SUAMIMU MENIKMATINYA (Part 12)

Zanti
Follow me
Latest posts by Zanti (see all)

AINI MENANGIS

Saat Mas Ridwan beranjak pulang, bapak dan ibu keluar kamar dan memanggil Mas Ridwan. Aku bingung kenapa kedua mata mereka berlinang air mata. Tiba-tiba, bapak dan ibu menghampiri aku dan Mas Ridwan. Mereka berdua bertekuk lutut dan langsung meminta maaf kepada kami berdua. Aku dan Mas Ridwan langsung tersimpuh dan mencoba membangunkan kedua orang tuaku.

“Aini, Ridwan. Maafkan kami berdua!” Bapak memohon sembari menekuk muka tertunduk ke bawah.

“Bapak, apa yang terjadi? Kenapa kalian seperti ini? Apakah Irma mengatakan sesuatu kepada kalian?” tanya Mas Ridwan.

“Tidak, Nak. Ini murni salah kami berdua. Ini salah Bapak dan Ibumu, Aini sehingga rumah tanggamu hancur.”

“Maksud Bapak? Pak, tolong katakan apa yang Bapak ketahui dan apa yang sebenarnya terjadi?” sahutku pada bapak.

“Irma, Irma adalah kakakmu, Nak! Dia anak kandung Bapak, namun berbeda ibu dengamu.”

“Apa?!” Aku tergeletak lemas dan tak sadarkan diri.

Aku mulai sadarkan diri. “Aini, bangun, Sayang. Aini, ini Ibu. Bangun, Sayang.” Ibu sedang mengolesi minyak angin ke hidungku dan aku baru sadar apa yang tadi bapak ucapkan.

Aku melihat Mas Ridwan duduk tertunduk dan menangis. Aku melihat ibu juga menangis, dan bapakpun ikut menangis berdiri di dekat pintu.

“Pak. Apa yang bapak bicarakan tadi? Sungguh, aku hancur. Itu bohong, kan, Pak? Bohong, kan?” teriakku pada bapak.

Tangis bapak dan ibu semakin pecah. “Tidak, Nak. Bapak tidak berbohong padamu!”

Aku berlari ke kamar dan berteriak sekencang-kencangnya. “Ya Allah, apa yang sudah terjadi? Aku gila, ya Allah, aku gila!” teriakku di kamar.

“Aini, sabar Aini. Tenangkan dirimu.” Ibu berteriak dari luar sembari menggedor-gedor pintu.

“Brengggg ….” Kaca meja hias pecah kutonjok. Mas Ridwan mendobrak pintu. Suara jeritan ibu, suara tangisan anakku, dan suara teriakan bapak. Semua menyatu mengusik heningnya malam. Aku merasakan Mas Ridwan langsung membopongku dan berlari ke mobil.

Saat sadarkan diri, aku sudah ada di ruang rumah sakit. Tanganku diperban, sepertinya lukanya lumayan parah. Tanganku dijahit sepuluh jahitan.

Aku melihat Mas Ridwan menangis di samping ranjangku. Ibu yang menggendong anakku dan bapak duduk dengan tegang di ruang tunggu.

Baca juga :  SUAMIMU MENIKMATINYA (Part 9)

“Apa yang terjadi? Kenapa aku ada di sini?”

“Tenang, Sayang. Tenangkan pikiranmu dan tenangkan hatimu. Sayang, kamu baik-baik saja. Kamu sekarang ada di rumah sakit,” jawab Mas Ridwan.

Lalu, aku menangis. “Apa yang terjadi padauk, ya Allah? Kenapa aku harus merasakan sakit yang begitu dalam? Bagaimana Irma bisa menjadi kakakku? Apa yang terjadi? Kenapa semua ini menyakitkan dan merobek hatiku?! seruku sembari menutup mata di ranjang rumah sakit.

Mas Ridwan menangis, mencoba menenangkanku.

“Mas, dosa apa yang kita perbuat di kehidupan sebelumnya? Bagaimana bisa suamiku sendiri akan memiliki anak dari kakakku? Bagaimana bisa!” Aku pun menangis dalam genggaman tangan Mas Ridwan.

“Aku ingin cerai. Cerai, Mas! Apapun yang terjadi lagi. Aku ingin berpisah denganmu!”

“Jangan bicara seperti itu. Jangan, Aini! Jangan!” Mas Ridwan memelukku.

“Ya Allah, begitu berat cobaan ini padaku.”

“Anakku Aini, maafkan Bapak dan Ibumu. Kami akan menceritakan semuanya. Tapi, kami mohon tenangkan hatimu, jangan seperti tadi,” sahut bapak mengelus kepalaku dengan lembut.

“Katakanlah, Pak. Semua itu hanya bohong dan Irma bukan kakakku!”

Mereka semua hanya diam. Lalu, aku menangis sembari memejamkan mata. Aku selalu berharap ini adalah mimpi. Mimpi yang tak pernah jadi nyata.

Hanya semalam aku di rumah sakit, dan aku diperbolehkan pulang.
Sesampainya di rumah, aku hanya melamun, menangis, dan mengurung diri. Tak ada yang kuperhatikan, bahkan anakku sendiri. Makan pun harus dipaksa ibu.

“Ibu, apa yang terjadi pada kehidupanku? Karma apa ini Ibu?” protesku pada ibu, pelan sembari menatap keluar jendela dengan tatapan kosong.

“Nak, jangan menyalahkan dirimu sendiri. Ibu dan Bapakmu yang salah. Harusnya Ibu dan Bapakmu yang menanggung karma ini, bukan kamu!” Ibu mulai menangis, aku pun ikut menangis.

“Aku harus bagaimana? Aku harus percaya kepada siapa? Bahkan, Bapak dan Ibu mempunyai rahasia besar yang tidak aku ketahui. Kenapa kalian semua begitu jahat kepadaku?”

“Nak, maafkan Bapak dan Ibumu. Kami akan menceritakan semuanya kepadamu. Tapi, Ibu mohon jangan seperti ini, tenangkan hatimu, sembuhkan lukamu. Kamu harus kuat dan mau makan.”

Aku pindah ke ranjang dan berbaring. Kulihat Mas Ridwan yang menggendong anakku memperhatikanku di pintu. Aku hanya menatapnya kosong, begitu kosong, rasanya tidak ada semangat hidup lagi. Rasanya aku begitu lemah.

Bersambung …


Tulisan ini telah lulus review oleh editor dan layak publish.
Copyright © Al Right Reserved 2020
Writing Prodigy Academy

Facebook Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published.