SUAMIMU MENIKMATINYA (Part 11)

Zanti
Follow me
Latest posts by Zanti (see all)

PENGAKUAN

Point of View (POV) Bapak Aini

Begitu jelas wajahnya kulihat hari ini, tak pernah aku lupa. Bocah berumur empat tahun yang kutinggalkan bersama mantan istriku, rasanya aku ingin memeluknya, menciumnya, dan mengelus kepalanya. Dia yang tak pernah sempat aku didik, dia yang hampir 25 tahun aku tinggalkan. Sekarang duduk bersama denganku dan istriku di meja yang sama. Rasanya waktu berhenti kala k tatap wajahnya yang begitu mirip dengan ibunya.

“Apa kabar, Irma Anggraeni?”

“Apa aku harus jawab pertanyaanmu, Pak tua?”

“Anakku!” ucapku sembari menahan genangan di mata.

“Siapa yang kau panggil anak?” jawab Irma.

“Kau adalah anakku. Iya anakku!”

“Najis! Enak saja kau bicara, kata siapa aku anakmu?”

“Masih teringat jelas wajahmu di pikiran Bapak, Nak. Dan masih kuingat tahi lalat yang tumbuh di ujung dagu kananmu.”

“Terus jika kamu masih ingat kepadaku, itu akan mengubah semua yang sudah terjadi?”

“Nak, kenapa kamu menjadi seperti ini?”

“Seperti apa? Seperti dia, bukan?” umpatnya sembari menunjuk ibunya Aini.

“Nak, ini salah, benar benar salah. Kenapa kamu membalaskan semua bencimu kepada adikmu sendiri? Kami akan menjelaskan semuanya dan apa yang sebenarnya terjadi pada masa lalu kami.”

“Persetan! Aku tak peduli. Aku akan melihat kalian hancur. Aku akan membuat Aini gila dan frustasi sepertiku.”

“Dia masih adikmu, Nak. Aini masih adikmu! Apa kau tega? Bahkan, kau berzinah dengan suami adikmu itu adalah dosa besar!” potong Istriku yang ikut bicara.

“Persetan! Jangan ikut bicara kau, wanita jalang! Kamu tidak tahu rasanya jadi aku dan ibuku. Saat Bapak lebih memilihmu ketimbang keluarganya. Apa kau tahu rasanya jadi kami berdua?! Bahkan bertahan hidup saja susah!”

“Maafkan aku, Nak. Maafkan kami berdua. Kami sadar, ini adalah kesalahan kami. Tapi, kenapa kau tak membalas semuanya pada kami berdua? Bukan pada Aini, adikmu,” ucap istriku, tak bisa menahan bendungan air matanya.

“Menangislah! Aku suka melihamu menangis. Dasar wanita jalang!”

“Ini semua kesalahan Bapak, Nak. Sebenarnya, dulu aku dan ibumu itu dijodohkan oleh orang tua kami, dan sebelum aku mengenal ibumu, aku terlebih dahulu sudah menjalin hubungan dengan ibunya Aini. Tapi, ibumu memaksa untuk tetap menikah denganku. Dia memohon untuk miminta seorang anak dariku. Awalnya aku tak mau, namun ibumu menjadi frustasi dan menyiksa dirinya sendiri. Dia tak mau makan dan mengurung diri di kamar. aku dilema, dan tak ada rasa cinta pada ibumu. Namun karena iba, aku mau menikahinya dan ibumu hamil. Setelah kelahiranmu, aku memohon pada ibumu untuk bercerai karena akupun tak sanggup menahan dilema ini. Menunggu empat tahun, aku sudah tak sanggup lagi. Aku menahan cinta dan semua dilemaku, hingga akhirnya aku melemah dan pergi meninggalkan ibumu. Nak, itu adalah kesalahan Bapak, benar-benar murni kesalahan Bapak. Harusnya kau menghukum Bapakmu ini, Bapak yang jahat, Bapak yang tidak punya hati, Bapak yang seharusnya kau bunuh!” Tangisku tak terbendung lagi. Aku menurunkan lututku di hadapannya, memohon dan menangis, mengemis sebuah maaf darinya.

Baca juga :  ALUNAN NADA PENANTIAN

“Menjijikkan! Mudah sekali ucapanmu itu. Melihat ini, aku puas, tapi lebih puas lagi jika kalian mampus saja!”

“Nak, aku mohon jangan bawa-bawa Aini pada masalah kita. Dia tak tau apa-apa. Apalagi Ridwan, dia tak tau apa-apa!” sahut istriku, sembari ikut berlutut di sampingku.

“Persetan dengan kalian berdua dan adikku Aini, biar kalian semua merasakan penderitaan aku dan ibuku.”

“Jangan lakukan dosa besar, Nak, dengan menjadi istri Ridwan dan memiliki anak darinya. Ingat! Dia suami adikmu. Maafkan Bapak. Bukan tak ingin bertemu denganmu, namun ibumu membenciku dan melarangku bertemu denganmu. Jujur setelah aku mendengar ibumu meninggal, kami berdua mencarimu, ingin memohon ampun dan memohon maaf darimu. Namun, kau hilang bagai ditelan bumi. Kami tak tahu harus mencari ke mana. Bapak menyesal, kenapa Bapak bisa sejahat itu.”

“Kalian berdua memang jahat, sangat jahat. Apa kalian pernah berpikir seorang wanita cinta pertamanya adalah bapaknya? Sampai saat ini, aku belum menemukan cinta dari siapapun. Kalian tidak pernah tahu rasanya jadi aku. Kalian tidak tahu rasanya ditinggalkan bapak. Kalian tidak pernah tahu rasanya hidup sebatang kara. Kalian yang jahat! Kalian yang jahat! Bukan aku! Bukan aku!”

Dia langsung pergi keluar cafe meninggalkan kami berdua yang bertekuk lutut di hadapannya.

“Pak, bagaimana ini? Dosa kita dan kesalahan kita di masa lalu menghancurkan rumah tangga anak kita, Aini. Dan telah mengubah Irma menjadi monster seperti ini. Irma, maafkan Ibu. Aini maafkan Ibu.” Tangis istriku, tak bisa dibendung lagi.

Aku mencoba menenangkan istiku dan menelepon Ridwan agar segera menjemput kami pulang.

“Ridwan, kami mau pulang, tolong kamu jemput kami berdua.”

“Baik, Pak.”

*****

POV Ridwan

Di dalam mobil, bapak dan ibu hanya diam. Kulihat mata ibu merah seperti habis nangis. Aku mencoba memberanikan diri bertanya apa yang sebenarnya terjadi.

“Pak, Bu? Apa yang sudah terjadi? Kenapa Ibu seperti orang yang sudah menangis?”

“Tidak apa-apa, Nak. Kita bicarakan semua di rumah. Kita rundingkan semuanya di rumah nanti bersama Aini,” jawab bapak.

“Tapi, tadi Bapak dan Ibu tidak diapa-apain, kan, sama Bu Irma?”

“Tidak, Nak. Kami hanya mengobrol biasa dengan Irma. Bapak mencoba mengajak dia berunding, namun dia tidak mau.”

Sesampainya di rumah, ibu langsung berjalan ke kamar tanpa mengeluarkan kata apapun, disusul bapak yang mengikuti ibu berjalan di belakangnya.

Aini dan aku bingung apa yang sebenarnya terjadi tadi. Rasanya masalah ini bukan semakin membaik, tapi justru semakin memburuk.

Bersambung …


Tulisan ini telah lulus review oleh editor dan layak publish.
Copyright © Al Right Reserved 2020
Writing Prodigy Academy

Facebook Comments

14 Comments















Leave a Reply

Your email address will not be published.