Oh, karena Mitha. Bener ya mith?” abah melirik ke arah belakang

“Ehmm, nggak tau om. Itu putranya om memang sering ngada-ngada om, hehe” jawab mitha menangkis tuduhanku.

Mitha, meskipun dia adalah teman yang menjengkelkan dan sempat membuat hati ini kecewa dan terpuruk, namun dia juga yang membantu merubah aku menjadi lebih dekat sama Allah. Orangnya resek sih! Tapi, dibalik itu ada kelebihannya juga yang nggak aku dapetin dari temen yang lain.

Kepribadiannya selalu mengingatkanku pada Aisyah. Makhluk ciptaan Tuhan yang paling manja, rewel, pinter, kokoh pendirian, pengertian, kuat iman dan yang terpenting dia akhwat yang berprinsip baja. Sifat kerasnya Aisyah benar-benar merubahku 360 derajat. “Aah! Jadi, rindu dia … Gimana ya kabarnya dia sekarang. Ya Allah, lindungi dia dan selalu berikan yang terbaik dalam setiap apapun urusannya, Aamiin,” gumamku dalam hati.

“Woooy … Zaaaf! Konsen wooy!, teriak Mitha sangat keras dari belakang sambil menepuk pundakku.

“Eeh iyaa … maaf … maaf”, kagetku baru sadar ngelamun sambil nyetir

“Aduuh … Pak sopir gimana sih! Aku nggak mau mati dulu, aku masih jomblo ya Allah …” ketus mitha mendramatisir sambil mengangkat tangan posisi berdo’a.

“Iyaa, maaf … Santai kali mith, gitu doang! Crewet luu nenek lampir!

“Husst, ngomongnya jangan kasar gitu … nggak bagus. Kamu nggak apa-apa? Apa perlu abah aja yang nyetir?” sambung abah

Baca juga :  SUAMIMU MENIKMATINYA (Part 18)

“Ehehe iya bah maaf becanda, biasa ama dia mah. Bggak bah, nggak apa-apa kok”

“Iya zaf, hati-hati lho. Mungkin kamu capek, udah biar abah aja yang nyetir” giliran mama ngingetin.

“Nggak apa-apa kok ma, ini lima menit lagi juga sampe, tuh udah keliatan Plang-nya”, sambil nunjuk Rumah Makan Padang di sebelah kiri jalan yang masih berjarak 100 meter.

Empat puluh menit berlalu, selepas makan siang, kita langsung sholat di mushola yang disediakan rumah makan itu. Selepas sholat, aku berdzikir dan berdo’a cukup lama, termasuk memohon kepada Allah tuk diberikan jalan keluar bagaimana kelanjutanku dengan Aisyah. Aku masih nggak siap bagaimana menjelaskan ini semua ketika abah dan mama menanyakannya nanti. Syukurlah mereka nggak menyinggung sama sekali tentang Aisyah …

Aku keluar dari mushola dan memakai sepatu, lalu menuju ruang utara. Melihat-lihat taman terbuka yang berisi bunga dan bermain anak-anak. Rumah makan itu memang cukup besar dan ramai pengunjung.

“Zaf!”

Ku menoleh ke sumber suara dari sebelah belakangku. “Eh kamu mith, sejak kapan disitu?”

“Baru aja. Ada yang pengen aku omongin nih”, mitha mendadak serius

Aku yang masih menyimpan kecewa di dalam hati terhadapnya berusaha kuredam sebaik mungkin.

“Tumbeen … ! Keknya serius nih, ngomong aja kali mith” jawabku sambil memasukan tangan ke saku celana dan tetap membelakangi mitha.

“Buket bunga ini semua buatmu zaf”, mitha nyodorin dua buket bunga ukuran sedang

“Ini yang satu dari aku sebagai ucapan selamat sekaligus permintaan maafku yang selama ini mendadak berubah ngejauh dari kamu zaf.”

“Iya, santai kali mith, udah aku maafin kok”

“Aku bener-bener minta maaf. Apalagi selama ini sikapku dingin bahkan masih masa try out sampai wisuda. Eh tiba-tiba aku ngubungin kamu lagi. Memang aku yang salah waktu itu, aku minta maaf. Aku pengen kita sahabatan lagi kayak dulu”.

“Iyee, rilax … Udah kulupain itu, aku tau gimana diposisimu. Mungkin aku juga bakal ngelakuin hal yang sama”

“Tapi zaf … setelah kufikir-fikir ini semua memang murni salahku. Aku yang lancang ngebuka surat itu duluan dan aku juga yang langsung cerita ke Aisyah tentang ini semua. Aku sadar, harusnya aku tabayyun (Baca: ‘konfirmasi’) dulu ke kamu zaf. Memang aku nih ceroboh!”, mitha menunduk

“Lalu yang satu lagi itu buket buat siapa mith?” sambungku

“Ini juga buatmu zaf, yang ini dari Aisyah. Seminggu yang lalu dia menelponku, dia bilang maaf nggak bisa ikut hadir di acara wisuda kita, karena dia ada agenda rapat evaluasi kerja tahunan yang nggak bisa diwakilin katanya. Juga dia nitip salam buatmu”

Aku yang berupaya acuh, sontak berbalik badan mendengar mitha menyebut nama Aisyah.

“Kamuuuuu … serius kan mith ini dari Aisyah?”

“Iya, serius”

“Gimana kabar dia sekarang? Dimana dia sekarang? Demi Allah, setiap hari aku kepikiran dia mith. Semenjak kesalahpahaman itu, dia jadi pendiam. Dia pergi dengan amarahnya. Aku merasa bersalah kalau nggak ngejelasin ini  yang sebenarnya ke dia mith. Sampai sekarang semua kontak dan sosmedku masih di blokir.”

“Tenang dulu zaf, tenang …” mitha berusaha menenangkanku

“Gimana aku bisa tenang mith? Ini bukan cuma persoalan kami berdua, ini udah menyakut nama keluarga kedua belah pihak. Ada amanah besar yang harus kujaga mith.”

“Iya aku tau zaf, aku minta maaf, ternyata selama ini aku menilaimu salah. Aku juga yang bikin semua masalah ini terjadi. Dan hari ini aku pengen menebus semua kesalahan itu”

“Aku sebenarnya kecewa dengan sikapmu mith! Bener-bener nggak ngerti jalan fikirmu, sampai kamu ceroboh nekat seperti itu dan overthingking tentangku. Tapi … Ya udahlah mith, yang berlalu biar berlalu, semua yang udah terjadi nggak bisa diulang lagi. Yang ku fikir sekarang gimana caranya sekarang bisa memperbaiki semua.”

“I …. Iya … iyaa … zaf, aku ngerti. insyaAllah akan kubantu gimanapun caranya supaya bisa mengembalikan kepercayaan Aisyah ke kamu zaf. Sekali lagi, aku minta maaf”

“Its oke.”

“Saat dia telpon terakhir kemarin, udah coba aku jelasin zaf. Tapi, mungkin aku terlambat coba ngeyakinkan dia lagi. Dia sepertinya sampai saat ini masih belum 100% yakin sama kamu zaf. Kamu tau kan kalau dia punya trauma di masa lalunya soal ini. Dia juga tipe orang yang kuat pendirian, kokoh prinsipnya. Iya, insyaAllah aku janji deh, bakal bantu gimana hubungan kalian bisa seperti dulu lagi”, suara mitha perlahan terdengar sesak. Dia menangis karena semua ini.

“Eh, mith, jangan gini dong. Nggak usah nangis gini. Aku nggak apa-apa kok. Aku nggak bisa lihat akhwat nangis. Please jangan nangis di sini. Banyak orang mith. Ada abah sama mamaku juga noh, ntar mereka justru curiga malah” Usahaku menenangkan kepanikan mitha sambil memberinya tisu dari saku kemejaku.

“Oya zaf, aku baru inget. Dia juga sempat bilang, dia mau mengirimmu email, tapi dia nggak ngasih tau waktunya kapan” jawab mitha sambil mengusap kedua matanya

“Email yang mana mith?” tanyaku penasaran

“Nggak tau juga sih, dia nggak bilang. Kamu tunggu aja”

Bersambung …


Facebook Comments

13 Comments

  1. Penasaran, bersambung lagi.

    Di tunggu episode selanjutnya

    1. Hai kak, terimakasih telah membaca. Salam hangat Prodigy

      INFO TERBARU!

      Hallo kak! Prodigy selalu hadir memudahkan kebutuhan pembaca. Prodigy telah memiliki Perpustakaan Online yang dapat diakses oleh siapapun. Pengunjung dapat mendownload ebook-ebook gratis terupdate dan lengkap, meliputi; Kesehatan, Novel. Pendidikan, Agama, Bisnis, Kepenulisan dan lain-lain. Kakak dapat berkunjung di https://writingprodigy.org/2020/08/prodigy-library/

      Jangan lupa untuk men-share ke teman-teman Kakak yang lain supaya masyarakat lebih gemar membaca ya. Terimakasih

      (Enjoy shopping with us on PRODIGY BOOK STORE Now! Please visit us on http://store.writingprodigy.org Thank you!)












Leave a Reply

Your email address will not be published.