HIKMAH ILMIAH PUASA

Ns. Satya Putra Lencana RN
Follow me

Ramadhan adalah bulan ke sembilan dalam kalender islam dimana pada bulan tersebut terdapat kewajiban bagi seluruh  umat muslim untuk menjalankan puasa selama sebulan penuh. Mulai dari anak-anak, remaja, dewasa hingga orang tua, baik yang sehat maupun sakit (baca : ‘sakit ringan’) berlomba-lomba menjalankan kewajiban ini dengan sebaik mungkin.

Puasa Ramadhan sudah menjadi sebuah rutinitas kaum muslim setiap tahun dimana ini adalah wajid dilaksanakan. Meskipun saat itu kondisi badan tidak fit atau sedang menyusui, sedang melakukan perjalanan (safar) atau sedang sakit semua tetap dihukumi wajib, tetapi terdapat keringanan (rukhsoh) dan tentu dengan konsekuensi yang lain, seperti membayar fidyah untuk fakir miskin dan lain-lain.

Puasa, sebagai salah satu rukun islam ini ternyata memiliki banyak manfaat kesehatan di dalamnya. Berikut beberapa bukti ilmiah manfaat puasa melalui pendekatan ilmiah (scientific approach) antara lain :

1. Puasa tidak Mempengaruhi Perubahan Status Hidrasi, Hormonal dan Iron Serum

Pada saat puasa, sistem imun seharusnya terpengaruh oleh satu bulan pembatasan energi dikarenakan perubahan status hidrasi, status hormonal, dan iron serum. Namun, pada kenyataannya terbukti sebaliknya[1]. Puasa tidak memberikan mempengaruhi perubahan pada status hidrasi, status hormonal dan serum iron (zat besi) tubuh. Zat besi adalah bahan pembentuk sel darah merah (eritrosit) yang apabila seorang kekurangan zat ini akan mengalami anemia atau yang lebih sering dikenal masyarakat sebagai kurang darah.

2. Puasa Mencegah Radikal Bebas

Puasa disebut-sebut sebagai Acute Energy Restriction (Pembatasan Energi Akut) dimana meningkatkan kapasitas antioksidan hingga meningkatkan sistem imun[2]. Antioksidan adalah molekul yang mampu memperlambat atau mencegah proses oksidasi molekul lain. Jadi, puasa bermanfaat untuk mencegah radikal bebas sehingga memicu reaksi berantai yang dapat merusak sel.

3. Puasa Meningkatkan Status Imunologi Tubuh

Penelitian pada Atlet Yudo, Immunoglobulin A (IgA) dan Immunoglobulin G (IgG) meningkat selama Puasa Ramadhan. Atlet Yudo juga mengalami peningkatan vitamin A dan peningkatan C-Reactive Protein selama puasa Ramadhan[3].

Vitamin A merupakan salah satu jenis vitamin yang larut dalam lemak dan memiliki peranan yang sangat penting bagi kesehatan tubuh. Vitamin A memiliki banyak senyawa diantaranya retinol dan retinil aselat yang bermanfaat untuk;

  • Kesehatan mata
  • Sistem kekebalan tubuh (imunitas)
  • Antioksidan
  • Sebagai Cancer Cell Inhibition (Menghambat pertumbuhan sel kanker).

Sedangkan C-Reactive Protein merupakan suatu protein yang dihasilkan oleh hati, terutama saat terjadi infeksi  akut atau kronis akibat dari invasi bakteri, virus, jamur, penyakit rematik, keganasan, dan cedera jaringan dan nekrosis. Jadi, C-Reactive Protein ini juga mencegah tubuh kita dari infeksi dan zat-zat pemicu kanker serta mencegah dari kematian sel dan jaringan tubuh.

4. Puasa Meningkatkan Serum Transferin Tubuh

Penelitian yang dilakukan oleh Maughan, dkk (2008) menunjukkan bahwa puasa meningkatkan serum transferin pada pemain sepak bola selama Ramadhan[4]. Transferin adalah protein yang salah satu sistem kerjanya mengangkut besi di dalam darah sehingga mencegah pengendapan.

5. Puasa Mencegah Infeksi dengan Peningkatan Imun

Peningkatan imunitas selama Puasa Ramadhan juga terjadi pada fungsi Fagosit Neutrofil [5]. ‘Fagosit’ secara sederhana bisa diartikan sebagai “proses memakan/menelan” dan ‘neutrofil’ adalah bagian dari sel darah putih dimana ketika sel ini muncul mengindikasikan adanya infeksi (bakteri, virus, jamur) yang sedang terjadi dan dia melawan zat-zat pemicu infeksi tersebut dengan membantuk benteng sebagai pertahanan tubuh (imunitas). Ketika semua netrofil tersebut sudah melemah dan tidak cukup kuat melawan zat-zat pemicu infeksi tadi, maka terjadi proses memakan itu terjadi (Fagositosis). Fagosit neutrofil sama halnya seperti kita memasukan kotoran ke dalam sebuah kantong plastik, sehingga hal-hal jahat tetap tertutup di dalam kantong tertutup. Fagosit neutrofil inilah yang membantu mencegah tubuh terserang infeksi.

Baca juga :  TUBUHMU BUKAN MILIKMU

Puasa juga meningkatan kadar C4 serum dan kadar IgA yang memiliki efek protektif pada imun atlet terhadap infeksi [6]

6. Puasa tidak Menurunkan Status Cairan Tubuh

Banyak asumsi ilmiah yang mengimplikasikan Puasa Ramadhan pada cairan tubuh yang menurun. Penelitian menunjukkan sebaliknya. Cairan tubuh tak  berubah selama puasa, pada pemain sepak bola dan laki-laki yang aktif [7]

7. Puasa Mencegah Penyakit Jantung dengan Penurunan Kolesterol Jenuh

Puasa meningkatkan kolesterol HDL dan apoprotein A1, penurunan kolesterol LDL [8]. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa puasa ramadhan juga mencegah resiko kardiovaskuler (jantung dan pembuluh darah) [9]

8. Puasa Meningkatkan Ketahanan Tubuh dari Penyakit TBC

Terbaru, disertasi rekan dari dr Gamal Albinsaid : Puasa Ramadhan tingkatkan ketahanan tubuh terhadap Mycobacterium tuberculose yaitu mengurangi resiko infeksi tuberculosis pada subjek sehat [10]

9. Puasa bisa Memutus Rantai Kebiasaan Merokok

Salah satu manfaat puasa adalah penurunan presentase status merokok. Ini hikmah nyata dan jelas, karena memang merokok adalah diantara hal-hal yang dapat membatalkan puasa.

Risiko penyakit jantung iskemik meningkat 3-5x lipat pada laki-laki usia dekade 5 yang merokok diatas 15 batang/ hari. Terdapat beberapa bukti yang menyatakan bahwa risiko lebih berhubungan dengan jumlah batang rokok daripada lamanya merokok. Dan tidak ada bukti yang menyatakan rokok filter atau jenis yang lain mengurangi faktor resiko [11]

10. Merokok dapat Menyebabkan Serangan Jantung

Perokok sangat berisiko tinggi mengalami Aterosklerosis. Aterosklerosis adalah penyempitan pembuluh darah karena terjadi penebalan dinding yang diakibatkan menempelnya zat kolesterol, lemak, kalsium dan zat fibrin.

Merokok dapat meningkatkan zat fibrin dan jika kebiasaan ini terus berlanjut akan membuat serabut-serabut yang menyumbat aliran darah menuju jantung dan berkahir serangan jantung atau jantung berhenti mendadak.

Riset membuktikan, setelah menjalani puasa, darah para pecandu rokok bersih dari racun nikotin dan zat lain dari rokok. Jika nikotin telah bersih dari tubuh, kecanduan akan berkurang dan berangsur akan hilang. Efek mulut asam pada pecandu rokok yang berusaha menghentikan kebiasaannya bersifat sementara dan dapat diatasi dengan mengkonsumsi buah-buahan atau permen sebagai pengganti rokok [12]

Dan masih banyak lagi manfaat kesehatan lainnnya dari berpuasa. Semoga yang sedikit ini dapat bermanfaat bagi kita untuk tetap semangat menjalankan perintah agama terlebih dalam meningkatkan keimanan kita tanpa keraguan.

Selalu ada hikmah dalam setiap ketaatan.


FOOTNOTE :

[1]  Meckel, Y., Ismaeel, A., & Eliakim, A. (2008). The effects of the Ramadan fast on physical performance and dietary habits in adolescent soccer players. European Journal of Applied Physiology, 102, 651–657.

[2] Rankin, J.W., Shute, M., Heffron, S.P., & Saker, K.E. (2006). Energy restriction but not protein source affects antioxidant capacity in athletes. Free Radical Biology and Medicine, 41, 1001-1009.

[3] Chaouachi, A., Coutts, A.J., Wong, D.P., Roky. R., Mbazaa, A., Amri, A., & Chamari, K. (2009). Haematological, inflammatory, and immunological responses in elite judo athletes maintaining high training loads during Ramadan. Applied Physiology Nutrition and Metabolism, 34, 907–915.

[4]  Maughan, R.J., Bartagi., Z., Dvorak, J., & Leiper, J.B. (2008). Dietary intake and body composition of football players during the holy month of Ramadan. Journal of Sports Sciences, 26, 29–38.

[5]  Latifynia A, Vojgani M, Gharagozlou MJ, Sharifian R. (2009). Neutrophil function (innate immunity) during ramadan. J. Ayub Med Coll Abbottabad. 21(4): 111–115.

[6]  Khazaei HA, Bokaeian M, Jalili A. The effect of fasting on the immune system of athletes during holly Ramadan. Zahedan J Res Med Sci (ZJRMS) 2014; 16 (6): 44-46.

[7]  Ramadan, J., Telahoun, G., Al-Zaid, N.S., & Barac-Nieto, M. (1999). Responses to exercise, fluid, and energy balances during Ramadan in sedentary and active males. Nutrition, 15, 735–739.

[8]  Akanji AO, Mojiminiyi OA, Abdella N. (2000). Beneficial changes in serum apo A-1 and its ratio to apo B and HDL in stable hyperlipidaemic subjects after Ramadan fasting in Kuwait. European Journal Clinical Nutrition, 54(6):508–513.

[9]  Aksungar FB, Eren A, Ure S, Teskin O, Ates G. (2005) Effects of intermittent fasting on serum lipid levels, coagulation status and plasma homocysteine levels. Ann NutrMetab. 49(2):77–82

[10]  Lahdimawan A, Handono K, Indra MR, Prawiro SR (2014) Effect of Ramadan Fasting on the Ability of Serum, PBMC and Macrophages from Healthy Subjects to Kill M. Tuberculosis. IOSR Journal of Pharmacy and Biological Sciences 9:24-29

[11] Mughni, A. (2007). Pengaruh Puasa Ramadhan Terhadap Faktor-Faktor Risiko Aterosklerosis . Semarang: Universitas Diponegoro.

[12] Syaifuddin, A. (2003). Puasa Menuju Sehat Fisik dan Psikis. Depok: Gema Insani.

Facebook Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published.