SUAMIMU MENIKMATINYA (Part 16)

Zanti
Follow me
Latest posts by Zanti (see all)

PERJANJIAN

Keesokan harinya, aku, ibu, anakku, dan Mas Ridwan pergi ke kota, ke rumah kami yang di sana. Aku merasa sedikit bahagia karena akan ada banyak waktu untuk aku dan Kak Irma. Sesampainya di rumah, aku dan ibu berkemas dan membereskan rumah. Lalu, ibu bertanya bagaimana pertemuanku kemarin dengan Kak Irma.

“Aini, apakah kemarin kau bertemu dengan Irma?”

“Tidak, Bu. Aku tidak sempat bertemu. Kemarin, Kak Irma tak masuk kerja.” Aku berbohong karena belum saatnya aku bercerita kepada mereka

“Oh, seperti itu. Lalu, bagaimana dengan temanmu yang sakit?”

“Dia ….” Belum selesai aku menjawab, terdengar suara tangisan. Ya, itu anakku. Aku langsung berlari ke arahnya dan meninggalkan ibu.

Sore hari, setelah semuanya beres dan anakku tertidur, aku pamit keluar sebentar kepada Mas Ridwan dan ibu. Aku bilang, aku akan menjenguk temanku sebentar, padahal aku mau ke rumah Kak Irma.

Sesampainya di rumah Kak Irma, aku langsung mengetuk pintu dan mengucapkan salam. Bibi langsung menyahut dan membukakan pintu. Aku menanyakan kondisi Kak Irma padanya.

“Bi, Kak Irma bagaimana keadaannya? Apakah sudah baikan?”

“Belum, Mbak, masih seperti kemarin, susah makan dan masih muntah-muntah.’

“Lalu, di mana dia sekarang?”

“Di kamarnya, Mbak. Dia begitu lemas dan terus tiduran.”

Aku langsung berjalan menuju kamar Kak Irma, diikuti oleh bibi.
Aku langsung menghampirinya dan mengusap kepalanya.

“Kak Irma? Bagaimana perasaan Kakak?”

“Kenapa kamu ke sini lagi?’

“Kak, aku akan setiap hari ke sini, untuk merawat Kakak.”

“Tak usah. Aku malas dirawat olehmu. Aku baik-baik saja, pergi kamu dari sini! Pergi!”

“Jangan bicara seperti itu, Kak. Aku menyayangimu, kamu adalah kakakku. Mana mungkin aku mengacuhkanmu dalam keadaan seperti ini.’ Aku menatapnya berkaca-kaca.

“Tak usah menangis, untuk apa kamu menangisi aku? Aku ini perusak rumah tanggamu. Lagipula, aku sedang hamil anak suamimu.”

“Apapun yang terjadi, semua ini bukan mutlak kesalahanmu, Kak. Aku akan terus berusaha memberikanmu cinta agar kamu tak salah jalan lagi. Semua yang telah terjadi, biarlah terjadi.”

“Lalu, jika aku menginginkan suamimu, apakah kamu mau memberikannya untukku?”

“Jika itu memang keinginan Kakak, aku siap meminta cerai darinya. Anakmu juga punya hak atas bapaknya.”

“Maka segeralah meminta cerai kepada Ridwan.”

“Iya, Kak. Aku akan bicara pada Mas Ridwan. Tapi, tunggu sampai kau membaik. Karena setelah aku bercerai dengan Mas Ridwan, aku akan kembali lagi ke kampung bersama ibu dan anakku.”

Baca juga :  TERPAKSA JAUH

“Baiklah. Aku pegang kata-katamu.”

‘Jadi, aku mohon biarkan aku merawatmu agar kau lekas sembuh dan bisa bersama Mas Ridwan.”

“Iya. Kalo begitu, aku mau dirawat olehmu. Dan satu lagi, buatlah Ridwan mencintaiku. Apakah kamu bisa?”

“Baik, Kak. Aku akan mencobanya. Kalo begitu Kakak makan dulu, ya?”

Aku langsung memanggil bibi dan menyuruhnya mengambil makanan di dapur. Lalu, kusuapi Kak Irma. Aku senang, begitu senang, hingga tak terasa mataku berkaca-kaca, menatapnya makan dari suapanku.

Ya Allah, hari ini aku sudah berjanji kepada kakakku. Aku akan meminta cerai kepada Mas Ridwan. Semuanya akan aku lakukan untuk kebahagiaan kakakku. Aku tahu, dia belum merasakan kebahagiaan dan cinta dari siapapun. Aku berharap, Mas Ridwan akan bisa menerima dan mencintai Kak Irma suatu hari nanti. Sekarang, tugasku ada dua, merawat Kak Irma dan berusaha membuat Mas Ridwan mencintainya.

Setelah makan, aku membujuk Kak Irma untuk mandi air hangat agar tubuhnya lebih segar. Dia langsung mengiyakan perintahku. Aku merasa begitu dekat dengan kakakku sendiri. Aku merasa benar-benar menjadi seorang adik.

Setelah Kak Irma mandi, aku menyisiri rambutnya, memijit pundaknya. Dia hanya diam dan menurut. Tak terasa waktu mendekati magrib, aku segera berpamitan padanya dan pada bibi.

Sebelum aku pulang, Kak Irma menghampiriku.

“Anggap saja kau bekerja padaku. Aku akan menggajimu setiap bulan. Lagipula, suamimu sepertinya belum menemukan pekerjaan baru.”

“Tidak, Kak. Aku ikhlas. Bersamamu sudah menjadi kebahagiaanku.’

‘Kalau kau tak mau, aku juga tak mau lagi dirawat olehmu. Aku tak mau punya hutang budi kepadamu.”

“Baik kalo begitu, Kak. Terserah Kakak saja, selagi aku bisa di sampingmu.”

Dia langsung berlalu dan masuk ke dalam kamar. Akupun segera pulang.

****

Sesampainya di rumah, Mas Ridwan menanyaiku

“Bagaimana keadaan temanmu, Sayang?”

“Sudah membaik.”

“Memang dia sakit apa?”

“Ternyata dia tidak sakit, namun hamil muda dan hamilnya seperti aku dulu, mual yang parah, dan susah untuk masuk makanan ke mulutnya. Jadi, berimbas ke kesehatannya.”

“Oh, begitu. Lalu, bagaimana? Ke mana suaminya?”

“Suaminya sedang bekerja di luar negeri. Jadi, dia hanya ditemani oleh pembantu sehingga dia meminta tolong agar aku bisa menemaninya.”

“Iya, Sayang. Cuma aku minta, kamu jangan melupakan kewajibanmu sebagai seorang istri dan ibu.”

“Insyaallah.”

“Sudah mau azan magrib, kamu mandi dulu, lalu kita menjalankan salat magrib berjamaah.”

“Iya, Mas.”

Aku selalu berpikir dan merasa berdosa karena sudah berbohong kepada keluargaku sendiri. Rasanya belum siap dan belum waktunya untuk mengatakan semuanya kepada Mas Ridwan dan ibu. Biarkan aku merawat Kak Irma terlebih dahulu dan mencari waktu yang tepat untuk meminta cerai dari Mas Ridwan.

Bersambung …


Tulisan ini telah lulus review oleh editor dan layak publish.
Copyright © Al Right Reserved 2020
Writing Prodigy Academy

Facebook Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published.