SUAMIMU MENIKMATINYA (Part 20)

Zanti
Follow me
Latest posts by Zanti (see all)

PERTEMUAN

Aku dan Mas Ridwan segera pulang ke rumah menaiki taksi online. Sesampainya di rumah, aku langsung disambut ibu dan anak kami. Ibu merasa lega karena Mas Ridwan tidak apa-apa. Setelah makan malam dan menidurkan anakku, kami bertiga berunding untuk bertemu dengan Irma besok.

“Mas, aku takut, besok kita akan bicara apa kepada Kak Irma?’

“Kita bawa semua surat dari alm. bapak, kita berikan kepadanya. Kita bicarakan apa yang sebenarnya bapak rasakan selama ini bahwa bapak benar-benar menyesal dan ingin meminta maaf padanya.”

“Lalu, bagaimana dengan anak Kak Irma?”

“Jika benar anak itu anakku. Aku ingin setelah anak itu lahir, kita yang merawatnya, tapi apakah itu tak masalah untukmu, istriku?”

“Aku setuju, Mas. Anak itu keponakanku. Pasti aku anggap anakku sendiri juga.”

“Maafkan Mas, Aini karena Mas kita harus begini. Tapi, tak ada jalan keluar lagi. Mas memang lelaki berengsek.”

“Sudah, Mas. Nasi sudah menjadi bubur. Itu kesalahanmu, kesalahan Kak Irma dan kesalahan bapak.”

“Termasuk kesalahan Ibu, Nak. Andai Ibu tak terus menunggu bapakmu dan menikah dengan orang lain, semua ini tak akan terjadi,” sahut ibu memotong pembicaraan kami sembari menangis.

“Sudahlah, Bu. Ini adalah jalan takdir Tuhan, siapa yang menyangka hidup kita akan seperti ini? Semua sudah ada jalannya,” jawabku berusaha menenangkan ibu dan mengelus punggungnya

“Baiklah, besok kita semua akan bertemu Irma di rumahnya, sekarang mari kita istirahat, dan berdoa semoga Allah meluluhkan hati Irma,” sahut Mas Ridwan.

“Iya, Mas, aamiin.”

Malam berlalu terasa begitu lama, tidur pun rasanya tak tenang, khawatir apa yang akan terjadi besok. Menjelang pagi, aku segera membangunkan Mas Ridwan, mengajaknya salat subuh dan membuatkan dia sarapan.

Jam 10 pagi, kami semua bersiap-siap untuk pergi ke rumah Kak Irma. Anakku pun diajak ke rumah Kak Irma. Kami semua menaiki taksi online dan segera ke rumah Kak Irma.

*****

Sesampainya di rumah Kak Irma, aku merasa hatiku begitu gelisah.
Lalu, tanganku digenggam oleh Mas Ridwan dan satunya digenggam oleh anakku dan ibu. Ya Allah, aku takut, tapi aku kuat karena aku ingin keluargaku utuh.

“Assalamu’alaikum,” ucapku sembari mengetuk pintu rumah.

“Wa’alaikumsalam,” sahut seseorang dari dalam. Ya, itu bibi, lalu dia membukakan pintu dan menyuruh kami semua masuk.

“Silahkan duduk, Mbak. Saya panggil nyonya dulu.” Setelah menyuruh kami semua duduk, bibi langsung memanggil Kak Irma ke dalam kamar.

Kami semua berdiri saat Kak Irma keluar dari kamar dan berjalan menuju arah kami. Wajahnya datar dan biasa saja. Terlihat perutnya sudah keliatan berbeda.

“Kak Irma, bagaimana keadaan Kakak saat ini?”

“Baik,” jawabnya singkat.

“Kak, kami semua datang ke sini untuk bicara dengan Kakak. Kami semua ingin meminta maaf atas nama bapak, juga kesalahan bapak di waktu lampau membuat kakak menderita selama ini. Kakak menyimpan dendam yang begitu dalam kepada semua orang, termasuk aku. Kak, minggu-minggu ini, Kakak sudah mulai menerimaku, aku merasa bahagia. Tapi maafkan aku, aku tak bisa melepaskan Mas Ridwan untukmu. Aku minta maaf padamu tak bisa menepati janji. Sungguh, aku sangat menyayangimu. Kau kakakku, takkan pernah bisa dihapus status itu dari kehidupan kita, ada darah yang sama mengalir dalam tubuh kita. Aku harap, Kakak mengerti itu. Dan ini ada beberapa surat yang dibuat langsung oleh bapak untuk Kak Irma. Kalo sempat, baca, ya, Kak, agar Kakak tahu bahwa bapak sangat menyayangi Kakak,” jelasku panjang lebar sembari menyodorkan surat peninggalan bapak untuk Kak Irma.

Baca juga :  SUAMIMU MENIKMATINYA (Part 2)

“Aku juga meminta maaf, ini juga kesalahnku. Tapi jujur, aku tak pernah mencintaimu. Itu semua hanya rasa takutku, hingga kesalahan ini berbuah anak dalam rahimmu. Tapi, dia tetap anakku. Aku bapaknya, walaupun jika janin itu perempuan, aku tak bisa menjadi wali nikahnya. Ketahuilah, dia tetap darah dagingku,’ sahut Mas Ridwan memotong pembicaraanku.

‘Ibu juga, Nak, Ibu salah. Ibu sadar, Ibu mengambil bapakmu sepenuhnya sehingga kamu tidak merasakan kasih sayang seorang bapak. Hidupmu jadi menderita, kurang kasih sayang dan hidup sendirian. Jika kamu menyuruh Ibu berlutut dan memohon maaf di kakimu, Ibu siap, Nak, siap.” Ibu tertunduk dan menangis.

Kak Irma hanya diam, tak ada satu kata yang keluar dari mulutnya, wajahnya datar tak ada ekspresi yang berarti. Lalu, dia berdiri dan beranjak ke arah jendela menatap ke arah luar. Setelah itu, dia berlalu dan meninggalkan kami semua. Tiba-tiba, anakku berlari ke arahnya mengenggam tangannya dan menunjukkan boneka yang dari tadi anakku mainkan. Aku tak tahan menahan tangis. Kak Irma hanya diam menatap anakku, kemudian Kak Irma melepaskan tangan anakku dan diapun berlalu ke kamar dan masih tak mengucapkan sepatah katapun. Aku semakin bingung, apa yang ada dalam pikiran Kak Irma saat ini, apakah dia marah, kecewa atau justru merasa sedih. Aku tak bisa menebak.

Lalu, bibi menghampiriku dan membawakan senampan minuman. Namun, aku akan berpamitan. Sebelum aku berpamitan, aku menghampiri pintu kamar Kak Irma.

“Kak, aku masih adikmu. Jangan kau seperti ini, ucapkanlah semua keinginanmu, ucapkanlah semua kegundahanmu. Jika harus mencaci maki kami, kami siap mendengarkannya. Kami mengaku salah padamu. Hanya maaf yang bisa kami ucapkan. Jika kau seperti ini kami bingung, apa lagi yang harus kami lakukan?”

Aku menangis di balik pintu, menghela napas dan mencoba menenangkan diri.

‘Kak, kami pamit, telepon aku kapan saja jika ada apa-apa. Kami ada untukmu.’

Lalu, aku berpamitan kepada bibi.

“Bi, jika ada apa-apa pada Kak Irma, tolong beritahu aku. Aku mohon!”

“Iya, Mbak.”

“Wassalamu’alaikum.”

“Wa’alaikumsalam,” jawab bibi sembari menutup pintu rumah Kak Irma.

Kami semua pergi dari rumah Kak Irma. Kami bingung dan ibu hanya bisa menangis melihat sikap Kak Irma kepada kami. Ibu merasa sedih dan tak tega kepada Kak Irma.

Bersambung …


Tulisan ini telah lulus review oleh editor dan layak publish.
Copyright © Al Right Reserved 2020
Writing Prodigy Academy

Facebook Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published.