GURU SEJATI

Femilia Utami Dewi
Latest posts by Femilia Utami Dewi (see all)

Aku, Aisyah, sampai kembali ke Situbondo pada bulan Januari 1999. Beruntung aku pulang. Ternyata beberapa bulan kemudian banyak perusahaan di Batam yang gulung tikar sehingga sebagian besar temanku di-PHK. Alhamdulillah, menjadi anak yang berbakti yang menjadi tujuan utama kepulanganku mengandung banyak hikmah. Salah satunya adalah menyelamatkanku dari PHK massal yang kemudian banyak menyulut demo yang sangat merusak.

Sekitar empat bulan aku menganggur. Kugunakan waktu luangku untuk belajar mengendarai sepeda motor. Ayah dan ibu membelikanku sepeda motor, walau sederhana dan kreditan. Sesekali aku mencari informasi tentang jurusan kuliah yang masih membuka pendaftaran.

Jika kuliah di universitas swasta, biaya yang harus dipersiapkan lumayan besar. Maka kuputuskan kuliah di diploma tiga tahun di Universitas Negeri Jember. Saat itu yang menjadi incaranku adalah Jurusan Akuntansi dan Bahasa Inggris. Aku mendaftar pada dua jurusan tersebut. Dan alhamdulillah diterima di Jurusan Akuntansi, Fakultas Ekonomi.

Sangat menyenangkan memiliki cita-cita kembali. Dalam artian ada semangat dalam diriku untuk segera mencapainya. Aku ingin lulus dengan nilai cumlaude dan mendapat pekerjaan yang sangat layak. Tidak muluk bukan. Tapi kurasa cukup saat itu.

Karena aku masuk setelah lulus dari SMA beberapa tahun kemudian, maka usiaku pasti lebih tua dari yang lain. Secara kedewasaan mungkin saat itu, aku lebih dewasa. Dengan kepintaranku yang sedikit diatas rata-rata, walau bukan yang terpintar. Sebagian teman sering diskusi dan meminta bantuan menyelesaikan tugas-tugas kuliah. Alhamdulilah, aku berprinsip bisa berbagi pengetahuan dan membuat teman-temanku lebih paham dan mengerti, sungguh membahagiakan. Tapi, jangan coba-coba minta contekan saat ujian, pasti sangat susah aku berbagi. Prinsipku mandiri dan jujur itu nomor satu.

Tiga tahun kemudian aku lulus dengan nilai cumlaude. Dan tetap aku belum bercita-cita ingin jadi seorang guru. Hmm … pada bagian mana nanti aku memutuskan menjadi guru ya?

Selama beberapa waktu aku melamar kerja pada beberapa perusahaan dan kantor dalam kota maupun luar kota.  Semua tes kujalani. Dan kebanyakan aku tidak lolos pada tes akhir, yaitu tes wawancara. Ada seorang pewancarara di sebah rumah sakit swasta di Banyuwangi berkata, “ Mbak Aisyah, lebih cocok jadi guru daripada jadi karyawan kantor.” Aduh, padahal aku tidak bercita-cita jadi guru sama sekali. Ah, sudahlah. Saat itu aku tidak terlalu menghiraukan ucapan beliau.

Alhamdulillah, diterima bekerja di suatu perusahaan alat-alat rumah tangga (aluminium). Kebetulan hanya aku satu-satunya tenaga administrasi dan keuangan. Jadilah sangat sibuk. Perusahaan tersebut masih dalam masa pertumbuhan, tapi omzetnya luar biasa. Sudah biasa aku memegang uang puluhan juta untuk membayar bahan baku dan upah para pekerja tip akhir pekan.

Benar-benar sesuai dengan impianku. Pengalamanku bekerja di Batam membuatku terbiasa dengan pola kerja padat. Pemilik perusahaan sangat senang dengan kinerjaku. Sehingga beliau sering memberiku bonus.

Tapi tidak selamanya roda berputar diatas. Perusahaan mengalami kerugian. Kejadian bermula ketika pemilik perusahaan berangkat haji bersama istri beliau. Aku selaku pemegang keuangan diberi kewenangan untuk melakukan transaksi jual beli dan pembayaran upah pekerja perusahaan. Dengan tidak lupa mempercayakan musyawarah kepada dua orang sahabat pemilik perusahaan.

Pada suatu hari datang seorang wanita yang ingin memesan peralatan rumah tangga aluminium dengan omzet lumayan banyak. Senilai berkisar 50 juta rupiah. Awalnya keraguan menyeruak dalam benakku karena dia hanya mau memberikan uang muka 10%. Kemudian aku meminta dua sahabat pemilik perusahaan untuk melakukan cek dan ricek terhadap calon pembeli tersebut.

Dengan bermuka dan bermulut manis wanita tersebut dapat meluluhkan hati kami. Hingga pada suatu malam kami segera mengirimkan pesanannya sebanyak satu pick-up penuh. Semuanya berjalan lancar. Hingga dua hari kemudian terjadi hal yang aku takutkan. Handphone wanita tersebut tidak bisa kuhubungi. Hatiku mulai syak wasangka. Bersama salah satu sopir perusahaan aku segera mengunjungi rumahnya. Ternyata rumahnya sudah kosong melompong. Tanpa penghuni, tanpa perabot. Aku mulai panik dan syok. Segera kucari informasi pada tetangga sekitar mengenai wanita tersebut.

Tak ada yang mengenalnya dengan jelas, karena dia hanya menyewa rumah tersebut selama sepekan. Ya Allah, aku menangis. Hancur sudah amanah yang kujaga selama setahun aku bekerja. Benar-benar kacau otakku. Semua tidak mau disalahkan. Semua kesalahan seperti bertumpu 100% padaku.

Sepulang pemilik perusahaan dari berhaji. Aku segera melaporkan kejadian yang menimpa perusahaan. Beliau kecewa dan marah. Langsung mengadakan sidang dengan dua orang sahabatnya. Dan segera melakukan tindakan. Aku sendiri sudah tidak mampu bekerja dengan tenang. Pikiranku kacau. Aku berdoa siang dan malam, meminta kekuatan dari Allah agar aku tidak sampai bunuh diri dan putus harapan. Hingga terbersit keinginanku untuk menjual organ tubuhku untuk mengganti semua kerugian akibat kelalaianku.

Aku ijin pulang seminggu. Agar pikiranku sedikit tenang. Ibu menenangkan diriku dan selalu mendoakan agar masalahku segera tuntas. Gajiku selama dua bulan tidak aku ambil, kukembalikan sebagai wujud tanggung jawabku. Akhirnya aku memutuskan untuk mengundurkan diri dari perusahaan tersebut. Aku segera menghadap pemilik perusahaan dan mengkonsultasikan semua yang ingin kusampaikan.

Alhamdulillah, beliau beserta istri memaafkan kesalahanku dan menyatakan bahwa semua kejadian bukan kesalahanku 100%. Semuanya sudah atas kehendak Allah. Aku bersyukur mereka berdua mengijinkanku pulang. Tak lupa memberiku pesangon yang cukup banyak. Tapi aku menolak, aku malu, dan berkata, “Maafkan segala kesalahan saya pak, biarlah uang ini saya kembalikan ke perusahaan karena sudah banyak kerugian yang bapak alami. Semoga Bapak dan Ibu mendapatkan ganti yang lebih baik.”

Baca juga :  WANITA BERTOPENG

Aku pulang seperti manusia yang kalah perang. Tak ada lagi Aisyah yang semangat dan periang. Selama beberapa bulan aku tidak keluar rumah. Teman-teman mengunjungiku dan mengajakku aktif mengaji di majlis taklim. Alhamdulillah, sedikit demi sedikit mulai bangkit semangat hidupku. Aku mulai keluar rumah dan mengikuti beberapa kegiatan keagamaan.

Ibu senang melihatku mulai tersenyum. Hingga beliau pada suatu hari terjadi dialog diantara kami,

 “Nduk Aisyah, ilmu yang ada di dirimu adalah amanah. Apakah kamu tidak ingin membagi ilmu kepada orang lain.”

“Aku sangat ingin bu, tapi aku masih trauma bekerja. Aku takut gagal lagi menjaga amanah dari orang lain.”

“Ibu tidak menyuruhmu bekerja di kantor, nduk.”

“Terus maksud Ibu bagaimana?”

“Bagaimana jika kamu mengajar di suatu pesantren yang memiliki sekolah setingkat SMP atau SMA. Kamu mengajar mereka. Bukankah kamu senang memberikan pelayanan dan pengajaran? Ibu melihat kamu cocok menjadi guru.”

“ Iya, bu. Akan Aisyah fikirkan. Ijinkan Aisyah istikharah dulu.”

Selama sepekan aku mencoba berdialog dengan diriku sendiri, mendekatkan diri kepada Allah dalam tahajud dan istikharahku. Akhirnya aku memutuskan bahwa dengan usia hampir 25 tahun. Aku harus memulai menata hidupku lagi. Aku harus punya passion baru. Aku harus bangkit mengejar cita-cita baru.

Segera aku mencari pondok pesantren yang kekurangan guru, tetapi minim dana. Alhamdulillah, Allah memberi kesempatan pada diriku untuk mengajar di suatu Madrasah Aliyah swasta suatu pondok pesantren. Ada kebahagiaan saat aku mengajar mereka. Walau siswaku kurang dari 10 (sepuluh) orang. Bayaranku cukup dengan makan siang. Keberkahan dari pesantren yang kuharapkan.

Seiring waktu berjalan. Aku mendapat tawaran untuk memberikan les. Seorang kawanku juga menginformasikan ada yayasan di kota yang membutuhkan guru. Semua muridnya adalah perempuan. Disana aku mengajar siswi dengan karakter spesial. Istilahnya murid 10 (sepuluh) berasa mengajar 20 (dua puluh). Pokoknya pengalaman mengajar yang luar biasa.

Passionku sepertinya telah menemukan kepastian. Aku mantap ingin menjadi guru. Ibu menyarankan untuk kuliah ilmu Keguruan dan Pendidikan. Tapi yang linear dengan jurusan diplomaku. Aku memilih Pendidikan Ekonomi dan Koperasi di Universitas Terbuka Jember. Sehingga harus menempuh kuliah jarak jauh selama dua tahun.

Pada tahun pertama kesibukan kuliah dan mengajarku. Allah mendatangkan jodoh bagiku. Seorang lelaki sederhana dari desa terpencil melamarku. Aku memilihnya sebagai imam dan ayah bagi anak-anakku kelak karena dia alumni D2-Bahasa Arab dan hafal 3 (tiga) juz.

Kami menikah saat usiaku 28 tahun. Usia yang sangat cukup untuk memulai babak baru dalam kehidupan. Setahun kemudian aku melahirkan bayi mungil buah cinta kami. Cintaku semakin tumbuh melihat suamiku sabar dan telaten merawat bayi kami saat ujian akhir kuliahku berlangsung.

Suami menyarankan agar mencari tempat mengajar yang dekat rumah. Kebetulan kami tinggal di ujung Bondowoso. Termasuk daerah pegunungan yang kaya dengan hasil alam dan pariwisatanya. Alhamdulillah aku diterima mengajar di suatu SMP negeri kecamatan sebelah.

Di SMP tersebut aku banyak belajar bagaimana menjadi seorang guru. Baik secara profesional maupun kepribadian. Walau terkadang ada masalah yang harus kuhadapi. Kuanggap sebagai kerikil yang harus aku lalui dan menjadi jembatan dalam kesuksesanku menajdi guru. Banyak rekan yang mendoakanku untuk segera menjadi PNS. Mungkin karena kinerjaku dan semangatku dalam mengajar.

Anak kedua kami lahir hampir bersamaan dengan adanya tes penerimaan Pegawai Negeri Sipil. Tes kujalani dengan hati penuh harap dan cemas. Dua bulan kemudian pengumuman keluar. Dan Allahu Akbar aku dinyatakan lulus dan berhak menyandang gelar Calon Pegawai Negeri Sipil di suatu SMK Negeri. Ayah, Ibu, dan suamiku sangat bangga dan bahagia. Lebih bahagianya lagi penempatanku juga sangat berdekatan dengan tempat tinggal kami.

Semakin hatiku mantap, bahwa aku harus menjadi Guru Sejati. Segala kemampuan diriku harus ditingkatkan. Mengikuti berbagai pelatihan. Mengajar dengan segenap asa dan jiwa. Terkadang aku harus mengunjungi wali murid yang tinggalnya jauh di pelosok. Hanya sekedar menanyakan mengapa putra atau putrinya tidak masuk sekolah. Tantangan kami sebagai guru pelosok lumayan berat. Banyak siswa atau siswi yang sudah bertunangan. Ada juga yang harus bekerja ke Bali hanya untuk membantu kehidupan keluarganya. Menyabit rumput unuk kambing dan sapinya dan beragam kisah lainnya.

Muridku adalah manusia yang luar biasa. Jauh jarak bukan penghalang mereka. Ekonomi melilit bukan hal yang sulit. Pernah aku harus meyakinkan wali murid untuk mengijinkan putranya kuliah di Bali dengan status kuliah gratis. Wali murid menyatakan mereka tidak mampu membiayai biaya hidup putranya di rantau. Tapi betapa takjub diriku. Di depan orang tuanya muridku menyatakan siap kuliah dengan keadaan apa adanya. Dia berkata bahwa keahlian yang diperoleh di SMK sangat cukup baginya guna mencari penghasilan tambahan.

Terkagum diriku dengan segala tekad yang dimiliki murid-muridku. Semakin kuat tekadku menjadi guru sejati. Seiring waktu prestasiku membuahkan hasil. Walau hanya sekedar menjadi Instruktur Kabupaten, merupakan prestasi tertinggi dalam karirku. Berbagi pengalaman dan pengetahuan dengan rekan guru sejawat sungguh pengalaman yang sangat berharga. Aku juga lolos seleksi untuk mengikut program guru keahlian ganda. Dimana aku bertemu dengan rekan guru se-Indonesia. Dari Aceh sampai Papua. Dari Sulawesi sampai Nusa Tenggara. Pengalaman luar biasa dan tak terlupakan. Penuh dengan pengorbanan dan pencapaian jati diri. Meninggalkan keluarga dan kedinasan selama hampir enam bulan. Mungkin bagi orang lain ceritaku bukan hal yang luar biasa. Tapi bagiku merupakan prestasi yang sangat luar biasa. Menjadi guru sejati sekarang menjadi passion-ku.


Tulisan ini telah lulus review oleh editor dan layak publish.
Copyright © Al Right Reserved 2020
Writing Prodigy Academy

Facebook Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published.