SUAMIMU MENIKMATINYA (Part 5)

Zanti
Follow me
Latest posts by Zanti (see all)

Tamparan Keras


Tiga hari berlalu. Aku mulai bangkit, berpikir dingin, dan lebih tenang. Setiap hari, anakku menanyakan ayahnya. Dengan ucapan terbata-bata, dia sering memanggil, “Ayah … ayah.” Aku hanya bisa menenangkannya dan berusaha terlihat baik-baik saja, tanpa ada hal apapun.

Sore itu sekitar jam 17.00 WIB, kulihat mobil Mas Ridwan menghampiri rumah. Lalu, dia turun dari mobil dan segera menghampiri anak kami. Dedek pun langsung berlari kearahnya. Lalu, dedek dipeluk dan dicium olehnya. Seakan tak ada masalah apapun, dia menghampiriku, sembari menggendong anak kami.

“Assalamu’alaikum,” sapanya sembari menyodorkan punggung tangannya ke arah wajahku, seakan tak ada yang terjadi diantara kami.

“Wa’alaikumsalam.” Aku langsung berpaling dan masuk ke dalam.

Ibuku menghampiri Mas Ridwan. Mas Ridwan pun langsung mencium punggung tangan ibu. Lalu, ibu membopong anak kami dan melepaskannya dari Ridwan. Ibu langsung membawanya masuk ke kamar untuk diajak bermain.

Di ruang tamu, hanya ada kami berdua, sama-sama berdiri. Aku membelakanginya dan rasanya begitu malas melihat wajahnya.

“Maafkan aku?” sahutnya.

Aku masih diam seribu bahasa sambil mendekapkan tanganku di dada.

“Aku yang salah. Aku sangatlah salah. Maaf karena anak kita jadi korban dari keegoisan kita berdua.”

Lalu, aku menjawab, “Keegoisan kita berdua? Itu katamu? Yang egois itu kamu. Lelaki yang mementingkan birahinya, hanya untuk wanita lain! Astagfirullah … jahat kamu, Mas!”

“Biarkan aku menjelaskan semuanya padamu, Sayang. Aku melakukan ini semua agar keluarga kita tetap utuh dan bahagia!”

Plak! Satu tamparan keras mendarat di atas pipi Ridwan.

“Kebahagiaan apa? Keutuhan apa? Dengan berzinah? Dengan mencumbu wanita lain? Dosa kamu, Mas. Dosa! Aku yang setiap malam menunggumu. Aku yang setiap setelah salat mendoakanmu. Aku yang setia padamu! Kamu kecewakan dengan hal gila seperti ini! Jijik! Jijik, Mas! Membayangkan dirimu yang menghabiskan malam dengan wanita lain, aku merasa ingin muntah!” Tak bisa kubendung. Netraku memanas dan bulir-bulir air mata berjatuhan tanpa ampun.

“Aku pantas mendapatkan ini darimu. Bahkan, jika kau membunuhku, aku siap atas semua itu. Tapi satu hal, jangan meminta berpisah denganku, karena itu akan menyiksa sisa-sisa umurku,” jawabnya tertunduk dan bersimpuh.

Aku berlari ke dalam kamarku, dan membantingkan pintu sekeras-kerasnya. Hanya menangis yang bisa aku lakukan di dalam sana.

*****

“Nak Ridwan, ayo bangun,” sahut bapak yang merangkul bahu Ridwan.

“Tapi, Pak. Aku sudah berdosa kepada keluargaku sendiri. Istriku dan anakku menjadi korban.”

“Tenangkan dirimu. Ini sudah mendekati waktu magrib. Mandilah dan berwudu. Pakailah baju Bapak untuk sementara waktu.”

‘Baik, Pak.”

*****

Azan magrib berkumandang. Anakku masih bersama neneknya. Aku masih di dalam kamar menjalankan salat di samping ranjang. Setelah salat, kudengar ada suara orang mengaji dari arah ruangan sebelah. Ya, itu ruangan mushala rumah. Ruangan kecil untuk tempat salat keluarga. Kudengar suara lantunan ngajinya begitu lirih. Aku menangis karena aku sadar itu adalah suara Mas Ridwan. “Ya Allah, ya Rabb. Engkaulah yang Maha Tahu semua lukaku, kecewaku, dan sedihku. Dia suamiku. Aku mencintainya. Namun, ketika membayangkan semua hal yang dia lakukan dengan wanita itu, aku merasa begitu marah dan menggebu. Cobaan ini begitu besar dikeluarga kecil kami, ya Allah. Kuatkan aku, sabarkan aku, tenangkan hatiku. Aamiin aamiin yaa rabbal‘aalamiin.”

Baca juga :  SUAMIMU MENIKMATINYA (Part 22)

Ibu mengetuk pintu kamarku.

 “Aini, anakmu rewel. Dari tadi, memanggil-manggil kamu.” Terdengar juga tangisannya dari luar.

“Iya, Bu, sebentar,” sahutku. Lalu, kubuka pintu kamar. Saat kutengok, anakku sudah digendong oleh ayahnya, Mas Ridwan. Aku hanya diam mematung di depan pintu. Kulihat Mas Ridwan begitu bahagia mengajak anakku dalam gendongannya.

“Ayo makan dulu. Kalian berdua belum pada makan dari tadi siang,” sahut bapak menghampiri kami berdua.

“Baik, Pak,” jawab Mas Ridwan dan mulai berjalan menuju ruang makan.

Lalu, bapak menghampiriku. “Nak … Bapak harap, kamu tidak ribut dengan Ridwan di depan anak kalian. Jangan membuatnya melihat keributan kedua orang tuanya. Itu tidak baik untuk anak kalian di masa depan.”

“Baik, Pak,” jawabku sambil mengangguk.

*****

Dimeja makan, aku duduk di sebelah Mas Ridwan yang terus memangku anak kami. Sembari makan, aku menyuapi anakku. Begitu pula Mas Ridwan yang begitu lahap menyantap makanan di meja. Mungkin, dia kurang makan selama kutinggalkan sehingga dia begitu semangat melahap semua yang terhidang di meja.

“Ridwan, kamu menginap saja dulu untuk malam ini. Sudah terlalu malam. Lagipula besok Minggu. Kamu libur, kan?” sahut bapak setelah selesai makan.

“Baik, Pak. Aku akan menginap untuk malam ini,” jawabnya singkat dan menatap diriku.

Aku hanya diam tak mengeluarkan kata apapun. Setelah membereskan semua makanan dan piring, kugendong anakku dari pangkuannya dan beranjak ke kamar.

Ayah dan ibupun beranjak ke kamar mereka. Aku segera masuk ke kamar dan mengunci pintunya. Saat di dalam kamar, kudengar Mas Ridwan mencoba membuka pintu kamar, tetapi aku hanya diam.

Pukul 23.00 WIB, aku membuka pintu pelan-pelan. Kulihat Mas Ridwan tidur di kursi panjang di ruang tamu. Tampaknya dia kedinginan. Aku segera mengambil selimbut di dalam kamar dan memakaikannya pada tubunya. Kutatap wajahnya. Marah, sedih, kecewa, kasian. Semua tercampur aduk di saat itu.  “Lelaki seperti apa kau ini, Mas? Mudah sekali mempermainkan hati istrimu, aku bingung dengan sikapmu yang begini,” gumamku dalam hati.

Akupun berpaling darinya dan memasuki kamarku kembali.

~ Marahku adalah rasa kecewaku, rasa sayangku, dan rasa peduliku padamu. Suamiku. Aku berharap mampu terus bersamamu sampai ke janah Allah. Namun jika ada wanita lain, aku akan memilih mundur dan berjalan sendiri ~

Bersambung …


Tulisan ini telah lulus review oleh editor dan layak publish.
Copyright © Al Right Reserved 2020
Writing Prodigy Academy

Facebook Comments

12 Comments












Leave a Reply

Your email address will not be published.