SUAMIMU MENIKMATINYA (Part 3)

Zanti
Follow me
Latest posts by Zanti (see all)

Point of View (POV) : Ridwan


Nitt … nitt … nitt ….

Terdengar suara alarm jam tanganku menunjukkan pukul 06.00 WIB. “Astaga apa yang terjadi semalam?” Aku melirik sekitar ruangan. “Dimana istri dan anakku?” Aku berlari ke dalam kamar. “Ya Allah, ke mana mereka?”  Kubuka lemari, baju mereka sudah tak ada. Kulihat sekeliling rumah sudah begitu rapih. Menuju dapur, sudah ada sepiring nasi goreng. “Apakah Aini sungguh-sungguh pulang ke orang tuanya?” Masih dipenuhi tanya dalam benak, aku teringat bapak mertuaku. “Bapak … iya bapak. Aku akan menelepon bapak.”

[“Halo assalamu’alaikum,  Pak. Ini Ridwan. Apakah Aini dan anak kami ada di rumah Bapak?”]

[“Iya, Nak Ridwan. Mereka ada di sini. Tak usah khawatir.”]

[“Alhamdulillah, Pak. Ridwan tadi mencari mereka berdua.”]

[“Aini sudah menceritakan semuanya. Bapak harap, kamu jadi lelaki yang sesungguhnya. Menyelesaikan masalah dan berani kesini untuk membicarakan masalahmu dengan Aini.”]

[“Iya, Pak. Ridwan akan ke sana.”]

[“Tapi jangan sekarang, tunggu beberapa hari. Aini butuh menenangkan pikirannya terlebih dahulu.”]

[“Baik, Pak. Terimakasih. Aku titip Aini dan anak kami. Wassalamu’alaikum.”]

[“Iya. Wa’alaikumsalam.”]

Aku segera mandi dan siap-siap menuju kantor. Ingin rasanya cepat-cepat betemu Bu Irma. “Atasan sialan,” gumamku dalam hati.

*****

Sesampainya di kantor, aku langsung menghampirinya di ruangannya. Langsung kututup pintu dan menggebrak meja.

“Apa maksud Ibu? Kenapa jadi seperti ini? Istriku pulang ke rumah orang tuanya!”

“Oh, jadi dia sudah pulang ke rumah orang tuanya? Syukur kalo gitu. Berarti kamu di rumah sendirian.’

“Wanita gila kau! Sungguh, kau gila!”

“Gila. Iya gila. Tergila-gila padamu.”

“Apa lagi yang kamu inginkan dariku?”

“Aku menginginkan kamu seutuhnya, Ridwan, tanpa istri dan anakmu itu.”

“Aku menyesal, sungguh menyesal. Aku mencintai keluargaku. Teramat besar cintaku pada keluargaku sampai aku mau meladenimu.”

“Tapi, kamu suka bukan meladeniku? Sudahlah, aku mencintaimu. Kita menikah saja bagaimana?”

“Tidak akan pernah!”

“Baiklah. Tapi ingat, ancamanku tak pernah bohong.”

Aku hanya diam dan langsung beranjak keluar dari ruangannya. Dia hanya tersenyum melihat keadaanku saat ini.

“Kenapa aku terjebak disituasi seperti ini? Aku terlalu mencintai keluargaku, sampai aku mau meladeni janda gila itu,” gumamku sembari duduk di tempat kerjaku.

Ya. Bu Irma seorang janda. Dia dicampakkan oleh suaminya karena suaminya memilih wanita lain. Dia adalah atasanku di kantor. Dia selalu mengancamku. Jika aku tak meladeninya, dia akan memecatku dan membuat keluargaku sengsara. “Bagaimana bisa aku seperti ini? Kemana imanku saat aku mau meladeninya?” Terus gumamku dalam hati.

Baca juga :  SUAMIMU MENIKMATINYA (Part 1)

“Ridwan, masuk ke ruangan saya,” panggilnya.

“Iya, Bu.” Aku bersikap biasa di depan teman-teman kantor yang lain.

Lalu, aku masuk ke ruangannya.

“Duduk. Jadi, istrimu gak ada di rumah? Iya, kan?”

Aku hanya diam tak menjawab pertanyaannya.

“Baiklah. Daripada kamu kedinginan di ranjang sendirian, kenapa kamu tak menyuruhku menginap di rumahmu?”

“Sudahlah, Bu. Sudahi semua ini. Aku lelah! Aku ingin keluargaku utuh kembali dan kerjaku normal kembali tanpa diganggu oleh Ibu,” jawabku memelas.

“Tidak semudah itu, Ridwan. Aku gak mungkin lepasin kamu. Gak akan mungkin!’

“Sudahlah, jika aku dipanggil ke ruangan ini hanya untuk membicarakan hal itu. Aku lebih baik menyelesaikan pekerjaanku,” sahutku dan beranjak meninggalkannya.

Sungguh, aku jijik padanya. Menggangguku setiap saat di kantor. Andai ada pekerjaan lain, aku ingin keluar dari kantor ini. Tapi jika dipikir lagi, cari kerja susah. Anakku masih kecil. Rumahpun masih nyicil. Sungguh, aku seperti buah simalakama.

Ya, memang kesalahanku saat itu sehingga bertambah lagi senjatanya untuk menekanku, selain ancaman memecatku. Ada acara di kantor untuk merayakan tender yang berhasil kami peroleh. Aku dipaksa minum oleh teman-temanku, termasuk oleh Bu Irma. Dia mencekokiku dengan banyak minuman keras. Padahal aku sendiri belum pernah meminumnya. Tak sadarkan diri, Bu Irma berniat mengantarku pulang. Tapi sayang, bukannya pulang ke rumah, aku malah diajak kesebuah hotel. Sungguh, efek minuman itu sangat kuat sampai aku tak sadar apa saja yang kami lakukan.

Dosa. Dosa besar. Paginya, aku terbangun tanpa busana. Aku menyesal, sangat menyesal. Aku memikirkan istriku di rumah. Kulihat Bu Irma keluar dari kamar mandi. “Wan, kamu sungguh luar biasa,” ucapnya sambil tersenyum semringah. Aku malu pada diriku sendiri. Aku malu pada istriku, bahkan pada anakku. Aku langsung lari ke kamar mandi dan memakai semua pakaianku.

“Apa yang aku lakukan, ya Allah? Sumpah! Aku tak menikmatinya. Bahkan, aku tak sadar atas apa yang aku lakukan. Zinah. Zinah,” ucapku di kamar mandi. Saat aku keluar kamar mandi, Bu Irma sudah pergi entah kemana. Lalu, aku pun pulang. Foto dan video menjadi senjata dia untuk meminta jatah kepadaku. Aku takut dia menyebarkannya atau mungkin nekat memberikannya kepada istriku.

“Aku terpaksa, ya Allah … terpaksa. Bagaimana caranya lepas dari janda gila ini?”

“Aku mencintai istriku dengan tulus. Dengan ikhlas dan dengan rasa yang sempurna. Maaf. Satu kesalahan di sebuah malam menghancurkan berjuta malam bersamamu.”


Tulisan ini telah lulus review oleh editor dan layak publish.
Copyright © Al Right Reserved 2020
Writing Prodigy Academy

Facebook Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published.