SUAMIMU MENIKMATINYA (Part 6)

Zanti
Follow me
Latest posts by Zanti (see all)

Penjelasan

Suara azan subuh berkumandang. Aku segera mengambil air wudu dan menjalankan salat subuh. Setelah melipat sajadah dan mukena, aku segera keluar kamar untuk menghampiri ibu di dapur. Saat aku membuka pintu, Mas Ridwan sudah berdiri di depan pintu. Dengan tertunduk, dia perlahan menaikkan pandangannya padaku.

“Aini, istriku, maafkan aku. Dengarkan penjelasanku. Aku akan menceritakan semuanya padamu.” Terlihat matanya yang memerah dan ada butiran-butiran air mata di ujungnya.

“Baiklah, Mas. Insyaallah aku sudah siap mendengar semua pembelaanmu,” sahutku beranjak menuju kursi.

“Aini, Irma adalah atasan Mas di kantor. Dia adalah seorang janda ….” Semua diceritakan dari A sampai Z.

Kesalahannya, kekhilafannya, dan penyesalannya. Terdengar jelas dari ucapannya yang bercerita sambil menangis. Tak ada kata yang terucap dari mulutku. Aku tak membalas semua ucapannya. Aku pun berlalu ke belakang menghampiri ibu. Mas Ridwan hanya diam, pasrah.

Setelah beberapa jam di dapur bersama ibu, ku menghampiri Mas Ridwan sembari menggendong anak kami.

“Ayo, kita sarapan, Mas,” ajakku padanya.

‘Baiklah, sini. Biar aku yang nggendong anak kita,” ucapnya  sembari mengulurkan tangan pada anak kami.

Aku berlalu ke dapur dengan muka datar dan biasa. Sampai selesai makan. aku belum membalas apapun kepada Mas Ridwan. Orang tuaku pun biasa saja. Mereka tak mau terlalu ikut campur dalam rumah tangga kami. Mereka hanya menjadi penengah yang luar biasa. Sungguh, aku bangga memiliki mereka berdua. Begitu pula Mas Ridwan karena beliau sudah menjadi yatim piatu dan menganggap orang tuaku sebagai orang tuanya.

*****

Waktu menjelang siang. Untuk mengisi kekosongan, aku suka bercocok tanam di kebun belakang milik bapak, begitu pula anakku. Dia begitu menyukainya. Ada banyak hal yang dia pelajari di sini. Aku dan anakku beristirahat di saung belakang. Kemudian, Mas Ridwan menghampiri sembari membawakan air minum.

Baca juga :  SUAMIMU MENIKMATINYA (Part 8)

“Aini, semenjak aku menceritakan semua hal padamu, kau hanya diam. Tak membalas ucapanku.” Dia duduk di sampingku.

“Lalu, aku harus bagaimana?”

“Apa kau sudah tak marah?”

“Aku marah! Sangatlah marah. Sampai-sampai ingin rasanya aku memukul wajahmu, dan wajah wanita jalang itu. Tapi, aku tak ingin dikuasai amarah dan emosiku.”

“Lalu, bagaimana sekarang? Apa kau ingin pulang ke rumah kita bersamaku?”

“Tidak! Aku tidak akan pulang, sebelum masalah ini selesai. Keluarlah dari kantor itu. Namun sebelum itu, pertemukan aku dengan Irma, atasanmu. Aku ingin bicara padanya, dari wanita ke wanita, dan dari hati ke hati.”

“Baik, akan kuusahakan, kuturuti semua keinginanmu, istriku. Aku ingin kita seperti dulu. Sederhana dan bahagia bersama anak kita.”

Kemudian, aku berlalu sembari menuntun anak kami masuk ke dalam rumah. Kutinggalkan dia sendiri di saung agar dia bisa berpikir dan merenungkan semua kesalahannya.

*****

Menjelang sore bakda asar, Mas Ridwan pamit. Dia akan pulang ke rumah kami. Dia berpikir, jika menginap lagi di sini, dia takut kesiangan ke kantor karena perjalanan terlalu jauh.

“Ridwan pamit dulu, ya, Pak, Bu?” ucapnya sembari mencium punggung kedua tangan orang tuaku.

‘Aku akan kembali lagi untuk menjemput anak dan istriku, Pak. Untuk sementara waktu, aku titip mereka. Sebelumnya, terimakasih atas semuanya, Pak, Bu.”

“Baiklah, Nak. Apapun yang terjadi, kamu sudah saya anggap sebagai putra kami. Tapi satu hal, bersikaplah sebagai laki-laki jantan,” sahut bapak.

“Baik, Pak. Aini, istriku. Aku titip anak kita. Wassalamu’alaikum,” pamitnya sembari menyodorkan pungung tangannya.

“Wa’alaikumsalam.” Aku pun mencium punggung tangan suamiku. Setelah menciumi anak kami, diapun berlalu menaiki mobilnya.

~ Sebagai wanita, aku tahu luka Bu Irma. Tapi, kenapa lukannya harus ditularkan kepada wanita lain? Aku mencintai suamiku dan mencintai keluargaku. Aku harus pertahankan rumah tanggaku ~

Bersambung …


Tulisan ini telah lulus review oleh editor dan layak publish.
Copyright © Al Right Reserved 2020
Writing Prodigy Academy

Facebook Comments

12 Comments













Leave a Reply

Your email address will not be published.