SUAMIMU MENIKMATINYA (Part 1)

13
Zanti
Follow me
Latest posts by Zanti (see all)

“Suamimu menikmatinya”

Ucapan itu yang terus mendengung dipikiranku. Rumah yang kami bangun, dan kami jaga bertahun-tahun. Akan segera hancur oleh seorang tamu yang sengaja diundang suamiku.

Ku tatap langit-langit kamar, dengan pipi yang basah oleh air mata kekecewaan yang mengalir deras. Apa yang dia lakukan ? Menghancurkan hubungan yang kami jaga hanya untuk wanita penggoda.

Putri ku yang berumur dua tahun, tertidur pulas disampingku.

Masih terdengar jelas ucapan wanita itu. Aku hancur! Ingin ku teriak dan menghempaskan tubuh lelaki yang selama lima tahun tidur disampingku.

Sampai saat ini dia belum pulang. Mungkin masih menemani peliharaannya, menahan emosi yang menggunung. Ingin rasanya menghancurkan semua vas-vas bunga di depannya. Tapi, aku mengingat putriku yang tidur di sampingku sembari menggenggam tanganku seolah menahanku dari amarah itu.

“Maafkan ibu nak. Taman bunga yang ibu dan ayahmu bangun untukmu telah di injak-injak dan dihancurkan oleh ayahmu sendiri!” tangisku mengelus kepala mungilnya.


“Tokk … tokk … tokk …,” Suara orang mengetuk pintu, tepat jam 23.00 WIB aku bangun lalu ku bukakan pintu, itu adalah suamiku.

“Maaf bu ayah baru pulang kerja jam segini tadi mendadak lembur,” ucapnya yang sembari berjalan masuk ke dalam rumah, kemudian duduk di sofa.

Aku hanya berdiri diam, menahan air yang ingin keluar dari kelopak mataku. Dengan sabar ku tahan emosiku, dengan sabar ku tahan ucapanku dan amarahku.

“Ayah tadi siang ada tamu datang kesini,” ucapku padanya.

“Siapa bu ? Apakah temanmu ? Atau mungkin teman ayah ?.” Jawabnya seakan tak thau apa-apa.

“Dia Irma, mungkin teman ayah karena dia menanyakan ayah, lagi pula akupun tak kenal dia siapa.”

 Dia kaget, berdiri dan menatapku serius.

“Irma. Irma siapa bu ? Ahh ayah tak kenal!” ucapnya mengelak.

Aku masuk ke dalam kamar dengan diam tak bicara. Lalu aku keluar kamar sembari membawa buku nikah, fotokopi KK, fotokopi KTP dan surat-surat penting lainnya.

“Ini yah ibu ikhlas, ibu ridho, ibu tahu semua. Semuanya telah wanita itu ucapkan, dan ceritakan. Dia juga memperlihatkan foto dan vidio saat menghabiskan waktunya dengamu. Ibu siap diceraikan oleh ayah! Jika memang bukan aku lagi sebagai wanita yang kamu cintai, apalagi yang harus kita pertahankan? Jujur aku tak siap di madu!” Tak tahan dengan kondisi malam itu, akupun menangis.

“Apa yang ibu lakukan? Ayah tidak ingin menceraikan ibu. Anak kita bagaimana? Ini hanya salah paham. Ayah akan perbaiki semuanya. Maaf, maaf, maaf.”

Baca juga :  SUAMIMU MENIKMATINYA (Part 2)

“Maaf” adalah satu-satunya kata yang dia ucapkan terus-menerus sampai aku masuk ke kamar dan mengunci pintu.

Aku menghampiri anakku, kucium dan elus kepalanya. Menahan tangis dan sesak di dada. Lalu ku bereskan pakaianku dan pakaian putriku. Besok aku akan pulang ke orang tuaku. Terdengar dari luar suara teriakan dan suara barang-barang yang dilempar, ku tutup telinga anakku agar dia tak bangun dan mendengar keributan di luar.

Semua ucapan wanita itu tadi siang masih ku ingat jelas.

“Permisi apakah ini rumah pak Ridwan Maulana?”

“Iya betul saya istrinya. Maaf mbak siapa? Ada keperluan apa dengan suami saya?”

“Ouh situ istrinya? Engga sih, saya malah ada urusannya sama situ. Kalo boleh mendingan ngobrol di dalem dari pada di luar.”

“Mari masuk mbak” ajak ku padanya.

Kami pun masuk ke dalam rumah. Pakaiannya yang seksi membuatku risih. Siapa dia? Seperti orang yang tak punya tatakrama.

“Silahkan duduk mbak”

“Ok”

“Mbak siapa? Dan ada perlu apa ya mbak ?”

“Nama saya Irma Anggraeni. Saya kesini cuma mau ngasih liat video sama foto.”

“Foto? Video? Maksudnya?”

“Coba lihat sendiri saja …” sembari menyodorkan handponenya. Astagfirullah! Ku lihat itu suamiku, tanpa baju dibalut selimut, bersama wanita ini.

“Maaf mbak apa maksudnya ini?”

“Jadi gini ya. Suami kamu itu pacar saya, dan bisa dibilang lebih dari pacar selayaknya suami istri. Saya sih cuma mau ngasih tau ke kamu, bahwa suami kamu itu tidak mencintai kamu lagi. Atau mungkin dia bosan. Hampir setiap sore suamimu selalu menikmati tubuhku… ups“.

Aku diam menahan tangis, menahan marah, menahan kepalan tangan yang sudah mengeras. Ingin kutampar wanita dihadapanku ini.

“Bagaimana bisa suamiku mencumbu wanita lain? Bagaimana bisa suamiku menikmati tubuh wanita lain?” Semua pertanyaan tertanam dipikiranku.

“Ya udah deh. Toh sekarang kamu sudah tau. Aku mau pulang … Sekali lagi aku ingatkan ya, SUAMIMU MENIKMATI TUBUHKU! Salam cinta untuk suamimu ya.” ucapnya sambil tersenyum. belum sempat aku memaki dia, dia berlalu keluar rumah dan pergi.

Aku membanting pintu! Aku menangis, aku menjerit, aku tersimpuh. Tiba-tiba anakku berlari kecil dari arah kamar menuju diriku sembari menangis. Aku segera menghapus air mataku, mencoba tersenyum. “Dedek
udah bangun sayang? Dede kaget ya dengar suara pintu tadi? Maafin ibu ya sayang.” Kucium dan kugendong ia untuk meredakan tangisnya.

**

Menahan tangis ini, sesak ini, dan sakit yang begitu dalam, aku terisak-isak tak henti karena sebuah penghianatan. Suamiku yang aku banggakan, dia yang selama lima tahun tidur denganku. Ternyata sering menghabiskan waktu dengan wanita jalang! Suamiku yang aku percayai menjadi imamku hanyalah suami penghianat! Munafik! Tak setia!

Bersambung …


Tulisan ini telah lulus review oleh editor dan layak publish.
Copyright © Al Right Reserved 2020
Writing Prodigy Academy

Facebook Comments

32 Comments

































Leave a Reply

Your email address will not be published.