AMBYAR

Femilia Utami Dewi
Latest posts by Femilia Utami Dewi (see all)

Sudah sejak kemarin, aku mempersiapkan diri untuk acara reuni alumni SMA, yang rutin diadakan setiap tahun. Tapi baru tahun ini, aku bisa meluangkan waktuku untuk menghadiri acara tersebut. Kebetulan diadakan dalam kota dekat rumahku dan mendapat izin dari suami untuk berangkat seorang diri. Maklum, aku adalah seorang ibu dari dua anak yang masih balita sehingga repot luar biasa. Suamiku kebetulan tidak masuk kerja selama beberapa hari, jadi khusus Sabtu besok dia berkenan menjaga dan bermain dengan anak-anak.

Aku sudah membayangkan bakal bertemu dengan teman-temanku satu geng, yang selalu seru jika sudah berkumpul. Tentunya, bakal ketemu dengan mantan pacarku, Aldi namanya. Orangnya putih, ganteng, gagah, dan murah senyum. Dulu, dia selalu memberiku hadiah tiap malam Minggu. Rutin dibawanya sekeranjang apel ke rumah walau hanya mengobrol dan tidak pernah mengajakku keluar rumah. Ah … sekadar mengenang saja hatiku sudah bahagia.

Entahlah apa yang terjadi dengan diriku. Aku mulai berkhayal tentang Aldi dan mulai membanding-bandingkan dengan suamiku. Kulit suamiku agak gelap. Pendiam luar biasa, sehingga susah sekali berujar kata romantis. Walau terus terang, dia pria yang sangat baik. Tidak pernah marah padaku dan selalu berkenan menggendong anak-anak jika aku sibuk. Mungkin, aku terpengaruh drama Korea yang sering kutonton, atau hanya sekadar butuh hiburan karena kesibukanku di rumah.

Grup WA alumni SMA pun mulai ramai obrolan sejak sepekan yang lalu. Malah si Anita, ketua geng-ku, selalu japri agar aku hadir. Katanya bakalan ada kejutan karena Aldi bakal datang. Jarang sekali Aldi bisa datang sebab dia bekerja di Kalimantan sehingga sangat sulit untuk bisa pulang. Wah, bakal seru ini. Terbayang sudah keseruan kami. Sudah sepuluh tahun kami tidak bertemu karena terpisah jarak dan waktu.

Hari H sudah tiba. Suamiku sudah memanaskan mobil kecil kami. Katanya, “Kamu naik mobil saja sendiri, ya, biar tidak kehujanan.” Alhamdulillah, suamiku memang luar biasa. Selepas isya, aku mengarahkan mobil pada sebuah hotel besar di kota kami. Dari luar sudah terdengar lagu nostalgia. Baju berhijab yang kukenakan adalah hadiah dari suamiku. Jarang kupakai karena memang hanya untuk acara khusus. Dengan senyum mengembang, aku memasuki aula.

Baca juga :  OH… PRINSIP! AKU DILEMA

Anita, Rina, dan Susi menjerit senang begitu aku memasuki gerbang bunga di pintu aula. Kami berpelukan, bahagia, tertawa, mengobrol, dan bercanda. Mataku sesekali mencari sosok yang ingin kulihat, tapi tak ada.

“Hei, Utami. Kamu cari siapa, sih? Semua teman sekelas kita sudah hadir, kok.  Hayo … cari Aldi, ya?” Anita mulai menggodaku karena ketahuan mencari Aldi.

“Ah, Nita. Cuma pingin tahu aja seperti apa dia.” Aku tersipu malu.

“Tetap saja mukamu merah. Dasar Utami. Masih saja ingin melihat Aldi. Jangan kaget, lho, ya.” Rina dan Susi tertawa cekikikan.

“Memang kenapa dengan Aldi?” Aku bingung melihat ekspresi mereka.

“Nah, nanti pasti bakal kelihatan seperti apa Aldi. Dia memakai baju merah menyala dengan kalung emas besar,” ujar Anita memberi petunjuk.

Pikiran mulai goyah. Aku mulai berjalan di dalam aula sambil sesekali menyapa teman-teman lama. Di pojok depan, kulihat seorang pria gendut dengan baju merah membelakangiku, memegang piring dan makan sambil berbicara dengan beberapa teman pria. Anita segera menggamit lenganku dan mendekati sosok pria berbaju merah.

“Hallo, Aldi! Nih, tebak aku bawa siapa, pasti kamu kaget.” Anita menepuk bahu pria tersebut. Hah?! Namanya Aldi. Dia berbalik. Yang kulihat sosok pria berperut buncit, kepala botak, berkaca mata dengan makanan penuh di mulut menyeringai.  Astagfirullah … ambyar. Aku melotot tercengang. Tidak bisa berkata apa. Menguap semua kenangan dan nostalgia indah masa SMA dulu.

“Hai. Ini Utami, ya. Kok sekarang kamu cantik banget dengan hijab hijaumu.” Aldi berusaha bersalaman denganku. Aku segera menangkupkan tangan di dadaku. Alhamdulillah,  pesan suamiku masih selalu kujaga dan kulakukan agar menjaga interaksi dengan lawan jenis. “Al… alhamdulillah. Aku baik, Aldi. Sudah bersuami dan beranak dua pula.” Aku membalas ucapan Aldi dan berusaha tersenyum. Pikiranku sudah tidak di tempat. Tetiba, aku kangen suami dan dua anakku. Mereka semua luar biasa dan tak tergantikan.

Sepenggal kisah nostalgia ini adalah cuplikan dari kumpulan kisah menarik dalam sebuah Antologi Fiksi Mini Berjudul Secawan Rindu Dari Masa Lalu karya penulis-penulis terbaik dari berbagai profesi.

Temukan cerita menarik dan berkesan lainnya di sini.

OPEN PRE ORDER BATCH 2


Tulisan ini telah lulus review oleh editor dan layak publish.
Copyright © Al Right Reserved 2020
Writing Prodigy Academy

Facebook Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published.