SI BIRU MUDA DAN HITAM PUSAKA : JARAK ANTARA DUA DIMENSI

Didit Tri Putranto
Follow me
Latest posts by Didit Tri Putranto (see all)

Hanya di hitungan jari, saat sua sekejap itu abadi
Di antara goresan yang membekas, masih terasa lekas seberkas jelas
Tak pun lupa warna biru muda dan hitam yang biasa disandang
Aahh, mengapa begitu terasa kala malam sendiri

Coba mengumpulkan remah-remah tercecer
Dari gurauan tak sadar, canda kelakar, menjadi kultus agar sabar dari semua cabar
Namun tetap saja biru muda dan hitam itu menggoda sendu dan rindu
Tak dinyana, ia ikut menyeret rintik di hati
Meresapkan emosi tertahan dari butir di pipi

Pernah ada satu kata kala suara itu menggema, “Ijinkanlah bingkai ini tetap menjadi hak milik di sini, walaupun senyum tak cukup untuk itu”
Namun apa lacur, tatap senyum itu tak pernah ada, tak bisa terkupas tuntas
Waktu memakannya dengan ganas
Lagi-lagi yang menggoda hanya biru muda dan hitam pusaka

Harapan itu memang kebahagian semu, layaknya petualang hilang
Terkukung air seribu laksa, haus dan terus haus
Berharap tepi namun tak kembali

Untukmu saudaraku, adikku, temanku.
Damailah, Tuhan menyayangimu

Baca juga :  WULAN MERINDU

Tulisan ini telah lulus review oleh editor dan layak publish.
Copyright © Al Right Reserved 2020
Writing Prodigy Academy

Facebook Comments

20 Comments




















Leave a Reply

Your email address will not be published.