ALASAN PENTING MENGAPA ANDA HARUS MENULIS

Ns. Satya Putra Lencana RN
Follow me

1. Menulis untuk Mengawal Sejarah

Satu alasan penting mengapa menulis adalah sebagai pengawal sejarah.

Bukan maksudnya kita harus ahli sejarah, arti yang lebih luas adalah kita bisa menjadi penulis yang mengawal sejarah berdasarkan disiplin ilmu bidang kita.

Ada yang suka atau pernah makan Tempe Goreng? Makanan yang selalu jadi menu utama dalam hidangan, apalagi saat ramadhan begini. Hmm menu makanan pelengkap yang paling banyak fansnya di Indonesia. Iya, kan? Meski tak ada data statistiknya, tapi faktanya begitu.

Lalu, Ada Apa dengan Tempe?

Ternyata tempe kedelai yang sering kita makan sehari-hari bukan lagi milik Indonesia. Tempe secara hukum internasional sudah menjadi hak paten Negara Jepang pada 10 Juli 1986. Bagi warga Jepang, tempe sudah menjadi komoditas utama karena nilai gizinya sangat berguna bagi warga jepang yang etos kerjanya tinggi. Gaung tempepun sudah masuk ke negara adi daya Amerika Serikat. Di negeri Paman Sam itu, tempe sudah mulai terkenal! Tempe yang kita anggap makanan tradisional Indonesia faktanya telah dipatenkan Amerika sebanyak 35 hak paten dan Jepang 6 hak paten, sedangkan Indonesia baru memiliki 2 hak paten, itupun baru tahap pendaftaran, belum memiliki nomor paten. Ironinya masyarakat kita banyak yang tidak menyadari hal ini (Salman, 2010).

Kemudian, Apa Hubungannya dengan Menulis?

Menulis dapat mendorong kita lebih banyak membaca, membaca mendorong lebih banyak mencari informasi (baca : ‘ingin tahu’). Kebiasaan ini akan meningkatkan pengetahuan kita tentang banyak hal. Semakin bertambahnya ilmu akan semakin meningkatkan kesadaran seseorang terhadap suatu hal, termasuk kewaspadaan pencurian hak paten bangsa.

Fenomena klaim negara asing terhadap tempe ini benar-benar ‘Pukulan Keras’ kepada kita untuk benar-benar memperhatikan sejarah. Seandainya saja bangsa kita sudah lebih dulu menuliskan hasil kajian dan temuan lalu mematenkan tempe sebagai makanan khas indonesia, kita akan menjadi pengawal sejarah!

Kesimpulannya, menulislah untuk menjadi pengawal sejarah. Baik itu sejarah agama, budaya, atau bahkan sejarah bangsa kita.

2. Menulis itu Penting untuk Perisai Diri.

Perhatikan contoh berikut ini.

PENTING!
Jenazah pasien COVID-19 bisa menularkan virus ke orang yang masih hidup. Hati-hati jika ada pemakaman jenazahnya. Sebarkan biar semua masyarakat tahu! (Info dari Kemkes RI, 2020)

Apa yang Anda rasakan atau fikirkan saat menjadi korban berita hoax paragraf di atas?

Sering kali kita membaca informasi yang penting, tentang isu terkini atau hal-hal yang sifatnya perlu ditanggapi.

Terkadang informasi tersebut bersifat terlalu persuasif, seolah-olah ia perlu dibenarkan dan diyakini sebagai kebenaran dan meminta untuk segera disebarkan.

Tapi, lagi-lagi kita terjerat berita palsu yang sudah terlanjur kita telan mentah-mentah tanpa konfirmasi kesahihannya lebih dahulu.

Tentu ini sangat merugikan, apalagi ditambah dengan semakin majunya era digital yang setiap orang mudah mengakses segala informasi. Virus hoax ini sudah menjalar ke sendi-sendi kehidupan berwarganegara. Mulai dari masyarakat tingkat atas hingga bawah semua bisa terperangkap oleh si Hoax ini.

Berita hoax ini memiliki banyak motif yang melatarbelakanginya, diantaranya bertujuan untuk pendangkalan ideologi (akidah), penipuan, kejahatan kriminal, mencari sensasi, penggiringan isu politik, hingga kepentingan golongan. Semua itu dikemas seolah-olah otentik (asli) dari pembuat berita.

Kembali ke topik utama.

Pada contoh disebutkan :
– Jenazah korban COVID-19 bisa menularkan virus, padahal secara ilmiah jika host mati, maka inang virusnya juga mati. Tidak ada Port the Entry untuk bisa bertransmisinya.
– Sumbernya tidak valid (bahkan tidak ada), dan hanya mencatut nama Kemenkes RI agar terkesan ilmiah.

Baca juga :  PERAN TULISAN SEBAGAI MEDIA DIPLOMASI

Kesimpulannya, menulis itu penting sebagai perisai diri. Setidaknya, hasil kajian yang kita amati bisa ditulis untuk membenarkan hoax yang terjadi, bisa dijadikan bukti bantahan, yang pada akhirnya kita turut mendorong mencerdaskan bangsa.

Jadi, kalau ada info apapun yang berkaitan dengan Agama, Pendidikan & Kesehatan kita harus hati-hati. Harus selalu bersikap korektif dan selektif sebelum menerima dan menyebarkan informasinya.

3. Menulis untuk Kesehatan Jiwa

Pernahkah Anda perhatikan perbedaan sesungguhnya antara orang gila dan orang waras?

Mengapa mereka disebut maaf ‘gila’ padahal penampilan, gaya berjalan, makan dan fisiknya baik-baik saja?

Di lain hal, ada yang mengaku waras tetapi sesungguhnya gila?

Sebetulnya berbicara ini, kita memasuki area ‘abu-abu’. Kita tidak bisa mengklaim diri kita benar-benar waras sebelum tes psikologi.

Maka, yang paling tepat untuk sebutan gila ini adalah gangguan mental atau gangguan jiwa.

Setiap kita bisa saja terkena gangguan mental yang menunjukkan tanda gejala atau bahkan tanpa gejala dan keluhan apapun. Ada yang menyadari, adapula yang tidak. Karena, mental ini sangat erat kaitannya dengan pola fikir kita. Dan, lagi-lagi kita bingung untuk mendeskripsikan diri kita sendiri.

Jika Anda pernah berkunjung ke rumah sakit jiwa, kita akan temui orang-orang yang nampak sehat tapi sebetulnya gangguan jiwa.

Mereka yang lebih suka menyendiri didiagnosa Isolasi Sosial. Mereka yang mudah marah (baca : “ngamuk”) didiagnosa Risiko Perilaku Kekerasan. Depresi, Risiko Bunuh Diri, Harga Diri Rendah, Halusinasi, Waham dan diagnosa lainnya.

Jika kita pernah mendengar ada artis atau orang terkenal yang tiba-tiba mati bunuh diri, sejatinya mereka mengidap gangguan mental, hanya saja tak menyadarinya. Anggaplah istilah umumnya OTG (Orang Tanpa Gejala). Akumulasi dari gejala itu memuncak menjadikan seseorang isolasi sosial, labil, mudah marah, depresi yang pada akhirnya mengambil keputusan yang salah dengan bunuh diri.

Point yang ingin saya sampaikan adalah, mungkin saja kita sendiri termasuk di aera abu-abu itu sebelum benar-benar menyadarinya.

Maka, solusi yang tepat dan mudah adalah dengan terapi menulis.

Menulis bisa membantu menuangkan emosi, membuka pola fikir (open mind), mengungkapkan isi hati dan perasaan, memperbaiki cara komunikasi, menajamkam imajinasi dan kreativitas serta yang paling penting adalah menghasilkan energi pikiran positif yang sangat berpengaruh pada keseharian kita.

4. Ilmu Menulis Penting dalam Bisnis

Saat ini kita telah memasuki era industri 4.0, dimana segala hiruk-pikuk kesibukan manusia mulai digantikan oleh Artificial Intelligence (kecerdasan buatan) dan internet.

Mereka yang paling peka terhadap perubahan zaman ini adalah pihak-pihak pelaku bisnis. Mau sektor pemerintah atau swasta, mulai dari bidang transportasi, komunikasi, maupun pendidikan.

Tak jarang, sekarang sangat banyak sekali pelatihan, seminar, workshop, kajian dakwah yang beralih ke sistem online. Bahkan, di Jepang sudah diberlakukan wisuda online lho. Berbagai perusahaan Star Up baru juga mulai bermunculan berlomba-lomba memberikan excellent service untuk memanjakan para pelanggannya via online.

Siap atau tidak, pemerintah harus siap menghadapi ini. Apalagi ditambah dengan desakan Pandemik COVID-19 dimana mengharuskan masyarakat untuk tetap #dirumahsaja.

Lalu, gimana nih supaya diam di rumah tapi tetap berpenghasilan? Tentu, yang ada di benak kita pertama kali adalah bisnis online. Iya, kan?

Nah, bagi Anda pelaku bisnis online penting untuk dipahami peran Copywriting.

Apa itu Copywriting (CW)?

CW Adalah teknik marketing online berbasis tulisan dimana pada setiap akhir kontennya berisi ajakan untuk melakukan Call to Action. Jadi, setiap pembaca digiring dari pembahasan umum ke pembahasan khusus sampai pada produk yang ingin kita tawarkan.

Tapi sob, ilmu ini bukan sekedar pengetahuan, tapi ilmu terapan yang perlu dipraktekan setiap hari. Tanpanya, semua hanya wacana.

Lagi-lagi, ini menuntut kebiasaan. Kita bisa karena terbiasa, dan tidak ada mata uang apapun yang berlaku untuk membayar keberhasilan selain berlatih dan terus berlatih.

Mau dicoba atau tidak, itu pilihan. But, believe it or not, di era digital sekarang ini, jari-jemari kita bisa berbicara. Maka, berlatihlah untuk mengambil hati calon pelanggan Anda dengan tulisan yang baik.

Keuntungan yang didapat, selain menjadikan kita menjadi penulis sejati juga menjadi pebisnis yang tangguh. Selamat mencoba!


DAFTAR PUSTAKA

Saliman, A. R. (2010). Hukum Bisnis untuk Perusahaan : Teori dan Contoh Kasus. Jakarta: Kencana.

Facebook Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published.