SEPASANG SAYAP UNTUK NADI (PART 1)

Viviananda Mdf
Follow me
Latest posts by Viviananda Mdf (see all)

“Nanti kamu datang, kan, Nad?” tanya Hadi.

Seminggu sebelum wisudanya yang kedua, Hadi menemui Nadia. Hadi dengan nama lengkap Muhammad Fathul Hadi adalah calon Magister muda di bidang Manajemen Arsitektur ITB. Seorang lelaki yang cerdas, bertanggung jawab, dan penyayang.

“Insyaallah aku akan datang, hari apa?” tanya Nadia antusias.

Nadia Shanum, merupakan sahabat karib Hadi sejak kecil. Persahabatan itu bermula ketika keluarga Hadi pindah dari Jakarta ke Bandung, tepatnya di daerah Cigadung. Sejak sekolah TK sampai SMA, Nadia dan Hadi selalu bersama. Hingga awal memasuki masa kuliah, Hadi melanjutkan pendidikannya di bidang Manajemen Arsitektur, sedangkan Nadia tidak melanjutkan pendidikannya. Ayah Nadia yang wafat di saat usia Nadia memasuki tujuh belas tahun, membuat Nadia harus menjadi tulang punggung bagi ibu dan kedua adiknya, itulah sebabnya Nadia lebih memilih bekerja setelah lulus SMA ketimbang melanjutkan pendidikannya.

Padahal tidak sedikit teman-temannya, terutama Hadi yang men-support Nadia untuk tetap kuliah. Namun, sayangnya Nadia tetap kekeuh dengan pendiriannya, metamorfosa kehidupan Nadia dimulai sejak ayahnya wafat. Nadia yang dulu terkenal selalu ceria dan penuh semangat, kini berubah menjadi kupu-kupu tak bersayap, Nadia seakan tak memiliki motivasi untuk terbang menggapai mimpinya. Nadia hanya bisa menutupi semua kesedihannya dengan senyum tipis di bibir merah mudanya. Namun, seberapapun Nadia mampu menutupi semua itu kepada dunia, Nadia tidak pernah pandai bersandiwara di hadapan Hadi, lelaki yang menjadi sahabat karibnya itu.

“Sabtu depan,” jawab Hadi.

“Barakallah, cie yang sebentar lagi akan menyandang gelar magister,” jawab Nadia sambil bercanda.

“Alhamdulillah, tapi kamu harus datang pokoknya, nanti aku jemput pukul 09.00 WIB. Oke,” paksa Hadi pada Nadia.

“Iya, iya, insyaallah kalo nggak ada halangan, ya,” jawab Nadia sambil membungkus kue-kue pesanan pelanggannya.

Nadia berkerja sebagai chef di toko kue kecil yang dirintisnya sejak lulus SMA, dan sekarang usaha Nadia sudah mulai tampak hasilnya. Pelanggan Nadia sudah mulai banyak, baik yang dari dalam kota, bahkan sampai yang di luar kota.

“Hemm …” jawab Hadi sambil menghela napas panjang dan melipat bibirnya.

“Eh, kamu nggak ke kampus, Di?” tanya Nadia lanjut.

Nggak, kan udah free. Sebenarnya hari ini aku mau ajak kamu jalan. Kamu bisa tutup toko lebih cepat?” tanya Hadi balik.

“Bisa, cuma aku harus antar pesanan pelanggan dulu.”

“Ya udah, kita antar dulu ke sana.”

“Emang kita mau ke mana?” tanya Nadia penasaran.

“Ya, kita jalan-jalan aja, udah lama banget, lho, kita nggak jalan bareng,” jawab Hadi meyakinkan.

“Iya. Aku, kan, ngertiin kamu yang sibuk menyelesaikan tesis.”

“Ciee yang perhatian. Hahaha … udah, buruan dong, siap-siap.”

“Tunggu aku tutup toko dulu, ya. Kamu tunggu aja di depan.”

“Siap, Komandan! Laksanakan, tapi jangan lama-lama, lho.”

Setelah kurang lebih lima belas menit, Nadia pun keluar, dengan membawa kotak besar dibungkus plastik.

“Eh, ini motor siapa?” tanya Nadia saat melihat motor vespa klasik berwarna silver dengan list dan jok berwarna gold.

“Motorku, dong. Suka, nggak?” tanya Hadi.

“Suka, cantik dan antik.”

“Ya udah ayok, hati-hati rokmu itu. Ada yang tertinggal, nggak?”

Nggak ada, ayok.”

“Bismillah,” ucap Hadi mengawali perjalanannya dengan Nadia hari itu.

Mereka pun pergi menyusuri kota Bandung, sambil bercerita banyak hal. Kota Bandung terasa begitu hangat hari itu, menjadikan kupu-kupu yang hampir mati sebab tak lagi pernah menghirup kebahagiaan itu seakan menemui butiran oksigen yang menghidupkannya. Tertawa lepas dan menikmati perjalanannya dengan Hadi. Sahabat yang selalu menemaninya, yang selalu pandai membuatnya tersenyum.

“Nad, aku ingat dulu kamu pernah bilang ingin sekali jalan naik motor klasik. Nah, makanya aku beli motor ini dengan uang tabungan aku sendiri,” tutur Hadi sembari mengendarai motor.

“Gang di sana, belok kiri ya, Di.” Nadia tidak menggubris ucapan Hadi.

“Di sana rumahnya?” tanya Hadi.

“Iya, belok kiri, cat warna biru,” jawab Nadia mengarahkan.

“Ini, Nad?” tanya Hadi setelah sampai di halaman rumah yang Nadia maksud.

“Iya. Kamu tunggu di sini aja, ya.” Nadia pun turun dari motor dan mendekati pintu rumah ukuran minimalis.

“Assalamu’alaikum, permisi, Bu.” Nadia mengucap salam.

“Wa’alaikumsalam.” Terdengar jawaban salam dari dalam rumah. “Eh, Nak Nadi,” ucap Bu Gina saat melihat Nadia di depan pintu.

“Iya, Bu. Ini kue pesanan Ibu kemarin,” kata Nadia sembari memberikan kue yang dibawanya.

“Oh iya, makasih, Nak Nadi. Mangga masuk dulu, itu temannya diajak juga,” ucap Bu Gina.

Nadia menoleh sesaat ke arah Hadi. “Emm … Nadi buru-buru, Bu. Insyaallah lain kesempatan Nadi mampir,” ujar Nadia seraya tersenyum pada Bu Gina.

“Tunggu sebentar, ya. Uangnya Ibu ambil dulu.” Bu Gina ke dalam. Beberapa menit kemudian, keluar.

“Sekali lagi, makasih, ya, Nak Nadi,” ujar Bu Gina sembari memberikan uang bayaran kue kepada Nadia.

“Iya, Bu ,sama-sama. Nadi permisi, ya, Bu. Assalamu’alaikum.”

“Wa’alaikumsalam,” jawab Bu Gina.

Nadia dan Hadi pun kembali menaiki motor mengelilingi indahnya Kota Bandung. Kota yang hampir semua sisinya pernah mereka jelajahi itu tetap saja membuat mereka tak pernah bosan untuk mendatanginya berulang-ulang. Tak ketinggalan, mereka mengabadikan momen kebersamaan dengan mengambil beberapa foto. Terakhir sebelum pulang, Hadi dan Nadia salat magrib di Masjid Raya Bandung.

Baca juga :  SEPASANG SAYAP UNTUK NADI (PART 3)

***

“Terimakasih, ya, Di untuk hari ini.”

“Iya, sama-sama. Senang, tidak?” tanya Hadi kepada Nadia.

“Senang banget.”

“Jangan lupa, lho, hari Sabtu aku jemput jan 09.00 WIB.”

“Iya, insyaallah.”

“Ya udah, masuk sana.”

“Ya udah. Aku masuk, ya. Assalamu’alaikum.”

“Wa’alaikumsalam,” jawab Hadi sambil melihat langkah demi langkah Nadia yang memasuki rumah minimalis modern berwarna cream dengan halaman dipenuhi beragam jenis bunga yang disinari lentera redup.

“Assalamu’alaikum, Ibu belum tidur?”

“Wa’alaikumsalam, ini lagi menemani adik-adikmu buat tugas sekolahnya.”

“Banyak tugasnya?” Nadia menghampiri adik-adiknya.

“Iya banyak, Kak,” jawab Amalia Shanum, adik pertama Nadia yang sekarang duduk di kursi kelas X SMA. Dulu, Amalia Shanum masih kelas 4 SD, sedangkan Ahmad Sayrif masih berusia lima tahun waktu ayahnya meninggal.

“Sini, Kakak ajarkan,” jawab Nadia seraya mengambil posisi duduk.

“Eeh, sudah-sudah, mandi dulu, habis itu makan. Kamu pasti capek, ayok.” Bu Aminah menepis putrinya dan memeluknya sambil mendorong ke arah kamar belakang.

“Nadi sudah makan, Bu,” jawab Nadia sembari melangkah ke belakang dituturi ibunya.

“Makan di mana?” tanya Bu Aminah.

“Makan di luar, Bu, bareng Hadi.”

“Ya udah, kalo gitu mandi. Ibu tunggu di luar.”

Setelah selesai mandi, Nadia pun keluar dari kamar dan didapati adik-adiknya sudah tidak ada lagi di ruang tamu. Hanya ada ibunya yang sedang duduk sambil menonton televisi.

“Mana adik-adik, Bu?”

“Sudah tidur.”

“Katanya banyak tugas?”

“Lusa baru dikumpul, biar bakda subuh saja dilanjutkan lagi. Adik-adikmu juga sudah terlihat ngantuk,” jawab ibunya sembari mematikan TV yang sedang ditonton.

Waktu menunjukkan pukul 20.00 WIB, malam itu justru menjadi ruang yang hangat untuk seorang single parent dengan dua orang putri dan seorang putra yang sudah enam tahun ditinggal oleh suami tercintanya.

“Duduk sini, Nak.” Bu Aminah menarik lengan putrinya untuk duduk di kursi panjang terbuat dari jati berwarna coklat tua. “Jadi tadi makan di mana dengan Hadi?” lanjut Bu Aminah.

“Makan di Cafe Pasir Kaliki, Bu. Makanannya enak, lho, Bu. Tadi Nadia tutup toko lebih awal, karena Hadi mau ajak Nadi jalan, katanya sudah lama nggak jalan sama Nadi. Alhamdulillah tadi keliling Kota Bandung.” Seperti rel kereta api yang tiada putus, Nadia bercerita pada ibunya.

“Syukurlah, senang Ibu dengarnya. Tadi Nadi pulang sama siapa?”

“Ya sama Hadi, Bu.”

“Lantas kenapa nggak diajak masuk?”

“Katanya sudah malam, Bu. Mama papanya sudah menunggu di rumah. Lagipula, beliau harus ke bandara dulu untuk menjemput sepupunya yang datang dari Aceh.”

“Oh.”

“Bu, tadi Hadi bilang hari Sabtu dia wisuda dan minta Nadi untuk datang. Dia sendiri yang akan jemput jam 09.00 WIB.”

“Terus Nadi jawab apa?”

“Ya, Nadi jawab insyaallah kalo nggak ada halangan.”

“Harus datang, lho, Nduk. Bagaimanapun, Nak Hadi, kan, sahabatmu dari kecil. Lagipula, keluarga Hadi sudah baik sekali pada kita.”

“Iya, Bu.”

“Kamu ingat, kan, bagaimana waktu ayahmu sakit dulu? Keluarga Hadi yang sering membantu dan usaha kuemu itu juga.”

“Iya, Bu, tapi Nadi malu. Bagaimana Nadi mengimbangi Hadi, Bu? Nadia nggak mau Hadi malu di depan teman-temannya yang rata-rata orang berada. Nadi juga bingung harus pakai baju apa nanti?”

“Nadi, putri Ibu yang cantik. Kamu sudah terlihat cantik mengenakan baju apapun, semua itu terpancar dari kemuliaan hatimu, semoga Allah selalu menyayangimu, Nak,” jawab Bu Aminah sambil memeluk putri sulungnya itu.

“Ibuuu.” Nadia pun tersipu malu-malu dan tersenyum seraya memeluk ibunya juga.

“Sudah, kita tidur, yuk. Ibu ngantuk. Sudah salat isya?” Bu Aminah melepas pelukannya.

“Belum, Bu.”

“Ya udah, nanti salat dulu. Jangan lupa, matikan lampu tengah, terus minum susu yang sudah Ibu siapkan di meja dapur,” kata Bu Aminah sambil berjalan ke arah kamarnya yang bersebelahan dengan kamar putrinya itu.

“Iya, Bu,” jawab Nadia.

Malam terasa panjang, Nadia menyalakan TV untuk menemani malamnya. Berulang-ulang ia memutar siaran, namun pikirannya tetap melayang. Seakan ada sesuatu yang lebih menarik untuk ditelusuri oleh pikirannya, rasa yang belum pernah menjadi fokus utama sebelumnya, tentang senyuman dan sikap Hadi, juga tentang ucapan ibunya perihal kebaikan keluarga Hadi. Seakan malam itu Hadi tengah bertakhta di memori dan hatinya. Namun, sesekali ia menarik diri, memahami bahwa ia dan Hadi hanya sebatas sahabat, bahkan papa dan mama Hadi sudah menganggapnya sebagai anak sendiri, terlebih karena Hadi adalah putra tunggal dari keluarga yang terbilang berada, sedang ia hanya seorang yatim yang hidup dari tetesan keringat yang harus diperjuangkan. Tidak hanya perihal nama baik ataupun harta, tetapi juga perihal pendidikan.

“Astagfirullah, perasaan macam apa ini? Sudahlah Nadi, sadarkan dirimu, Hadi hanyalah sahabatmu. Perihal dia yang mengundangmu ke acara wisuda S2-nya, itu sebab kamu adalah sahabatnya sejak kecil. Sudahlah, Nadi, tidur saja.” Begitu Nadia menyadarkan pikirannya yang entah terbang ke mana. Nadia pun akhirnya mematikan televisi dan lampu tengah, kemudian pergi ke dapur untuk meminum susu yang sudah mulai dingin.


Tulisan ini telah lulus review oleh editor dan layak publish.
Copyright © Al Right Reserved 2020
Writing Prodigy Academy

Facebook Comments

11 Comments











Leave a Reply

Your email address will not be published.