TANTANGAN MENULIS DI ERA DIGITAL

Ns. Satya Putra Lencana RN
Follow me

Menulis di zaman sekarang itu sudah seperti manusia yang kembali ke zaman purba. Dari kehidupan modern ke kehidupan manual –dalam konteks medianya-.

Hidup di era keterbukaan informasi seperti sekarang ini,  mulai dari anak-anak hingga kakek-kakek mengakses internet sudah begitu luas dan mudahnya. Hal ini sangat dirasakan oleh orang yang hidup di abad 20 tepatnya di atas tahun 2010-an.  Pesatnya perkembangan teknologi informasi ini diikuti oleh berbagai media-media pendukungnya seperti gadget, widget, smartphone dan lain-lain. Gadget saat ini sudah bukan barang langka lagi yang setiap orang dapat memilikinya dengan kualitas dan harga terjangkau. Aplikasi yang disediakanpun kian lengkap dan sangat memudahkan penggunanya. Atmosfer teknologi seperti ini akan membawa perubahan pola hidup masyarakat untuk mendapatkan informasi.

Pengaruh besar yang paling dirasakan pada era keterbukaan ini adalah munculnya berbagai perusahaan star-up dan cabang profesi baru yang memudahkan di bidang informasi dan trnsportasi. Orang semakin berlomba-lomba mendapatkan informasi secepat mungkin dan mereka bebas berekspresi sesuka hati-. Jelas, semua orang saat ini dimungkinkan untuk bisa terhubung dengan cepat sekaligus mendapatkan ruang terbuka untuk berekspresi dan berbagi informasi. Era ini tentu membawa perubahan pula dalam dunia penulisan dan penerbitan buku di Indonesia serta pergerakan pola pembacanya.

Jika sebeumnya secara umum masyarakat lebih banyak mencari informasi melalui koran, majalah dinding, maupun buku, sekarang sudah lebih praktis via dunia maya. Apabila kita dulu mendapatkan inforasi melalui buku bacaan (printed booked), koran, majalah, dan rata-rata kita hanya bisa membaca di perpusakaan. Sekarang kita lebih praktis mencari apapun informasi apapun di internet. Segala macam dunia membaca dan menulis mulai bertransisi kiprahnya di dunia digital. Maka munculah toko buku online (bookstore), majalah online (emagazine), buku online (ebook)  dan lain sebagainya. Begitu juga, jika sebelumnya membeli buku via toko buku konvesional dan modern saja, kini sebagian kita lebih memilih untuk membeli buku via toko buku online yang sudah banyak menjamur. Bahkan sekarang sudah diterapkan sistem perpustakaan online (elibrary) di beberapa universitas. Tak cukup disitu, distributor yang selama ini menjadi mitra penerbit untuk mendistribusikan bukunya secara nasional pun sudah ada yang berfokus pada buku-buku ebook dengan sistem penjualan online. Dengan perubahan yang sedang berjalan tersebut, bagaimanakah tantangan dan peluang ke depannya?

Hakikat Sebuah Buku adalah Penyampai Informasi

Hakikat sebuah buku pada dasarnya adalah sebagai penyampai informasi. Dalam konteks sebagai media informasi, ia akan berusaha mengusung tema-tema yang dibutuhkan oleh pembaca dan benar-benar menyajikan bacaan yang berkualitas bagi pembaca yang disasarnya secara tepat. Nah, selama manusia masih membutuhkan informasi, sejatinya industri ini tidak akan pernah mati, bukan? Sehingga, posisi buku dalam bentuk printed book atau ebook tidak akan mengubah hakikatnya (informasi yang ingin disampaikan kepada pembaca), melainkan hanya berubah medianya saja-dulu kertas, kini menjadi digital. Bahkan, dalam konteks sekarang ini, ebook justru sudah dimanfaatkan untuk mendokumentasikan buku-buku yang sudah tidak beredar lagi di toko buku karena berbagai pertimbangan.

Yang kedua, entah menggunakan media printed book atau ebook, secara prinsip kerja dalam penggarapan sebuah naskah hingga menjadi materi siap cetak adalah sama bagi penulis dan penerbit. Ada proses perumusan konsep untuk menggali kebutuhan pembaca dan membuat formula yang pas dan tepat di tengah kompetisi yang ada, penggarapan naskah bersama penulis yang ahli di bidangna, proses editing di redaksi dengan standarnya, penggarapan setting buku, desain cover, pengajuan ISBN, hingga materi sudah benar-benar siap cetak pada dasarnya sama.

Apakah pergerakan ebook sudah sedemikian pesatnya seperti di Barat? Untuk konteks di Indonesia tidaklah demikian. Sebab, masih banyak persoalan di dalamnya seperti infastruktur, politik, budaya dan mejamuknya pola masyarakat, dan lain sebagainya. Memang, ebook sudah dijadikan media bagi pembaca, namun, untuk saat ini, ebook masihlah ibarat bayi. Sesuatu yang sudah lahir dan kelihatan lucu, namun masih perlu banyak waktu untuk menjadi dewasa.

Baca juga :  APA PERBEDAAN KATA "AUTHOR" DAN "WRITER"?

Proses transisi tersebut bukanlah hal yang harus dikhawatirkan berlebihan, wajar jika peruhana itu sering berbanding lurus denngan perkembangan teknologi.  Hanya, tetap harus dibutuhkan penyesuaian dan senantiasa mengikuti pergerakan dan dinamika pembaca yang ada. Bukankah buku tersebut ditulis dan diterbitkan memang untuk pembaca yang disasarnya? Jika ternyata kebetulan tidak diterima, bisa jadi hal tersebut bukan bagian karena pergeseran pola pembaca ini, melainkan ketidakmampuan pelaku perbukuan dalam menjawab kebutuhan informasi masyarakat pembaca yang disasarnya? Atau ketidakmampuan mengikuti arah minat pembaca yang ada?

Era Digital Dan Aspek Positif Bagi Dunia Penulisan & Penerbitan

Jika melihat kecenderungan pembaca muda saat ini untuk mencari informasi dan berkespresi, gadget agaknya menjadi media yang lebih sering digunakan. Hal ini dikarenakan gadget menawarkan kemudahan, kepraktisan, kecepatan, dan kesenangan bagi penggunanya, termasuk bagi penulis.

Tantangan bagi penulis adalah bisakah mereka memanfaatkan berbagai kemudahan akses dan ketersediaan perangkat yang semakin canggih tersebut untuk lebih mendukung produktifitas menulis, baik ketika mencari berbagai sumber informasi dan refferensi pendukung tulisannya hingga ke media penulisannya itu sendiri? Aplikasi untuk mencatat hal-hal yang menarik yang kita temui seperti notepad, menelusuri informasi pendukungnya yang ingin kita ketahui, serta membangun komunikasi dan interaksi langsung dengan pembacanya sudah menjadi hal yang bisa dilakukan saat ini. Tinggal dibutuhkan kesadaran dan kemauan untuk ke sana.

Lahirnya penulis-penulis muda berbakat yang awalnya berbasis blog, media sosial, atau yang lain, salah satunya terbentuk dari mereka yang hidup dalam era gadget ini. Ya, kalau dulu ruang untuk menulis sangat terbatas, kini dengan media yang ada mereka bisa bebas menulis dengan caranya, bebas menampilkan kekhasannya masing-masing, dipublikasikan sendiri lewat media yang mereka punyai, dibaca oleh banyak orang, dan menjadi idola baru bagi pembacanya ketika tulisannya berhasil diterima dengan baik sesuai dengan target pembaca yang disasarnya.

Dari situlah kemudian menjadi pijakan dasar pengembangan ke karya selanjutnya (dibidik penerbit, diincar produser film, menjadi bahan di seminar, pelatihan, dan lain sebagainya).

Dalam industri penerbitan buku (baik printed book maupun ebook), konteks era keterbukaan informasi ini sangat memudahkan penerbit untuk menggali berbagai informasi yang diperlukan, menggali potensi penulis-penulis berbakat, menggali kecenderungan kebutuhan pasar pembaca, sekaligus menjadikan media informasi, publikasi, dan promosi yang efektif. Tinggal bagaimana si penerbit tersebut bisa mengoptimalkannya.

Memang, kecepatan perubahan seringnya lebih cepat dari kecepatan kita berubah. Akibatnya, terkadang kita lebih banyak tergagap atas kondisi yang ada dan cenderung terlambat mempelajari hal-hal baru. Sementara dalam era informasi yang semakin terbuka, sebuah keberhasilan itu faktor terbesarnya hanya ditentukan siapa yang mau lebih cepat belajar saja!

Kehadiran toko online dan perubahan sistem konvensional ke sistem penjualan online tentu sangat ekonomis, karena ia memangkas biaya-biaya yang seharusnya digunakan untuk penerbitan buku manual. Dunia digital memang sangat memberikan peluang yang luas bagi para penerbit untuk mengembangkan sayap nya di pasar dunia, tentu dengan buku-buku yang berkualitas pula.

Tantangan menulis di era digital

Kevalidan informasi

Tantangan terberat bagi penulis di era kebebasan informasi ini adalah dapat mempertahankan kevalidan (shahih) bahan yang ditulisnya. Semakin mudahnya mengakses informasi, hal ini menggiurkan para penulis untuk asal mengambil sumber yang tidak bisa dipertanggungjawabkan. Apalagi buku yang dibuat adalah buku ilmiah, keshahihan sebuah data. Tantangan ini tentu tidak berlaku bagi para penulis fiktif yang karyanya memang hasil pemikiran sendiri.

Disiplin

Penulis di era digital ini harus lebih disiplin dan lebih cepat update segala informasi atau akan menjadi pennonton terhadap penulis-penulis lain yamg bermunculan. Persaingan bebas semakin menjadi-jadi. Jika seorang penulis tidak bisa mengikuti informasi dan mengimbangi teknologi maka ia akan tertinggal.

Budaya literatur murni

Ini tantangan yang peru dikembaikan ke adab-adab menuntut ilmu. Bagaimana menciptakan sebuah karya tulis yang sunguh-sungguh mencari, mengumpulkan hingga menyusun agar terciptanya buku. Internet bisa menjadi ancaman ketika penulis malas untuk menelaah buku-buku sumber rujukan pustakanya. Padahal menulis adalah seni befikir, riset panjang yang penuh dengan daftar pustaka dan pengamatan yang runtut  dan berkesinambungan.

Konklusinya adalah tentangan bagi penulis di era digital secara garis besar mencakup tiga hal yaitu kevalidan informasi, disiplin serta budaya literatur yang murni harus selalu diperhatikan.

Era digital bukan sesuatu yang perlu dikhawatirkan berlebihan. Pergeseran sistem hardfile ke softfile tidak berpengaruh kepada mandegnya karya tulis yang dihasilkan. Kehadiran teknologi di dunia kepenulisan dapat memberikan efek positif bagi mereka yang open mind dan dapat mengimbangi teknologi.


DAFTAR PUSTAKA

Satya, P. L. (2019). Menulis untuk Umur Panjang. Bandung: Edwrite Publishing.


Facebook Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published.