SUAMIMU MENIKMATINYA (Part 14)

Zanti
Follow me
Latest posts by Zanti (see all)

MEMOHON

Aku segera menelepon tetanggaku bahwa bapak telah meninggal dunia. Meminta tolong agar dipersiapkan segala kebutuhan pemakaman dan memberi tahu pak ustaz. Aku pun titip anakku untuk beberapa waktu. Aku juga menelpon ibu untuk ikut ambulance saja. Aku ada keperluan sebentar. Dengan cepat, Mas Ridwan membawa mobil. Sesampainya di rumah Irma, aku langsung menggedor-gedor pintu rumahnya.

[Dorr Dorr Dorr] “Assalamu’alaikum! Kak Irma! Kak Irma!” teriakku sembari terus menggedor pintu rumahnya.

“Ada apa ini? Berisik sekali!’ sahutnya sembari membuka pintu.

Aku langsung bertekuk lutut di hadapannya. “Kak Irma. Aku minta maaf jika aku telah berdosa padamu. Aku meminta maaf jika kelahiranku mengusik hidupmu. Tapi, aku mohon maafkan bapak!” Sembari menangis, aku memohon kepadanya. Mas Ridwan berusaha membangunkan tubuhku.

“Apa yang kau katakan? Aku bukan kakakmu!” Dia berusaha menutup pintu rumahnya dan mencoba masuk kembali.

Aku berdiri dan berteriak. “Bapak sudah meninggal, Kak! Bapak sudah meninggal!” Tangisku terus mengalir di depannya.

“Apa? Bagus kalo gitu, aku tak harus berdoa agar dia cepat mati.”

[Plak] Satu tamparan keras mendarat di wajah Kak Irma.

“Beraninya kau menamparku!”

Dia menatapku marah dan hampir menamparku, namun Mas Ridwan menahan tangannya.

“Dia bapakmu juga! Dia bapak kita! Sadarlah! Sadar! Jangan sampai azab menimpamu karena dendammu pada bapakmu sendiri. Kak, apa yang kau cari di dunia ini? Apa yang kau lakukan semua hanyalah dosa, dosa.” sahutku sembari memegang kedua bahunya.

“Persetan dengan kalian semua. Sudah! Pergi kalian dari sini! Urus tuh pemakaman bapakmu!” ucapnya sembari menutup pintu rumah.

Aku menangis dan bertekuk lutut di hadapan pintu itu. Mas Ridwan terus berusaha membangunkanku dan menenangkanku.

“Ayo kita pulang, Aini. Percuma kamu ke sini. Kakakmu takkan mempedulikan kita!” ucap Mas Ridwan sembari memelukku.

“Tidak Mas. Aku percaya, kakakku tak sejahat ini. Dia hanya perlu bimbingan dan membutuhkan cinta keluarga. Kakakku orang baik!”

Aku menghampiri pintu dan berkata, “Kakakku, Irma Anggraeni. Aku adalah adikmu. Kamu memang memiliki dendam yang menggebu, tapi aku tetap menyayangimu, ada darah yang sama mengalir di tubuh kita. Percayalah, Kak. Hidupmu takkan pernah tenang jika kamu terus menyimpan dendam. Kak Irma. Percayalah, aku masih adikmu. Kak Irma.”

“Sudah. Sudah, Aini. Ayo kita pulang. Percuma. Percuma, kau bicara kepada orang yang hati dan kepalanya sudah seperti batu,” sahut Mas Ridwan dan menuntunku menaiki mobilnya.

Baca juga :  SUAMIMU MENIKMATINYA (Part 1)

Di dalam mobil, aku hanya menangis. Sesampainya di rumah, bapak sedang dingajikan oleh para tetangga. Aku tersungkur di kakinya dan terus memohon maaf.

“Pak, Aini harus bagaimana?”

Mas Ridwan terus mencoba menenangkanku. Kemudian, bapak dimandikan, disalatkan, dan dikuburkan pada pagi harinya.

Aku melihat sekelebat wanita di ujung jalan pemakaman, memakai kaca mata hitam dan pakaian serba putih. Aku ingin menghampirinya. Namun, dia berlari dan pergi.

Kami semua beranjak pergi dari pemakaman, aku terus berpikir siapa wanita tadi? Apakah itu Kak Irma?

Aku terus berpikir sepanjang jalan. Bagaimana caranya aku menyadarkan Kak Irma? Sesampainya di rumah, ibu memberikanku setumpuk surat.

“Surat apa ini, Bu?”

“Ini adalah surat-surat tulisan tangan bapakmu. Setiap hari ulang tahun Irma, bapakmu selalu menuliskan surat untuknya. Namun, surat itu hanya menjadi catatan abadi bapakmu yang tak pernah dikirimkan. Dan satu lagi, beberapa hari sebelum meninggal, bapakmu menitipkan sepucuk surat ini agar Ibu berikan kepadamu. Namun, surat itu untuk Irma.”

Semua surat aku susun, karena di setiap ujung surat ada umur ulang tahun Kak Irma. Aku baca satu persatu. Tak kusadari, begitu besar sayangnya bapak kepada Kak Irma.

Aku membuka dan membaca surat yang terakhir, isinya adalah ….

[Irma Anggraeni, anakku. Kesalahan Bapak di masa lalu mengubahmu menjadi begitu jahat, mengubahmu menjadi penuh dosa. Bapak hanyalah manusia biasa yang bisa dibutakan oleh cinta. Bapak sadar, Bapak bersalah padamu. Bapak hanya ingin ampunan darimu. Bapak hanya ingin hidupmu tenang dan tak pernah memikirkan dendam. Waktu bapak bertemu denganmu kemarin, Bapak begitu bahagia, rasanya seperi haus di tengah gurun dan menemukan sebuah air. Nak, rasanya Bapak ingin memelukmu, mendekapmu, menciummu, dan mengatakan semua kerinduan ini. Tapi, begitu besar dendammu pada Bapak, bahkan kau tak mau melihat mata Bapak yang berkaca-kaca di depanmu. Irma, andai waktu kembali lagi, Bapak ingin melihatmu bahagia. Memiliki suami yang menyayangimu dan memiliki anak yang lucu-lucu agar kau tak merasa kesepian lagi. Bukan malah mengganggu rumah tangga adikmu, Aini. Itu dosa besar, Nak. Dosa besar. Percayalah, sampai kapanpun, aku adalah Bapakmu. Walaupun Bapak tak merawatmu, tapi wajah lugumu masih Bapak ingat sampai saat ini, Irma, anakku. Aku titip adikmu, jika suatu saat nanti Bapak pergi! Bapak hanya ingin melihat kalian berdua akur dan hidup bahagia.]

Aku membaca penuh dengan linangan air mata. Aku berjanji, semua akan aku lakukan, asalkan KaK Irma mau berdamai denganku. Merelakan Mas Ridwan pun, aku akan siap.

Bersambung …


Tulisan ini telah lulus review oleh editor dan layak publish.
Copyright © Al Right Reserved 2020
Writing Prodigy Academy

Facebook Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published.