SUAMIMU MENIKMATINYA (Part 19)

Zanti
Follow me
Latest posts by Zanti (see all)

MASIH CINTA

Sampai bakda isya, tak ada kabar dari Mas Ridwan. Aku sangat khawatir, tiba-tiba ponselku berdering.

‘Hallo, selamat malam, apakah ini dengan istri Pak Ridwan?’

“Iya betul, saya istrinya Pak Ridwan. Ini dengan siapa, ya?’

“Saya polisi lalu lintas, memberitahukan bahwa suami Anda mengalami kecelakaan lalu lintas dan sekarang berada di rumah sakit Harapan Kasih.’

“Innalillahi wainna ilaihi rooji’uun, ya Allah. Bagaimana dengan suami saya, Pak?”

“Suami Anda sedang ditangani oleh pihak rumah sakit di ruang IGD. Namun, lukanya sepertinya cukup parah. Saya harap ibu segera ke sini!”

“Baik, Pak. Terimakasih.” Aku langsung menutup telepon dan segera menghampiri ibu.

“Ibu, aku titip anakku. Mas Ridwan mengalami kecelakaan dan sekarang sudah di rumah sakit. Ibu gak usah ikut, ini sudah malam. Ibu dan dedek di rumah saja.”

“Apa, Nak? Ridwan kecelakaan? Ya Allah, bagaimana bisa?” jawab ibu.

‘Aku tak tahu, Bu. Aku berangkat dulu melihat keadaannya,” ucapku sembari tergesa-gesa mencari hijab dan tasku.

Aku langsung memesan taksi online dan segera berangkat ke rumah sakit tersebut. Aku merasa menyesal atas semua kesalahanku. Aku merasa begitu bodoh telah melukai hati Mas Ridwan. Aku menyesali semuanya. Aku takkan pernah rela jika Mas Ridwan harus pergi juga menyusul bapak, dan di sanalah aku sadar bahwa aku masih sangat mencintai Mas Ridwan.

“Ya Allah, bagaimana bisa aku mempermainkan perasaan suamiku, bagimana bisa aku menganggapnya seperti barang, bagaimana bisa aku seceroboh ini? Ya, aku memang kasian kepada Kak Irma, tapi kenapa aku jadi melupakan Mas Ridwan dan mengorbankan anakku juga? Memang pada awalnya Mas Ridwan yang salah, tapi ini juga bukan mutlak salahnya. Dia sudah bertobat dan mengakui kesalahnnya, kenapa aku tak memberi kesempatan? Malah akan menyerahkannya pada Kak Irma?” gumamku sembari menahan air mata yang ingin jatuh di dalam taksi.

Sesampainya di rumah sakit, aku segera ke ruangan IGD dan menunggu di ujung pintu. Sambil menahan tangis dan rasa khawatir yang menggebu, aku harap Mas Ridwan baik-baik saja. Saat dokter keluar, aku segera menghampirinya dan menanyakan keadaan suamiku.

Baca juga :  SUAMIMU MENIKMATINYA (Part 20)

“Dok, bagaimana dengan suami saya?”

“Suami Anda yang mengalami kecelakaan mobil, bukan?”

“Iya, Dok!”

“Oh, dia baik-baik saja. Suami Anda sedang duduk, lihat saja.”

“Duduk?” Aku melongo dan merasa heran.

“Iya, suami Anda tidak apa-apa, hanya luka di pelipisnya. Sepertinya membentur stir mobil, mungkin dia syok dan hanya pingsan waktu kecelakaan.”

“Baik, Dok. Terimakasih!”

Lega, begitu lega. Aku langsung menghela napas dan menghampiri Mas Ridwan.

“Mas tidak apa-apa?”

“Iya, Sayang. Mas tidak apa-apa. Hanya saja, mobil kita rusak. Namun, untungnya ada asuransi.”

“Tapi, kenapa tadi pak polisinya bilang, bahwa kamu terluka parah. Aku takut, Mas … takut.”

“Ya, awalnya aku pingsan. Mungkin, mereka kira aku terluka parah.”

‘Astagfirullah, Mas, rasanya jantungku mau copot tahu. Mana polisinya? Biar aku omelin. Dasar! Bikin orang jantungan!” Aku langsung memeluknya dan menangis di pundaknya.

‘Sudah, sudah. Yang penting Mas baik-baik saja. Maaf jika Mas membuatmu khawatir.”

“Mas, aku minta maaf. Karena aku, kau jadi begini. Aku memang istri bodoh, oon lagi. Jujur, aku tak ingin ditinggalkan olehmu.” Aku menangis dan terus menatap lukanya.

“Iya, Sayang, maaf juga. Mas Ridwan tadi memarahimu. Makanya, mari kita buka lembaran baru dan lupakan Irma.”

“Tapi, Mas. Irma kakkaku juga, aku sudah berjanji. Bagaimana, dong?”

“Mari kita bicara bersama, ajak ibu dan anak kita juga untuk ke rumah Irma. Jika bicara baik-baik dan terbuka dengannya, semoga hati Irma bisa luluh.”

“Iya, Mas, aku mau. Semoga Kak Irma bisa mengerti dan mengalahkan dendamnya.”

“Sudah, jangan bersedih. Mas, kan, masih ada di depanmu sampai saat ini. Tapi, kamu lucu kalo lagi panik, Sayang,” ucapnya sembari terus mengelap air mataku.

“Ah, Mas, serius coba! Kalo kamu sampai meninggal bagaimana?”

Kalo Mas meninggal, ya, kamu jadi janda, Sayang.”

“Ya Allah, amit-amit.”

“Amit-amit, terus kenapa tadi sore kamu memohon minta cerai? Sudahlah, Sayang. Sumpah demi Tuhan, aku sama Irma itu hanya sebuah kesalahan dan aku menyesal ingin memperbaiki semuanya.”

“Sudahlah, kita bahas ini nanti di rumah, Mas. Mari kita pulang, kamu sudah membuat semua orang panik tahu!”

Bersambung …


Tulisan ini telah lulus review oleh editor dan layak publish.
Copyright © Al Right Reserved 2020
Writing Prodigy Academy

Facebook Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published.