SUAMIMU MENIKMATINYA (Part 8)

Zanti
Follow me
Latest posts by Zanti (see all)

Point of View (POV) : Irma

Dendam Kesumat, Saudari

Hari ini begitu membahagiakan bagiku. Aku bisa melihat mereka berdua hancur, sehancur-hancurnya. Ridwan, Aini, dan keluarganya yang busuk itu biar mampus.

Dan biar bapaknya Aini tahu rasa, melihat anak kesayangannya sengsara. Orang tua jahat itu harus merasakan pembalasanku, melalui anak kesayangannya.

Aini adalah adikku, namun beda ibu. Aku rasa dia tidak tahu itu. Jelas, karena sepertinya bapakku dan ibu tiriku merahasiakan semuanya dari Aini.

Ya, saat umurku empat tahun, aku dan ibuku dicampakkan olehnya, Abdul Qodir. Seorang ayah yang lebih memilih wanita lain, Siti Ruminah. Mereka adalah kedua orang tua Aini. Bapak meninggalkan anak istrinya.

Sakit! Sangat sakit. Jika mengingat ibuku yang harus terus berjuang menghidupiku, menjadi buruh cuci, buruh setrika dan kerjaan apapun yang bisa membiayaiku, walaupun beliau sakit-sakitan. Hingga aku lulus sekolah dan mendapatkan beasiswa di salah satu universitas ternama, dan akhirnya menjadi atasan di perusahaan ini. Itu adalah tekadku.

Dan saat aku mencari tahu keluarga bapakku, tak kusangka, ternyata menantunya menjadi anak buahku. Rasanya itu menjadi senjataku untuk membalaskan semua dendamku. Aku tak peduli adik tiriku, Aini. Hari ini, yang kurasakan hanyalah sebuah kebahagiaan tiada tara, dapat menghancurkan keluarga mereka yang sok harmonis dan bahagia.

Aku gila. Memang aku gila, terus kenapa? Ibuku meninggal sebelum aku membalaskan semua dendamku pada keluarga itu. Persetan dengan semua orang. Yang terpenting bagiku adalah membalaskan dendamku pada mereka.

Baca juga :  SUAMIMU MENIKMATINYA (THE END)

Apakah bapakku pernah memikirkan aku, anaknya? Apakah mereka pernah merasa bersalah? Rasanya itu hal yang mustahil. Maka dari itu, biarkan aku menghancurkan mereka semua. Biar mereka ikut gila seperti aku.

Aku memang hamil, anaknya Ridwan. Sengaja aku selalu minum ramuan penyubur rahim, agar aku segera hamil. Inilah senjataku untuk menghancurkan mereka semua. Lagipula, aku bukan wanita murahan yang meladeni semua lelaki, walaupun aku janda. Niatku hanya satu, menghancurkan keluarga itu agar mereka tahu rasanya jadi aku.

*****

Setelah Aini pergi, Ridwan langsung menghampiriku dan menggebrak meja cafe.

“Kamu gila! Benar-benar gila, Irma!” teriaknya padaku.

“Sudah aku katakan padamu, Ridwan. Aku memang gila,” jawabku sambil tersenyum sinis.

“Aku tak percaya ini anakku. Pokoknya aku tak percaya!” bantahnya sembari menunjuk-nunjuk perutku.

‘Terserah kau saja. Intinya, kau harus bertanggung jawab dan menjadi suamiku!”

“Tidak akan! Tidak akan pernah!” Lalu, dia meninggalkanku sendiri di cafe.

*****

Ya. Aku adalah wanita sialan, gila, egois, dan ingin menang sendiri. Tapi, apa kalian tahu rasanya jadi aku? Dicampakkan oleh bapak kandungku sendiri. Berjuang bersama seorang ibu yang sakit-sakitan hingga akhir hayatnya, merasakan sengsara yang bertubi-tubi.

Aku tak pernah merasakan kasih sayang seorang bapak, pelukannya, didikannya, bahkan marahnya. Penderitaan dan dendam yang kupikul bertahun-tahun akan kuberikan pada keluarga itu. Walaupun aku tahu, aku sendiri yang akan hancur karena ini semua.

Maafkan kakakmu ini, adikku Aini. Tapi, ini adalah karma. Akupun sudah memilih takdirku sendiri, untuk balas dendam pada kalian. Aku harus menuntaskan semua ini, walaupun aku sendiri yang akan mati.

~ Jika air mata harus di balas dengan air mata, kenapa tidak? Jika kehancuranku adalah kehancuran kalian, kenapa tidak? Semua adil dalam cinta dan perang ~

Bersambung …


Tulisan ini telah lulus review oleh editor dan layak publish.
Copyright © Al Right Reserved 2020
Writing Prodigy Academy

Facebook Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published.