SUAMIMU MENIKMATINYA (Part 13)

Zanti
Follow me
Latest posts by Zanti (see all)

KEPERGIAN BAPAK

Malam ini, aku menatap langit-langit kamar. Begitu berat hidup yang aku jalani saat ini, hidup memang tak adil untuk beberapa orang.

Bagaimana bisa suamiku mempunyai anak dari kakakku? Bagaimana bisa aku menjalani hidupku seperti ini. Bahkan, aku tak tahu lagi apakah masih bisa aku hidup?

Orang tua yang selama ini aku agungkan, suami yang selama ini aku banggakan, semuanya menghianatiku, menghancurkan hatiku. Rasanya hanya tersisa sesak di dadaku. Menangis, hanya menangis yang bisa kulakukan saat ini. Aku merenung dan terus berpikir, tapi rasanya hanya buntu.

Jika aku melepas Mas Ridwan untuk Kak Irma, apakah aku bisa melihat mereka? Apa yang aku jawab jika anakku menanyakan bapaknya? Bagaimana bisa bapak kandungnya sekaligus menjadi pamannya? Pikiranku sangat rumit, amatlah rumit.

Kenapa kedua orang tuaku tak pernah menceritakan semuanya kepadaku? “Ya Allah, semua ini benar-benar membuatku gila dan tak bisa berpikir!”

Tiba-tiba, ada sentuhan kecil di tanganku yang masih melekat perban. Itu genggaman anakku. Ya Allah, aku menangis tatkala menatap anakku yang tertidur pulas di sampingku. Aku melupakannya. Apa salah anakku sehingga aku melupakannya? Aku terus mengusap kepala mungilnya. Tiba-tiba, dia terbangun dan tangannya mengusap air mataku. Seakan tahu lukaku, dia langsung memelukku.

“Bu, angan angis!” ucapnya terbata-bata.

Artiny, “Ibu, jangan menangis.”

Aku tersenyum. “Tidak, Sayang. Ibu tidak menangis. Ibu hanya kelelahan dan kesakitan,”

Dia terus memelukku dan tertidur dalam pelukanku.

Aku melihat Mas Ridwan memperhatikan kami berdua di pintu, lalu dia menghampiriku, memelukku dan anakku.

“Mas, apa yang telah terjadi dalam hidup kita?” Aku bertanya sembari menahan tangis.

“Sayang, aku menyerah. Aku pun menyerah! Aku tak ingin menikahi Irma, kakakmu! Aku sudah hancur. Aku pun sudah dipecat dari kantor karena semua orang sudah tahu sekandal yang terjadi. Aku tak peduli lagi. Yang aku inginkan sekarang hidup seperti dulu denganmu.” Tangisnya kurasakan di punggungku.

“Karma apa ini, ya Allah?” Aku menghela napas dan mencoba menenangkan diri di pundaknya.

Tiba-tiba, aku mendengar sebuah gelas pecah dan teriakan ibu dari arah kamar bapak. Ya Allah, apa yang terjadi?

“Bapak!” Teriakan ibu memecahkan keheningan malam ini.

Aku dan Mas Ridwan segera berlari ke arah kamar mereka. Aku lihat bapak sudah tak sadarkan diri sembari menggenggam dadanya.

“Apa yang terjadi, Bu?” tanyaku.

“Ibu tidak tahu, Nak. Bapakmu baru dari kamar mandi dan dia mengeluh merasakan sesak dan sakit di dadanya. Lalu, langsung tak sadarkan diri seperti ini,” jawab ibu.

Mas Ridwan segera membopong bapak dan berjalan ke arah mobil di luar. Aku terlebih dahulu menitipkan anakku kepada tetangga. Lalu, aku dan ibu menyusul masuk ke mobil. Kami langsung ke rumah sakit dan saat di IGD, dokter langsung menangani bapak. Aku, Mas Ridwan, dan ibu menunggu di luar dengan rasa khawatir yang menggebu.

“Ibu, tolong sekarang ceritakan semuanya kepada kami berdua, apa yang sebenarnya terjadi antara Ibu, Bapak, dan Irma?”

“Iya, Nak. Sebenarnya ….” Ibu menceritakan semuanya termasuk alasan kenapa nama belakang kami sama. Ya, itu karena mereka ingin terus mengingat kakakku, Irma Anggraeni.

Aku tak bisa menahan tangis. Kenapa? Kenapa seperti ini? Kakakku memiliki dendam yang begitu besar. Dendam kesumat kepada orang tuanya sendiri. Dia yang tak merasakan hadirnya seorang bapak, dia yang tak merasakan cinta dan dia yang sudah salah jalan sehingga melakukan dosa besar.

Baca juga :  ALUNAN NADA PENANTIAN

Lalu, dokter keluar ruangan dan menghampiri kami.

“Apakah kalian ini keluarga pasien?”

“Iya betul, Dok!”

“Mari ke ruangan saya. Saya akan menjelaskan semuanya.”

Kami bertiga mengikuti dokter sampai ke ruangannya dan mendapatkan penjelasan yang begitu detail.

“Jadi begini, bapak anda mengalami kebocoran di jantungnya. Itu bisa disebabkan dari beberapa faktor, termasuk setres dan keturunan. Jika keluarga setuju, kami akan segera melakukan oprasi besok. Tapi ….”

“Tapi, kenapa, Dok?”

“Tapi, itu beresiko tinggi karena bapak Anda sudah masuk usia sepuh. Perhitungannya lima puluh, lima puluh.”

“Selain operasi, adakah ada jalan lain, Dok?” ucapku memotong perkataan dokter.

“Agak sulit jika operasi tidak dilakutkan, akan berpengaruh pada penyakitnya yang lain karena sepertinya bapak Anda memiliki penyakit asma dan darah tinggi juga, bisa dibilang bapak Anda komplikasi.”

“Baiklah, Dok. Kami akan merundingkannya dulu.”

“Jangan terlalu lama ambil keputusan. Lebih cepat lebih baik!”

“Apakah sekarang kami bisa menemui beliau, Dok?”

“Iya, silahkan. Beliau juga sudah sadar. Hanya saja, masih lemah.”

Kami berjalan menuju ruang IGD. Aku melihat bapak berbaring. Aku melihat lelahnya, sedihnya, bebannya, dan rasa bersalahnya.

“Pak, maafkan Aini! Bapak seperti ini gara-gara Aini.” Aku menangis dan menggenggam tangan bapak.

Bapak perlahan membuka matanya dan menengok ke arahku.

“Bapak yang minta maaf, Nak. Karena kesalahan Bapak, kamu dan Ridwan jadi seperti ini.”

Aku menangis di sampingnya.

Tiba-tiba, suara komputer yang mendeteksi jantung bapak semakin kencang. Aku, ibu dan Mas Ridwan panik. Sangat panik. Mas Ridwan berlari keluar dan memanggil dokter. Lalu, kami bertiga disuruh keluar oleh petugas. Kami berdoa dan berharap cemas.

Dokter menghampiri kami.

“Sebelumnya, kami minta maaf. Bapak Anda tak bisa kami selamatkan. Bapak Anda sudah meninggal dunia. Saya turut berbela sungkawa.”

“Innalillahi, ya Allah, Bapak!” teriakku sembari berlutut di depan pintu ruang IGD.

Aku menangis mendengar penjelasan dokter dan ibu langsung pingsan di sampingku. Mas Ridwan mencoba menenangkanku dan berusaha membangunkan ibu.

Malam ini begitu menyakitkan bagiku, begitu terpukul dan teramat sedih.
Rasanya dunia berhenti berputar dan aku dalam posisi paling bawah. Aku memeluk Mas Ridwan.

Ibu bangun dan berteriak memanggil nama bapak. Aku mencoba menenangkan ibu, menyuruh beliau beristigfar dan menyebut asma Allah.

Aku menghampiri jenazah bapak yang sudah tertutup kain rumah sakit, lalu membuka kain itu. Terlihat wajahnya yang begitu pucat. Mengusap air mata dan mencoba tegar, aku mencium kedua pipinya. Aku berusaha menahan air mataku keluar dari kelopak mata. Lalu, ibu menghampiriku dan memelukku dari belakang.

“Aini, bapakmu, Nak. Bagaimana bisa dia meninggalkan kita dalam keadaan seperti ini? Bagaimana bisa dia meninggal dalam keadaan di mana anaknya tak mau mengakuinya?” Tangis ibu pecah di pelukanku. Aku terus menatap wajah bapak. Aku bertekad bahwa aku akan membuat Irma sadar apa kesalahannya.

“Sudah, Bu. Mari kita bawa bapak pulang dan memakamkan beliau,” jawabku sembari terus menguatkan ibu.

“Di mana Mas Ridwan?”

“Dia sedang mengurus administrasi rumah sakit.”

Aku segera menyusul Mas Ridwan ke kasir.

“Mas, apa kau tahu rumah Bu Irma? Aku ingin ke sana, sekarang!” tegasku padanya.

“Untuk apa, Sayang? Kita sedang berduka, kita jangan meributkan hal itu dulu.”

“Irma kakakku, dia juga anaknya bapak. Dia harus tahu keadaan bapak sekarang! Ayo.” Aku menarik lengan Mas Ridwan dan segera pergi ke rumah Irma.

Bersambung …


Tulisan ini telah lulus review oleh editor dan layak publish.
Copyright © Al Right Reserved 2020
Writing Prodigy Academy

Facebook Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published.