TAJWID CINTA MARIA (Part 1)

Dayang Sumbi
Follow me
Latest posts by Dayang Sumbi (see all)

IZINKAN AKU

“Ko, aku ingin bermualaf!” ucapku seraya memegang ujung rok abu-abu, menunduk tanpa berani menatap pemuda yang sejak kelas dua SMP dekat denganku. Jemarinya berhenti pada dawai gitar, diam dari nyanyian lagu Soldier of Fortune. Aku tahu mata sipitnya menatap tajam, membuat tubuh gemetar meskipun tak melihatnya. Hanya desahan napas panjang namun paham maksudnya, kedekatan kami selama ini ditentang keluarganya apalagi jika sekarang aku akan bermualaf.

Yohanes Alexander Mario, pemuda dari RAS berbeda denganku. Mengenalnya ketika sedang mengikuti seleksi grup band sekolah masa SMP, dia kakak kelas. Akrab begitu saja karena seringnya bertemu saat latihan band, meskipun beda gereja tetapi kami punya tempat favorit untuk nongkrong. Sebuah warung bakso depan masjid di kota kecil tempat kami dibesarkan, di sana menghabiskan waktu sepulang sekolah.

“Apa kamu begitu mencintainya, sehingga ingin ikut memeluk agamanya?” Suaranya pelan, namun seperti cambuk di gendang telinga.

“Maksud, Koko, apa?” Memberanikan diri menatap manik hitamnya, ada sejuta tanya di sana.

“Jika kamu pindah agama hanya karena seseorang pemuda, aku tidak akan setuju!” Kali ini suaranya lebih keras dan ada penekanan pada setiap kalimat, aku menggeser kursi agar lebih dekat.

“Pemuda … siapa?” Memelankan suara karena banyak pembeli sore itu di warung bakso Pak Sueb, matanya mengerjap resah. Koko Yohan, menatap arah seberang jalan, anak-anak sedang berangkat ke masjid.

Mengikuti arah pandangnya, “Apa kamu juga akan belajar ke masjid seperti mereka?” Suara Koko terdengar ragu.

“Mungkin!”

“Apa dia yang mengajakmu masuk Islam?”

“Dia …? Dia, siapa?” Semakin tidak mengerti dari pertanyaan koko Yohan, dia pemuda. Siapa? Aah … Yusuf Abdullah kah yang dimaksud? Dari mana koko tahu tentang teman sekolah baru itu, apa dia punya mata-mata di sekolahku.

“Kamu, pulang ke rumah atau ke kost magang?”

“Kost magang.”

Berboncengan dengan motor besarnya tanpa berbincang, jarak dua puluh kilometer dari rumah membuatku harus kontrak kamar bersama kelompok magang. Sedangkan sekolah ada di kota kabupaten, di sana juga kost. Koko tiap sabtu akan menjemput dan minggu sore mengantar lagi, bukan aku meminta tetapi dia sendiri yang tak izinkan naik angkutan umum. Hari ini masih Rabu tetapi koko menjemput karena aku harus menyerahkan laporan bulanan ke guru pembimbing, dia membolos hanya untuk mengantar jemput.

“Pikirkan baik-baik, sebab Allah benci terhadap orang yang tidak sungguh-sungguh mencintai-Nya!” ujarnya sebelum meninggalkan raungan mesin di halaman rumah kontrakan, sekilas terlihat seorang pemuda seumuran menatapku dari rumah kontrakan seberang jalan. Buru-buru masuk rumah sebelum dia berdakwah mengomentari rok seragam yang kependekan, dibonceng lelaki bukan mahram dan kalimat pedas yang lain. Dia teman baru di sekolah yang selalu mencoba mendekati sehingga banyak teman cewek makin membenciku, sebel.

Baca juga :  SUAMIMU MENIKMATINYA (THE END)

“Ndengaren, bojomu kok gak mampir, Cis?” Nia teman magang selalu menyebut koko Yohan sebagai bojo atau suamiku, kadang jengah juga mendengar tetapi itu bahasa yang biasa kami gunakan untuk sebutan pacar.

Pacar? Apa aku pacaran dengan koko Yohan, tidak! Di antara kami tidak ada komitmen apapun, sentuhan hanya sebatas tangan saat menyeberang atau berpegangan saat naik motor. Namun, kedekatan kami dikonotasikan lebih dari itu, bahkan hubungan zina pun sudah melekat pada diri ini.

Sifat tomboi dan sedikit urakan membuatku tidak disukai teman cewek di sekolah, lebih memilih bergaul dengan teman laki-laki dan ikut kegiatan mereka. Itu lebih baik dari pada ikutan bergosip tentang model baju atau kosmetik yang lagi hits, atau malah rebutan gebetan … Oh gak banget buat Maria. Aku seorang Nasrani sehingga teman seiman minim di sekolah umum, dulu koko mengajak agar mendaftar di SMA Katolik yang sama. Namun, entah mengapa lebih memilih SMK dan tinggal di rumah kost, ja uh dari gereja tempat beribadah.

Selama masuk SMK membuat jarang pergi ke gereja, selain jauh juga malas karena tidak ada teman. Tidak tiap minggu aku pulang, sebab banyak kegiatan ekstrakulikuler membuat semakin jarang beribadah. Hanya doa sebelum makan dan tidur menjadi rutinitas, berdiam diri di kamar ketika teman pergi ke masjid atau ikut pengajian. Mami papi sudah mualaf sejak dua tahun lalu, tetapi tidak pernah memaksa anak-anaknya ikut serta. Kakakku yang pertama juga sudah ikut mualaf tahun kemarin, itupun sembunyi-sembunyi. Dusun kecil tempat tinggal kami mayoritas Nasrani, hanya ada satu gereja di ujung jalan menuju dusun. Sebenarnya ada masjid besar di dusun lain bahkan pondok pesantren juga ada, hanya di dusun kami yang tidak ada masjid atau musholla dan gereja satu-satunya yang ada di sana.

Dan entah dari mana asalnya, papi tiba-tiba membangun sebuah mushola di seberang jalan depan rumah. Menurut cerita mami, itu tanah pemberian mantan kepala desa yang berpesan agar papi membangun sebuah mushola di dusun. Kenapa harus papi, sedangkan semua orang tahu mami papi dulu adalah pelayan Tuhan di gereja kami. Namun, sejak papi dinas luar kota, menjadi jarang pergi ke gereja. Mungkin hanya satu tahun sekali saat Natal atau Paskah, kami anak-anak masih rajin sekolah minggu atau ibadah di hari biasa sesuai jadwal kegiatan gereja.

Mushola di bangun dari sumbangan teman-teman papi, kenalan atau siapapun juga yang ingin menyumbang diterima. Tidak ada panitia khusus, semua dalam pengawasan papi bersama anak menantu pemilik tanah. Setelah mushola berdiri dan diresmikan, papi mami belum bermualaf juga. Mereka memilih belajar dari buku-buku atau datang ke tempat teman papi yang sudah berhaji untuk belajar lebih dulu untuk memantapkan niat. Saat bulan puasa pertama sejak mushola berdiri, mami papi masuk Islam dengan dipimpin seorang kyai dari tetangga desa.

Bersambung …


Tulisan ini telah lulus review oleh editor dan layak publish.
Copyright © Al Right Reserved 2020
Writing Prodigy Academy

Facebook Comments

12 Comments












Leave a Reply

Your email address will not be published.