SUAMIMU MENIKMATINYA (Part 21)

3
1
Zanti
Follow me
Latest posts by Zanti (see all)

POV IRMA MENANGIS

Kehamilanku sudah mulai terlihat dan berjalan empat bulan. Aku memilih mengambil cuti hamil dari kerjaanku. Untungnya Pak Direktur begitu baik kepadaku dan mengerti posisiku saatini.

Jika harus memilih, akupun tak ingin seperti ini, tapi apa daya? Aku sudah masuk ke dalam kubangan lumpur dendam yang hina. Cita-citaku menghancurkan bapakku sudah terpenuhi, bahkan beliau sudah meninggal. Apa yang aku pikirkan saat ini? Tak mungkin aku menyesali semuanya. Ini adalah keinginanku sendiri untuk menghancurkan mereka. Bahkan hari ini, mereka sudah memohon-mohon maaf dariku, tapi kenapa aku tak bahagia? Kenapa aku merasa datar dan biasa? Jangan sampai tercipta penyesalan

Lebay sekali aku, aku yang memulai jangan sampai aku yang menyesal, gumamku dalam hati.

Memang, aku berharap Ridwan menjadi suamiku. Tapi, semenjak kedekatanku bersama Aini, aku merasa benar-benar memiliki saudari. Dia begitu baik, sabar, dan telaten. Aku merasakan kasih sayang yang tulus dari seseorang. Tapi, ah, sudahlah. Kenapa hatiku jadi luluh seperti ini? Aku adalah wanita jahat yang berusaha menghancurkan keluarganya dan berusaha merebut Ridwan darinya.

Aku ingat kemarin saat Aini dan keluarganya kesini, mereka membawakan setumpuk surat peninggalan lelaki jahat itu. Ya, surat peninggalan bapak, yang katanya semua itu adalah surat untukku. Aku merasa jijik untuk membacanya.Namun, saat aku melihat salah satu lembaran amplopnya yang berwarna merah muda, aku lihat tulisan “Untuk Irma, anakku yang hari ini ulang tahunnya ke-17”, tiba-tiba aku penasaran dan mulai membukanya. Aku pun terkejut akan isinya.

[Untuk anakku Irma. Hampir 13 tahun tak bertemu, aku yakin kau begitu cantik. Aku juga yakin kau pasti cerdas dan akan menjadi orang sukses di masa yang akan datang. Aku berharap, kau akan menjadi pemimpin dalam suatu perusahan besar. Masih kuingat matamu yang bulat, hidungmu yang mancung, dan tahi lalat di dagumu. Di hari ini, ulang tahunmu yang ke 17. Semoga menjadi wanita yang dewasa dan kuat, tapi maafkan Bapakmu ini Nak, tak mengurusmu, tak bisa mendidikmu, tak bisa memberikan kasih sayang dan tak bisa membelai rambutmu. Nak, aku begitu berdosa padamu, Bapak terlalu hina di depanmu. Maafkan Bapak, Nak? Maafkan Bapak? Aku selalu berdoa kepada yang Maha kuasa dan Maha Memaafkan. Semoga kau dan ibumu sehat selalu dan semoga kau selalu merasakan cinta dalam hidupmu.]

Baca juga :  FANI AFNAN JANNATI (PART 3)

Aku melemparkan kertas itu, aku menangis. “Kenapa kau jahat kepadaku, Pak? Kenapa kau begitu jahat? Aku juga anakmu, aku juga butuh kasih sayangmu. Bukan mimpi dan ilusi sebelum tidur, aku juga butuh belayan tanganmu, bahkan pukulanmu di saat aku melakukan kesalahan!” Teriakku dalam kamar.

“Apakah aku anak yang tak diinginkan? Apakah aku hanya anak dari sebuah keterpaksaan? Apa yang salah dari diriku? Kenapa aku yang merasakan sakit ini? Kenapa aku?” Teriakku sembari menangis.

Menangispun rasanya tak ada obatnya, sesak ini, luka ini, tak ada obatnya.
Aku melihat kedua tanganku, tiba-tiba aku mengingat genggaman tangan anaknya Aini dan Ridwan.

Aku ingat wajahnya yang polos. Aku ingat wajahnya yang begitu manis. Apa yang salah padanya? Apakah aku sanggup melihat keponakanku sendiri menderita Karena aku memaksa untuk mengambil Ridwan, bapaknya?

Aku menangis hanya menangis. Apa yang aku jalani ini? Apa yang telah aku lakukan ini? Aku mengelus perutku. “Nak, maafkan Ibu?” Aku harus memilih siapa? Anakku yang akan kurang kasih sayang seorang bapak seperti ibunya nanti atau anak Aini yang akan merasakan kehilangan sosok seorang bapak? Dosa apa ini, Tuhan? Aku bukan manusia, aku bukan manusia! Malamku dihabiskan oleh air mata.

Bersambung …


Tulisan ini telah lulus review oleh editor dan layak publish.
Copyright © Al Right Reserved 2020
Writing Prodigy Academy

Facebook Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published.