SEPASANG SAYAP UNTUK NADI (PART 3)

Viviananda Mdf
Follow me
Latest posts by Viviananda Mdf (see all)

Hadi sengaja menepi dan menghentikan mobilnya.

“Kenapa, Di?” tanya Nadia heran.

“Nad, ada yang ingin aku bicarakan, hanya saja di kampus tadi terlalu bising dan ramai.”

“Perihal apa?” Jantung Nadia seakan vakum berdetak, ia seperti tengah menaiki rollercoaster dengan kekuatan full, napasnya jadi terhimpit dan sesak, lengannya gemetar dan berkeringat. Nadia menerka jika saja Hadi akan mengatakan bahwa ia berniat menjadikan Nadia seorang istri untuknya, bukan hanya sekadar sahabat.

“Nad, ini untukmu.” Hadi menyodorkan sebuah kotak kecil terbuat dari kaca yang transparan dengan alas didalamnya berwarna merah.

“Ini apa?” tanya Nadia sambil menerimanya.

“Itu untukmu, coba buka,” jawab Hadi.

Jantung Nadia seperti akan copot dari tempat terlekatnya. Pelan-pelan ia pun membuka kotak itu.

“Masyaallah, cantik, Di.” Sebuah kalung berwarna silver dengan liontin berbentuk kupu-kupu yang diterimanya membuat Nadia tak sanggup membendung air mata, keharuan mengalir lembut di pipi merahnya, lisannya seketika kelu tak kuasa berkata apapun jua, hanya terimakasih yang terdengar lirih. “Terimakasih, Di.”

“Nad, sebenarnya aku sekaligus ingin berpamitan padamu,” tutur Hadi.

Nadia tercengang, dan air mata haru yang mengalir itu seketika terhenti.

“Maksudmu?” tanya Nadia.

“Nad, aku mendapat beasiswa program S3 di London, kesempatan ini cuma sekali Nad, insyaallah lusa aku berangkat.”

Kali ini Nadia benar-benar bungkam, langit hatinya seakan runtuh. Nadia tak berucap apapun jua, ia hanya terdiam seribu bahasa.

“Nad, aku tahu kamu pasti sulit menerima ini, aku pun demikian, tapi inilah jalan yang harus kita tempuh,” kata Hadi mencoba memberi pemahaman pada Nadia.

“Nadi ….” Hadi mencoba membujuk Nadia yang tetap diam, menatap kearah luar dan mengabaikan Hadi.

“Nad, maafkan aku,” kata Hadi sambil menghidupkan mobilnya kembali dan melanjutkan perjalanan pulang.

Nadia masih terdiam sambil menggenggam erat kotak kecil pemberian Hadi. Ada amarah menyalak di dalam hatinya, yang ingin sekali ia luapkan. Namun, ia memilih berperang melawan kehendaknya. Sampai di depan rumah, Nadia pun berucap dengan berat.

“Aku mengerti keadaanmu, Di. Jujur, aku pun tidak memiliki hak melarangmu. Tak apa jika tekadmu telah bulat untuk menempuh jalan itu, aku hanya bisa berdoa untuk kesuksesanmu, terimakasih atas semua kebaikanmu selama ini.” Nadia membuka pintu mobil dan berjalan masuk kerumahnya.

Baca juga :  APA ITU CERBUNG?

***

Setahun berlalu, Kota Bandung mengalami banyak perubahan, begitu juga dengan kehidupan yang terus berevolusi.

Seorang perempuan dengan gaun putih tersimpuh di atas pusara yang belum kering. Bunga bertabur di atasnya dengan papan nisan tegak terukirkan sebuah nama yang apabila dibaca akan menyayat-nyayat batinnya.

“Istriku, sudah ikhlaskan.” Seorang pemuda bertubuh tinggi besar merangkulnya.

Perempuan itu tak lain adalah Nadia yang tengah dirundung kemalangan dan duka bertubi-tubi. Muhammad Fathul Hadi telah terbaring tenang di peristirahatan yang terakhirnya. Lelaki yang kini mendampinginya sebagai seorang suami adalah Arya, sepupu Hadi.

Seminggu sebelum wisudanya, ternyata Hadi sudah didiagnosa menderita kanker hati dan divonis hanya memiliki masa hidup delapan bulan sampai satu tahun lagi. Sebab itu, Hadi telah merencanakan untuk memberikan kenangan terbaik untuk Nadia, termasuk memperkenalkan dan mengamanahkan Nadia kepada Muhammad Arya Dirgantara yang kebetulan memang diterima kerja di-PT KAI Bandung, seorang sepupu sekaligus lelaki yang Hadi percaya bisa membawa dan melindungi Nadia.

Hadi tak hanya pergi meninggalkan kenangan yang indah,tetapi juga membentuk dua sayap bagi Nadia. Hadi meninggalkan sepucuk surat berisi bukti lukisan kemuliaan akhlak seorang sahabat. Surat itu digenggam oleh Nadia yang tak berhenti menangis. Itu adalah surat kedua sekaligus terakhir yang diterima oleh Nadia dari Hadi.

Assalamu’alaikum
Nadia Shanum, sahabatku
Saat kau membaca surat ini, mungkin aku sudah tak lagi disisimu, melainkan aku telah berjumpa dengan ayahmu
Menemui Sang Khalik, Tuhan kita yang menulis semua takdir
Maka saat itu, janganlah bersedih atau menangis
Nadi,
Banyak cerita yang ingin aku rangkai bersamamu tanpa jeda, tanpa batas ruang dan waktu
Banyak kata yang ingin aku ungkap selalu, tentang sebuah pengharapan, tentang kerinduan, tentang rasa sayang yang selalu aku sembunyikan.
Nadi,
Telah kusempurnakan untukmu seluruh ketulusan segenap jiwaku,
Terimakasih telah menjadi sahabat terbaikku,
Terimakasih telah memenuhi amanahku,
Terimakasih telah berkenan menerima Arya sebagai imam untukmu
Berjanjilah,
Kau akan berbakti dan taat padanya,
Berjanjilah,
Kau tak akan pernah menangis lagi setelah ini semua,
Dan berjanjilah,
Kelak kita akan kembali berjumpa dengan utuh di surga-Nya
Maka terbanglah bersama dua sayap yang telah menantimu
Aku dan ayahmu

Bandung, Oktober 2018
Muhammad Fathul Hadi

Persahabatan bukan sekadar ikatan yang terjalin di dunia, ada sesuatu yang lebih istimewa jika persahabatan diabadikan hingga berjumpa kembali di surga-Nya.

TAMAT


Tulisan ini telah lulus review oleh editor dan layak publish.
Copyright © Al Right Reserved 2020
Writing Prodigy Academy

Facebook Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published.