DIA MENULIS KISAH DENGAN KELOPAK MATANYA

Ns. Satya Putra Lencana RN
Follow me

Setiap kita pasti pernah mengalami momen-momen demotivasi tentang suatu hal. Bisa jadi karena kesulitan yang datang atau ketidakmampuan diri yang menjangkit. Jika kita jatuh pada lubang ini, sebaiknya segera mencari penawarnya. Obat terbaik untuk membangkitkan kembali semangat membara salah satunya adalah dengan belajar dari kisah orang lain.

Inilah kisah tentang Jean Dominique Bauby, seorang jurnalis dan editor terkenal yang harus menerima dengan ikhlas nasibnya. Kemalangan yang merenggut ruang geraknya di usianya 43 tahun. Terdiagnosa lumpuh total tak menjadikannya putus asa untuk menghasilkan karya. Iya, sebuah maha karya besar yang menjadi tinta emas terakhir dalam hidupnya sebelum akhirnya dia meninggal dunia.

Setelah Bauby lulus dari univertitas, dia mulai mencari sebuah pekerjaan di Paris. Dia bekerja untuk beberapa perusahaan koran dan majalah di Prancis. Mulanya, dia bekerja sebagai editor, kemudian dia selangkah demi selangkah dia dipromosikan sampai dia menjadi seorang jurnalis unggulan. Lalu, dia masuk di dalam nominasi sebagai seorang kepala editor di sebuah Perusahaan Majalah terkenal di Prancis, “Elle” namanya. Kemudian, beban pekerjaan mulai terakumulasi dan membuatnya mengidap stress berat setiap hari. Dia mulai merasa kelelahan daya pikirnya setiap kali bekerja di pagi dan malam hari, dilain hal, dia harus pulang bertemu istri dan anaknya sehingga itu membuat mereka sulit untuk saling bertemu dan bertatap muka, bersenda gurau satu dengan lainnya.

Pada tahun 1995, pada saat Bauby berusia 43 tahun, tanpa tanda gejala awal, tiba-tiba dia jatuh dan tak sadarkan diri hingga pada akhirnya dia koma selama 20 hari. Ketika dia mulai sadar, dia menyadari bahwa semua anggota tubuhnya lumpuh (Complete Paralyzed), tidak bisa berbicara dan tidak bisa bergerak sama sekali, yang tersisa hanyalah kelopak matanya sebelah kiri.

Baca juga :  TRAVELOG

Hari-hari berikutnya, Bauby memaksakan diri untuk melewati masa-masa sulit itu semua dan mencari cara bagaimana agar dia bisa berkomunikasi. Lalu, dia menyadari, bahwa satu-satunya cara terbaik yang bisa dia lakukan adalah dengan menggerakkan kelopak mata sebalah kirinya.

Menghadapi kesulitan ini, dia merasa tertantang dan memutuskan untuk menulis sebuah buku berjudul “The Diving and The Butterfly” dengan dibantu oleh mantan asistennya dimana dia bekerja seabgai Kepala Editor dulu yang datang setiap hari minimal 3 jam ke rumah sakit untuk mendikte apa yang disampaikan Bauby lewat kelopak matanya.

Akhirnya, Bauby berhasil menyelesaikan buku yang berjulam 137 halaman tersebut dengan usaha kerasnya lebih dari 200 ribu kali gerakan kelopak matanya (kedipannya). Buku tersebut akhirnya diterbitkan pada tahun 1997 lalu difilmkan di layar lebar para tahun 2007 berdasarkan kisah nyata di balik pembuatan buku itu. Film tersebut memeraih penghargaan bertubi-tubi kelas bergengsi di berberapa nominasi. Namun, sayangnya, Bauby meninggal dunia tiga hari setelah bukunya diterbitkan.

Bauby saat mendikte tulisannya dalam kondisi bedrest total di rumah sakit

Menulis bukanlah sebuah pelampiasan hasrat dan bakat, tapi ia adalah cara terbaik meninggalkan jejak untuk masa depan.

Banyak orang memiliki cerita hidup yang mengagumkan, atau perjuangan hidup yang harum untuk di kenang. Memang, itu pilihan. Mau diasah dan menginspirasi banyak orang atau hanya disimpan dan menjadi kenangan.

Jika seorang fotografer mengabadikan momen terbaiknya dengan foto, maka tuliskan setiap moment terbaikmu dengan tulisan. Siapa tahu ia akan menjadi usia kedua dan abadi setelah raga ini telah tiada.

(Satya Putra Lencana)


DAFTAR PUSTAKA

Khuzayyim, S. M (2019). Inspirers. King Fahd National Lybrary Catalogin in Publication Data. 43 p. Adab Book : Damam


Kisah ini diterjemahkan dari Buku Inspirers karya Saleh Mohammed Alkhuzayyim – Best Seller International
Copyright © Al Right Reserved 2020
Writing Prodigy Academy


Facebook Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published.