ANAK SEORANG PEMBANTU YANG MENJADI DOKTER

Ns. Satya Putra Lencana RN
Follow me

Membaca buku mungkin belum menjadi kebiasaan yang favorit bagi sebagian orang, selain karena tidak terbiasa juga belum menjadikan kebiasaan membaca sebagai kebutuhan.

Adakalanya kita perlu merenung, melihat bagaimana proses orang-orang besar yang mampu muncul ke permukaan dari dalamnya dasar kebodohan dan ketertinggalan. Ternyata, salah satu resep rahasianya adalah dengan aktif membaca. Apapun dan dimanapun.

Inilah kisah tentang Sonia Carson. Seorang ibu yang berhasil mendidik anak-anaknya di tengah sulitnya kehidupan ekonomi keluarga, bahkan harus mengalami perceraian. Namun dia tetap kokoh, bertahan dan terus bangkit hingga akhirnya mampu mengantarkan putranya, Benjamin Carson menjadi salah satu orang yang mampu menorehkan tinta emas dalam sejarahnya dan negara.

Seorang pemuda berkulit coklat, “Benjamin Carson” dilahirkan pada September 1951 dari seorang ayah yang bekerja sebagai buruh perusahaan pabrik dan ibu yang putus sekolah sejak kelas tiga sekolah dasar yang membesarkannya.

Pada awal kehidupan, Carson dan kakaknya hidup bersama ayah mereka. Tetapi ketika Carson berusia delapan belas tahun dia hidup terpisah dari ayahnya karena kemiskinan ekstrim yang memukul kondisi keluarganya dan membuat ayahnya pecandu narkoba.

Sang Ibu, Sonia, lebih memilih untuk bercerai daripada harus tinggal bersama pecandu narkoba. Dia bersama kedua putranya hijrah ke Boston, Negara Bagian Massachusett untuk tinggal bersama dengan saudaranya.  Mereka tinggal di sebuah apartemen yang jorok dipenuhi dengan serangga dimana terletak di tengah daerah perumahan dan banyak kedai minuman serta kriminalitas.

Ben Carson

Sesampainya Sonia di sana, dia menolak untuk tinggal dengan hanya bergantung pada bantuan kesejahteraan sosial. Dia mencari pekerjaan untuk membiayai kebutuhan hidupnya. Ada bayak sekali tawaran, tetapi pilihan terbaik dari semuanya adalah menjadi pembantu di rumah seorang laki-laki kaya dengan bayaran sangat rendah. Dia bekerja mulai subuh setiap hari meninggalkan kedua putranya. Dia biasanya pulang sebelum tengah malam. Dia sering menerima cacian dibawah bayang-bayang rasisme, tetapi dia tetap berjuang demi untuk membesarkan putranya menjadi generasi yang baik sebagaimana yang ia impikan.

Setelah dia bekerja sebagai pembantu selama dua tahun, dia bisa mengumpulkan uang untuk ditabung. Suatu hari dia pulang ke kampung asalnya dan melanjutkan pekerjaannya sebagai pembantu juga.

Setelah Carson dan saudaranya tumbuh dewasa, mereka pergi ke sekolah tetapi sang ibu tidak bisa mengikuti perkembangan mereka di sekolah karena kesibukan di luar rumah. Kehidupan mereka menjadi sangat sulit karena kemiskinan. Carson menjadi tak terkontrol dan berperilaku nakal. Dia sering menyerang teman sekolahnya dan dia juga tak bisa mencapai target capaian di kelas hingga dia dijuluki “Stupid” (baca : “Bodoh”).

Meskipun sang ibu tak berpendidikan, tetapi dia selalu memberikan dukungan dan mendorong Carson untuk belajar. Dia berpikir lebih jauh tentang bagaimana membuat kedua putranya bisa belajar dan menjadi siswa unggulan sebagaimana anak orang kaya. Sebagai seorang pembantu, dia biasa memperhatikan anak-anak orang kaya menghabiskan berjam-jam waktunya setelah membaca buku untuk bermain di jalanan atau nonton TV. Oleh karena itu, dia mengambil keputusan untuk mendidik putra-putranya lebih banyak membaca buku dan mencegah mereka untuk nonton TV atau bermain di jalanan selain pada waktu-waktu tertentu. Dia meminta mereka untuk menyelesaikan membaca dua buku dalam seminggu dan menuliskan laporan hasil membacanya. 

Baca juga :  UNSUR & STRUKTUR TULISAN/CERITA NON FIKSI

Pada awalnya, kedua putranya menolak keputusannya, tetapi ibu mereka tetap kokoh pada keputusannya. Segera, kedua putranya bergegas melakukan apa yang Sonia perintah. Ketika tetangganya mendengar keputusan Sonia, mereka menentang pola pikirnya yang akan menyebabkan anak-anaknya kekurangan masa bermain dan menonton TV mereka. Tetapi, Sonia tetap bulat dengan keputusannya dan itu tak menghalanginya dari apa yang dia mau.

Carson mengatakan, “Aku tak memiliki waktu, meskipun hanya lima menit saja selain aku terus membaca buku. Tak peduli dimanapun, meskipun sedang menunggu bus, di perjalanan di dalam bus atau bahkan sedang berada di meja makan. Ibuku yang selalu mendorongku untuk membaca buku sampai-sampai berteriak, Benjamin! Letakkan bukumu dan makanlah dulu!”.

Carson menjadi unggul dan berprestasi hingga dia lulus sekolah SMA dan memenuhi keinginannya menjadi seorang dokter ketika dia lulus melewati ujian masuk perguruan tinggi kesehatan di Universitas Michigan. Dia selalu semangat membara selama kuliah sampai dia lulus. DIa mulai ikut pelatihan setelah kelulusannya menjadi dokter di sebuah rumah sakit terbaik dimana dia mendapatkan pengalaman sangat banyak di bidang Bedah Saraf Anak. Meskipun dia masih muda, dia ditugaskan menjadi Kepala Departemen Bedah Saraf Anak di Universitas John Hopkins. Pada saat itu, Carson adalah satu-satunya dokter yang paling muda dengan usia 33 tahun.Dia menjadi sangat ahli dalam bedah saraf anak yang kompleks sekalipun sehingga banyak orang tua di seluruh Amerika mulai membawa anak mereka ke Carson dimana memiliki penyakit berbaya dan membutuhkan bantuannya.

Benjamin Carson menjadi satu diantara ahli bedah terkenal dunia yang melakukan ratusan operasi dalam setahun dalam kategori kasus paling kompleks dan sensitif dalam tubuh manusia. Selain anugerah dari Tuhan, penghargaan tinggi pantas diberikan untuknya karena telah berhasil melakukan operasi pemisahan dua kepala bayi kembar yang dempet (baca : Jawa ‘gandeng’).

Pada tahun 2001, perpustakaan Congress menyatakan Carson sebagai salah satu dari The Living Legend. Pada tahun 2009, mantan Presiden Amerika, George W Bush menganugerahi Carson Medali  Kepresidenan di Istana dimana penghargaan tersebut adalah penghargaan paling tinggi negara untuk warga sipil. Pada tahun 2015, Carson menjadi satu dari Calon Presiden Amerika dari Partai Republik.

Benjamin Carson dan Sonia Carson

Sahabat,
Peradaban sebuah bangsa yang maju ternyata di mulai dari rumah kita, dari diri kita dan keluarga kita. Mulai sekarang, tanamkanlah gerakan membaca. Dukung apapun genre yang disukai anak-anak kita, sediakan setiap buku bacaan apapu di tiap sudut rumah, ruang tamu, bahkan kamar.

Mengubah pola perilaku itu tidak dalam waktu singkat, butuh sabar dan pola yang diulang dalam waktu yang panjang. Demikian, mendidik anak itu seperti menanam. Bisa jadi hasilnya baru bisa dipetik 5 sampai 10 tahun mendatang. Siapa yang menanam, dialah yang menuai hasilnya.

Maka, berikan contoh sebelum mencontohkan dan berinvestasilah pada investasi yang sesungguhnya.

(Satya Putra Lencana)


DAFTAR PUSTAKA

Khuzayyim, S. M (2019). InspirersKing Fahd National Lybrary Catalogin in Publication Data. 97 p. Adab Book : Damam


Kisah ini diterjemahkan dari Buku Inspirers karya Saleh Mohammed Alkhuzayyim – Best Seller International
Copyright © Al Right Reserved 2020
Writing Prodigy Academy

Facebook Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published.