SUAMIMU MENIKMATINYA (Part 15)

Zanti
Follow me
Latest posts by Zanti (see all)

MENEMANI

Seminggu kepergian bapak. Aku selalu berpikir apa yang harus aku lakukan?

Mengikhlaskan Mas Ridwan atau mempertahankan pernikahan? Aku mencoba terus menguatkan diri dan hati. Aku pun berunding bersama ibu.

“Bu, apa yang harus aku lakukan? Irma adalah kakakku dan Mas Ridwan adalah suamiku. Bagaimana juga dengan anakku? Tapi, Kak Irma juga sedang hamil anak Mas Ridwan.”

“Nak, kesalahan Ibu di masa lalu membuat Ibu sadar akan dosa terbesar Ibu. Bapakmu cinta pertama Ibu, seperti kamu dan Ridwan. Apakah kamu siap melepaskannya? Namun, Irma adalah kakakmu? Coba kamu sekali lagi bertemu Irma, tanyakan apa keinginannya? Bicaralah baik-baik dengan kakakmu. Setelah itu, mari kita buat keputusan dan rundingkan dengan Ridwan.”

“Aku takut Kak Irma akan angkuh seperti biasanya, Bu.”

“Coba dulu. Jika dia terus angkuh, kita lihat apa yang akan dia lakukan lagi.”

“Insyaalah, aku akan mencoba bicara lagi.”

Keesokan harinya, aku pamit ke Mas Ridwan. Aku bilang mau ke kota untuk menemui temanku. Aku titip anakku padanya.

Aku mencoba menemui Irma di kantornya. Namun, saat kutanyakan keberadaan Kak Irma kepada security, mereka bilang bahwa Kak Irma sedang sakit dan sudah seminggu tak masuk kerja. Mendengar itu, aku langsung beranjak ke rumahnya. Sesampai di rumahnya, gerbang tak terkunci dan aku mencoba mengetuk pintu. Namun, tak ada jawaban dari dalam. Aku lihat pintu tak rapat tertutup dan aku mencoba mengintip ke dalam. Saat kepalaku masuk sedikit dari balik pintu, tiba-tiba terdengar suara orang muntah dari arah kamar mandi, dia berteriak

“Bibi? Kok disuruh beli minyak angin lama sekali. Bi, Bibi?” teriak seseorang dari kamar mandi.

Aku yakin itu adalah suara Kak Irma. Aku mencoba memberanikan diri masuk ke dalam rumah dan terus berjalan ke arah kamar mandi tersebut. Ya, aku melihat Kak Irma sedang muntah-muntah di wastafel kamar mandinya. Aku segera menghampirinya dan mencoba memijit batang leher belakangnya.

“Aduh! Bi, lama sekali. Aku sudah tak tahan, mana minyak anginnya? Aku mual sekali!” ucapnya terus menunduk ke wastafel.

“Kak, ini aku, Aini!” jawabku.

Sontak dia langsung berbalik dan menatapku, terkejut.

“Ngapain kamu ke sini? Dan kenapa kau bisa masuk? Dasar tak sopan!”

“Maaf, Kak. Tapi, aku ….” Belum selesai aku jawab, dia langsung muntah lagi dan terlihat begitu lemas.

Aku langsung menuntunnya ke kamar dan membaringkannya ke ranjang. Terdengar seseorang membuka pintu rumah dan mengucapkan salam. Dia menghampiriku. Itu ternyata asisten rumah tangga Kak Irma. Dia langsung menanyaiku.

“Maaf, Mbak siapa?”

“Aku saudaranya Kak Irma. Mana minyak anginnya, Bi?”

Baca juga :  SUAMIMU MENIKMATINYA (Part 21)

“Ini,” jawabnya sembari memberikan minyak angin ke arahku.

“Tolong buatkan teh manis hangat untuk Kakakku dan bawakan aku air hangat di baskom, juga kain.”

“Baik, Mbak.” Dia langsung ke belakang dan mengambilkan semua yang aku perlukan.

Kak Irma terlihat begitu lemas berbaring di atas ranjang. Aku lihat wajahnya begitu pucat. Mungkin, dia sama sepertiku. Saat aku hamil muda dulu, aku juga seperti ini. Mual yang parah dan tak mau makan hingga tubuhku lemas. Namun, untungnya aku ada ibu yang merawatku, sedangkan Kak Irma tak mempunyai siapa-siapa. Aku sedih melihat semua ini.

Aku terus berusaha membaluri hidung dan lehernya dengan minyak angin agar mengurangi rasa mualnya.

Beberapa saat, bibi pun datang membawakan semua yang aku butuhkan. Aku berusaha membangunkan badannya setengah dan meminumkan sedikit-sedikit teh manis ke dalam mulutnya. Dia hanya pasrah dan tak menolak, mungkin dia juga sudah terlalu lemas. Aku berusaha membaringkannya dan mengelap tubuhnya dengan air hangat agar dia merasa lebih tenang. Sepanjang hari, aku terus menemaninya membuatkan bubur dan membantu bibi merawat Kak Irma.

Tak terasa, waktu sudah menjelang sore hari. Mas Ridwan menelepon dan menanyakan aku. Maaf, aku harus berbohong. Aku langsung beranjak pamit ke bibi dan menitipkan Kak Irma kepadanya. Aku bilang, aku akan datang ke sini setiap hari untuk menemani Kak Irma dan ikut merawatnya. Aku tengok ke kamar, Kak Irma sedang istirahat dan tidur pulas. Lalu, aku pulang ke rumah. Aku terus berpikir, jika aku pulang pergi dari rumah Kak Irma ke rumah ibu, itu cukup jauh, satu jam setengah untuk sekali jalan. Sesampainya di rumah, aku disambut Mas Ridwan dan anakku. Aku meminta maaf karena aku pulang kesorean. Setelah makan malam, aku mencoba ngobrol dengan ibu dan Mas Ridwan.

‘Mas, kamu belum dapat pekerjaan baru, bukan?” tanyaku pada Mas Ridwan.

‘Iya, Sayang, belum. Sabar, ya. Mas sedang berusaha.”

‘Ada temanku yang sakit, dia meminta tolong padaku, menemani dia beberapa waktu sampai keadaannya pulih. Tapi, dari sini jauh rumahnya. Lebih dekat dari rumah kita yang di kota. Bagaimana, Mas?”

“Memangnya kamu sudah mau pulang ke rumah kita?”

‘Iya, Mas. Aku mau, tapi aku mau Ibu ikut dengan kita beberapa waktu agar ibu tidak merasa sendiri di sini.”

“Aku sih setuju. Bagaimana dengan Ibu?”

“Ibu bagaimana baiknya saja, Nak. Lagipula jika kalian pergi, Ibu pasti kesepian di sin. Kalau ikut kalian, kan, Ibu juga bisa merawat anak kalian dan Ibu tak merasa kesepian,” jawab ibu.

“Baiklah. Besok pagi, kita berangkat!” jawab Mas Ridwan.

Aku merasa bahagia. Setidaknya, aku bisa lebih sering bertemu Kak Irma, walaupun aku harus berdosa karena harus berbohong kepada keluargaku.

“Ya Allah, maafkan aku. Tapi, ini demi kakakku,” gumamku dalam hati.

Bersambung …


Tulisan ini telah lulus review oleh editor dan layak publish.
Copyright © Al Right Reserved 2020
Writing Prodigy Academy

Facebook Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published.