SUAMIMU MENIKMATINYA (Part 4)

Zanti
Follow me
Latest posts by Zanti (see all)

Renungan Perceraian


Pagi yang begitu tenang, sejuk dan menyegarkan karena disini masih asri dan tergolong area perkampungan, tidak seperti rumah kami dikota. Walaupun tidak begitu jauh dari sana, dapat ditempuh hanya dalam waktu satu jam setengah.

Rumah kami disini begitu sederhana. Masih ada tungku kayu bakar. Juga halaman belakang yang dijadikan kebun sayuran oleh bapak. Setelah menjalankan salat subuh, aku menghampiri ibu didapur yang sedang siap-siap membuat sarapan untuk kami.

“Ibu?” sapaku sembari duduk disamping beliau.

“Iya, Nak. Gimana tidur kamu? Nyenyak?” sahut ibu sembari memetik kangkung ditangannya.

“Alhamdulillah, Bu. Disini, aku merasa lebih tenang.”

“Syukur kalo begitu. Bagaimana cucu Ibu? Dia masih tidur?”

“Iya, Bu. Dedek masih tidur. Nyenyak sekali. Dia begitu nyaman di sini.”

“Nak, sabarkan hatimu, kuatkan hatimu dan jangan lemah imanmu pada Allah. Janganlah kamu mengambil keputusan disaat kamu marah. Pikirkan anakmu. Pikirkan masa depanmu. Ibu tidak akan menyuruhmu bercerai ataupun bertahan. Bicaralah baik-baik dengan Ridwan. Dia memintamu dari kami dengan baik-baik. Jadi, walaupun kamu harus dikembalikan kepada kami, harus dengan baik-baik pula.”

“Iya, Bu.” Ada tetesan air yang keluar dari netraku.

“Rumah tangga bukanlah hanya sebuah rumah yang ditempati oleh istri, suami, dan anak-anak. Suatu saat, pasti ada tamu juga. Entah itu tamu yang diundang ataupun tamu yang tak diundang. Bayangkan tamu itu adalah sebuah masalah. Kamu wanita, ibu juga wanita, bahkan anakmu juga wanita. Percayalah, Nak. Allah akan memberikan jalan padamu. Semua jalan yang akan Allah berikan itu pasti jalan terbaik.”

Baca juga :  SUAMIMU MENIKMATINYA (Part 5)

“Aku ikhlas, Bu. Aku serahkan semua pada Allah. Cobaan ini hanya Allah yang akan memberikan jalan keluar.”

“Ibu percaya padamu, Nak. Kamu wanita kuat. Ibu juga percaya, Ridwan lelaki yang baik sehingga kami memberikanmu padanya. Namun, manusia bisa berubah-ubah, bahkan Ridwan. Jangan tinggalkan salatmu. Tenangkan hatimu dengan berzikir dan beristigfar.”

“Iya, Bu,” ucapku sembari menahan air mata yang mengalir tak bisa kubendung lagi. Kemudian, ibu memelukku sambil mengusap punggungku. Rasanya ini menenangkan dan menyedihkan bagiku.

Terdengar tangisan anakku dari dalam kamar. Ternyata anakku sudah bangun.

“Tenang, Sayang. Cupp. Cupp. Cupp. Ada Ibu disini. Gak boleh nangis, gak boleh rewel. Anak Ibu yang cantik, salehah.” Lalu, kucium kepalanya. Mungkin, anakku masih ngantuk. Dia pun tertidur kembali.

Kuelus terus kepalanya. “Maafkan Ibu dan Ayahmu, Nak. Kami begitu egois. Ayahmu yang begitu munafik mampu menghancurkan semua impian kita.” Aku hanya mampu menahan tangis saat menatap wajah mungilnya. “Hanya kamu penguat Ibu saat ini. Hanya kamu pelita kecil yang akan Ibu jaga sampai kamu tumbuh besar.”

Semua berkecamuk dalam hati dan pikiranku, bagaikan berjalan di atas bara api; panas, sakit, dan takut.

“Bagaimana bisa kamu seperti ini, Mas? Bagimana bisa birahimu menghancurkan anak kita? Dua permata yang kau genggam. Kau buang hanya untuk sebuah batu kerikil pinggir jalan.”

~ Malamku selalu kuhabiskan denganmu. Wahai suamiku, aku mencintaimu. Imanmu yang membuatku jatuh cinta padamu. Namun, kau membakar semuanya dengan api perselingkuhan yang begitu besar, panas, dan menyakitkan ~

Bersambung …


Tulisan ini telah lulus review oleh editor dan layak publish.
Copyright © Al Right Reserved 2020
Writing Prodigy Academy

Facebook Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published.