SEPASANG SAYAP UNTUK NADI (PART 2)

Viviananda Mdf
Follow me
Latest posts by Viviananda Mdf (see all)

Oleh Viviananda


Fajar merekah tersenyum ramah
Embun-embun telah meresap sejuk ke dasar hati
Sekelompok burung terbang
Mengepakkan sayap-sayap kehidupan
Mencari berkah di hari yang indah
Penuh hikmah
Anugerah
Dan bukti-bukti kebesaran Sang Maha Agung

“Permisi Ece’, saya kemarin sudah pesan kue tart motif princess, apa sudah siap?” Seorang perempuan dengan nada khas Sunda datang menghampiri dan bertanya pada Nadia yang sedang sibuk membungkus kue pesanan pelanggannya.

“Atas nama siapa Ece’?” tanya Nadia.

“Atas nama Nur Aeni.”

“Sebentar, ya,” jawab Nadia sambil melihat daftar pesanan. “Kemarin pesan dua, ya?” tanyanya setelah melihat daftar.

“Iya,” jawab pelanggannya seraya melihat-lihat kue yang terpajang.

“Alhamdulillah sudah siap, tunggu sebentar, ya.” Nadia pun pergi ke belakang dan membuka lemari kaca. Kue-kue dengan motif yang cantik tampak berjajar rapi disana. Nadia mengambil dua kue berukuran sedang, lalu kembali dan membungkusnya di depan pelanggannya tersebut.

“Berapa ini, Ce’?”

“Seperti biasa, hanya 120 ribu, Ce’.”

“Ini.” Wanita itu menyodorkan uang pas. “Terimakasih,” tuturnya.

“Sama-sama,” jawab Nadia.

Tiba-tiba seorang lelaki paruh baya memakai jaket Ojol datang menghampiri Nadia.

“Ada yang bisa dibantu, Pak?” tanya Nadia.

“Saya mau bertemu dengan Mbak Nadia,” ujarnya.

“Saya sendiri, Pak,” jawab Nadia.

“Ini Mbak, ada paket untuk Mbak.”

“Maaf Pak, saya nggak pesan apapun.”

“Tapi atas nama Nadia Shanum, dari Mas Muhammad Fathul Hadi.”

“Masyaallah, saya kenal pengirimnya, Pak. Berapa ini?” tanya Nadia.

“Ini sudah dibayar Mbak.”

“Makasih, ya, Pak.”

“Sama-sama.” Bapak Ojol itu pun pergi setelah memberi paket Go-send pada Nadia.

Karena penasaran, Nadia segera membuka paketnya, sebuah kotak berwarna putih kecoklat-coklatan dengan pita merah terikat rapi di tiap sisinya. Nadia melihat ada sepucuk surat di atas perkamen yang menutupi sebuah kain. Nadia pun membaca isi surat tersebut.

Assalamu’alaikum Nadia, sahabatku.
Maaf, ya, sudah membuatmu kaget dengan paket ini. Sebenarnya, aku sendiri yang ingin langsung memberikannya padamu. Namun, aku khawatir kamu akan menolaknya. Maka kukirimkan melalui Go-send. Gaunnya dipakai hari Sabtu nanti, ya. Semoga suka dan pas sama kamu.

Wassalam
Muhammad Fathul Hadi

“Masyaallah.” Kalimat keharuan yang keluar dari lisan seorang Nadia, hampir-hampir membuatnya menteskan air mata.

***

Sore harinya, Nadia pulang. Sesampainya di rumah, ia terkejut melihat motor vespa Hadi terparkir di depan rumahnya.

“Assalamu’alaikum.” Nadia memasuki rumahnya, tampak Hadi dan ibunya sedang duduk di ruang tamu.

“Wa’alaikumsalam,” jawab Hadi dan ibunya bersamaan.

Nadia menyalami ibu dan Hadi seraya terheran-heran, Nadia pun duduk di samping ibunya.

“Hadi, tumben ke sini? Paketnya, kan, sudah sampai.”

Emang aku nggak boleh silaturahim?” ujar Hadi dengan nada bercanda menghidupkan suasana.

“Ya aneh saja, kamu datang ke sini, sedangkan paketmu datang ke tokoku,” jawab Nadia.

“Aku, kan, unik.”

“Hahaha ….” Mereka pun tertawa bersama.

“Kamu sudah makan, Nak?” tanya Bu Aminah pada anaknya.

“Belum, Bu. Nadia lapar,” jawab Nadia tanpa malu-malu.

“Mari, kita makan bersama, Hadi juga.”

“Ibu masak apa?” tanya Hadi seraya mengikuti langkah Bu Aminah dan Nadia yang menuju dapur.

“Ibu masak ayam kecap dan sayur tumis,” jawab Bu Aminah. “Ajak adik-adikmu, Nad,” tuturnya pada Nadia.

Setelah selesai makan dan ngobrol banyak hal tentang masa kecil dan lain-lain, tibalah waktunya Hadi berpamitan.

“Bu, sudah hampir magrib, Hadi pamit, ya. Terimakasih wejangannya.”

“Sering-sering datang ke sini, ya, Di. Jangan lupakan ibumu ini,” kata Bu Aminah.

“Insyaallah, Bu,” jawab Hadi sambil bersalaman dengan Bu Aminah dan Nadia.

“Salam dengan mama papamu,” kata Bu Aminah.

“Iya, Bu. Insyaallah akan Hadi sampaikan, assalamu’alaikum.”

“Wa’alaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh,” jawab Nadia dan ibunya.

Bu Aminah masuk ke rumah, sedangkan Nadia masih berdiri di depan pintu melihat Hadi pergi dengan motor vespanya.

“Nadi,” panggil Bu Aminah pada putrinya.

“Iya, Bu,” jawab Nadia seraya menghampiri ibunya.

“Ini apa?” tanya Bu Aminah sambil melihat plastik berisi kotaK kado.

“Ya itu, yang Nadi bilang tadi, Hadi datang ke sini, paketan yang ia kirim datang ke toko.”

“Oalah … ada-ada saja anak itu, apa isinya?” tanya Bu Aminah kembali.

“Sepertinya gaun.”

Nggak kamu coba dulu?”

“Nanti saja, Bu.”

“Ya sudah, istirahatlah, kamu pasti lelah.”

“Nadi istirahat, ya, Bu.” Nadia pun pergi kekamarnya.

Baca juga :  WANITA SHALIHAH

***

Beberapa hari kemudian, di Kota Bandung yang sejuk, orang-orang sudah sibuk dengan aktivitasnya masing-masing. Di salah satu rumah di Komplek Cigadug, Hadi, mama, papa dan sepupunya yang dari Aceh tengah bersiap-siap berangkat ke ITB untuk menghadiri acara wisuda Hadi.

“Pa, nanti Papa dan Mama berangkat dengan Arya, kan?”

“Iya. Hadi, kan, mau menjemput tuan putri dulu, haha ….” ledek Arya pada Hadi.

Muhammad Arya Dirgantara adalah sepupu Hadi yang datang dari Aceh, seminggu yang lalu. Arya baru mulai bekerja di perusahaan PT KAI setelah menerima surat panggilan.

“Ah … lu, Ar. Ngeledek aja lu.”

“Sudah-sudah, sarapan dulu sana,” sahut mama Hadi memisahkan.

Setelah selesai sarapan, Hadi pun menghidupkan mobilnya.

“Ma, Pa, Hadi duluan, ya. Ar, hati-hati lu bawa Mama, Papa.”

“Siap,” jawab Arya.

Hadi pun berangkat menuju rumah Nadia, dengan mobil jazz berwarna merah. Sesampainya di sana, Hadi turun.

“Assalamu’alaikum.”

Wa’alaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh.” Terdengar suara Bu Aminah menjawab salam Hadi.

“Nak Hadi sudah datang, ayo masuk dulu.”

Hadi pun masuk dan duduk di kursi dekat pintu masuk, yang mengarah ke dalam, tampak lemari dengan hiasan dan beberapa foto terpajang, termasuk foto almarhum ayah Nadia.

“Nad, Hadi sudah datang, ayo jangan lama-lama.” Bu Aminah memanggil putrinya ke kamar.

“Iya, Bu. Ini sudah siap,” jawabnya. Nadia pun keluar dari kamar.

“Masyaallah.” Hadi mengucapkan kalimat takjub ketika melihat Nadia Shanum berjalan ke arahnya. “Nad, ini kamu?” tanyanya.

Apaan, sih.” Nadia tersipu malu-malu. Ya, walaupun usia Nadia sudah dibilang cukup matang, Nadia tetap terlihat manja di hadapan Hadi. Bagaimana tidak, Hadi selalu pemperlakukan Nadia seperti adiknya dan terlebih karena Nadia tidak pernah dekat dengan lelaki manapun, kecuali Hadi.

***

Sesampainya di ITB, Hadi dan Nadia pun memasuki Convention Hall menghampiri mama papanya dan Arya.

Bak seorang bidadari yang tengah berjalan di altar, Nadia tampak cantik nan anggun dengan busana berwarna mocca dengan pita melingkar tepat di pinggangnya dipadu dengan jilbab shimer dan make-up flawless yang menyempurnakan penampilannya. Senyuman Nadia menghiasi parasnya yang jelita, membuat semua mata tertuju padanya. Mungkin, juga sebab seorang Nadia digandeng oleh Muhammad Fathul Hadi, sarjana muda yang memegang nilai tertinggi kala itu.

“Masyaallah, lama tak jumpa, Nadi. Semakin cantik saja kamu, Nak.” Mama Hadi mencium pipi kanan dan kiri Nadia seraya merangkulnya.

“Terimakasih, Ma,” jawab Nadia.

“Masyaallah.” Kalimat yang sama terucap oleh Arya yang baru pertama kali itu berjumpa dengan Nadia, Arya pun tertunduk malu-malu. Di balik kecerdasaannya, Arya memang memiliki sifat pemalu dan agamis, sebab itu di usianya yang sudah matang Arya masih saja men-jomblo. Bukan karena tidak ada perempuan yang menyukainya, tetapi karena ia memiliki prinsip yang kokoh perihal kriteria seorang istri. “Ini Nadia pacarnya Hadi?” tutur Arya.

“Kenalkan Ar, ini Nadia sahabatku,” jawab Hadi.

Sontak Nadia terkejut dengan kata-kata Hadi, diam-diam batinnya menolak tatkala Hadi berkata “Nadia sahabatku”, ada sesuatu yang lebih berkuasa dari itu, kekagumannya pada Hadi menjelma menjadi pengharapan akan posisi yang lebih tinggi dari sekadar sahabat.

“Nad, ini Arya sepupuku yang dari Aceh.”

“Muhammad Arya Dirgantara.” Arya mengulurkan tangannya pada Nadia.

“Nad! Nadi ….” Hadi memanggil Nadia yang kala itu pikirannya entah ke mana.

“Emm … saya Nadia, Nadia Shanum,” jawab Nadia kaku.

“Ma, Pa, aku ke depan dulu, ya, gabung dengan teman-teman,” ujar Hadi.

Nadia duduk di tengah papa dan mama Hadi selama acara berlangsung. Angannya terbang mengikuti irama musik yang mengiringi acara tersebut, Nadia terdiam. Namun, hatinya rusuh berdialog penuh pro dan kontra. “Sudahlah Nadi, sadarkan dirimu. Jelas kau pun tahu bagaimana Hadi kepadamu. Ia memang baik, akan tetapi kebaikannya hanyalah sebab menghargaimu sebagai seorang sahabat. Lagipula di kampus ini banyak wanita cantik, berpendidikan, dan bertahta.Mmereka lebih sepadan untuk seorang Muhammad Fathul Hadi. Astaghfirullah.” Nadia menampar dirinya dengan kalimat istigfar.

Di sisi lain, ada seorang laki-laki dewasa yang tengah memperhatikan Nadia dari jarak kurang lebih dua meter. Arya yang baru pertama kali melihat Nadia seakan merasa sudah pernah mengenal Nadia sebelumnya. Arya memutar keras ingatannya. Namun, ia tidak menemukan apapun tentang seorang Nadia. Berkali-kali ia mencuri pandangan melihat wajah Nadia yang familiar baginya. Namun, tetap saja ia tidak menemukan jawaban siapakah wanita itu.

Acara berlangsung khidmat. Hadi, Nadia, dan keluarga kecilnya berfoto ria. Setelah selesai, mereka pun pulang.

Di tengah perjalanan, tiba-tiba mobil yang dikendarai Hadi dan Nadia berhenti.


Tulisan ini telah lulus review oleh editor dan layak publish.
Copyright © Al Right Reserved 2020
Writing Prodigy Academy

Facebook Comments

14 Comments















Leave a Reply

Your email address will not be published.