SUAMIMU MENIKMATINYA (Part 18)

Zanti
Follow me
Latest posts by Zanti (see all)

POV Ridwan

Setelah kepergian bapak mertuaku, kami semua semakin terpuruk. Aku juga belum mendapat pekerjaan. Untungnya, ada sedikit tabungan yang mungkin bisa bertahan untuk beberapa minggu.

Aku bersyukur, Aini sekarang mulai normal kepadaku dan sepertinya sudah mulai melupakan kejadian itu. Hari itu, Aini minta ijin untuk menemui temannya yang sakit, dan dia pulang sampai sore mendekati waktu magrib. Tak ada yang aku curigai. Setelah makan malam, tiba-tiba Aini meminta pulang ke rumah kami yang di kota. Aku merasa bahagia. Namun merasa aneh, padahal dulu dia bilang tidak akan pulang jika masalah Irma belum selesai. Tapi, aku berpikir positif, mungkin dia sudah benar-benar melupakan masalah itu dan ingin memulai lagi lembaran baru dari awal. Dia juga meminta ijin untuk merawat temannya yang tadi dia tengok. Katanya, temannya tak sakit. Hanya saja, sedang hamil muda dan ngidamnya parah, mual terus, dan susah masuk makanan ke mulutnya. Aku mengiyakan keinginanya, dan keesokan harinya kami semua pulang ke rumah yang di kota. Ibu pun ikut bersama kami.

Hari-hari berlalu, aku rasa sikap Aini semakin aneh. Dia berangkat pagi dan selalu pulang sore, bahkan sekarang dia mengacuhkan aku dan anakku. Lebih parahnya lagi, dia selalu menolak jika aku mengajaknya menemani malamku.

Aku semakin curiga karena Aini semakin hari semakin berubah, sehingga pagi ini aku mengikutinya dan betapa terkejutnya aku saat melihatnya mendatangi suatu rumah yang aku hapal betul itu rumah siapa. Benar saja. Ternyata selama ini dia berbohong. Kenyataannya, dia merawat kakaknya, bukan temannya. Aku marah, aku kesal.

Baca juga :  SUAMIMU MENIKMATINYA (Part 6)

Sesampainya di rumah, aku menunggunya dengan menahan amarah dan kekecewaan. Saat dia dating, aku langsung menatapnya tajam. Aku menanyakan kenapa dia bisa berbohong kepada semua orang. Kenapa dia lebih memilih kakaknya yang jahat, dan malah merawatnya.

Bodoh! Benar-benar sikap yang bodoh. Sekuat apapun, Aini meminta cerai padaku, aku tidak akan menceraikannya. Dia istriku yang dari awal aku cintai dan bagaimana pula dengan anakku nanti? Setelah aku memarahi Aini, aku segera masuk ke kamar. Namun, saat aku keluar kamar, aku dengar ibu dan Aini sedang bicara. Aku mendengarkan obrolannya dengan ibu. Aini berkata agar Irma menerimanya sebagai adik, Aini harus bercerai denganku. Jelas aku marah. Kalian pikir aku apa? Aku bukan barang, yang dioper ke sana ke sini. Aku juga manusia punya hati, punya pikiran. Aku akui, aku yang salah. Namun, aku sudah tobat dan benar-benar meminta maaf. Lagipula, aku tak menyukai Irma dan hubungan dulupun, itu hanya akal-akalan Irma untuk membalas dendam kepada bapaknya.

Aku segera pergi dari rumah dan akan menghampir Irma, rasanya aku ingin memarahi dan mencaci makinya. Aku mengendarai mobil dengan marah dan dengan kecepatan tinggi. Tiba-tiba, ada orang yang lari menyeberang. Aku banting setir ke arah kanan dan ternyata ada mobil truk dari arah berlawanan.

[Dwarrr!] Hanya dentuman keras yang aku dengar, lalu aku tak sadarkan diri.

Bersambung …


Tulisan ini telah lulus review oleh editor dan layak publish.
Copyright © Al Right Reserved 2020
Writing Prodigy Academy

Facebook Comments

9 Comments




  1. Tremendous things here. I’m very happy to see your post.

    Thank you so much and I am looking ahead to touch you. Will you kindly drop me a
    e-mail?

  2. Excellent goods from you, man. I’ve have in mind your stuff previous to and you are just extremely excellent.
    I actually like what you have got here, really like what you’re
    stating and the way during which you assert it.
    You’re making it entertaining and you continue
    to take care of to stay it sensible. I can’t wait to read far more from you.
    That is actually a wonderful website.





Leave a Reply

Your email address will not be published.