SUAMIMU MENIKMATINYA (Part 10)

Zanti
Follow me
Latest posts by Zanti (see all)

Pertemuan Keluarga

Seminggu berlalu setelah kejadian waktu itu. Sungguh, aku sangat risau atas semua ini, anakku tak terurus olehku. Untung ada ibu yang sabar merawat dan mengajaknya main. Aku kurang tidur, bisa dibilang sedikit frustasi.

Pagi ini, aku terima pesan dari Mas Ridwan.

[Istriku, Bu Irma siap bertemu dengan ayah dan ibumu. Tolong sampaikan, sore ini bakda asar,aAku akan menjemput mereka. Mereka akan bertemu di cafe yang kemarin.]

[Iya!] balasku singkat

[Istriku. Aini, jangan seperti ini. Aku sering menghubungimu, namun kau masih diam dan tak pernah membalas pesanku. Sungguh, aku minta maaf.]

Aku tak membalas pesannya lagi. Jujur, aku masih marah dan melihat wajahnya pun aku masih enggan. Aku bicara pada ibu dan ayah bahwa Mas Ridwan akan menjemput mereka bakda asar nanti.

*****

Setelah salat asar, aku lihat ibu dan bapak sedang bersiap-siap.

“Pak, Bu. Tolong jangan ada yang disembunyikan dari obrolan bapak dan ibu nanti. Aku ingin tahu semua hal, termasuk apa mau wanita itu,” pintaku sembari menggendong anakku.

“Iya, Nak. Insyaallah, semoga setelah pertemuan ini, kita semua menemukan titik terang dan jalan keluar.’

“Iya, Bu. Aamiin.”

“Sepertinya, itu suara mobil Ridwan. Ayo, Pak. Kita berangkat,” ajak ibu sembari menoleh ke arah jendela.

“Kami berangkat dulu, ya, Aini. Jaga cucu kami. Serahkan semuanya pada Allah,” ucapnya sembari menyodorkan punggung tangannya padaku, “Wassalamu’alaikum.”

“Wa’alaikumsalam, hati-hati, Pak, Bu!”

*****

Point of View (POV) : Ridwan

Di dalam mobil, bapak dan ibu mertuaku hanya diam dan saling menggenggam tangan, terlihat sepertinya mereka grogi. Jujur, aku tak tahu apa yang akan kedua mertuaku katakan pada Bu Irma. Aku mengendarai mobil dengan cepat. Sesampainya di café, aku nengajak bapak dan ibu untuk masuk dan memesan minuman terlebih dahulu, karena Bu Irma belum sampai ke sini.

Baca juga :  SUAMIMU MENIKMATINYA (Part 17)

“Nak Ridwan, bisakah kami meminta satu hal darimu?” pinta bapak mertuaku.

‘Iya, Pak. Apa itu?”

“Ketika kami berdua mengobrol dengan Irma, bisakah kamu keluar dari sini dan meninggalkan kami bertiga untuk beberapa waktu?”

“Lho? Kenapa, Pak?” tanyaku sambil mengerutkan dahi.

“Tidak apa-apa, kami hanya inginkan itu, agar obrolan kami lebih intens,” jawab bapak.

“Baik kalo begitu, Pak. Tapi, aku mohon. Tolong cerita, apapun yang kalian obrolkan. Aku ingin tahu semuanya.”

“Insyaallah!” jawab bapak singkat.

Aku lihat Bu Irma datang dan mulai berjalan ke arah kami.

“Assalamu’alaikum,” sapa ibu padanya.

Namun, Bu Irma tak menjawab dan langsung duduk. Lalu, bapak menepuk pundakku.

“Maaf, Bu Irma. Mereka sudah saya anggap orangVtua saya sendiri. Jangan berani macam-macam pada mereka. Saya harap, ibu mengerti itu. Saya ingin ibu mengobrol dengan mereka untuk menemukan jalan terbaik dari masalah ini. Aku pamit keluar dulu,” ucapku pada mereka bertiga yang sudah duduk dalam satu meja.

*****

Jujur, aku bingung dan memikirkan apa yang akan mereka bicarakan? Aku takut dan gelisah. Tapi aku berpikir positif, semoga saja dengan cara ini, keluargaku bisa utuh lagi seperti dulu dan semoga ada titik temu dari semua masalah ini. Jujur, aku tak pernah mencintai Bu Irma. Itu hanyalah kekhilafan semata.

Namun anehnya lagi, dengan mudahnya Bu Irma langsung mau bertemu dengan kedua mertuaku, saat aku membicarakan pertemuan ini padanya. Dia malah tersenyum dan mengatakan siap untuk bertemu dengan ibu dan ayahnya Aini.

Aku berpikir, sebenarnya apa yang dia rencanakan? Apakah dia akan menghasut kedua mertuaku? Atau bagaimana? Rasanya aku ingin kembali lagi ke cafe dan mendengarkan semua percakapan itu.

Bersambung …


Tulisan ini telah lulus review oleh editor dan layak publish.
Copyright © Al Right Reserved 2020
Writing Prodigy Academy

Facebook Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published.