AL-QUR’AN AL-QUDDUS & AL-QUR’AN DARI TURKI; SERUPA TAPI TAK SAMA

Oleh Bagas Maulana Ihza Al Akbar


Pada mulanya, “Qur’an Pojok” atau sebutan untuk mushaf yang setiap halaman diakhiri dengan penghabisan ayat, muncul di Turki pada akhir abad ke-16. Mushaf ini ditulis dengan rasm imla’i dan menggunakan model “ayat pojok” yang pada setiap halaman diakhiri dengan akhir ayat. Tentu saja, hal ini memudahkan para penghafal Al-Qur’an dalam pembagian tahap-tahap hafalan sehingga mushaf ini sangat erat kaitannya dengan mereka.[1]

Menurut data sejarah Turki, “Qur’an Pojok” atau dalam bahasa Turki disebut āyet ber-kenār, yang paling tua adalah sebuah mushaf keluaran tahun 1598, dengan 14 baris tulisan. Pada awal peluncurannya, jumlah baris setiap halaman bervariasi. Namun, sejak paruh kedua abad ke-18, mushaf ini selalu terdiri atas 15 baris dan menjadi standar sampai berakhirnya penyalinan naskah mushaf secara manual pada akhir abad ke-19.

Sejak awal tahun 1930-an, selama beberapa dasawarsa, produksi mushaf di Indonesia didominasi oleh cetak ulang “Qur’an Bombay” yang identik berhuruf tebal. Keadaan tersebut berlangsung sampai tahun 1970-an, ketika Penerbit Menara Kudus mulai mencetak “Qur’an Pojok” untuk memenuhi kebutuhan para santri yang menghafalkan Al-Qur’an.[2]

Hal ini berawal dari keinginan pemilik Penerbit Menara Kudus, yaitu H. Zjainuri untuk menerbitkan mushaf Al-Qur’an yang dapat didistribusikan. Ketika bermaksud mentashihkan mushaf Al-Qur’an yang ia bawa dari Makkah kepada K.H. Arwani Amin, beliau menyarankan agar menerbitkan mushaf Al-Qur’an Pojok seperti yang beliau miliki karena mushaf tersebut tidak sesuai dengan mushaf yang biasa digunakan oleh para hafiz Al-Qur’an. Ketidaksesuaian tersebut terutama berkenaan dengan tata letak tulisannya. Sedangkan mushaf Al-Qur’an milik K.H. Arwani Amin dapat memudahkan seseorang yang ingin menghafalkan Al-Qur’an, karena menggunakan ayat pojok.[3]

K.H. Arwani Amin adalah pengasuh Pondok Tahfidh Yanbu’ul Qur’an. Sebuah pondok pesantren terkenal di Kudus yang dikhususkan untuk menghafalkan Al-Qur’an. Pondok pesantren ini memiliki ribuan santri. K.H. Arwani Amin mendapatkan mushaf ini saat beliau melaksanakan ibadah haji pada kisaran tahun 1970-an.

Sebutan “Qur’an Pojok” Menara Kudus berasal dari Bahasa Jawa, Pojok yang berarti sudut. Istilah “Qur’an Pojok” biasa digunakan oleh para santri penghafal Al-Qur’an untuk menyebut setiap mushaf Al-Qur’an yang pada setiap sudut/pojok lembarannya berupa akhir sebuah ayat tertentu, dan dilanjutkan dengan ayat selanjutnya pada sudut atas lembaran berikutnya. Kali ini semakin terlihat adanya keterkaitan yang sangat erat antara pencetakan mushaf ini dengan aktivitas menghafal Al-Qur’an para santri tersebut.

“Qur’an Pojok” Menara Kudus ini muncul juga sebagai perubahan tanda akhir baca Al-Qur’an. Dulunya, masyarakat Indonesia menjadikan Tsulus, Rubu’, Ruku’, Tsumun, serta Hizb sebagai tanda akhir bacaan. Jadi, kuantitas bacaan Al-Qur’an seseorang ditentukan oleh tanda-tanda tersebut.

Setelah Al-Qur’an Turki masuk ke Indonesia, terjadi perubahan tanda akhir baca Al-Qur’an. Masyarakat Indonesia mulai menggunakan Al-Qur’an Pojok tersebut, terutama para penghafal Al-Qur’an, di mana akhir ayat di akhir setiap halaman yang menjadi tanda akhir bacaan. Tanda ini lebih praktis digunakan karena patokannya hanya satu. Setiap halaman terdiri dari 15 baris dan setiap juz terdiri dari 20 halaman (10 lembar).[4]

Penerbit Menara Kudus tidak mencantumkan nama penulis “Qur’an Pojok”yang dicetaknya. Namun jika ditinjau dari perbandingan tulisan, dapat diketahui secara pasti bahwa Al-Qur’an tersebut adalah reproduksi (copy ulang) dari sebuah Al-Qur’an yang diterbitkan oleh Percetakan Usman Bik di Turki.

Pada bagian belakang mushaf terdapat kolofon bahwa mushaf ini ditulis oleh Mustafa Nazif, dan telah ditashih oleh Hai’ah Tadqiq al-Mashahif asy-Syarifah pemerintah Turki di Percetakan Usman Bik, pada Jumada al-Ula 1370 H (Februari-Maret 1951). Pada bagian flap sampul terdapat tulisan “Muhammad Salih Ahmad Mansur al-Baz al-Kutubi bi-Bab al-Islam bi-Makkah al-Mukarramah”. Informasi ini semakin menguatkan bahwa Penerbit Menara Kudus melakukan cetak ulang pada jenis Al-Qur’an Pojok yang berasal dari Turki.[5]

Baca juga :  ENSIKLOPEDIA

Ukuran asli mushaf ini adalah 19,5 x 13,5 cm, dengan tebal 5 cm. Sedangkan ukuran mushaf Menara Kudus adalah 15,5 x 11,5 cm, dengan tebal 2,5 cm. Ukuran ini termasuk kecil jika dibandingkan dengan ukuran Al-Qur’an secara umum pada waktu itu. Ukuran tersebut sesuai dengan kebutuhan praktis para penghafal Al-Qur’an, supaya lebih mudah dibawa-bawa oleh para santri dalam menghafalkan Al-Qur’an sehari-hari.

Karena Al-Qur’an ini memiliki berbagai perbedaan dalam hal ejaan tulisan seperti yang terdapat dalam “Qur’an Bombay” yang telah banyak digunakan oleh masyarakat luas pada saat itu, maka pada bagian belakang mushaf yang dicetak Penerbit Menara Kudus tersebut terdapat uraian tambahan dalam aksara Jawa berjudul “Bacaan Al-Qur’an yang Perlu Diperhatikan”.

Tulisan ini disusun oleh K.H. Sya’roni Ahmadi dari Kudus, serta ditashih dan disempurnakan oleh K.H. Arwani Amin. Pada halaman berikutnya terdapat “Surat Tanda Tashih” dari Lajnah Pentashih Al-Qur’an, Kementerian Agama RI, dan pada bagian bawah terdapat pernyataan “Cetakan Al-Qur’an ini telah diperiksa dan diteliti oleh (1) al-‘Allamah al-Hafidh K.H. Arwani Amin, (2) al-Mukarram al-Hafidh K.H. Hisyam Hayat dari Kudus, (3) al-Muhtaram al-Hafidh K.H. Sya’roni Ahmadi dari Kudus” dengan tanda tangan masing-masing.

Penerbit Menara Kudus memperoleh izin mengedarkan Al-Qur’an dari Kepala Lembaga Lektur Keagamaan tanggal 29 Mei 1974, setelah Al-Qur’an tersebut selesai ditashih oleh Lajnah Pentashih Mushaf Al-Qur’an, Kementerian Agama RI, pada tanggal 16 Mei 1974. Mulai saat itu, Penerbit Menara Kudus secara terus-menerus mencetak mushaf ini hingga sekarang.

Selama kurang lebih 25 tahun, Penerbit Menara Kudus mungkin merupakan satu-satunya pencetak “Qur’an Pojok” di Indonesia, karena hingga tahun 2000-an cetakan Al-Qur’an ala Bombay masih cukup dominan di pasar mushaf Indonesia. Peranannya sebagai satu-satunya penerbit “Qur’an Pojok” selama dua setengah dasawarsa, menjadikan Al-Qur’an yang diterbitkannya tersebut melekat di hati masyarakat sehingga mereka menyebutnya sebagai “Al-Qur’an Al-Quddus”. Istilah ini sangat melekat di kalangan para penghafal Al-Qur’an, dan digunakan pada hampir semua pondok pesantren tahfidh di Indonesia sampai akhir abad lalu.[6]

“Qur’an Pojok” cetakan Menara Kudus: halaman Surat al-Kahfi.

“Qur’an Pojok” cetakan Turki: halaman Surat al-Kahfi.


DAFTAR PUSTAKA:

  • Akbar, A. 2011. Pencetakan Mushaf Al-Qur’an di Indonesia.  Suhuf, Vol. 4, No. 2.
  • Hasrul. 2013.  Kajian Mushaf Al-Qur’an di Indonesia. Jakarta: Resume-Fakultas Ushuluddin, PTIQ.
  • Lestari, L. 2016. Mushaf Al-Qur’an Nusantara: Perpaduan Islam dan Budaya Lokal. Jurnal Al-Tibyan, Vol. 1, No. 1.
  • Muttaqin, A.Z. 2010. Sejarah dan Rasm Mushaf Al-Qur’an Pojok Menara Kudus. Yogyakarta: Skripsi-Program Sarjana UIN Sunan Kalijaga.
  • Nashih, A. 2017. Studi Mushaf Pojok Menara Kudus: Sejarah dan Karakteristik. Jurnal Nun, Vol. 3, No. 1.

FOOTNOTE :

[1] Ali Akbar, “Pencetakan Mushaf Al-Qur’an di Indonesia”, Suhuf, Vol. 4, No. 2, 2011, hlm. 274.

[2] Ahmad Nashih, “Studi Mushaf Pojok Menara Kudus: Sejarah dan Karakteristik”, Jurnal Nun, Vol. 3, No. 1, Tahun 2017, hlm. 5.

[3] Annas Zaenal Muttaqin, Sejarah dan Rasm Mushaf Al-Qur’an Pojok Menara Kudus, (Yogyakarta: Skripsi-Program Sarjana UIN Sunan Kalijaga, 2010), hlm. 146.

[4] Lenni Lestari, “Mushaf Al-Qur’an Nusantara: Perpaduan Islam dan Budaya Lokal”, Jurnal Al-Tibyan, Vol. 1, No. 1, Januari-Juni 2016, hlm. 185.

[5] Hasrul, Kajian Mushaf Al-Qur’an di Indonesia, (Jakarta: Resume-Fakultas Ushuluddin, PTIQ, 2013), hlm. 10.

[6] Ahmad Nashih, “Studi Mushaf Pojok Menara Kudus: Sejarah dan Karakteristik”, Jurnal Nun, Vol. 3, No. 1, Tahun 2017, hlm. 3.


Tulisan ini telah lulus review oleh editor dan layak publish.
Copyright © Al Right Reserved 2020
Writing Prodigy Academy

Facebook Comments
Latest posts by Writing Prodigy (see all)

Leave a Reply

Your email address will not be published.