SUAMIMU MENIKMATINYA (Part 17)

Zanti
Follow me
Latest posts by Zanti (see all)

KEMARAHAN RIDWAN

Hari-hari berlalu, Kak Irma dan aku mulai dekat, layaknya seorang adik kakak. Aaku dan Kak Irma merasa bahagia. Namun jujur, aku jadi melupakan orang rumah. Aku berangkat pagi dan pulang sore. Mas Ridwan pun jarang aku layani, hingga suatu sore Mas Ridwan menungguku pulang, dia duduk di sofa. Saat aku mengucapkan salam, dia hanya menatapku tegas.

“Mas, ada apa? Kenapa kau menatapku seperti itu dan tak membalas salamku?”

“Kenapa, Mas? Kau, kan, tahu aku dari mana?”

“Duduk. Katakan sejujurnya, apa benar kamu merawat temanmu?”

“Iya, aku merawat temanku. Memangnya kenapa?”

“Jujur, Aini! Jujur!”

“Kenapa kamu ini, Mas?”

“Aku melihatmu berada di rumah Irma? Sedang apa? Kenapa kamu berbohong?”

“Aku, aku!”

“Aku apa? Pantas saja sikapmu berbeda padaku akhir-akhir ini. Kamu lupa kepada keluargamu sendiri. Bahkan, kau sering menolak menghabiskan malam bersamaku. Apa yang Irma lakukan pada pemikiran dan otakmu? Aku adalah suamimu, lalu kenapa kau malah berpihak padanya? Lagipula, dia yang merusak rumah tangga kita!”

“Tapi, Irma kakakku dan dia mengandung dalam keadaan sendirian. Tak ada keluarga yang mempedulikannya, aku tak tega, aku ingat pesan bapak dan aku ingin Kak Irma memaafkan kesalahan bapak. Kasian bapak, Mas. Beliau meninggal dalam keadaan dibenci anaknya sendiri.” Aku menjelaskannya sambil mencoba menahan air mataku.

“Aini, sadar! Ini rumah tangga kita. Kenapa kau malah mengundang tamu yang sudah kita usir dari rumah tangga kita, apa kau akan menghancurkan rumah tangga kita? Dulu aku yang merusaknya, aku mohon sekarang jangan kau yang merusaknya dengan cara mengorbankan hati kamu sendiri, aku akan bekerja dan kita akan hidup normal kembali.”

Aku menangis dan bersimpuh di kakinya. “Mas, aku ingin cerai. Aku ingin Kak Irma bahagia bersamamu.”

Baca juga :  SUAMIMU MENIKMATINYA (Part 14)

“Tidak, tidak akan pernah! Aku kecewa kepadamu, Aini, sangat kecewa. Tapi, aku tidak akan pernah menceraikanmu! Bagaimana bisa kamu tidak mau mempertahankan rumah tangga kita?”

“Tapi, dia sedang mengandung anakmu. Ceraikan aku, setelah Kak Irma melahirkan. Nikahi dia, anaknya juga punya hak atas kehadiran bapak kandungnya.”

“Bukan, itu bukan anakku! Aku tak mau, Aini. Tak mau!”

Lalu, dia masuk ke kamar dan meninggalkanku sendiri.

Aku lihat ibu menatapku di ujung pintu dapur sembari menggendong anakku.

“Bu.”

Tanpa menjawab, ibu langsung masuk kamar anakku, sepertinya dia kecewa karena aku tak memberitahukan apapun padanya.

Aku langsung menghampiri ibu ke kamar.

“Bu, maafkan aku. Aku tak bicara kepada Ibu.”

“Aini, jujurlah, setidaknya kamu jujur pada dirimu sendiri. Apa sudah siap kamu melepas Ridwan? Apa sudah siap konsekuensi yang akan kamu terima dan yang akan anakmu rasakan?”

“Jujur, aku tak tahu, Bu.”

“Lalu, kenapa kau mengambil keputusan sendiri? Bahkan, kau berbohong kepada keluargamu sendiri.”

“Akupun sampai saat ini masih bingung. Hanya saja, Kak Irma sudah mulai menerimaku sebagai adiknya. Tapi ….”

“Tapi, kenapa?”

“Tapi, aku harus merelakan Mas Ridwan dan bercerai dengannya. Aku pun sudah berjanji pada Kak Irma.”

“Apa!” sahut Mas Ridwan yang ternyata sedari tadi mendengarkan obrolanku dengan ibu di ujung pintu.

“Mas!”

“Bagaimana kamu bisa mempermainkan pernikahan kita? Aku suamimu! Bukan barang yang kamu oper ke sana kesini. Jahat kamu, Aini! Apa yang ada di pikiranmu saat ini? Aku sudah bertobat, meminta maaf kepadamu. Aku ingin kita seperti dulu, seperti dulu, Aini!”

“Mas, maafkan aku. Tapi ….”

Dia langsung keluar rumah dan membanting pintu.

Aku mencoba mengejarnya dan menangis di ujung pintu.

Aku harus bagaimana? Aku harus seperti apa?

Ya Allah, aku bingung. Jalannya semakin rumit. Bukannya menemukan jalan keluar, aku malah menemukan jalan buntu.

~ Rumah tanpa tangga. Kosong tanpa isi.
Hubungan tanpa cinta. Kosong tak berpenghuni ~

Bersambung …


Tulisan ini telah lulus review oleh editor dan layak publish.
Copyright © Al Right Reserved 2020
Writing Prodigy Academy

Facebook Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published.